
Sandra berjalan dengan riang saat melangkahkan kakinya ke arah rumah yang kini ditinggali oleh dirinya dan juga Sang suami, Dadang.
Meski selalu saja berbuat ulah dan mengecewakan Dadang, tapi Sandra sebenarnya memang menyayangi Dadang dari hati yang terdalam, meski dengan perkenalan yang singkat, dia yakin jika Dadang akan jadi Ayah yang baik bagi anaknya kelak. Biar saja dia mengalah untuk sekarang, demi meraih masa depan bahagia nantinya. Apalagi kalau anak yang dikandungnya ini perempuan. Sudah pasti dia akan jadi kesayangan Dadang dan keluarga besarnya.
Tanpa mengetuk pintu, apalagi ucapan salam. Sandra langsung mendorong pintu dengan sedikit kuat, Membuat dua orang yang tengah mengobrol didalam rumah sedikit kaget.
" Loh San, dari mana Kamu ?"
Fatma lebih dulu bersuara, menatap heran pada Sandra yang tampak kumal, dan bau sampah.
" Kenapa nggak pamit sama Tante sih , bikin khawatir saja..!!"
Sandra tak terlalu memperhatikan ucapan sang Tante. Dia malah menatap Dadang dengan raut memohon.
" Bang, barangnya sudah ketemu ! Aku boleh kan mandi dulu. Aku udah enek sama bau badanku sendiri.."
Dadang mengangguk mengiyakan. sembari menutup hidungnya dengan rapat.
" Loh . Kata kamu tadi , Sandra berbohong Dang ? jadi benda apa yang dimaksud Sandra kalau bukan anting ?"
Meski agak jengkel karena sikap cuek Sandra padanya. Tapi tetap saja Fatma merasa penasaran.
Kepergian Sandra akhirnya membuat Dadang membuka mulutnya dan menarik nafas panjang. Dia memang belum sempat menceritakan kelakuan istrinya itu pada Fatma. Karena baru saja mengatakan jika Sandra berbohong soal anting, istrinya itu malah menampakkan batang hidungnya dengan kondisi bak pemulung,
" Sandra melakukan penarikan uang dengan menggunakan ATM milik Siti , mbak !! Kartunya dia buang, makanya saya suruh dia buat cari sampai ketemu.."
Fatma terdiam, ucapan Dadang membuatnya seolah mengingat kejadian kemarin lusa. Saat dia menemani sang keponakan, yang katanya hanya punya Saldo satu juta, tapi malah belanja, seolah dia ingin buka toko kelontong saja.
" Jadi. Uang yang digunakan Sandra kemarin itu, hasil mencuri. Tapi kenapa bisa Dang ?" Fatma menutup mulutnya yang kini menganga tak percaya. Tak menyangka jika Sandra setega itu.
" Iya Mbak. Aku juga nggak tahu dimana Sandra menemukan kartu ATM milik Siti. Yang jelas dia tahu nomor PIN nya dan malah menyalahgunakan kartu itu, padahal di sana uangnya Siti yang berarti uang untuk anak-anakku juga. Jujur saja, makin kesini aku semakin dibuat pusing oleh ponakan mbak itu. Aku juga sudah berusaha mendidiknya . Tapi , ..."
" Bang !! Kok malah cerita sih sama Tante ? Asal kamu tahu aja ya, uang dalam tabungan mantan, istrimu itu. Lebih dari setengah milyar. Dianya saja yang pelit, timbang uang dua puluh juta doang. Langsung datang kesini bawa bodyguard.."
Sandra terdengar sewot, mengingat Siti kemarin datang dengan mobil bagus dan juga lelaki kekar nan tampan.
" Ehh. Sandra. Kamu jangan semakin bikin Tante malu ya. Mau setengah milyar, satu milyar bahkan satu triliun pun . Itu adalah uangnya Siti. Haknya dia, dan jika kamu mengambilnya tanpa izin. Itu namanya pencurian. masih untung kamu tak di laporkan ke polisi !!"
Fatma bicara panjang lebar, Emosinya seolah telah naik ke ubun-ubun. Dia benar-benar dibuat malu oleh Sandra dihadapan Dadang, bagaimana jika hal ini diketahui oleh orang lain. Dia tak yakin jika dia masih punya muka, dan membela ponakannya lagi.
" Mana kartunya ?"
Sandra mengembalikan kartu itu dengan cemberut. Kini dia melihat kearah Fatma yang tampak memijit pelipisnya. Dia merasa terpojokkan sekarang . Teganya sang Tante, mengucapkan hal seperti itu didepan mukanya.
" Maafkan Sandra tan. Lagi-lagi Aku mengecewakan tante. Tapi, aku punya alasan kuat kok, kenapa aku melakukan itu.."
Fatma mendongak !! Ia menemukan wajah tanpa dosa Sandra yang menampakkan binar kesal.
" Apapun alasan kamu. Itu tak akan membuat tindakan salah kamu menjadi benar. Sandra !!
__ADS_1
Segera perbaiki akhlak dan perilaku mu. Jika kamu tak mau Dadang meninggalkan kamu dan anak yang ada didalam kandungan mu itu .!!!"
Fatma berdiri, " Mbak pamit Dang, jika dia berulah lagi. Ceraikan saja dia. Biar dia kapok dan bisa belajar menjaga sikap..!!!,"
Dadang diam saja, tak begitu menanggapi . Tapi dia mengangguk ketika Fatma pamit pulang. Agaknya wanita itu sudah dibuat habis kesabaran akan tingkah laku Sandra.
" Bang . Maaf !!!"
Dadang masih diam, dan kini malah beranjak ke arah dapur, dia lapar dan kedatangan tantenya Sandra tadi, membuatnya terpaksa meninggalkan wajan yang telah berisi telur ceplok matang.
" Bang !!! Katanya kamu bakalan maafin aku kalau kartunya ketemu.." Sandra merengek karena sedari tadi dicueki oleh Dadang.
Melihat Dadang yang tampak lahap makan dengan lauk telur ceplok, membuat Sandra mengelus perutnya. Sepertinya dia juga lapar.
" mau bang telurnya..!! Aku juga laper nih !"
Dadang yang kebetulan sudah selesai makan. beranjak mendekati kompor, mengambil satu butir telur dan memberikannya ke Sandra.
" Nih goreng sendiri..!!"
***
Siti memandang layar laptopnya dengan tatapan senang. Karena dia baru saja menyelesaikan satu sinopsis cerita terbaru yang kebetulan melintas di kepalanya tadi. Dia bukan tipe penulis yang suka selingkuh. Jika dia membuat cerita baru lagi maka artinya dia sudah menyelesaikan novelnya yang lain.
" Humm ... Salsa lagi sibuk nggak ya ? "
Siti menekan nomor Salsa dan menunggu beberapa detik, dan kini layar sudah menampilkan wajah Salsa, yang tersenyum lebar.
Siti hanya mengangguk seraya menjawab salam melalui gerak bibir saja, karena yang dilihatnya kini bukanlah sosok Salsa , melainkan sosok Angga. Yang tentu saja , membuat Siti terkejut dan juga sedikit senam jantung.
" Siapa Sa ?" Layar kini telah kembali menampilkan wajah manis Salsa , membuat Siti akhirnya bertanya .
" Katanya sudah kenal sama mbak. ."
Salsa menjawab singkat, dan kini gadis itu terdengar asyik mengobrol dengan sosok Angga.
" Mbak katanya pernah dekat sama dia..."
Salsa berucap lagi, membuat Siti semakin dilanda cemas, ia takut jika Salsa malah berpikiran yang tidak-tidak soal dirinya.
Entah cerita seperti apa yang diceritakan mantan pacar Siti itu pada Salsa .
"Angga titip salam, mbak . Dia harus nganterin ibunya arisan, jadinya mesti pulang duluan..."
Ucapan Salsa membuat Siti merasa d'javu. Rupanya kebiasaan lelaki itu masih tak berubah meski sudah belasan tahun berlalu.
Layar menampakkan wajah Salsa yang sepertinya sedang berjalan keluar dari tempat yang terlihat di mata Siti seperti restoran.
" Kamu mau pulang Sa. Nanti saja mbak telpon lagi . Takut malah ganggu kamu nyetir !!.."
__ADS_1
Salsa memang telah membeli mobil, hasil keringatnya memeras otak dan menyalurkan ide cerita. Dia juga sekarang populer dikalangan emak - emak dikampungnya, yang kini seolah tengah demam novel online.
" Nggak kenapa-napa mbak. Aku malah senang mbak temani aku nyetir hehhe..Lagian aku tuh mau tanya-tanya tentang Angga sama mbak. Gimana ? boleh kan mbak ?"
Salsa kini telah duduk dibelakang kemudi, tapi matanya masih lekat memandang kearah layar hapenya, sembari tangannya mengatur posisi benda pipih itu agar pas menyorot kearahnya dan tak jatuh.
" mau tanya apa Sa ? Selagi mbak tahu dan bisa memberi jawaban pasti mbak bakalan kasih tahu kamu..!!"
Salsa sepertinya mulai menjalankan mobilnya karena mata gadis itu sekarang fokus ke depan.
" Maaf ya ,Mbak .Rupanya Salsa tetaplah pengemudi teladan karena takut juga kalau berkendara sambil vc-an hehehe"
Siti membalas dengan tersenyum saja. Memang tak begitu lama Gadis itu telah sampai di rumahnya.
Karena Siti melihat dan menyapa emak yang kebetulan duduk santai di teras rumah, dengan secangkir kopi dan juga camilan.
" Mbak !!! Gimana ? Apakah menurut mbak Angga itu orangnya baik ?"
Salsa menatap Siti penuh harap, sepertinya Salsa benar-benar jatuh cinta akan sosok Angga. Salsa yang baru saja sampai ke kamar, langsung merebahkan diri di atas kasur miliknya.
" Baik kok Sa, tapi pastikan dulu. Dia masih suka pindah-pindah kota nggak . Ayahnya kan Diplomat..!!"
Siti kini bicara seraya memangku Bara yang baru bangun tidur
" Haii Tante. Bara bau acem nih Tan..Baru bangun soalnya..""
" Uhh ponakan Tante , yang paling ganteng !! Cuci muka dulu sana..!! "
Bara langsung turun dari pangkuan Siti dan dengan suara kecilnya dia memanggil sang nenek untuk cuci muka dan juga minta dibuatkan susu.
Siti sengaja mengarahkan kamera pada Bara, untuk memberi tahu Salsa bahwa sang anak begitu manja pada sang nenek, Bude Dewi..!!
" Ahhh.. pasti anakku nanti seganteng dan sepintar Bara..!!
Kok Mbak bisa tahu kalau Ayahnya Angga itu diplomat sih ?"
Salsa nampak begitu penasaran,
" Yah.. iyalah tahu. Kan, Angga cuma setahun pindah ke sekolah Mbak !! Dan harus pindah lagi karena pekerjaan Ayahnya..!!"
Dan mengingat ucapan Salsa tentang anak tadi, Siti langsung mengarahkan lagi kamera kearah wajahnya, " Jangan mikirin anak Dulu deh Sa !!! Nikah dulu sono, Sah baru proses bikin anak ...hihihi "
Salsa langsung cemberut, Mendengar godaan Siti padanya " Ihh mbak apaan coba, orang aku cuma membayangkan hal positifnya kok !!! malah direcoki dengan begituan .. !!"
" Loh , bikin anak kegiatan positif kok Sa, tapi harus dilakukan oleh pasangan yang sah, jangan pernah untuk coba-coba ..!"
Siti menampilkan dua jarinya kearah Salsa , dengan tersenyum lebar ..
" Iya deh iya... Doakan saja ya mbak, aku dan Angga berjodoh secepatnya ..hehehehe Dan dia nggak akan ikut pindah sama Ayahnya .."
__ADS_1
" Aamiin..!!"