
Meski melakukan kegiatan memasak dengan perasaan kesal, Sandra tetap saja menjalankan usul Salsa itu. Dia tak perlu bertanya, karena telah melihat catatan yang ditempelkan sang mertua sebagai menu sahur dan berbuka setiap harinya selama bulan ramadhan..
Setelah semuanya selesai, tanpa kata Sandra segera mengisi perutnya yang keroncongan. Waktu memang masih menunjukkan pukul setengah lima sore.
Saat sedang makan dengan lahapnya, Lastri datang dan menghampirinya.
" loh ! Emak pikir kamu sudah selesai makan San !!"
"Baru ini, Mak. Sandra masak dulu tadi..!!"
Lastri melihat ke arah tudung saji. Benar saja makanan telah tersedia dengan lengkap di sana . Ada sedikit senyum yang terlihat dibibir emak.
Setidaknya Sandra ada kemajuan walau sedikit.
" Kania mana Mak ?"
" Kania Tidur, kok bisa dia sampai kelaperan kayak gitu !" Emak berucap biasa saja, meski hatinya dongkol. Sembari tangannya mengambil wadah, dan memasukkan Separuh masakan Sandra kedalamnya..
Sandra melihat apa yang dilakukan Emak tanpa bertanya, dan juga berniat menjawab pertanyaan mertuanya itu. Dia kini menuju ke wastafel dan mencuci piring yang tadi dia gunakan.
" Ini bawa pulang !! biar kamu nggak harus masak lagi di rumah. ." Emak memberikan kresek berisi kotak makanan yang diisinya tadi pada Sandra.
" Tapi mak, apa nggak terlalu sedikit yang ditinggal disini ? " meski protes tapi tetap saja tangannya menggabungkan kantung kresek itu kedalam belanjaannya tadi.
" Insya Allah cukup . Karena biasanya cuma Emak sama Bapak saja yang makan. Kalau Salsa lebih sering hanya makan takjil doang..!! Oh iyah, bukannya emak ngusir kamu San. Tapi sebaiknya kamu pulang. Siapa tahu kan Dadang puasanya full satu hari ini. Jadi kamu mesti siapin sesuatu buat dia berbuka..!!"
" Iyakah Mak ? Kalau begitu Sandra pamit mak.. !!"
Sandra memasuki kamar Salsa dimana Kania ditidurkan, kemudian dia mengendong anaknya itu, membawanya pulang ke rumah..
Di rumah, Dadang kini bersantai sambil merokok dan ditemani secangkir kopi. Biasanya dia akan bersantai di teras saat jam sore seperti ini. Tapi karena menghormati tetangga yang puasa sekaligus malu akan kelakuannya. Dadang lebih memilih ngopi diruang makan..
Tak lama , Sandra masuk dengan menenteng kresek besar ,membuat Dadang keheranan.
" Apa itu San ? Kamu ngutang lagi sama mbak Fatma. .!!"
Dadang sudah memikirkan nominal fantastis akan hutang Sandra. Tak habis pikir kenapa Sandra suka sekali berhutang. Tak seperti ..!! Dadang menggeleng, entah kenapa setiap tingkah Sandra selalu saja mengingatkannya akan sosok sang mantan..
__ADS_1
" Jangan buruk sangka,bang !!aku dikasih sama emak ini. Tolong pindahin ke wadah lain bang ..!" Sandra memberikan kresek dari ibu mertuanya tadi pada Dadang, karena sekarang dia memang sedang mengendong Kania. Dia kemudian mendelik, saat menemukan kopi dan rokok yang masih mengepulkan asap.
" Loh kata Emak Abang puasa..,? hhhhhh, Pantas saja bohongin istri, ternyata memang nggak puasa ..!!"
" Apa maksudmu bohongin istri ? Jangan mulai San. Aku lagi Capek ini .."
" Capek kenapa ? bukannya sudah empat hari ini kamu libur, mana tadi ambil uang ke pak Haji besar banget lagi. Mau makan Apa kita bang. kalau uang satu juta itu kamu kasihkan ke anaknya Siti semua..!!"
" Capek ngadepin kamu.. Puas. !!!.. Uang satu juta kamu anggap besar , iyah ? Terus bagaimana dengan uang lima juta Milik Siti yang kamu curi. Lagian anak Siti berarti anakku juga. jadi jaga ucapan kamu, jangan asal bicara..urusan hutang itu urusanku. Dan untuk nafkah kalian aku akan beri secukupnya. Tak ada lagi jatah untuk Diapers dan juga susu formula. .. Ngerti !!!"
" Loh bang, lalu kania makan apa ! jangan karena kamu benci sama dia kamu malah ingin membunuhnya pelan-pelan ..!!"
berang Sandra tak terima akan keputusan sepihak dari Dadang.
" Siapa yang sebenarnya benci sama bayi itu ? kamu atau aku ? kamu pikir aku baru kali ini melihat pertumbuhan Bayi, kamu lupa jika aku sudah punya tiga anak. Kania ini termasuk bayi yang anteng, dia menangis hanya saat lapar saja, lagian kenapa juga harus pakai Diapers , itulah guna tangan kamu. Makanan Kania juga berlimpah.." Dadang menunjuk ke dada Sandra yang tampak Basah oleh Asi.
Membuat Ibu muda itu terdiam, semakin kesini dia semakin tak menyangka jika Dadang bisa bersikap sepelit ini..
***
Siti yang baru saja duduk santai di teras , sembari menunggu beduk Maghrib kini dikejutkan dengan kedatangan mobil Agung .
Benar saja, Rama yang pertama kali terlihat turun diikuti yang lainnya .
Siti menyambutnya dengan tangis haru meski hanya dua hari kurang mereka berpisah tapi rasanya sudah sangat lama.
" Uhhwwww ,,, ibu kangen dek !! " Siti mengendong Bara dan mengandeng Dio.
" Masuk dulu, Gung !! Elis ..!!"
pasangan suami istri itu mengikuti langkah Siti, sedang Rama kini malah sibuk dengan kresek indoapril yang dibelikan Bunda Elisnya tadi, dia kegirangan ketika menemukan satu cup ice cream coklat Favoritnya. Dan segera membawanya ke dapur agar bisa meletakkannya dalam lemari es .
Sedangkan Dio dan Bara kini sibuk memakan es krim mereka diruang tengah dimana Elis, Agung dan Siti berada.
"Bude mana mbak ?" Agung buka suara karena tak menemukan bude Dewi di manapun.
" kedepan tadi Gung. Beli sup buah.. Katanya lagi kepengen , kalau buat takut nggak habis karena kami hanya berdua , kan nggak tahu kalau anak-anak bakalan pulang hari ini !! Oh ya ,kenapa dadakan mereka pulangnya ? nggak kasih kabar dulu lagi..!!"
__ADS_1
" Dio nangis kejer tadi karena mau ketemu Mbak. Agung inisiatif mau anterin pulang sekalian kami juga pulang hehehe " Elis menjelaskan sembari menatap lekat sosok Bara dengan mata berbinar penuh damba..
" Terima kasih ya, sudah mau direpotkan sama anak-anak..!!"
ucap Siti tulus, meski tak enak juga merasakan tatapan berbeda Elis pada anaknya..
Kini keheningan terasa, hanya suara kecapan Dio dan Bara yang masih asyik dengan es krim mereka. Dan itu juga yang kini jadi fokus ketiga orang dewasa diruang tamu mungil itu..
Suara salam dari bude Dewi terdengar, dan dijawab oleh Rama dengan semangat. padahal bocah itu baru saja menyentuh hape Siti hendak bermain Game. Kedatangan sang nenek mengalihkan minatnya.
" Nenek!!! Temani Rama ke depan yuk . Rama kepengen makan kelpon... !!" Ujarnya dengan mata berbinar, sekaligus menunjukkan satu lembar uang berwarna merah pada sang nenek.
" Loh Rama, dapat darimana uang itu nak ?" Siti yang penasaran langsung bertanya..
" dikasih Ante Bu. kakek sama Ayah juga ngasih tadi. Tapi masih didalam saku celana Abang yang satunya. Nanti Rama kasihkan ke ibu. Tapi Rama mau minta temenin nenek dulu, nanti keburu buka nek..!!"
Siti tahu jika bude sebenarnya sangat lelah, namun wanita paruh baya itu tak akan pernah menolak apapun permintaan Rama, selagi dia mampu dan selagi hal itu hal yang baik dan positif. Mengingat hal itu Siti berniat mengajukan diri.
"Sama bunda saja ,Rama !! Rama tahukan dimana tempat belinya ? Nenek pasti capek kan baru saja pulang. Uang Rama kasihkan saja sama ibu ya, biar pakai uang bunda saja .." Elis berdiri dan langsung menghampiri Rama. membuat Siti mengurungkan niatnya untuk menemani Rama.
" Tahu kok Bun, tadikan kita lewati, Ada didepan gang !!"
" Ayo kita ke sana sekarang !!"
Rama digandeng Elis menuju keluar setelah anak itu mengikuti saran Elis soal uang yang tadi ditunjukannya pada sang nenek.
Bude Dewi menyalami agung dan pamit karena mau mengganti wadah sup buah yang dibelinya.
Melihat kepergian keduanya, Siti ikut beranjak.
" Kalian buka dulu disini ya Gung!!.."
" Oke nggak apa kok Mbak. Lagian sekarang sudah jam Setengah enam . Daripada buka dijalan, mending sama Dio dan Bara iyakan para bocil..!!"
Kedua bocah yang sudah belepotan es krim itu kini didekati oleh Agung.
" Mbak kebelakang dulu ya , bantuin Bude ..!!"
__ADS_1
" Iya mbak. ..!!"