Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Entah kemana akan bermuara ?


__ADS_3

Setelah berdiskusi panjang dan memberi tahu Indra akan apa yang kini menimpa rumah tangga kakaknya , akhirnya Nurdin dan Lastri memutuskan pergi ke rumah Dewi, bude dari Siti.


Indra berinisiatif untuk menemani emak dan Bapak, jadinya mereka kini menggunakan mobil milik Indra agar nanti bisa langsung membawa Dewi kesini tanpa harus menyewa travel ataupun bus lagi.


" Aku beneran nggak tahu jika bang Dadang dzolim ke mbak Siti Mak . Aku pikir bang Dadang lelaki yang bertanggung jawab, Istri hamil ,bukannya disuport tapi malah dipojokkan dan ditekan sampai keguguran dan rahimnya diangkat.."


Indra menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengingat abangnya yang menangis dan mengakui kesalahannya pada sang Istri didepan keluarga besar tadi malam.


Lastri memilih diam dan fokus ke jalanan didepannya yang masih nampak lengang.


Pikirannya kini malah dipenuhi wajah anak-anak Dadang, entah bagaimana tumbuh kembang mereka jika tanpa didampingi salah satu dari orang tua mereka.


" Jadikan pelajaran buatmu, Ndra. Jangan banyak menuntut padahal kamu tak bisa mencukupi dan memberi lebih. ." Bapak menimpali, sekaligus memberi nasihat pada Indra.


" Iya Pak, aku paham kok. kurang apa padahal mbak Siti sebagai istri. Nggak ada tuh sekalipun dia ngomongin keburukan bang Dadang pada Hesti, padahal kan biasanya para Istri itu sukanya membanding-bandingkan.. Aku sempat berpikir jika mereka pasangan yang benar-benar saling melengkapi. Jadi nggak mungkin ada pertengkaran, apalagi sampai separah ini.."


Indra menyuarakan isi hatinya, karena memang selama satu atap dengan sang kakak ipar nya itu, Indra tak pernah melihat celah keburukan dari sikap dan sifat Siti, semua sempurna bahkan dia sempat berdoa agar dianugerahi istri seperti sosok isteri dari abangnya itu.


" Mungkin sudah takdirnya begini Ndra. ." Emak akhirnya menyahut meski singkat. Dan kini mereka memilih diam dengan pikiran masing-masing.


***


Dewi kini masih betah berdiam didapur rumahnya, meski semua sarapan telah selesai dia masak. Telpon dari Siti kemarin membuatnya malas melakukan apapun, dia jelas saja syok mendengar tangisan keponakan kesayangannya itu, padahal mereka belum lama terpisah kenapa seolah Siti sangat takut dan tertekan saat menelponnya hingga histeris seperti itu.


Apakah ia salah, karena seakan telah memaksa Siti untuk menikmati rumah tangga yang kini telah dikatakannya laksana neraka ?


" Assalammualaikum..!!!"


Seruan salam membuat Dewi segera menuju ke depan, membuka pintu seraya membalas salam dari tamu yang datang ,

__ADS_1


Ketika pintu telah terbuka sempurna dilihatnya sosok Besan, yang juga bersama anaknya, dan itu bukanlah Dadang.


Meski agak terkejut, tapi Dewi berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, dan mempersilahkan tamunya masuk.


Setelah mereka semua telah duduk, Dewi pamit ke dapur untuk membuat minuman. Tinggal disini sendiri tentu saja dia harus gesit jika melayani tamu.


Tak berapa lama sosok ibu pengganti untuk Siti itu kini telah kembali dengan nampan berisi empat cangkir kopi, dan juga tak lupa gelas dan teko air mineral. mengulas senyum tipis, Dewi mempersilahkan keluarga besannya untuk minum.


" Maaf ya Bu Dewi. kami bertamu pagi-pagi begini,, " Lastri membuka percakapan, setelah meminum air putih yang tersaji di meja.


" Nggak apa kok Bu Lastri, kan jarang-jarang kalian main kesini. Ngomong-ngomong ada angin apa ya kok kalian nggak ngasih tahu dulu, kalau mau kesini ?"


Lastri tiba-tiba menangis , membuat Dewi kebingungan menatap sang besan dan juga wajah Pak Nurdin dan Indra secara bergantian.


"Bu Lastri kenapa Pak, apa terjadi sesuatu pada Siti ? Dadang menyakitinya lagi kah ?"


Dewi ikut panik, karena reaksi Lastri yang tiba-tiba.


" Siti dan Dadang memang bertengkar lagi, dan yang menjadi akar permasalahannya kini adalah apa yang telah mereka lewati, Sepertinya Siti sudah tak bisa jika harus bertemu dan serumah dengan Dadang lagi.."


Dewi menghembuskan nafas berat, tak menyangka semuanya jadi seperti ini. seharusnya Siti jujur saja padanya dari awal, tak perlu merasa bersalah dan malah berusaha menjaga perasaannya.


" Siti juga sudah telpon saya kok pak. Dia bilang ada semacam trauma saat melihat Dadang. Dia sangat tertekan sepertinya.."


" Iya Bu Dewi , apa kita restui saja keinginan Siti untuk berpisah ?"


Lastri berucap datar, sembari matanya menerawang jauh. Akhirnya perkataan yang berat ini meluncur juga dari mulutnya.


Dewi diam sejenak, kemudian dia mengangguk setuju, " Aku akan ikut kalian, biar masalah ini selesai secepatnya..Bukannya mengusir tapi, bisakah kita berangkat sekarang?"

__ADS_1


Indra mengangguk setuju diikuti kedua orang tuanya, mereka mengerti akan kekhawatiran yang dirasakan oleh Dewi.


Setelah berkemas seadanya, Dewi segera ikut masuk kedalam mobil.


perjalanan kali ini terasa sangat lama bagi Dewi, kekhawatirannya bahkan melebihi saat dia mendapat kabar akan Siti yang keguguran waktu itu.


Entah kenapa ? Dia malah merasa jika semua ini terjadi karena dirinya yang memaksa anak perempuan itu.


" Ibu Dewi harus tenang. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Maafkan saya yang sudah gagal mengajari Dadang untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab, akan anak dan isteri.."


Lastri menunduk dalam, sesal tentu saja menguasai dirinya. Jika saja, dia tak mendukung dan menerima setiap aduan dari Dadang, maka semuanya mungkin tak akan jadi seperti ini.


" Kita sama-sama salah disini Bu Lastri, jika memang rumah tangga mereka tak bisa lagi diselamatkan. Maka yang jadi prioritas kita adalah anak-anak mereka. Cucu-cucu kita itu, harus bisa menjalani hari mereka dengan ceria. meski dengan ibu dan ayah yang bercerai. Kita harus kompak mengasuh dan membimbing mereka.."


Memikirkan ucapan Dewi, Lastri kini malah semakin terisak. Teringat olehnya wajah gembul Bara. Dia bahkan merasa sangat bersalah pernah abai dan tak mengharapkan kehadiran anak ketiga dari Dadang itu. Sebagai seorang nenek, dia sangat sadar jika sikapnya selama ini telah keliru..


perjalanan ini semakin terasa lambat, karena kini keempat orang dewasa didalam mobil itu kini terdiam.


Bagaimanapun dan apapun alasan dari perceraian, tidak akan pernah berdampak baik untuk anak-anak yang jadi korbannya. Karena sesuatu yang telah berkurang tak akan pernah utuh kembali. meski bagaimanapun kita mencoba memperbaiki dan meramaikan hati mereka dengan sejuta cinta..!!!


Akhirnya mereka sampai. Meski tak langsung ke rumah Dadang, tapi ada sedikit perasaan lega di hati Dewi. Karena selangkah lagi dia akan ketemu dengan Siti.


Saat wanita paruh baya itu turun dari mobil, sosok Dadang malah bersimpuh dikakinya. diiringi suara tangis sang menantu yang tampak begitu terpukul.


" Dang, kendalikan dirimu..!!"


Dewi menyentuh bahu Dadang memintanya untuk bangun, agak risih juga dengan kelakuan tak terduga ayah dari cucu-cucunya itu.


" Maafin Dadang bude, Dadang enggak bisa tepati janji Dadang ke bude. Dadang Khilaf . Tolong maafkan Dadang bude."

__ADS_1


Meski tak lagi berlutut tapi kini Dadang malah menangkupkan kedua tangannya didepan dada, memohon Maaf dengan wajah penuh air mata..


Dewi menatap Dadang prihatin, " Kamu bukan tuhan Dang, jadi kesalahan yang kini kamu lakukan sangat bisa dimaklumi. Tapi, setiap perbuatan akan ada konsekuensinya..Sebagai bentuk dari kesungguhan mu akan ucapan maaf mu barusan, maka apapun nanti yang jadi keputusan Siti , bude harap kamu menerimanya dengan bijak.."


__ADS_2