Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Agung Menikah


__ADS_3

Aku masih kesal dengan ucapan bang Dadang pada Rama, padahal yang kutahu. Bapak pun tak sungkan membantu emak dalam bekerja entah apapun itu. Jadi, siapa yang sudah jadi panutan bang Dadang saat dia mengatakan hal tak berdasar seperti tadi.


Apakah dia hanya mengarang saja untuk membenarkan perlakuannya padaku selama ini.


" Minta uang buat beli rokok dek !!"


Bang Dadang seolah tak mengingat lagi perdebatan kami tadi dan dengan santai menadahkan tangannya ke arahku, raut wajahku yang ku buat sejutek mungkin tak membuat dirinya gentar dan malah semakin berani menatap kearahku.


" Aku nggak punya uang ? Kan tugasku hanya di dapur, kasur dan sumur. jadi jangan meminta nafkah dariku." saking kesalnya aku membalikkan ucapan bang Dadang tadi.


" Kamu apa-apaan sih, jangan mancing perdebatan lagi. Sini uangnya , Mulutku sudah pahit nih. Kelamaan nggak ngerokok."


" Aku bilang nggak ada ya nggak ada. Yang perlu kamu ingat. Bulan depan bayar Uang bank, bukan soal jongormu terus bang...


Seharusnya sebagai lelaki kamu meniti ucapanmu, kalau tugas suami hanya mencari nafkah. Ini malah banyak males-malesan di rumah saja..."


"Iya aku tahu. tapi, Masa nggak boleh libur sehari doang..!!"


" Sehari itu jika cuma hari ini kamu nganggurnya bang. Tapi kalau sudah berhari-hari namanya kamu malas dan nggak bertanggung jawab soal nafkah anak istri yang sering kamu jadikan alasan, untuk menolak membantuku mengerjakan tugas rumah, jangan cuma menuntut ku untuk sempurna versi mu sedangkan kamu malah seolah lupa akan tanggung jawab.." aku berucap tanpa jeda, sedikit ngos-ngosan, saking emosinya.


" Kamu itu, kenapa semakin hari semakin banyak menuntut sih Dek , Pindah ke rumah ini membuat kamu berubah Bukan ke arah baik, tapi semakin membangkang ke suami.."


" Bukan aku yang berubah. Tapi keperluan hidup kita yang bertambah, membuatku pusing. Sedangkan kamu apa-apa dianggap santai, giliran sudah kepepet malah marah-marah nggak jelas.."


" Sudah. Aku nggak jadi minta uang buat rokok. Jadi jangan ngoceh nggak jelas lagi. Kamu juga sudah semingguan ini nggak ngasih nafkah batin. Aku nggak protes ,seharusnya kita itu harus sama-sama mengerti. Dek !"


Aku tertawa mendengar ucapan lucu bin konyol suamiku itu, Bagaimana tidak, setiap perdebatan kami masalah ranjang yang katanya tak sehangat dulu. Selalu saja dibawa-bawa.


" Kamu kan tahu bang kalau aku lagi halangan. Bukan berarti aku tak memberi kamu nafkah batin, kamu bisa bebas membalasnya dengan tak mau mencari nafkah untuk keluarga. Hidup ini bukan tentang kita lagi, bang. Tapi ada anak-anak yang mesti kamu pikirkan. Tak ada salahnya kamu menyingkirkan ego demi mereka, demi darah dagingmu sendiri.."

__ADS_1


Bang Dadang diam, dan memilih fokus pada kopi yang tadi memang masih ada, Namun sudah dingin. Dengan pelan dia menyeruput kopi itu. Menghindari tatapan mataku yang masih memandangnya penuh rasa kecewa.


Niatku yang sedari tadi ingin menanyakan tentang calon Istri Agung kini menguap entah kemana, biar saja. Nanti juga aku pasti akan bertemu dengan Calon dari adik ipar ku itu.


***


Hari telah menjelang sore , kini Salsa datang ke rumah, disaat aku sedang menemani Bara dan Dio didepan rumah mbak Salma.


Kehadirannya membuatku segera pulang mengandeng kedua bocah yang sebenarnya masih asyik bermain itu.


" Hai Tante, tumben kesini ?"


Aku menyapa Salsa dengan menirukan suara khas anak kecil, mengajari supaya Bara juga memanggil Salsa dengan sebutan itu.


"Ya aneh aja, Mbak kok nggak main ke rumah lagi setelah lamaran bang Agung..?"


" Salsa kesini cuma mau bilang , Minggu nanti mbak Siti, ukur baju ketempat mbak Ira ya, untuk seragam nikahan bang Agung nanti. Sekalian juga para bocil dan juga bang Dadang juga diukur.."


" Loh, Sa, pernikahan Agung emangnya kapan ? "


" Mbak nggak dikasih tahu sama bang Dadang ? aku pikir sudah dikasih tahu . Satu bulan lagi mbak, ."


" kok mepet sih Sa ? " Aku kaget dan merasa heran.


" Nggak tahu, Abang Agung kebelet nikah kali Mbak. Makanya nggak sabaran heheh. Emak sama Bapak aja dibuat bingung soal Uang mahar , eh malah minta nikah dalam waktu dekat lagi, Kan bikin pusing.."


Jangankan Emak dan Bapak yang harus memutar otak untuk kebutuhan persedekahan dan juga uang mahar, aku pun juga dibuat pusing harus memberi apa nanti di pernikahan Agung ini. Sementara hutang bulanan dan mingguan juga sudah menunggu. Apalagi tingkah bang Dadang yang semakin hari semakin betah bermalas-malasan, membuat otakku diterpa stress.


" Aku hanya ngasih tahu itu aja kok mbak. Ya udah aku pulang dulu. Mau masak, soalnya Emak pulang agak sore, hari ini.."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk menanggapi Salsa yang pamit pulang. Otakku kini disesaki masalah ekonomi yang semakin mencekik. Semoga saja ada keajaiban dan rezeki tak terduga yang datang dalam waktu dekat.


Tak berapa lama setelah kepulangan Salsa. Bang Dadang juga menampakkan batang hidungnya. Ditangan suamiku itu telah ada sebungkus rokok yang nampak masih bersegel, belum dibuka..


" Dapat uang dari mana Bang ?"


Aku menyuarakan keheranan ku


" Minta ke Bapak. Habis kamu pelit sama suami sendiri."


" Huhhh... Bapak lagi banyak pengeluaran dan juga pusing mikirin Agung . kamu malah tambah bebannya bang. Aku heran apa sih yang ada didalam pikiran kamu itu sebenarnya ?"


" Kenapa emangnya Agung ? Soal pernikahan ! kamu tenang. Agung itu nikah sama anak konglomerat. jadi meski istrinya minta mahar besar, toh uangnya dari pihak perempuan itu juga . semua hanya sebagai formalitas dan biar dibilang wah saja itu, jadi emak dan Bapak tak mengeluarkan uang sepeserpun.."


Bang Dadang berucap santai,


menganggap masalah ini sangatlah mudah..


" Tapi tetap saja Bang. Kita meski beri sedikit uang ke Emak untuk persedekahan di rumah mereka. Seperti saat pernikahan Indra dan Hafiz!"


" Masalah itu biar nanti abang bicarakan ke Emak. pasti mereka mengerti akan keadaan kita saat ini.."


" Jadi. Kamu bakalan nggak berusaha gitu bang, soal ini ? Iya. kamu nggak malu ! tapi aku merasa nggak enak bang, apalagi kita sekeluarga malah diberi baju seragam .."


" Ya udah kalau kamu nggak enak , kamu minta saja gih sama bude uangnya. Sekalian juga minta buat bayar bank bulan depan. biar kita sedikit diberi nafas, dan bisa membantu di rumah Emak tanpa dibebankan cicilan yang menunggu..."


" Kok jadi ke bude sih ? kamu itu benar-benar deh bang.."


Aku kehabisan kata-kata. Entah kenapa semakin kesini bang Dadang seolah menunjukan sifat aslinya. Sangat tidak bertanggung jawab dan tak tahu malu..

__ADS_1


__ADS_2