Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Pilihan !!


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, rupanya rumah masih tampak sepi. Karena memang belum waktunya anak sekolah pulang.


Bapak juga pasti masih di kantor, sementara emak memang sedang mengurus pohon kopi sekaligus membersihkan rumput.


" Dek, gimana kalau kita beli sesuatu gitu, untuk makan malam ini. Sebagai ucapan syukur karena kita sudah diberi kepercayaan.."


bang Dadang yang baru saja duduk langsung saja bicara tentang niat dihatinya.


" Kira -kira beli apa ya dek ?"


"Gimana kalau ayam geprek aja bang !!"


" Kan pedes dek, Abang nggak terlalu suka.. Lagian bapak juga kayaknya nggak itu selera anak muda deh .. "


" hhhh... kalau gitu, kita beli seblak aja didepan..."


" Dek, kok malah makanan aneh -aneh yang diusulkan..kamu yang ngidam kali, nanti biar Abang belikan kamu ya, biar anak kita nggak ileran..hehe"


Aku nyengir karena memang kenyataannya aku yang memang lagi kepingin dua jenis makanan itu.


" Gimana kalau Abang beli aja Ayam utuh kiloan di pasar, biar kita panggang, kali ini masuk akal kan ide ku "


Bang Dadang memelukku, dan mengangguk, " kali ini bisa la diterima dan diterapkan, ya udah Abang berangkat sekarang ya. kamu istirahat aja dikamar . "


Aku menyalami bang Dadang yang akan berangkat, dan mengantar suamiku itu sampai ke depan pintu, setelah memastikan suamiku itu telah hilang dipandangan, aku segera masuk kedalam Karena cuaca yang panas membuatku gerah dan aku memutuskan untuk mandi lagi terlebih dahulu,


sebelum naik ranjang untuk tidur.


***


Ternyata semua anggota keluarga menyambut kabar bahagia kami dengan penuh, suka cita. Bahkan bude langsung berangkat naik bis, begitu kabar tentang kehamilan ku, ku beritahukan melalui video call.


Karena tahu akan kedatangan bude maka acara yang sejatinya memang akan dilakukan pada malam ini namun dengan sederhana saja, malah dibuat heboh oleh usul emak, yang mau membeli lima ekor ayam sekaligus untuk dipanggang dan makan besar bersama. Padahal bang Dadang tadi telah membeli 2 ekor ayam.


Aku benar-benar tak menyangka jika Emak sangat bersyukur akan kehamilanku, wanita itu bahkan menangis haru saking merasa bahagia.


Begitupun bapak, Pria yang kutahu pendiam itu kini nampak menyampaikan petuah pada bang Dadang secara panjang lebar, ku kulum senyumku ketika bang Dadang malah nampak menguap mendengarkan nasehat-nasehat bapak tentang memperlakukan Istri dan juga mengasuh bayi.


" Siti, kata Dadang kamu kepingin ayam geprek sama seblak ya ? Emak mau ke pasar, sekalian kita beli aja bahannya. Agar nanti diolah.."


Emak menghampiriku yang sedang duduk dimeja makan, memang sedari tadi aku melihat bang Dadang dan Bapak dari sini. Sambil meminum vitamin yang tadi diresepkan dokter.


" apa nggak merepotkan Mak, gimana kalau kita bikin ayam bakar aja , sama nasi kuning..Lagian tadi Siti sudah dibeliin sama bang Dadang !!"


"nggak repot kok Ti, lagian emak juga nggak mau kalau cucu pertama Emak nanti ileran pas lahir.. Walaupun tadi udah Dadang belikan tapikan dari emak belum. Biar nanti juga jadi tambahan menu. Masa cuma ayam bakar sama nasi kuning doang..!!"


Aku menatap lembut kearah emak, menyampaikan haru dan terima kasih yang tak bisa aku ucapkan, " Ya udah mak, ini semua bahan dan...."


"Salsa ikut aja, emak ke pasar . Biar nanti nggak ada bahan yang kelupaan , lagian Salsa juga tahu apa yang mesti dibeli. Jadi nggak perlu lagi catatan dari mbak Siti.."


Salsa yang baru datang, Dari dalam kamarnya. langsung memotong ucapan ku,


remaja itu kini menatapku,


" Selamat ya mbak, Salsa mau ponakan pertama perempuan biar Salsa ada temennya , hehe"


" Perempuan atau laki-laki itu sama Sa, Apalagi kalau anak pertama.."


Emak terlihat membuka dompetnya didepan kami. Lembaran merah nampak memenuhi dompet Emak yang juga berwarna merah. Emak menyodorkan uang 200 ribu kepadaku " Ini untuk kebutuhan kamu. Kalau-kalau kamu kepingin sesuatu. ."


" Siti ada kok mak, pegangan dari bang Dadang . Insya Allah cukup mak, untuk jajan..!!"


" Simpan aja, lagian emak juga nggak pernahkan kasih kamu uang..."


Aku menerima uang itu dengan canggung, alhamdulilah kehamilan ini ternyata membuat perubahan besar pada diri emak. Terlebih perlakuannya padaku sebagai seorang menantu.


" Iya . Iyah,, Yang seneng banget mau jadi nenek, udah mbak nggak usah pake nggak enak, terima aja. Mumpung emak lagi baik....."

__ADS_1


" udah sana ganti baju kalau mau ikut, mak nggak mau kamu pakai baju kayak gitu ke pasar !"


Emak mengalihkan pembicaraan, mendengar ucapan Salsa. Yang mungkin dibenarkan oleh hati kecilnya, Tapi menurutku tak apa karena memang bang Dadang lah yang sepenuhnya berhak menafkahi ku.


" Loh apa salahnya sih mak, ini tuh lagi trend jadi nggak bakal malu-maluin emak.."


aku melihat penampilan santai Salsa dengan baju kaos polos warna pink serta celana jeans pendek.


" Ganti celana kamu !! kalau masih protes, mending nggak usah ikut.. Emak tunggu didepan ya.."


Salsa nampak cemberut, lalu menyusul emak. aku lihat jika adik ipar Perempuanku satu-satunya itu, berbelok ke arah kamarnya dan tak lama dia keluar setelah mengganti celananya , dengan celana jeans panjang.


" Mbak kita berangkat ya,.."


Itulah Salsa meski kesal akan teguran emak namun dia tak melupakan adab terhadapku, yang lebih tua. Dan juga sebagai kakak iparnya.


" Iyahh.. hati-hati dijalan ya.."


" okeyyy...!!!"


Aku tersenyum lagi, kini bahagiaku serasa telah sempurna, mertua yang baik. Ipar yang baik dan juga suami yang sangattttttttt.... sangat baik. hidupku kini benar-benar terasa lengkap, Apalagi jika nanti anak didalam kandunganku lahir. Pasti kebahagiaanku akan berlipat kali lebih sempurna.


Aku beranjak ke arah kulkas, mengambil buah pisang yang tadi juga dibelikan oleh bang Dadang. Tak lama berselang, Suara salam dari luar terdengar, Aku tahu jika itu adalah suara bude.


Tak mampu ku tahan air mata yang tiba-tiba hendak melesak keluar, Setengah berlari aku menghampiri bude yang telah berdiri didepan pintu yang terbuka. Rupanya bang Dadang telah mendahuluiku yang hendak membukakan pintu wanita pengganti ibu untukku itu.


" Aku ha-mil bude..." Aku berbisik lirih seraya memeluk erat sosok bude, " Sebentar lagi bude bakalan jadi nenek..huhuhu"


Tangis ku pecah, entah kenapa aku jadi secengeng ini. apakah ini bawaan bayi ?


" Tenang dek, suruh bude masuk dulu. Kasian bude pasti capek "


Bang Dadang mengelus punggung belakangku dan membawa koper yang tadi dibawa oleh bude. "Ayo bude masuk..."


Bude diam saja, melepaskan pelukan kami dan beliau menuntunku untuk masuk kedalam, Kami duduk berdampingan. Bude masih saja betah diam tanpa suara, aku tahu dia terlalu bahagia hingga tak mampu berkata-kata.


" Jaga baik-baik kandungan mu ya Ti. Atau kamu tinggal sama bude saja, gimana ? "


" Kenapa emangnya bude ? bukankah di rumah bude dan disini sama saja!"


Bang Dadang bersuara, sementara aku kini ,hanya menunduk diam. Aku tahu suamiku itu mungkin sedikit tersinggung, dengan usulan bude yang tiba-tiba.


" Jangan khawatir bude, aku akan menepati janjiku pada Siti, terlebih lagi dia kini sedang hamil . Jadi aku akan lebih ekstra lagi untuk menjaganya.."


Aku melihat bude yang memang fokusnya selalu kearah ku, meski yang bicara adalah bang Dadang.


Aku tahu mata bude menunjukkan kekhawatiran bukan kepada bang Dadang. Tapi lebih kepada sikap Emak. Aku memang sering keceplosan soal emak yang terlihat sedikit tak menyukaiku karena tak kunjung hamil.


" Mending bude, mandi dulu. Istirahat sebentar dan Maghrib nanti kita sholat berjama'ah.."


Akhirnya aku membuka suaraku untuk mencairkan suasana yang mendadak hening


Bude mengangguk , dan beranjak. Masih enggan menanggapi keberadaan bang Dadang.


kini aku mengajak bude ke arah kamar Salsa. Karena memang Emak sendiri yang mengusulkan jika bude akan tidur dikamar Salsa selama beliau disini nanti.


Ku tuntun bude kearah ranjang yang tampak rapi dan bersih. sedikit heran, karena biasanya kamar Salsa sangat berantakan apalagi saat sore hari seperti ini. Mungkin tadi emak yang telah mewanti-wanti anak perawan nya itu untuk beberes menyambut kedatangan bude.


" Sebaiknya kamu pikirkan usulan bude tadi, Siti. orang bilang saat hamil muda sepertimu sekarang ini, sangat rentan keguguran jika terlalu tertekan dan banyak pikiran. Kamu juga nggak bisa kalau terlalu lelah. Bukannya bude berpikiran buruk dengan mertuamu tapi trisemester pertama kehamilan biasanya akan sering pusing dan mual Hingga membuat ibu hamil enggan bergerak karena lemas..


Bude baca semua itu sewaktu di Bus tadi, sengaja karena memang bude kan nggak pernah hamil..."


Ada nada sedih di setiap kalimat yang keluar dari bibir bude.


Aku terharu lagi akan perlakuan bude kepadaku. Aku bahkan tak kepikiran untuk membaca artikel seputar kehamilan. Sebegitu sayangnya bude padaku, Sampai beliau sedetail itu untuk mencari tahu.


" Insya Allah Siti nggak akan kenapa-napa bude. lagian jarak antar desa kita kan lumayan dekat, Siti janji akan pulang ke rumah bude jika merasa tak kerasan disini..

__ADS_1


lagian ada bang Dadang yang selalu bela Siti kok. Jadi, bude jangan terlalu khawatir.."


Aku sedikit termenung, apakah ini akibat aduanku yang selalu saja keceplosan akan kelakuan dan ucapan Emak. Jika iya, maka aku berdosa karena telah tak sengaja menanamkan rasa benci di hati bude untuk besan perempuannya itu.


" Bude sebenarnya tak ingin ikut campur akan urusan rumah tanggamu. Tapi, mengingat perlakuan Bu Lastri padamu, entah kenapa bude jadi khawatir apalagi sekarang kamu lagi hamil muda. lebih baik mengatasi semuanya dari awal daripada nanti menyesal karena telah terjadi sesuatu kepadamu dan calon cucu bude.."


Diam lagi, itu yang hanya bisa kulakukan. karena memang aku tak tahu harus menanggapi usul bude dengan sikap seperti apa . Sedangkan aku bahkan baru saja merasa senang karena emak memperlakukanku lebih baik dari sebelumnya.


"Assalammualaikum..."


Suara salam menyadarkan ku dari lamunan. Aku keluar setelah menyuruh bude untuk mandi, tak lupa aku menjawab Salam Emak dengan sedikit berteriak.


Dua kantung belanjaan besar, kulihat dibawa Emak dan Salsa.


Entah apa saja yang mereka beli, dengan penampakan sebanyak ini.


Aku berniat membantu Emak membawa salah satu kantong yang kelihatan berat itu,


" Nggak usah Ti, biar Emak saja.


Katanya bude mu sudah sampai ya ?"


" Iya Mak, baru saja. Sekarang bude lagi mandi. "


Aku mengikuti emak sampai ke dapur, Setelah sampai di depan kulkas, Emak meletakkan kantong itu, kesempatan ini aku gunakan untuk melihat apa saja yang dibeli oleh Emak hingga sebanyak ini, dan juga berniat menata barang belanjaan itu di dalam kulkas.


" Ada daging juga tadi Ti, usulan Salsa katanya mau buat ala-ala makanan orang barat, apa itu namanya, steak atau apa gitu.."


Aku memandang Salsa yang kini cengengesan menatapku, rupanya gadis kecil ini sangat bisa memanfaatkan kesempatan. " Memang Kamu tahu Sa ,gimana cara bikinnya. Soalnya Mbak nggak ngerti kalau masak begituan. ."


" Tenang mbak, solusinya ada ditangan Salsa.."


Salsa menunjukkan kertas dengan tulisan tangan didalamnya, " Tadi sengaja minta resepnya ke kasir Minimarket ..hhehe"


Aku mendekat ke Salsa, bukankah harga daging ini sangat mahal, karena memang khusus untuk membuat steak.


" Berapa harganya ini Sa ?"


aku menyodorkan daging dengan plastik bening yang telah di vakum dan di bekukan itu .


" 500 ribu mbak, kualitas sedang hehhehe..."


Aku meneliti keberadaan emak ketika mendengarkan jawaban Salsa, " Kok label harganya dibuang sih ?"


Tanyaku penasaran, setengah berbisik ditelinga Salsa.


"Takut ketahuan bang hafiz sama Abang Agung. Nanti mereka protes, soalnya emak memotong uang belanja mereka, tepatnya sih uang main PS di desa tetangga..hehhe"


Aku ikut tertawa, ternyata lucu juga mendengar jika emak sampai sebegitu nya, Demi untuk syukuran kecil-kecilan akan kehamilanku ini.


Entah kenapa aku semakin yakin untuk tetap berada disini saja sampai melahirkan..


***


" Bu Lastri, Gimana kalau seandainya Siti ikut saya saja selama melewati masa kehamilannya ini..?"


Aku baru saja ingin bergabung dengan emak, Salsa dan juga bude yang memang sedari tadi sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti malam, karena memang aku baru saja habis mandi sore. Mendengar itu aku berniat menguping,


" Loh kenapa bu Dewi, Tapi terserah Siti sih dia mau tinggal dimana saja. Asalkan dia merasa nyaman. ."


Emak terdengar menjawab dengan pelan.


Aku masih berdiam didekat pintu, ingin tahu bagaimana kelanjutan obrolan mereka.


" Apalagi usia kehamilannya masih sangat muda. Jika dia merasa lebih nyaman di rumah bu Dewi , nggak kenapa-napa kalau untuk sementara dia tinggal sama ibu dulu..." Emak menjawab dengan bijak. Meski aku tak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah beliau.


"Jujur saja bu besan, aku merasa kesepian karena sendirian di rumah. Tapi emang bener sih, nanti biar Siti aja yang memutuskan akan tinggal dimana selama masa kehamilan ini. Siti itu juga terkadang suka manja, Apalagi kalau sedang hamil begini. aku juga takut jika sewaktu-waktu dia merepotkan bu Lastri sebagai mertuanya..Tapi balik lagi, semuanya tergantung Siti juga.."

__ADS_1


" Siti sudah aku anggap seperti putriku sendiri loh bu Dewi. Jadi jika memang nanti dia mengalami mual ,muntah atau pusing dan mengharuskan dia istirahat total, ya aku bisa terima dan maklum. Aku juga pernah mengalami itu saat mengandung Dadang . Jadi aku pastikan akan bisa mengerti dan sangat paham.."


Tak ada lagi jawaban dari Bude, aku tahu. meski tak ada niatan dari Emak untuk menyinggung perasaan bude. Tapi tetap saja , aku yang ikut mendengarkan saja nampak sedih. Apalagi bude, yang memang tak pernah merasakan gimana rasanya mengandung. Ucapan emak pasti telah menancap dalam dihatinya , hingga ia kehabisan kata-kata.


__ADS_2