Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Akhirnya.....


__ADS_3

Bang Dadang pulang pada pukul 23.00 malam. Karena memang saat dia berangkat waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.


" Kita sampai lupa waktu dek, Abang malah nggak sadar ke rumah bang Yanto nya kemalaman. Untung saja beliau di rumah dan belum tidur .."


Aku tersenyum membenarkan ucapan suamiku itu " Jadi gimana hasilnya bang ?"


" Bang Yanto bisa dek, kebetulan beliau baru ada proyek 3 bulanan lagi. Insya Allah katanya , dia bisa menyelesaikan Rumah kita kalau cuma tegak payung aja.


Tapi ya itu dek, dia ngajak bang Wawan, sama Tio. Supaya hemat waktu katanya.."


" oh nggak kenapa-napa bang, semakin banyak tukangnya bukankah semakin cepat pembangunannya nanti. pembayarannya gimana bang ? Siti lupa tadi bilang ke Abang kalau bisa harian aja, dan makan lepas. Supaya dana bisa kita sesuaikan dari awal.."


" Abang tahu kok dek, bang Yanto minta 150 perhari. kita cuma nyediain cemilan, kopi sama rokok dek !!"


" oh Alhamdullilah kalau begitu bang, Sesuai keinginan.."


Bang Dadang mengangguk, membalas senyumku. kini dia membaca lagi kertas pemberianku tadi.


" udah malam dek, kamu tidur duluan gih. Abang masih menghitung semua perinciannya , dan juga memastikan tak ada barang yang tertinggal dan tak terbeli.."


Aku merebahkan diri di samping Bara, sedikit heran dengan sikap bang Dadang biasanya lelaki itu selalu meminta haknya, tapi sudah tiga malam ini bang Dadang seolah tak berniat menghangatkan ranjang kami, padahal biasanya jika aku menolak maka dia akan marah dan bahkan uring-uringan sepanjang hari . bukannya aku berharap, tapi melihat perubahan yang signifikan ini tentu saja aku merasa bingung sendiri.


***


Minggu ini pembangunan akan segera dimulai, seminggu belakangan semua bahan bangunan memang telah berdatangan. Aku sempat tak percaya semua ini akhirnya terjadi, tapi aku berharap semoga saja semuanya bisa berjalan lancar sesuai harapan..


Bang Dadang memutuskan untuk menjadi kenek, mendampingi bang Yanto. Selain menghemat Uang, bang Dadang juga bisa mengawasi proses pembangunan dan juga menyiapkan bahan atau barang yang sekiranya belum mencukupi.


Jika menurut perkiraan bang Yanto, rumah kami akan jadi tiga bulanan. Tapi nyatanya baru dua bulan berjalan rumah mulai terlihat bentuknya ,tinggal plester dalam dan perapian saja. Dana yang sedianya aku siapkan ternyata memang belum mencukupi, dan aku berniat untuk menyudahi pembangunan seadanya saja.


" Ini Siti, Uang yang bapak janjikan. Diterima Ya "

__ADS_1


Aku menatap amplop coklat itu ragu, disini kami memang sedang berkumpul seusai makan malam, bahkan ketiga jagoan ku pun belum ada yang tidur.


" Alhamdulilah pak . rumahnya sudah hampir selesai. Apa nggak sebaiknya Bapak simpan saja uangnya, untuk persiapan wisuda agung..."


"Ini udah niat bapak dari awal Siti. jadi mohon diterima..


Untuk agung maupun Salsa itu biar jadi urusan bapak nanti. Lagian kebun karet juga mulai bisa disadap. Jadi setiap 2 Minggu bapak akan ada pemasukkan..Diterima Ya, .."


Ku lirik suamiku yang diam saja sedari tadi. bang Dadang mengangguk sebagai persetujuan. Meski agak segan akhirnya aku terima juga uang itu.


"Bude juga kirim 20 juta kemarin pak. Alhamdulilah. Benar ya kata orang jika niat kita sudah bulat. Maka jalanan akan terbuka lebar, bagi kita yang percaya.."


Belum selesai aku bicara emak sudah memotong dan menyuarakan isi hatinya ,


" Kalian nggak minta kan uang dari Dewi itu ? Nanti kalian malah malu-maluin lagi. Apalagi ngemis-ngemis biar dibantuin . Makanya jangan anggap enteng kalau niat mau bangun rumah. Sebanyak apapun persiapan pasti akan ada aja kurangnya.."


Aku menunduk, tak ingin menjawab ucapan emak. Nada suaranya tentu saja memancing emosiku. Lagian bude juga adalah ibu bagiku, tak perlu aku sampai meminta apalagi mengemis jika hanya untuk uang sejumlah itu.


Bude juga Ibunya Siti loh mak, emak nggak boleh lupa soal itu."


Aku tahu jika bang Dadang sedikit kesal dengan ucapan Emak, Entah kenapa semakin kesini, aku merasa jika emak selalu saja menyudutkan ku ,dan pembelaan bang Dadang padaku. Seolah semakin menyulut amarah dari emak. Padahal seingatku, aku tak pernah membantah ataupun menjawab semua ucapan emak yang menyakiti hati.


Apa ini masih berhubungan dengan kelahiran Bara, dan juga tentang aku yang tak pernah menemani bang Dadang saat ke kebun.


"Sudah-sudah Mak, Anaknya dibantu kok malah dituduh yang enggak-enggak. seharusnya kita berterima kasih karena budenya Siti mau membantu. Nggak usah berpikiran buruk.."


" Iya nih Pak. Emak semakin kesini malah semakin terlihat sensi ke Mbak Siti..Tingkahnya kadang aneh dan nggak masuk akal heheh"


Salsa yang biasanya tak ceplas-ceplos jika ada bapak. Kini malah menunjukan watak aslinya, dan berhasil mendapat cubitan dari abangnya , Agung yang kebetulan duduk diantara Emak dan Salsa.


Emak malah diam saja, dan tanpa kata malah masuk kedalam kamar, bahkan panggilan Dio tak digubris oleh sosok neneknya itu.

__ADS_1


Aku semakin berpikir jika kami lebih lama lagi tinggal disini, maka bisa saja keadaan rumah , akan semakin membuat tak nyaman.


"Maafkan Emak ya Ti. Bapak juga nggak ngerti kenapa ibunya Dadang malah bersikap begitu sekarang, " terdengar jelas nada kecewa pada suara bapak.


" Siti ngerti kok pak, walaupun sejujurnya agak bingung kenapa emak jadi bersikap seperti itu.."


" Emak lagi PMS kali mbak. Jadi nggak usah dipikirkan "


Aku hanya tersenyum, menanggapi candaan Salsa, sebenarnya sedih juga jika hubungan kami malah renggang disaat kami bakalan pisah rumah.


Seharusnya kebahagiaan ini bisa menghangatkan. Tapi aku tak bisa mengatur semuanya sesuai kehendak ku bukan!


Bara yang mulai rewel mengalihkan pikiran ku. Bungsuku itu nampak hendak menggapai kearah ku , seiring tangisnya yang mulai terdengar kencang.


" Bara kayaknya sudah ngantuk dek, Mending ajak ke kamar aja. Biar Dio Abang temani disini.."


Aku mengikuti saran bang Dadang dan mengendong Bara ke kamar, biasanya memang jam segini Bara sudah tidur. Meski begitu, dia tak pernah bangun awal, hingga tak membuatku repot saat harus memasak pada saat subuh untuk sarapan keluarga ini.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Bara terlelap juga di sampingku.


Hal ini aku manfaatkan untuk mengecek Hp, karena memang sedari pagi tadi, aku tak sempat memegang benda pipih itu.


[Siti. Bude sudah kirim uang 30 juta ke rekening kamu ya..]


[semoga bisa menambah kekurangan pembangunan rumah kalian. Bude bantu do'akan ,semoga semuanya lancar sampai kalian bisa menempatinya ]


Pesan bude yang berderet kini telah ku baca. Tak lupa sebuah notifikasi pemberitahuan jika Dana yang bude sebutkan tadi telah masuk ke rekeningku.


Aku terharu, Bagaimanapun juga aku bersyukur, telah dikelilingi oleh orang-orang berhati baik.


[Terima kasih bude 😭...

__ADS_1


Aamiin..]


__ADS_2