
Pernikahan Agung akhirnya terlaksana dengan meriah.
Apa yang Salsa ceritakan tentang calon kakak iparnya itu ternyata memang benar, meski dari keluarga yang tergolong mapan bahkan bisa dibilang milyuner, tapi Isteri dari Agung adalah sosok yang rendah diri dan ramah, selain itu perempuan manis itu juga sangat supel dan cerewet.
Elis bahkan sudah mampu membaur dengan tetangga hanya dengan hitungan jam. Kebiasaan warga desa yang memuja seseorang yang punya kekayaan kini juga dirasakan Elis. Dia diperlakukan bak Ratu oleh warga, terlebih akan Ada bingkisan khusus bagi para undangan yang datang ke pernikahan ini. Jadi semakin memacu mereka untuk mendekati sosok dokter muda itu.
" Mbak !! ini Ada bingkisan khusus untuk mbak. !!"
Elis kini menghampiriku , dengan gaun pengantin warna krem yang membalut tubuhnya yang mungil namun ramping. Sosok itu seolah telah terbiasa dan tak terlihat ribet, dengan gaunnya yang menjuntai panjang sampai terseret dilantai.
" Loh apa lagi ini Lis ? Mbak kan sudah Dapat tadi.."
Aku menunjuk bungkusan yang sejam lalu diberikan Elis. Kemudian berniat mengembalikan kotak hadiah itu lagi padanya.
" ini spesial Mbak. Untuk menantu tertua hehhe"
Aku ikut tertawa mendengar ucapan Elis, aku memang menantu tertua di keluarga ini. Sekaligus yang mungkin paling tak diinginkan emak keberadaannya. Ahh memikirkan itu semakin membuatku berkecil hati.
" Oke deh kalau gitu, mbak terima ya.. Terima kasih dan selamat datang menantu perempuan terakhir..."
Aku membalas gurauan Elis dan membalasnya dengan julukan baru. membuat kami akhirnya tertawa bersama.
" Mohon bimbingan nya ya mbak, supaya Elis juga jadi menantu dan istri sesempurna Mbak Siti.."
" jangan berlebihan Lis, Mbak juga masih terus memperbaiki diri loh ini.. Lagian siapa sih yang bilang hal kayak gitu sama kamu ?"
" Noh adik ipar mbak, yang jadi suami Elis sekarang. Katanya mbak itu paket lengkap. Cantik, rajin ,Soleha dan yang terpenting akur sama mertua hehehe"
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya, Apa iya Agung yang kalem, menilai ku sesempurna itu..
__ADS_1
Ditengah-tengah obrolan kami . Agung memanggil sang Istri untuk berfoto bersama. Elis pamit , dan mendatangi Agung, Mereka kini melakukan sesi foto berdua saja, karena untuk foto bersama keluarga sudah selesai, sebelum makan siang tadi.
***
Pernikahan yang diwarnai dengan kemegahan dan kemeriahan antara Agung dan Elis akhirnya selesai.
Malam ini Setelah semua tetangga pulang dan di rumah hanya tinggal kami sekeluarga, kami berkumpul diruang keluarga, dan kini disibukkan dengan menghitung uang amplop para undangan yang datang siang hari tadi.
Anak-anak juga sepertinya sangat kelelahan, hingga membuat mereka tidur lebih cepat.
makanya kami sekarang lebih leluasa untuk menghitung dan membuka amplop yang nampak menggunung.
Kedekatan Elis dan Salsa membuatku tersenyum, Elis selalu saja menyelipkan uang berwarna merah ke tangan adik iparnya sementara Salsa malah memberikannya ke Emak yang matanya seolah selalu mengawasi kegiatan kami ini.
melihat ini aku merasa ada yang kurang, karena Indra serta hafiz dan istrinya tak bisa datang karena mereka punya bayi yang masih merah.
"Mbak aja yang traktir, kalau ngambil disini nanti kena omel wkwkkwk " Salsa membalas , seraya melirik emak, seolah ketakutan.
" Oh. Tapi jangan tanggung kalau mau ditraktir ya Sa. Sekalian ajak warga satu kampung. Kamu kumpulin dan bilang sama mereka supaya bawa uang sendiri-sendiri dan mbak yang akan buka sendiri kedai seblaknya. Dijamin enak dan dengan toping melimpah ruah..,"
" Ahhhahah itu namanya modus Mbak , bukan mentraktir...ckckkck"
" Sudah jangan bercanda terus , nanti malah nggak selesai-selesai ini. Hari kan sudah mulai larut, Emang kalian nggak mau istirahat apa ?"
" Tuh dengerin Mbak Elis. Tapi kayaknya mbak Elis nggak akan istirahat deh malam ini Mak, kan sudah sah jadi istri hehheh""
Emak mengetuk kepala Salsa dengan gepokan uang ditangannya" Hushh anak kecil . Tahu apa kamu soal begituan.."
Salsa malah cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal..
__ADS_1
Pagi kini telah tiba, kami para perempuan sengaja tidur diruang tamu, agar bisa bangun lebih awal. Meski badan masih terasa lelah, tapi pekerjaan yang menumpuk memaksa diri untuk segera beranjak dari pembaringan. Elis pun ternyata adalah pribadi yang ringan tangan , dan tak memilih-milih soal pekerjaan. meski dia tak bisa dia tetap mencoba nya dengan bertanya terlebih dahulu.
Kini Salsa seperti menemukan teman yang sejalan Dan pengertian karena kedua perempuan muda itu, sudah terlihat kompak dalam segala hal meski baru saja kenal.
Tak terasa semua tugas telah usai. Selesai membantu beberes dan mengembalikan barang pinjaman di rumah emak hingga tak terasa hari sudah menjelang sore. Aku berinisiatif untuk pulang terlebih dahulu. Mengecek rumah, sekalian mengambil pakaian ganti. Karena memang sedari tadi pagi aku belum sempat mandi . Meski menginap di rumah emak, tapi aku lebih suka bolak Balik ke rumah kalau untuk urusan berganti baju.
Pintu rumah terbuka, ternyata ada bang Dadang didalamnya, Pantas saja suamiku itu tak terlihat setelah makan siang bersama tadi. Rupanya bang Dadang Memilih untuk melanjutkan istirahat di rumah kami.
" Ini dek , dikasih Emak tadi. Ada lebih satu juta , katanya buat jajan anak-anak.."
Bang Dadang memberiku sebuah amplop coklat yang cukup tebal, meski ragu-ragu aku akhirnya melihat kedalam ,mencoba mencari tahu isinya.
Terlihat lembaran berwarna merah tersusun rapi didalam amplop itu.
"Ini uang yang mereka pinjam waktu itu bang ? "
" Iya. Sudah kan !!! Jadi jangan bahas lagi masalah uang lima juta ini. Abang nggak enak , seolah kita ini malah kesannya perhitungan..."
"Loh bang !! Aku kan nggak pernah bahas masalah uang ini didepan emak dan Bapak, kecuali di depanmu. Atau kamu sudah mengadukanku pada Emak ? Pantas emak terlihat kesal padaku beberapa hari ini "
" Udah deh dek, sudah dikasih uang masih ngeselin aja kamu ini. Ini kan memang tujuan kamu mengungkit-ungkitnya supaya dibayar segera kan !!"
Aku kini diam, apa suamiku ini tak sadar jika ucapannya pada bapak dan emak membuat diriku terlihat buruk dan terkesan pelit, seperti kacang yang lupa pada kulitnya.
Aku memilih menyimpan amplop itu ditempat biasa. Dan segera menyambar handuk untuk segera mandi.
Aku mendadak baru ingat jika Dio dan Bara masih di rumah neneknya. Tapi Biarlah nanti Salsa yang mengantar Dio dan Bara pulang kesini.
Selesai mandi aku segera merebahkan diri di kasur, beberapa hari ini aku sudah bekerja keras di rumah Emak dan tak bisa istirahat dengan nyaman, makanya sekarang aku ingin mengistirahatkan diri barang sejenak.
__ADS_1