
Sebulan berlalu tanpa terasa, Dadang rupanya telah membiasakan diri untuk mandiri, meski ada Sandra yang notabene adalah istrinya, lelaki itu mungkin sudah di fase lelah dan tak mau lagi ambil pusing dan direcoki dengan teriakan dari Sandra, karena pertengkaran mereka.
Dadang akhirnya sangat tahu dan hafal akan tabiat Sandra yang drama Queen dan juga suka membesar-besarkan masalah .
" Bang !!!" Itu Suara Sandra. Bumil itu masih didalam kamar, sementara Dadang tengah sibuk di dapur,
" Bang Dadang !!!"
Meski kesal, Dadang akhirnya berjalan kearah kamar, dia enggan untuk menjawab panggilan Sandra.
Mencoba melihat langsung, hal apa yang membuat istrinya berteriak memanggil namanya.
" Perutku sakit ini !!"
Sandra mengeluh, wajahnya kini pucat dan berkeringat banyak.
" Aku sepertinya ingin melahirkan..!!"
Lama Dadang terdiam dan menatap sang istri dengan tatapan heran,
" Kan baru masuk tujuh bulan . Kok bisa ?"
" Apa itu penting, aku mana tahu bang !! Tolongin bang .."
Dadang memperhatikan area bawah Sandra , rupanya telah banyak darah yang merembes, dan Sandra juga sudah sangat lemas. Dengan cepat dia mengendong Sandra keluar rumah.
" MBAK Salma !!! Tolong matikan kompor di rumah saya, Sandra mau melahirkan !!" Dadang berbicara sembari berjalan cepat menuju ke rumah bidan Desa.
Ibu-ibu yang kebetulan sedang mengerumuni motor kang sayur untuk membeli sayuran itu nampak saling pandang , dan menampilkan wajah kebingungan, sekaligus juga heran.
" Bukannya baru Empat bulan mereka menikah ? Kok sudah lahiran saja.." Salah satu ibu -ibu nyeletuk, membuat mereka menampilkan senyum seolah merasa aneh sekaligus geli.
" Ahahha.. Yang lebih aneh lagi. kalau dihitung-hitung, si Sandra kan baru tujuh bulan lebih sedikit disini !!! Apa Dadang tak menaruh curiga soal itu hihihihi"
timpal seseibu yang lain, ikut julid.
" Huss .. Bu ibu kalau mau gosip jangan di depan saya, nanti saya malah ikut-ikutan dan gosipnya malah nyebar.."
Kang Sayur, yang biasa dipanggil Salim. Pria yang memang terlihat kemayu itu juga ikut nyeletuk, membuat tawa mereka membahana di pagi buta ini.
" Yeee....Kan Situ memang biangnya raja gosip.. Jadi kita-kita pahamlah.. Hahhaha"
Salim ikut tertawa,
" Apa Sandra benar-benar mau melahirkan ? Atau Jadi korban KDRT, kayak si Siti ? "
Salim merubah ekspresinya menjadi sedikit prihatin.
Ibu-bu itu terdiam, dan saling pandang. Kalau iya, Sandra pendarahan dan mengalami seperti apa yang kang sayur ucapkan maka mereka sebagai perempuan harus tegas pada Dadang, enak saja lelaki itu, menambah nama korban akan tingakah dirinya, yang beraninya kasar sama perempuan.
" Jangan Suudzon ibu-ibu. Lihat saja nanti. Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum tahu kebenarannya..!!!"
__ADS_1
Salma datang, wanita itu baru saja kembali dari mematikan kompor dan juga menutup pintu rumah Dadang .
"Salim !! kalau kamu lewat depan rumahnya Fatma, bilang ke dia kalau keponakannya dibawa ke bidan desa, mau melahirkan ..!!"
Salma bicara seraya menatap kearah Salim.
" Oke siap Mbak. Aku Otw...!!"
Motor sayur itu berlalu, meninggalkan anggota ibu-ibu yang sepertinya belum puas untuk bergosip. Sementara Salma, dia memilih masuk ke rumah. Berniat memasak lauk untuk sang suami tercinta.
***
Dadang terduduk lemas diruang tunggu.
penjelasan sang bidan membuatnya semakin lesu, dan enggan untuk mendampingi Sandra, sang istri yang kini tengah mengalami kontraksi.
Baginya ini adalah sesuatu yang aneh. Bagaimana bisa, Sandra melahirkan ketika usia kandungannya masih terlalu muda bagi Dadang.
Jemari yang terlihat kasar itu terlihat tengah menghitung , kening Dadang juga berkerut dalam, ada emosi di wajahnya.
'Apa benar ini anakku ?' Dadang membatin, menatap kearah ruangan yang hanya ditutupi tirai pembatas, Suara Sandra yang memelas dan tampak kesakitan semakin membuat Dadang tak tahan. Emosinya sudah diubun-ubun.
" Dang !!! Dimana Sandra ?"
Fatma datang dengan tergopoh,
menatap Dadang heran karena suami dari keponakannya itu tampak santai duduk disini.
" Mbak jangan asal tuduh, Sandra ada di sana..!! Untuk lebih jelasnya mbak tanya sendiri bidan yang menanganinya langsung, Saya..!!"
Belum selesai Dadang bicara, suara bayi terdengar memenuhi ruangan enam kali enam ini . Membuat Dadang memijit keningnya dengan gusar.
Fatma yang kaget mendengar suara bayi, langsung membuka tirai dan menemukan Sandra yang masih ditangani bidan, sedang bayinya kini dibaringkan di atas dadanya.
" Kamu melahirkan?" Lirih suara Fatma ,menandakan ketidak percayaan. Wanita itu menatap keponakannya dengan ekspresi campur aduk.
" Bayinya prematur kah , Ra ?"
Fatma menatap Mira, bidan yang kini masih bergerilya di bagian bawah Sandra, menjahit inti Sandra yang robek paskah lahiran.
" Nggak kok mbak !! Bayinya sehat, dan cukup bulan. Mbak bisa lihat sendiri kan betapa gembul nya "
Mira menjawab dengan senyuman penuh . Membuat Fatma menatap bayi yang kini tengah mencari pucuk buah dada ibunya itu,
Mata Fatma kini beralih mengintip Dadang yang masih betah di posisinya tadi. Dia paham, pria itu pasti sepemikiran dengan nya soal anak yang dilahirkan Sandra.
" Ehh Mbak, peralatan dede bayi nya sudah dibawa kan ? "
Fatma menggeleng, dia sangat panik tadi. Dia mengira jika Sandra mengalami hal yang sama seperti Siti, Yaitu pendarahan. Tak terbesit sedikitpun di pikirannya jika Sandra malah melahirkan secepat ini !
" San. Kamu udah ada persiapan kan ? Baju bayi atau sejenisnya ??"
__ADS_1
Fatma melunak, dan menatap Sandra. Dia berharap perempuan muda didepannya ini telah bersiap, karena hanya Sandra lah yang tahu persis kapan dia akan melahirkan, seharusnya kan seperti itu ..
" Nggak ada Tan. Bang Dadang belum mau beli, katanya terlalu cepat.."
" Iyah.. Kamu sadar ini terlalu cepat !!! Kamu kan yang lebih tahu kapan sebenarnya kamu hamil. Kamu memang masih muda San, tapi Tante pikir kamu tak akan sebodoh ini !!!"
Fatma meluapkan unek-uneknya , Tante mana yang tak kesal, jika memang Sandra telah hamil sebelum dia datang kesini ...
Sandra seolah tak mendengar ucapan sang Tante dan lebih memilih menatap ke wajah anak yang baru saja lahir dari rahimnya, yang berjenis kelamin perempuan.
" Jadi sekarang gimana ? gimana dengan bayimu Sandra !!!"
" Kan ada bang Dadang , tan !! Suruh bang Dadang saja yang beli..!!"
Sandra berucap santai seolah kelahiran bayi ini tak membuatnya takut akan murka sang suami..
" Kamu yakin ini anaknya Dadang ?"
Akhirnya Fatma bertanya akan hal yang dari tadi menjadi pikirannya.
" Hingga kamu dengan santainya meminta tante untuk menyuruhnya membeli peralatan bayi..?"
Sandra menatap Fatma , dengan pandangan tak percaya ?
" Kenapa Tante bertanya seperti itu ? Tentu saja ini anak bang Dadang, emangnya anak siapa lagi coba... !!"
" Kamu yakin ? Cuma kamu yang tahu anak siapa yang kamu lahirkan sekarang ! Kamu nggak nyadar jika suamimu, si Dadang tak antusias dengan kelahiran anak ini, Dia pasti telah tahu jika kelahiran ini terlalu dini untuk hubungan kalian yang bahkan belum ada delapan bulan .."
Sandra sepertinya baru kepikiran akan hal itu.
" Bang Dadang mana Tante ?"
Fatma mengintip lagi kearah tempat Dadang duduk tadi, namun dia tak menemukan sosok Dadang di sana. Entah kemana perginya Dadang sekarang !!
" Tante nggak tahu. Ya sudah kamu tunggu disini, biar tante ajak om kamu buat beli perlengkapan bayi. ."
Sandra menatap Fatma dengan mata berkaca-kaca. Dengan pelan dia mengucapkan terima kasih pada sang Tante. Meski marah dan kecewa, nyatanya Fatma masih perduli dengan dirinya dan anak yang baru saja dilahirkan.
" Mir !! Mbak titip Sandra sebentar ya.."
Bidan Mira hanya mengangguk, karena sedari tadi dia masih sibuk membereskan semua peralatan melahirkan yang tadi dia gunakan untuk menanggani Sandra..
Kepergian Fatma membuat Sandra menangis, Dia mendekap bayi yang masih merah itu dengan erat.
" Maafkan ibumu nak " Bisiknya pada sang putri.
Mira melihat itu dan kini mengambil alih bayi Sandra, dia membedongnya dengan kain yang memang telah tersedia dirumahnya..
" Mbak, jangan berpikir terlalu berat ya, kasian dede bayi. Stress pada ibu bisa mempengaruhi keluarnya Asi..!!"
Sandra mengangguk, meski nyatanya air mata perempuan yang baru saja menyandang gelar sebagai ibu itu, masih mengalir dengan deras.
__ADS_1