
Pagi kini mulai menyapa kembali, guguran daun pohon mangga di samping rumah memenuhi halaman. Meski merupakan satu-satunya pohon yang ditanam emak. Tapi daunnya mampu memenuhi halaman rumah yang luas, Sekarang aku tahu, jika fungsi halaman emak yang dibiarkan tak ada tanaman adalah agar mereka bisa dengan mudah menjemur biji kopi hasil panen.
Salsa bilang jika musim panen tiba maka akan sulit untuk menemukan tanah yang luas nan lapang untuk menjemurnya. Makanya emak melarang jika Salsa hendak menanam buah, Atau sekedar bunga untuk memperindah area depan rumah yang luas.
" Eh Mak Salsa, sudah mulai panen ya .kalau kami sih belum , kata bang Ujang. Soalnya aku sudah lama nggak ikut ke kebun jadi kurang tahu heheh.."
" Oh ini cuma buah selingan kok Mak indah..belum terlalu baik juga kualitasnya, Tapi lumayan . nggak kebeli bubuk kopi lagi.."
Emak terlihat menjawab ucapan bu Uci, yang merupakan tetangga sebelah rumah.
Emak -emak memang terbiasa memanggil dengan sebutan sesuai nama anak mereka.
Bu Uci nampak menilai penampilanku, memang sedari tadi aku berdiri didekat emak sambil memegang sapu, setelah selesai menyapu halaman samping tempat pohon mangga berada.
" Belum isi juga Ti.."
Wanita yang terlihat seumuran emak itu menyentuh perutku yang rata, meski agak risih tapi kubiarkan saja " Sudah lima bulan loh kalian menikah ? kok masih rata sih ?"
Aku menunduk, kemudian mengalihkan pandanganku pada sosok emak.
" Siti sebaiknya kamu bikin kopi kebelakang, biasanya bapak pulang jam segini "
Aku bersyukur emak seolah memahami situasi ku yang tak nyaman karena pertanyaan Bu Uci.
Aku pamit dengan melempar senyum pada bu Uci.
Baru saja aku masuk, suara wanita itu terdengar lagi.
" Kayaknya dugaan mu benar deh mak Salsa. menantu mu itu mandul, turunan dari budenya . Udah lima bulan lebih loh, kok nggak ada tanda-tandanya dia bunting... Hhh"
" Entahlah mak Indah. Aku juga malas bahas masalah cucu lagi sama Dadang dan menantu ku itu. Percuma. Dikasih solusi malah aku yang disalahkan, Ya udah toh. palingan jika beneran si Siti mandul. ku suruh Dadang buat nikah lagi sama cewek lain. Beress..!!!"
" Iya ya, kalian kan memang keturunan bibit unggul hihihi, pasti masalahnya ada di Siti.. "
__ADS_1
Bu Uci cekikikan bersama Emak membuatku merasakan sesak, tega sekali mereka mengatakan itu dan malah menertawakannya.
Aku menangis, menumpahkan semua kesedihan karena ucapan Emak. Aku tak menyangka, jika emak bicara seperti ini dibelakang ku. Aku pikir beliau mengerti aku dengan baik, Dan tidak terlalu mempermasalahkan akan keterlambatan kami untuk punya momongan, tapi ternyata aku malah salah besar.
Aku malah dijadikan bahan ghibah oleh emak mertuaku itu didepan tetangga.
Aku urungkan niatku untuk membuatkan Bapak kopi, dan lebih memilih masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya dengan rapat.
di atas bantal aku menumpahkan segalanya, rasa kecewa, kesal, marah dan rasa bersalah menjadi satu.
Apakah aku benar-benar mandul, seperti apa yang tadi Emak ucapkan. ?
jika ia sanggupkah aku berpisah dengan bang Dadang, atau aku harus mengikhlaskan suamiku itu untuk memiliki istri kedua,,
Sekarang aku mengerti perasaan bude. Baru lima bulan mendengar pertanyaan kapan hamil ? aku sudah sekacau ini, sedangkan bude, selama pernikahannya ia bahkan tak berkesempatan untuk memiliki rahim.
Bude sebenarnya tak mandul, tapi karena suatu penyakit yang serius, beliau terpaksa menjalani operasi pengangkatan rahim, sebelum menikah.
Beruntung bude ketemu dengan sosok pakde yang menerima semua kekurangannya. Termasuk tak akan bisa hamil sampai kapanpun juga.
Aku ragu, apakah hal ini aku katakan ke bang Dadang atau tidak.
jujur saja untuk memendamnya sendiri aku merasa tak sanggup..! Tapi jika ini ku adukan , sama saja aku seolah mengadu domba ibu dan anak itu, hanya karena rasa sakit hatiku akan ucapan emak yang bisa saja salah.
Ketukan pada pintu kamar membangunkan ku, rupanya aku ketiduran setelah lelah menangis, sebelum membuka pintu aku memandang diriku di cermin. terlihat jika Mataku bengkak dan sembab, wajahku juga nampak pucat, dengan bibir yang kering . Meski ragu aku akhirnya membukakan pintu , aku tahu jika bang Dadang lah yang datang, karena, bang Dadang memang selalu pulang jam segini.
Pintu terbuka,namun aku sengaja menahannya agar tak terbuka sepenuhnya.
" Loh kenapa dek ?"
Bang Dadang heran, dan menatap ke arahku. Setelah melihat wajahku dia akhirnya masuk dan menutup pintu serta dengan cepat menguncinya.
" Kamu kenapa ? Sakit !! Emak bilang kalau kamu dari siang tadi masuk kamar dan nggak keluar-keluar, kenapa kamu dek.
__ADS_1
matamu juga bengkak, kamu nangis ?"
bang Dadang menyentuh keningku, dan menangkup wajahku dikedua tangannya
" Cerita ke Abang kamu kenapa ?"
" Aku mau kita ke dokter kandungan bang. aku mau mastiin apakah aku mandul atau tidak ? "
" kenapa tiba-tiba dek, ada yang ganggu pikiran kamu. Atau emak nanya ke kamu lagi, hamil atau belum. Begitu ?
Aku menunduk, ku gigit bibirku dengan kuat agar tak mengeluarkan isakkan. "Aku cuma mau mastiin aja kok bang. . Mau yah, kita cek ke dokter . Berdua !!"
agak lama menunggu bang Dadang untuk menyetujui usulanku, Tapi tatapan memohon yang sedari tadi aku tampakkan sepertinya membuatnya luluh juga.
" Oke . boleh !!Tapi weekend ya soalnya...."
" Yah kalau weekend nggak akan ada yang buka bang !" Protes ku pada permintaan bang Dadang ,
" Besok ya. Janji..!!"
Aku menyodorkan jari kelingkingku didepannya.
"apaan sih dek kok kayak anak kecil pake ginian segala "
Meski protes bang Dadang akhirnya menautkan juga jari kelingkingnya ke kelingkingku.
Aku terlalu senang hingga langsung memberinya pelukan dan ciuman bertubi-tubi pada wajah nya.
" Masih sore, jangan pancing Abang. Nggak enak sama emak dan yang lain..." Suaranya sudah terdengar serak, biasanya dia tak akan bercanda jika situasinya sudah begini.
Aishhh .,.suamiku ini selalu saja on ,saat disentuh walau hanya sebatas pelukan. Aku malah mendorongnya keluar kamar karena aku ingin mandi dan tak ingin dia melihatku membuka baju didepannya.
Meski rumah emak dan bude , berukuran sama. Tapi kamarnya masih belum dilengkapi kamar mandi. Jadinya kami akan mandi secara bergantian dikamar mandi yang ada di dapur.
__ADS_1
Untungnya setiap aku keramas, emak tak menggodaku. Meski kadang ku kemukakan alasan jika aku keramas setiap pagi karena kebiasaan dari kecil, meski mungkin terdengar konyol dan tak masuk akal, tapi tak apa, aku hanya mencoba membela diri agar tak terlalu malu karena tiap malam dikelonin bang Dadang.