
Aku semakin semangat, karena perhiasan yang diberikan oleh Indra bernilai hampir 40 juta. Penjaga toko bilang jika kadar emasnya 24 karat. Aku lagi-lagi merasa terharu , Meski tak terlalu akrab dengan Hesti tapi aku tau jika istri Indra itu juga sama baiknya, buktinya Dia mengizinkan suaminya untuk memberikan perhiasan bernilai fantastis ini, alih-alih memberiku perhiasan emas 22 karat yang tentu lebih murah.
Kini aku dan bang Dadang tampak menghitung kembali uang hasil penjualan perhiasan siang tadi. Dan memang benar total 40 juta kini telah berada ditangan kami.
Aku sebenarnya, mengusulkan untuk sekalian mengambil uang yang ada di rekening pribadiku, Tapi bang Dadang mengatakan jika sebaiknya uang itu diambil nanti saja saat proses pengerjaan telah dimulai. Lagian sekarang masih masa panen buah kopi. Setidaknya pembangunan dilakukan setelah panen selesai. Agar uang panen nanti bisa juga digunakan untuk menutupi kekurangan nantinya.
Bang Dadang kini juga sedikit antusias karena mendengar jumlah uang hasil penjualan perhiasan, hingga ia sekarang dengan cepat menghubungi temannya yang membuka mebel di desa sebelah. Rencananya bang Dadang memesan kusen, pintu serta jendela pada temannya itu. Siapa tahu bisa dapat harga sedikit miring.
" Deal dek, 17 juta lima ratus.,untuk 4 pintu dan dan 8 jendela. sudah lengkap dengan kaca beserta bingkainya.." Bang Dadang mengucapkan nya dengan sumringah.
" Kok murah bang, nggak salah hitung kan, semua bahan dia yang sediakan..? "
Aku yang keheranan mendekat kearah suamiku itu, antara percaya dan tidak dengan ucapannya.
" Iya dek. Rio kan teman Abang, saat SMA. Sohib akrab malah. Katanya harga teman, sekaligus hadiah karena dia nggak hadir saat pernikahan kita, dia sedang kuliah diluar kota waktu kita menikah.."
"Ohh alhamdulilah ya Bang. semoga niat kita dilancarkan..
dan semua prosesnya juga diberi kemudahan..Aamiin.."
Aku tersenyum tulus pada lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi imam ku itu . aku bahkan sudah membayangkan kenyamanan yang akan kurasakan nanti saat bisa punya hunian sendiri.
Tiba-tiba bang Dadang menarik ku mendekat kearahnya, aku yang tak siap malah jatuh ke pelukan suamiku itu. Layaknya sebuah Drama, kami saling menatap untuk beberapa saat, dan karena senang akan usaha dan dukungan bang Dadang, aku refleks menyatukan bibir kami, membawa bang Dadang dalam ciuman panas yang entah berapa lama, tak dirasakannya lagi.
Aku pasrah, dam tak lagi memberi perlawanan. Karena sejatinya rasa kesal dan tak mau melayani datang dari perlakuan bang Dadang sendiri.
Coba saja, jika dia sebaik dan sepengertian ini, tentu saja aku akan memberikan servis terbaikku. meskipun dalam keadaan lelah sekalipun.
Tubuh kami yang polos menyatu di peraduan, mereguk surga yang seolah telah lama tak dirasakan, hingga akhirnya rasa nikmat itu membuncah dan mengalirkan benih di rahimku yang telah lama terasa kering. Kulihat rona puas pada wajah bang Dadang.
__ADS_1
suamiku itu terengah-engah. dan berbaring terlentang di sebelahku, Jika biasanya dia malah pergi tanpa kata setelah melampiaskan hasratnya, tapi kali ini sosok itu tersenyum menghadap ke arahku kemudian memberikan kecupan lembut pada kening ku, dan mengucapkan Terima kasih berkali-kali di telingaku, dengan tulus dan penuh kegembiraan.
aku hanya membalas nya dengan senyuman, dalam hati aku berdo'a supaya hubungan kami membaik setelah malam ini.
karena jujur saja , otak dan tubuhku mulai lelah dan hampir saja menyerah.
***
Setelah tiga hari disini. Indra dan Hesti memutuskan untuk pulang.
Karena mereka hanya mengajukan cuti tiga hari saja, meski sama-sama PNS , Indra memang ditugaskan di kantor Bupati, sementara Hesti merupakan seorang guru disekolah swasta
" Kami pamit Ya, mak. Do'akan Hesti supaya bisa sehat selamat sampai nanti melahirkan.."
Pemandangan ini membuatku merasa terharu, Meski dapat perlakuan berbeda tapi tetap saja jiwa ku tak bisa abai, akan pemandangan yang terasa menyedihkan seperti sekarang.
" Emak selalu mendo'akan segala sesuatu yang baik untuk menantu yang telah susah paya mengandung cucu-cucu emak, jaga dirimu baik-baik ya Hes, kalau ada apa - apa segera telpon kesini..,"
Tak tahan lagi aku masuk kedalam rumah, memilih menemani Dio yang anteng dengan handphone didampingi Salsa.
" Sudah pulang Mba.? "
" Ee siapa ?"
"Bang Indra sama Mbak Hesti !!"
" Oh belum ,Sa. masih didepan tuh , pamitan sama emak.."
Salsa diam, Dan memilih mengawasi Dio , takut anak kecil itu malah membuka yang aneh-aneh.
__ADS_1
Salsa memang kulihat tak terlalu akrab dengan Hesti seperti kedekatannya padaku. Entah apa yang salah namun Salsa seolah memberi jarak jika berhadapan dengan kakak iparnya satu itu.
Emak kembali kedalam dengan dipeluk Bapak. Rupanya sesedih itu beliau ketika berpisah dari keluarga Indra.
" Siti. Tolong buatkan Emak teh manis ya. Sekalian kopi buat Bapak.."
" Biar Salsa aja mak.."
Salsa langsung beranjak ke dapur, entah ada apa dengan gadis itu tapi sepertinya Salsa sedang ada masalah. Meski tak terlalu yakin, tapi kebersamaan kami selama ini tentu saja membuatku sedikit banyak tahu tentang tabiat Salsa.
" Sudahlah mak, kenapa malah lebai sih ?"
Suara Bapak terdengar, membuatku yang fokus menatap kearah Dio mengalihkan pandangan.
" Disini kan juga ada cucu-cucu kita. Tiga malahan, kalau nanti benar-benar rindu biar Bapak yang anter emak ke sana.."
" Beda lah pak, Raja kan baru sekali ini kesini. Cuma tiga hari lagi. kan nggak cukup pak buat emak melepas rindu.. Walaupun sama-sama cucu. Tapi adalah pasti perbedaannya .."
Mata Emak melirikku, meski tak sinis tapi aku tahu jika Emak tak suka sikap Bapak yang menasehatinya, begitulah sikap Emak yang dapat ku pelajari selama tinggal satu atap dengannya.
" Bara mana Ti.." Bapak mengalihkan pembicaraan karena jika berdebat dengan emak maka tak akan ada habisnya, mengingat emak yang memang tak pernah mau kalah apalagi mengalah.
" Tidur pak, selesai makan tadi.."
" Oh pantesan nggak kedengaran suaranya.."
Bara memang kini sedang senang-senangnya memekik dan memainkan air liur, anakku yang paling gendut dibanding kakak-kakaknya itu, memang sangat diperhatikan dan disayang oleh Bapak selaku kakeknya.
" Iya . Kebetulan hari ini lebih cepat tidurnya pak, mungkin kecapekan. semalam kan begadang. ."
__ADS_1
Bara memang agak rewel semalam, karena kebetulan Raja anaknya Indra juga tak berhenti menangis meski kami telah gantian untuk mengendong nya. Setelah lama menangis , Hesti malah nyeletuk jika air susunya kini tak lagi keluar, mungkin saja Raja lapar.
Aku kesal sebenarnya mendengar ucapan tanpa dosa dari Hesti . Kenapa dia seolah membiarkan dan tak mau repot membuat susu. Padahal dokter juga sudah bilang jika hal ini mungkin saja akan terjadi. Makanya Indra inisiatif membeli Dot dan susu formula untuk Raja sebagai persiapan kalau-kalau ucapan dokter nanti terbukti. Setelah drama panjang, ternyata benar bayi 3 bulan setengah itu haus . Setelah diberi susu formula, barulah dia terlelap dan nyenyak hingga pagi. Meski Indra malah kerepotan harus bangun 3 jam sekali untuk membuatkan susu.