
Siti POV
Aku sungguh tak menyangka jika hubungan ku dengan Dadang akan seperti ini. Dia lelaki pilihanku, lelaki yang membuatku berani menolak sejuta pria dengan pesona dan juga harta.
Lelaki yang ku kenalkan pada bude dengan sedikit memaksa.
Lelaki biasa , dengan pekerjaan sebagai seorang petani kopi. Lelaki yang aku tekatkan dalam do'a akan ku bersamai selamanya.
Tapi nyatanya , setelah satu dekade pernikahan. Semua nya berubah, menjalani pernikahan dengannya membuatku laksana menelan duri setiap hari. Semakin hari semakin menyakitkan namun tetap memaksaku bertahan.
Ingatan ku kini malah mengelana ke peristiwa yang telah kami alami belasan tahun yang lalu. sebuah kisah cinta penuh bahagia dan penuh akan perjuangan...
...****************...
Namanya Dadang, lelaki dengan perawakan tinggi dan tidak terlalu kurus, wajahnya manis membuat mata tak pernah bosan untuk memandang. aku mengenalnya dari seorang teman, Yang satu sekolah dengan pemuda itu. Teman satu bangku yang telah sangat dekat, karena meski aku perempuan aku merasa lebih nyaman jika berteman dengan lelaki.
Sebenarnya aku dan Dadang dulunya satu sekolah saat SMP. Tapi Dadang memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di kota yang berbeda.
Sosoknya memang tak kukenal waktu SMP. Tapi pemuda itu bilang jika dia telah mengangumi ku bahkan jauh sebelum pertemuan kami kembali.
__ADS_1
Dia adalah lelaki humoris, pandai bergaul dan juga pribadi yang supel, gayanya yang ceplas ceplos kadang membuatku merasa salah tingkah sendiri.
Meski kedekatan kami berlangsung telah lama namun Dadang tak juga menyatakan cintanya secara langsung, dia lebih sering menyentil ku dengan candaan yang garing.
Cukup lama kami dekat dengan status hanya teman. Tapi jujur aku menyimpan kagum pada sosoknya.
Meski saat itu aku bahkan telah menjalin hubungan dengan lelaki yang satu sekolah denganku.
" Wah kayaknya kalah cepat nih aku !!" Dadang menyikut temannya yang berada di depanku. Mata pemuda itu masih sempat-sempatnya mengedip genit.
"Makanya kalau cinta itu diungkapkan jangan dipendam. Apalagi kalau ceweknya seperti Siti alamat nggak akan ada celah jika nggak gercep.." Rio nampak terkekeh sembari melirik ke arahku.
Apalagi kini aku telah resmi pacaran dengan Angga.
Angga, lelaki yang kini ku pilih jadi kekasihku adalah pemuda tampan yang jadi idola baru di SMA Nusa bangsa. Dia merupakan sosok pindahan dari luar daerah dua bulan yang lalu.
Sebagai perempuan yang mampu menaklukannya dan mengalahkan kandidat lain hingga Menjadi pacarnya tentu saja membuatku merasa bangga dan bahagia . Apalagi sikap manis Angga yang sangat pandai dalam memperlakukan seorang gadis. Siapa yang akan menolak pesona sempurna dari sosok berkharisma itu. Tatapan iri kakak kelas maupun adik kelas selalu mengikuti langkah kami sebagai pasangan baru.
Tapi setelah mendengar gurauan Rio dan Dadang entah kenapa ada getar aneh yang aku rasakan, apakah aku sebenarnya punya rasa yang lebih pada Dadang. Jika dibandingkan Angga tentu saja Dadang jauh dibawahnya . Atau ini hanya reaksi balik dari sifatnya yang memang suka menggoda dan selalu bercanda tentangku.
__ADS_1
" Sayang ...!!" Sosok yang kupikirkan muncul juga, Dengan motor Ninja nya dia mendekatiku, karena memang kami sudah janjian untuk pulang bareng. " Ayokk keburu sore. Aku mau jemput mama dari salon soalnya.."
Sosok yang masih betah di atas motornya itu melihat kearah jam ditangannya dengan gusar.
" Wooi bro. Kalau sama pacar lembut dikit kek. Turun dulu bicara baik-baik. Udah kayak ngajak tawuran aja.."
Ucapan Dadang tak ditanggapi oleh lelaki berstatus pacarku itu. Dia hanya memandangku dengan lekat seolah memintaku bergerak dan mengerti keadaan darurat yang dialaminya.
Aku pun naik tanpa memandang kearah Dadang dan Rio. Rasanya sungkan karena dengan jelas Dadang mengutarakan sikap tak sukanya akan perlakuan Angga yang menurutku masih sangat wajar. Motor yang kami kendarai kini mulai berlalu, meninggalkan Keberadaan Rio dan Dadang yang entah bereaksi seperti apa melihat tindakan ku tadi..
Itu adalah pertemuan terakhir antara aku dan Dadang saat masa putih abu-abu. Dadang kini seolah menghindari ku. Meski Rio masih sering bercerita jika Dadang belakangan ini selalu menginap dirumahnya, Rio bilang jika Dadang ingin melanjutkan kuliah kedokteran . karena memang jurusan itu yang diinginkan orang tuanya yang merupakan seorang PNS, tak ada keterpaksaan sebenarnya dari diri Dadang karena memang dia sedari dulu bercita-cita menjadi seorang dokter. Sedangkan aku hanya sebentar menikmati masa pacaran dengan Rio karena pada akhirnya pemuda itu kembali harus pindah ikut orang tuanya yang berprofesi sebagai seorang Diplomat. Meninggalkanku dengan pilihan antara putus atau LDR. Tentu saja aku tak akan mau jika harus menjalani hubungan jarak jauh. Jadi kami sepakat mengakhiri hubungan kami yang sebenarnya sedang lengket-lengketnya. Setelah kepergian Angga sebenarnya banyak yang mencoba mendekatiku. Tapi kini mood ku tentang pacaran sangatlah buruk, entah apa yang mempengaruhinya. Tapi yang jelas aku menikmati status jomblo ku sekarang ini.
Kelulusan telah tiba. Alhamdulilah aku lulus dengan nilai sempurna, bude Dewi sangat bangga dengan prestasiku. Beliau ingin aku melanjutkan kejenjang kuliah, soal biaya tak akan menjadi masalah bagi bude. Tapi, Entah karena suratan takdir atau apa. Aku menolak untuk kuliah dan lebih menyibukkan diriku didepan laptop, mencoba mendalami hobi sekaligus belajar banyak hal dari menulis. Satu tahun ku lewati dengan hanya berdiri digarda paling depan sebagai pembaca. Aku hanya menumpuk novelku di dokumen khusus yang disimpan dengan sandi sebagai pagar. Entahlah kenapa aku melakukan itu. Yang kutahu saat menulis imajinasi ku malah mengarahkan ku menjadi orang lain..Meski tak ada yang salah dengan hidupku tapi tetap saja tumbuh besar dengan tanpa orang tua merupakan hal yang berat. Bukan aku tak menganggap kehadiran bude. Tapi rasanya pasti akan berbeda jika kau bisa memanggil seseorang dengan sebutan Emak dan Bapak, apalagi jika bisa merasakan pelukan hangat sosok-sosok itu.
Setelah satu tahun , Sekolahku mengadakan reuni. Sebagai orang yang tak melanjutkan kuliah tentu ada sedikit rasa minder di diriku. Tapi inilah pilihanku, bagaimanapun tanggapan orang , aku sih bodoh amat.
Dan Rio juga terlihat datang, Tapi yang membuatku tak berkedip ialah Rio terlihat datang bersama Dadang. Bukankah agak aneh ketika dia malah dengan santainya hadir disini meski bukan alumni.
Wajah itu akhirnya kulihat kembali, Masih sama seperti dulu, Dadang tetap manis namun kini dia terlihat dewasa dan makin maskulin.
__ADS_1
" Heii Ti..! Udah lama ya nggak ketemu. " Dadang menjabat tanganku, lagi kurasakan getaran aneh yang terjadi saat kulit tanganku disentuh olehnya. meski lama tak bertemu entah kenapa rasanya masih sama . Dan tak ada yang berubah. melainkan rasa canggung yang kini malah tercipta entah apa yang jadi sebabnya.