Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
sipolos Bara


__ADS_3

Elis tersentuh akan rasa empati yang ditunjukan Rama padanya.


Baginya sangatlah langkah bocah seusia Rama mampu melakukan hal itu pada orang lain. Dalam hati, Elis kembali memuji Siti, meski didampingi pasangan seperti Dadang, tapi Siti masih bisa menanamkan nilai-nilai kesopanan dan attitude yang baik pada anaknya.


Agung pun ikut terharu, semakin besar rasa kagumnya akan mantan kakak iparnya,Siti.


Dia tahu dengan jelas perjalanan cinta dan juga keindahan biduk rumah tangga antara Siti dan Abangnya pada awal pernikahan, Meski kini dia ikut sedikit merasakan sesal, kenapa Siti dan Dadang mesti berpisah. Karena memang dia tak terlalu tahu hal apa yang telah menyebabkan perceraian keduanya.


Sementara Dadang kini menatap sosok Rama dengan mata berembun. Mendadak dia teringat akan semua kelakuannya ke Siti. Sedangkan kini, wanita yang sedang mendampinginya sebagai istri, sifatnya malah bertolak belakang dengan mantan istrinya. Mengurus satu anak saja sudah kelimpungan, padahal anak itupun masih bayi.


" Dang !! kenapa kamu nggak ajak Sandra kesini ?"


Emak bertanya, penerimaan Rama pada sosok adik bayi, bisa dijadikan arena untuk mendekatkan Sandra dengan anak-anak Dadang.


" Nggak usah Mak !! Takut malah bikin rusuh lagi..!" Dadang berucap pelan, takut Rama mendengar ucapannya meski jarak mereka kini cukup jauh.


" Kenapa ?"


" Dia ngeluh karena Kania rewel kalau malam Mak. Malah minta aku supaya menemani dia daripada berada disini, bersama anak-anakku..!!"


Bapak dan Emak kini saling pandang, sedang Salsa hanya mencebikkan bibir.


Seolah dia telah bisa membaca tabiat Sandra yang seperti itu.


" hHHHuuhhhhfff....!!!


Sepertinya, aku benar-benar kena karma Mak !!" Dadang meraup wajahnya dengan frustasi..


****


Ditempat lain, Siti kini merasa keheningan yang berbeda. Dia sama sekali tak bisa memikirkan ide untuk kelanjutan novelnya. Padahal baru beberapa jam saja dia dipisahkan dengan ketiga anaknya. Tapi rasanya sudah bertahun-tahun..


Untuk mengurangi rasa rindu pada jagoan-jagoannya Siti memilih membuka Galeri foto pada hape miliknya.


Dan kini Siti tersenyum, dia bahkan nyaris lupa jika di sana tersimpan banyak foto dan video akan perkembangan anak-anaknya, apalagi Rama Sebagai anak pertama, setiap perkembangannya selalu Siti dan Dadang abadikan baik dengan Foto maupun Video. Semua hal itu terlihat sangat manis dan seolah akan abadi, tapi nyatanya sekarang! Hanya bisa ia simpan sebagai kenangan.


" Siti, sudah mau beduk nak. Bangun !!" Bude agak berteriak karena Siti mengunci pintu kamar, dan juga Dewi berpikir Siti sedang tidur karena kelelahan.


" Iya bude !!! " Siti beranjak dari atas kasur, tak menyangka jika dia sudah melewatkan waktu selama ini. Dan juga telah membuat bude Dewi memasak sendirian untuk buka puasa mereka.


" Maaf ya bude ! Aku malah santai dikamar, nggak bantuin bude .." Siti menatap bude dan mengungkapkan penyesalan.


" Iyah bude ngerti kamu ko Ti ! Lagian juga bude nggak terlalu repot ini "


" Apa menu buka kita bude..? Ehh kita telpon anak-anak yuk bude ..!!"


Belum juga mendapat jawaban akan pertanyaannya, Siti malah kepikiran untuk menelpon anak-anaknya.


Kini Siti duduk di kursi meja makan, dengan bude didekatnya. Kemudian dia menekan video call pada layar.


Tak lama berselang, sudah ada wajah Rama menyapa. Anak sulung Siti itu menatap Siti dengan senyum sumringah..

__ADS_1


" Assalammualaikum .. Bu !!"


" Waalaikumsalam..Eh ganteng ibu. Kayaknya seneng banget ?"


" Iyah nih buk. Kita buka sama Ayam K*c. ."


kamera tiba-tiba menyorot menu pada meja makan di rumah emak. Membuat Siti dan bude tersenyum. Semua yang tersaji adalah kesukaan anak-anak Siti.


" ohh.. Ibu jadi pengen nih, bang !!" Siti cemberut karena kini Rama menampakkan wajah ceria seolah pamer pada sang ibu.


" Eh adik-adik mau lihat wajah ibu nih !"


Kini wajah Dio dan Bara memenuhi layar, membuat Siti menitikkan air mata tanpa sadar ." Jangan rindu ya bu. Kita bakalan pulang kok "


Bara bersuara, meski terdengar jelas jika yang mengajari kalimat itu adalah Salsa, sang Tante.


" Kok gitu dek, jelas dong Ibu akan rindu sama anak-anak ibu yang ganteng ini !!"


Siti menatap wajah sumringah kedua anaknya. Tak lama berselang, terdengar suara adzan Maghrib membuat Bara dan Dio langsung menghilang dari layar. Dan kini wajah Salsa yang terlihat.


" Udah dulu ya mbak..!! Selamat berbuka..Assalammualaikum.!!"


" Wa'alaikumsalam..!!"


Siti langsung mengambil sebutir kurma dan segelas air putih. Setelah membaca bacaan berbuka puasa dia segera membatalkan puasanya, pun dengan bude Dewi yang menatap Siti dengan senyum..


***


Sesampai di sana . Salsa melihat jika Sandra tengah menimang anaknya di teras milik mbak Fatma.


" Ehh Ada Bara sama Dio ? Mau jajan apa sayang !" Fatma menyambut kedua bocah lucu itu dengan ramah. Dia bergegas juga mengendong Bara, agar lebih mudah menunjuk jajanan yang dia inginkan.


" Eh Ada adik ipar, katanya sarjana kok ya nggak punya adab. Ketemu kakak ipar malah nggak nyapa ? "


Sandra bersuara, meski matanya tak menatap Salsa , siapapun yang mendengarnya juga akan tahu jika yang dimaksud Sandra adalah Salsa.


" San !! kamu apa-apaan sih ? Ada anak kecil juga..!!"


Fatma menegur kelakuan Sandra yang menurutnya tak melihat situasi.


" Alah Tan. Anak kecil mah nggak rewel soal beginian, dan nggak ngerti juga kali..!"


Fatma bergegas menyerahkan Bara kepada Salsa, Dia tersenyum pada Salsa seraya bergerak mundur, kemudian mendekat kearah Sandra dan menarik ponakannya itu agar masuk kerumahnya.


" San !! Jaga ucapan kamu ! Kamu mau Dadang benar-benar menceraikan mu, ingat kamu itu bisa bertahan dengan Dadang karena rasa simpati mereka akan apa yang telah menimpa kamu. jadi, jangan membuat ulah yang akan merugikan kamu sendiri nantinya ..!!!"


Salsa mendengar semua yang diucapkan Mbak Fatma. mungkin karena saking tak bisa menahan emosi, Fatma malah bicara keras pada Sandra. Hingga didengar oleh orang yang berada diluar rumah..!!


Tak ada jawaban dari Sandra sampai sosok mbak Fatma keluar dengan senyum, seolah tak terjadi apa-apa..!


Sementara Dio dan Bara kini telah memegang berbagai jenis cemilan dimasing-masing tangan mereka. Belum juga bicara dan bertanya akan total belanjaan ponakannya Salsa tiba-tiba malah terdiam

__ADS_1


" Sandra ada disini Mbak ?"


Dadang tiba-tiba datang dan menanyai Fatma akan keberadaan Istrinya


"Rumah berantakan, diapers habis pakai berserakan dimana-mana. Dia malah sudah kelayaban. Mana nggak masak apa-apa lagi !!"


Dadang terdengar berkeluh kesah, dia sama sekali tak sadar akan adanya Salsa dan anak-anaknya di samping kanannya. Suaranya yang terdengar emosi tentu saja seolah terdengar tengah membentak.


" Te !! Pulang !" Dio mendekap kaki Salsa takut-takut. Semenjak kemarin mendengar bentakan Siti, Dio jadi takut saat ada seseorang yang bicara keras didepannya ." Dio takut !!!"


Mendengar suara bergetar itu, Dadang menoleh. Matanya kini bertemu dengan mata Salsa yang menatapnya marah. Abangnya benar-benar sudah tak punya malu lagi.


" Ayo Sayang kita pulang!!!"


Salsa mengendong Bara dan mengandeng Dio tak ia pedulikan tatapan penyesalan dari Dadang, walau lelaki itu terlihat hendak menyapa namun malah ragu..


" Kembaliannya besok saja Mbak !!" Salsa berucap setelah menyerahkan uang seratus ribu pada Fatma.


" Bang !! kamu itu , pulangnya kok siang gini sih. .! Aku kan nggak bisa beberes rumah dan masak. Bahkan aku harus makan di rumah Tante karena sudah kelaparan, kamu kan tahu aku ibu menyusui sekarang. Jadi nggak bisa jika telat makan, bisa-bisa Asiku nggak keluar nanti. Emang kamu mau beli susu formula buat anak kita ..!"


Sandra yang baru keluar dari rumah Tantenya malah nyerocos nggak jelas, untung saja Dadang masih fokus pada Salsa dan anak-anaknya yang kian menjauh.


Hingga akhirnya lelaki itu tak tahan dan malah mengikuti langkah Salsa, tak peduli akan Sandra yang berteriak bak orang kesetanan dari rumah tantenya.


Sesampainya di rumah emak. rupanya Bara sudah berada di pangkuan Agung. Anak bungsunya itu terlihat sumringah karena tangannya kini dipenuhi dengan makanan yang sengaja dimasukkan oleh Salsa kedalam kresek.


" Ayah mau ?" Tanyanya pada Agung. Membuat sisi hati Dadang sedikit tercubit. Entah sejak kapan Bara ikut memanggil agung dengan sebutan Ayah..


" Nggak! Bara saja yang makan ya !! Ayah puasa sayang !!"


" Puasa ? Tadi ante Salsa juga bilang dia nggak mau karena puasa ! Emangnya puasa itu apa Yah ?"


Agung mengacak rambut Bara dengan gemas, pertanyaan cerdas itu membuatnya sangat terhibur.


" Puasa itu menahan lapar dan haus, dari selepas subuh hingga beduk Maghrib. Bara..!!" Agung menjelaskan dengan kata-kata sederhana.


Mendengar itu Bara mangut-mangut, Seolah sudah mengerti. Kemudian dia menatap kearah Dadang. " Kok Ayah nggak puasa ?"


Agung menatap Dadang, sedari tadi dia tak menyadari kehadiran Dadang. Agak kaget juga dengan pertanyaan Bara.


Bukannya menjawab, Dadang malah memalingkan wajahnya kearah lain.


" Ayah puasa kok Bara. Subuh tadi Sama Ayah Agung sahur bareng kok ?"


Bara mendelik kearah Dadang


" Tapi Yah. .!" Dia menoleh lagi kearah Agung.


" Tadi Ayah marah-marah sama orang karena katanya dia nggak masak..!!" Bara berucap santai sambil tetap memakan kripik kentang ditangannya dengan lahap.


" Bang !!!" Agung menatap Abangnya tak mengerti. ". Kita perlu bicara ..!!"

__ADS_1


__ADS_2