Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Serius !!!!


__ADS_3

Setelah hari itu semuanya terasa hening dalam ketidak pastian. Hubunganku dengan Dadang terasa beku kembali, sekarang aku meyakini jika memang pemuda itu tidaklah terlalu serius dengan ucapannya yang ingin menjadikanku istri. sayangnya aku malah terlalu terbawa perasaan.


***


Aku kini berada dilahan sawit milik bude, sawit yang belum terlalu tinggi itu berbaris dengan sangat rapi. Aku sebenarnya tak pernah mau ikut jika bude sedang meninjau keadaan pohon sawit miliknya. Tapi hari ini entah kenapa aku merasakan bosan yang sangat, terlebih kini pikiranku tak bisa jika tidak memikirkan soal apa yang telah Dadang ucapkan dua Minggu yang lalu. Entah apa Dadang juga berpikiran sama yang jelas hingga detik ini tak ada satupun dari kami yang mencoba menghubungi lebih dulu.


Sebenarnya aku memang salah, telah meninggalkan Dadang tanpa kata, dan juga malah minta diantar Fian lelaki yang sering berpapasan dengan Dadang jika dia mau berkunjung. Entah kenapa sosok Fian ada disaat genting hari itu.


" Kamu kenapa Sih Siti !! bude perhatikan kamu belakangan ini sering melamun. Fian juga bilang kalau kamu bahkan nggak fokus kalau lagi ngomong sama dia.."


Fian, pemuda desa tetangga merupakan anak dari pengusaha sawit di daerah kami tinggal. Fian adalah pemuda yang tampan, pandai bergaul dan juga sangat sopan. Tak heran jika bude sangat menyukai pemuda itu dan bahkan berniat menjodohkan ku dengannya.


" Ditanya kok bengong kamu !!"


Suara kesal bude terdengar lagi ditelinga ku.


" Aku nggak kenapa-napa bude . Cuman lagi males ngomong aja hehhe"


" punya mulut kok males ngomong kamu Ti. ada-ada aja anak zaman sekarang Tingkahnya suka aneh apalagi seleranya.."


Loh. kok bude ngomong kearah situ. hmmm ini pasti karena Fian. Dasar bude..! Aku pikir dia tidak akan seserius ini dengan ucapannya denganku kemarin. Tapi ternyata malah dia dengan terus-terusan menyodorkan pemuda itu padaku..


"Emangnya kalau aku nikah muda , sekarang ni misalnya. Apakah bude merestui, ngasi izin gitu. Nanti malah syok karena belum siap karena aku harus nikah muda .."


Bude nampak menatap ke arahku dengan serius, matanya tiba-tiba menelisik penampilanku dari atas kebawah kemudian keatas lagi


" kalau caranya wajar bude bakalan ijinkan. Tapi jika karena suatu hal, dan itu tak bisa ditolerir maka bude dengan terpaksa juga akan mengizinkan. Ya intinya adalah kalau kamu sudah ketemu jodohmu ya bude bisa apa ..!!!"


Kupeluk bude dengan erat mendengar jawabannya, bude Dewi memang sepengertian itu jika itu tentang keinginanku.


" Asal sama lelaki yang bude suka tapi ya..."


jlebbbb.....

__ADS_1


ah bude , selalu saja menggodaku dengan sejuta caranya..


Wanita paruh baya itu meninggalkanku dengan cuek. Ternyata rasa haru yang kurasakan tadi hanya angin lalu bagi bude.


Handphone disaku celanaku tiba-tiba bergetar. Dengan penasaran segera saja kuambil benda pipih itu. Nama Dadang tertera dilayar..


Rasa enggan menjawab tiba-tiba datang, padahal jujur saja aku telah menunggu terlalu lama untuk sekedar telpon darinya.


"Assalammualaikum Ti. Kamu dimana ? kok rumahmu kosong.."


Agak lama aku terdiam, apa ini artinya pemuda ini tengah berada di rumah, memikirkan akan bertemu dirinya lagi membuatku dilanda gugup yang luar biasa. Entah bagaimana aku harus bereaksi dan bersikap nantinya.


Tapi aku juga penasaran, lelaki itu memang benar-benar serius ingin memperistri diriku atau hanya sekedar bercanda, sama seperti sebelumnya, saat dia selalu menggodaku dengan candaannya.


" Ok !! Aku pulang sekarang."


Telpon terputus seiring dengan selesainya ucapan ku. Huh, kenapa dia selalu tak peka seperti ini.


Kulihat bude masih mendiskusikan harga pada Fian, Entah sejak kapan pemuda itu mengambil alih pekerjaan orang tuanya. Dan juga kapan pemuda itu datang kesini, Kurasa rasa penasaranku hanya bisa kupendam saja. kenyataannya ketika sampai didepan bude aku diam dan mencoba memilih waktu yang tepat agar bisa segera pamit pulang.


" Siapa tamu kamu ? perempuan atau laki-laki."


Bude berucap penuh selidik seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, sementara Fian menatapku dengan pandangan yang sama seperti bude ..


" Laki ,bude. Itu si Dadang. pemuda kampung sebelah.."


" Kampung sebelah mana, ngawur..."


" Yah pokoknya agak jauhlah dari daerah kita. ..hehhe"


Ucapku membenarkan ucapan bude yang mengatai ku ngawur .


" Jangan macam-macam di rumah. Jaga diri kamu sebagai perempuan. kamu mengerti kan maksud bude ?"

__ADS_1


aku hanya mengangguk dan menyalami bude, serta juga melempar senyum termanis ku didepan Fian.


" Mau ku antar Ti !"


" Nggak usah .. kebetulan aku bawa motor tadi." Entahlah rasanya kurang nyaman jika harus membalas perlakuan baik Fian. Takut pemuda itu salah mengartikan dan malah berharap lebih. Sebagai seorang perempuan, tentu saja aku tahu jika Fian memang menaruh perasaan padaku, terlepas dari sikap bude yang menjodohkan kami.


Setelah mengendarai motor selama 10 menit, Dari jauh sudah kulihat jika motor Dadang masih nongkrong dihalaman rumah, sosok itu juga nampak gusar sambil sesekali melihat kearah hape yang ada di tangannya .


Deru mesin motorku sepertinya membuat Dadang menyadari kedatanganku.


" Maaf lama Ya. Tadi nemenin bude keliling soalnya.."


Aku lekas turun dan langsung membuka rumah bude yang masih terkunci rapat. Dadang mengikuti ku, bahkan pemuda itu masuk sebelum bibirku mengizinkannya. Dia duduk di kursi kayu diruang tamu, dan kini malah menatapku yang masih berdiri dengan pandangan yang membuatku salah tingkah.


" Ayo duduk.." Titahnya menepuk kursi panjang yang didudukinya.


"Aku mau buat minum dulu." Jawabku tak enak, masa tamu tak disuguhi minum, Apalagi Dadang sudah lama menungguku didepan rumah tadi. Tanpa persetujuannya aku langsung ke dapur. membuat teh manis. Jujur saja aku belum tahu minuman seperti apa yang Dadang sukai.


"Aku pikir kamu menghindari ku, karena perkataan ku waktu itu !


Maaf ya jika membuatmu kurang nyaman dengan kehadiranku sekarang..!!"


Kini aku duduk berhadapan dengan Dadang, tak pantas rasanya jika aku malah duduk berdampingan dengannya saat sedang berdua saja di rumah seperti saat ini.


" nggak kenapa-napa kok. lagipula kamu kan cuma bercanda. Jadi santai ajalah nggak usah terlalu dipikirkan .." Aku tertawa garing dengan ucapan ku sendiri.


Tapi kulihat raut wajah Dadang yang nampak kesal seolah tak terima.


" Jadi ucapan-ucapan ku waktu itu kamu anggap bercanda..!!!"


Aku membeku apa maksudnya.


" Aku nggak nyangka nilai humoris mu sejauh itu. Apa ini karena lelaki yang saat itu mengantarmu pulang ? kalian sudah jadian, makanya kamu anggap aku hanya bercanda.."

__ADS_1


Aku diam tak mampu berkata-kata, melihat mata Dadang yang dipenuhi kekecewaan, entah kenapa aku merasa sangat bersalah. Sepertinya lidahku tak bisa berkompromi..


" ja-di ....Kamu serius ???"


__ADS_2