
sudah dua hari bang Dadang pulang, rupanya kebiasaannya bergadang pun kini tak dilakukannya lagi, dia lebih menyibukkan diri dengan menemani Bara dan Dio yang bermain. serta juga mengajari Rama untuk membaca. Sejauh ini perubahan -perubahan pada diri bang Dadang lebihh condong mengarah ke hal yang positif..
Ditengah keceriaan kami berkumpul bersama, Emak datang dengan wajah tak bersahabat. Bahkan mertua Perempuanku itu tak memberi salam dan langsung masuk saja ke rumah,
" Tumben mak, kenapa kayak nya lagi emosi .."
Bang Dadang menyapa langsung, dan tahu jika suasana hati emak memang sedang tak baik-baik saja.
" Dang, jujur sama emak. Kamu kerja apa ikut si Rio ? Kamu nggak aneh -aneh kan kerjanya ?
Masa baru sebulan kerja sudah bisa bayar arisan, beli mainan dan juga kasih makan Siti dan anak-anak kamu di rumah ini ?"
Bang Dadang memberikan Bara yang sedari tadi berada di pangkuannya, ke arahku. Dia mengandeng Emak, mengajak emak bicara diluar. Bukan tak mau didengar olehku, tapi lebih ke pada anak-anak yang melihat ekspresi emak yang benar-benar tak bisa mengendalikan emosi dan nada suaranya yang meninggi..
Bara Kini kubiarkan nonton YouTube di hape yang diawasi oleh Rama yang lebih mengerti.
Dan aku segera menyusul ke depan , ingin tahu sebab apa yang bisa menyebabkan emak marah seperti itu ,
" Pokoknya kamu jangan lagi berangkat ke sana kalau kamu nggak ngajak si Asep ! Kamu tahukan kampung kita ini sangat pedas jika mengomentari hal yang menurut mereka ganjil. Emak nggak mau kalau kamu malah terlibat masalah dikemudian hari dang.."
" Dadang kan sudah bilang, kalau Dadang jadi pengawas di lapangan mak, ngawasin para pekerja yang panen sawit ..
Lagian kenapa juga Dadang mesti membuktikan ke bang Asep, tapi kalau emak juga nggak percaya sama Dadang, bilang tuh ke Asep, kalau mau ikut ,ikut aja. Tapi hanya memastikan saja, tak bisa ikut kerja. Dan ongkosnya tanggung sendiri.."
Bang Dadang berucap santai, sementara mata emak kini nampak berkaca-kaca. Beliau mungkin tak puas dengan jawaban suamiku itu.
" Kata Siapa sih Mak ? Bang Dadang kerjanya ngak halal..!!"
aku juga ikut mengeluarkan suara, gemas rasanya saat melihat emak malah terpancing dengan omongan orang luar,
Emak menatap ke arahku, mungkin dia tak tahu jika aku sedari tadi telah berada disini.
" Bu Uci. Dia dapat info dari Asep menantunya. Katanya kebetulan ketemu kamu saat dia lagi ngecek perusahaan sawit miliknya di kota .."
"Aaaa...pa...hahahhahhaha"
Aku tak bisa menahan tawa, sementara bang Dadang hanya mengulum senyum saja ..
Kami saling melirik seolah mengerti siapa dalang dibalik gosip yang menyesatkan ini.
" Udah, kalau begitu Emak bilang ke bang Asep. Kalau mau tahu Dadang bekerja dimana. Minggu nanti, kalau dia mau ikut, boleh. Tapi, ongkosnya bayar sendiri, dan cuma sebagai bukti saja, tak bisa jika dia ingin bekerja ikut Dadang seperti niatnya kemarin.."
" Loh. Kalian ketemu di rumah ini ? bukan di kota seperti yang Asep bilang ?"
" Iya Mak. Mak jangan berpikiran buruk lagi tentang pekerjaan Dadang, Dan soal bang Asep nanti juga Emak akan tahu , cerita yang sebenarnya.."
__ADS_1
"Loh. Kenapa kamu aja yang ngasih tahu Dang, kenapa memangnya dengan Asep ?! Bikin emak penasaran saja.."
" Sudah. Mending emak pulang sana, sampaikan salam Dadang untuk bang Asep ."
Emak digandeng bang Dadang menuju teras, kemudian mertuaku itu berjalan santai untuk pulang.
Sosok emak yang menghilang dari pandangan membuatku dan bang Dadang kembali melempar senyuman, merasa sangat lucu dengan sikap bang Asep yang malah menghasut warga, hingga membuat emak, malah jadi sedih seperti itu.
" Agak keterlaluan sih ini dek. Kayaknya Abang perlu kasih pelajaran ke menantu Bu Uci itu. Biar nggak seenaknya fitnah orang.."
Ekspresi marah bang Dadang kini terlihat jelas, meski merasa lucu. Tapi reaksi yang ibu tunjukkan tadi, membuat Bang Dadang merasa sedikit terusik.
Bagaimana jika Emak punya penyakit jantung, sudah pasti kabar burung ini akan berakibat fatal..
"Yah bagaimana baiknya lah bang. Tapi jangan sampai pakai kekerasan ya, bang ! Ingatkan saja secara baik-baik.."
" Iya, pasti !! Ayo masuk dek, ajak anak-anak tidur.. Biar kita bisa tempur lagi.. "
" Dasar mesumm...Nih rasainn.."
Aku mencubit pinggang bang Dadang cukup kencang membuat anak-anak menghampiri ayahnya itu, bertanya dengan khawatir. Aku hanya tertawa melihat reaksi mereka yang lebai.
****
Keluar dari kamar mandi, kulihat bang Dadang telah rapih dengan baju koko dan juga kopiah hitam di kepalanya. Entah kenapa bang Dadang semakin mempesona di mataku.
" Ayo dek, jangan bengong disitu. Sini keburu imsyak.."
Bang Dadang rupanya juga sudah membentangkan sajadah untukku, aku segera menuju ke posisiku dan kami mulai sholat berjamaah, kegiatan yang telah lama tak kami lakukan.
Selesai sholat aku segera menuju dapur, kebetulan aku sudah berbelanja ke pasar bersama bang Dadang kemarin, jadinya tak terlalu bingung dan langsung eksekusi saja menu kesukaan anak-anak dan juga suamiku ..
Ayam kecap , sambel tempe plus lalapan daun pepaya muda kini telah tersaji rapi dimeja. Jika biasanya bang Dadang akan sarapan lebih dulu, hari ini katanya dia akan menunggu anak-anaknya bangun terlebih dahulu. Agar bisa sarapan bersama-sama.
Sementara menunggu anak-anak bangun, aku dan bang Dadang duduk santai di teras depan rumah, tanaman mangga yang ku tanam sejak awal menghuni rumah ini rupanya sudah tumbuh besar dan terlihat berbunga lebat, Memandang pohon ini semakin membuat suasana sejuk, pada pagi ini.
" Jadi hari Minggu lusa Abang bakalan ke kota lagi ?"
" Iya dek, enggak enak juga kan jika terlalu lama Abang mudiknya .. sebenarnya berat sih, pisah lagi sama kamu. Tapi yah, gimana lagi. Abang nggak punya pilihan lain kan !!"
Suara itu memelas, tentu saja aku tahu tujuan dari perkataan bang Dadang ini.
"Aku nggak akan cegah kamu bang, setidaknya sebulan ke depan kamu mesti harus kudu wajib bekerja sama Rio. Biar kita nggak kelabakan seperti bulan-bulan sebelumnya..."
ini tergolong pemaksaan tapi , demi hidup lebih sejahtera kenapa tidak ?
__ADS_1
" Iyah, Emak dan Bapak juga tak setuju jika Abang masih melanjutkan kerja di sana, sementara kalian ada disini. Bapak benar sih dek, sebesar apapun gaji kita , keluarga adalah yang utama. Bapak nggak mau, karena pekerjaan yang mengharuskan kita berpisah, malah nanti berdampak negatif ke anak-anak."
Aku mengangguk setuju, Semua ucapan bapak memang benar
" Jadi, tujuan Emak nyuruh kamu kerumahnya waktu itu untuk membicarakan hal ini bang.."
Bang Dadang mengangguk mengiyakan. " mudah-mudahan rumah tangga kita terus damai seperti ini ya dek ."
" Aamiin...!!!"
Bertepatan dengan selesainya obrolan kami. Anak-anak akhirnya bangun. Bang Dadang mengendong Bara dan Dio secara bersamaan kearah dapur, Tak lama terdengar suara air mengalir, rupanya suamiku itu sedang memandikan kedua anak kami. sedangkan Rama kini malah duduk di depanku, matanya masih terlihat mengantuk.
" Sana bang, mandi. Bareng sama adek .."
" Sebentar ma, semalem Bara kan ngompol, kena Rama. Tapi Rama males bangun buat ganti baju, tapi karena bau Pesing. jadinya nggak bisa tidur lagi,,"
Aku mengendus baju dan celana Rama, memang benar bau Pesing nampak menyengat dari baju tidur milik Rama.
" Mandi sana langsung bang, supaya Abang enggak ngantuk lagi.." Aku mendorong Rama ke arah dapur ,sementara aku kini menyiapkan baju untuk ketiga anak ku itu.
Setelah semua anak-anak telah berganti baju dan wangi , kami akhirnya sarapan bareng..
Bang Asep ternyata datang lagi, ada rasa kesal di hati melihat wajah penuh senyum tanpa dosa lelaki yang umurnya ku yakini jauh di atasku dan bang Dadang.
" Serius kamu Dang, mau ajakin aku kerja bareng kamu ?"
" Loh kata siapa bang ? "
" Emak Salsa sendiri yang bilang sama ibu mertua abang Dang. .Kok kamu malah kayak amnesia sih "
Nada suaranya nampak sewot , membuatku menggelengkan kepala saking nggak habis pikir.
" Aku cuma pesan ke Emak, kalau Abang penasaran Abang boleh tahu lokasi tempat ku bekerja, tapi kalau ikut kerja tetap nggak bisa lah bang "
" Lah jadi saya cuma antar kamu gitu, kayak kurang kerjaan aja.."
"Iya, Abang emang kurang kerjaan makanya ngomong yang engak-enggak tentang pekerjaanku. Tuh mulut dijaga ya bang. Abang baru disini, jangan sampai orang hilang respect karena perilaku buruk Abang sendiri.."
" Shittttt.... Tahu gini, males aku capek-capek kesini. Tahunya cuma dapet ceramah nggak guna... hhhhh..." Sosok itu pergi dan melengos.
" Loh bang, nggak jadi nganterin bang Dadang ?"
Aku berteriak keras, apalagi kulihat kini emak dan Bu Uci sedang menuju kesini, memancing sifat asli bang Asep..
Tapi tentu saja, teriakan ku tak digubris menantu kebanggaan Bu Uci itu. Apakah kedatangan Bu Uci akhirnya membuatku dan bang Dadang harus membuka aib menantunya itu ?
__ADS_1