
Keheningan kini kembali menyapa, berdua saja dengan Dadang membuatku tak tahu harus berucap dan berbuat apa. Apalagi tadi Dadang malah melakukan hal yang semakin membuatku salah tingkah didepannya. Lagian kenapa keluarga Dadang malah pergi semua. Ini bukan perkenalan namanya, tapi cuma sekedar formalitas untuk menyapa saja.. hhh
Entahlah, pikiranku kok jadi sensitif akan sambutan keluarga Dadang. Semoga saja semuanya berjalan sesuai rencana.
"kok Bosan ya !!! Enaknya ngapain hmmm ?" suara Dadang memecah keheningan.
pemuda itu menatapku lekat, saat mengutarakan kebosanannya, membuat pikiranku jadi kearah yang tidak-tidak.
" Apa ?" ujar ku jutek, lagi-lagi mencoba menetralkan jantung yang mulai terpompa lagi..
Terlalu lama ditempat sepi seperti ini dan hanya berdua dengan Dadang , membuat pikiranku traveling kemana-mana. Sepertinya pesona Dadang telah membuatku gila. Aku jadi gelisah sendiri,
" Oh ya , adik-adikmu kok kayak kembar ? Apa memang kembar non identik ? "
Aku mencoba mencari topik pembicaraan, Semoga saja Dadang menyambut baik dan tidak menggodaku lagi. Meski kami jarang bertemu tapi soal topik pembicaraan , rasanya aku perlu mengarang lagi dengan baik. Agar tak takut dan kaku seperti saat ini.
" Nggak. mereka nggak kembar kok, tapi memang mereka lahir berdekatan. Indra dan hafiz jaraknya cuma dua tahun , sedangkan Hafiz dan agung bahkan hanya berjarak satu tahunan saja. Nah kalau si bungsu Salsa katanya emak kecolongan. Tapi alhamdulilah dikasih anak perempuan, gitu sih menurut cerita Bapak... "
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Dadang. Pasti sangat repot kalau punya anak dan hamil dengan jarak dekat
" Kalau nanti kita punya anak cukup dua aja ya, jaraknya juga jangan terlalu dekat. biar kita bisa momong sekaligus pacaran.. hehhe "
Aku menerawang jauh, membayangkan replika mini kami akan seperti apa rupanya nanti..
" Kenapa kalau punya banyak anak dan dengan jarak dekat ,Bukannya bakal seru. rumah jadi rame. Kalau soal pacaran kan bisa sambilan. Emak dan Bapak aja bisa kok mengurus kami dengan baik tanpa ada pertengkaran yang berarti, yang penting kan komunikasi dan saling bantu .."
" Iya sih. suami istri itu partner, janji harus saling membantu dan melengkapi. Jadi intinya kamu mau anak berapa ?"
" Lima. kayak aku. lima bersaudara. meski sering ribut tapi bisa saling memahami satu sama lain apalagi kalau nanti kami sudah berkeluarga semua. Hal-hal kecil pun akan dirindukan . Mau yah.. melahirkan banyak anak untukku.."
Aku mengangguk mengiyakan, seolah tanpa beban.
__ADS_1
" Asal kamu mau bantuin momong, aku sih oke..!"
" Jadi kapan kita menikah ?"
" Kenapa malah nanyanya kearah situ terus sih ? jujur aku merasa nggak nyaman dengan pertanyaan itu.." aku tak sadar jika nada suaraku kentara sekali menunjukkan rasa kesal.
" Loh kenapa ? ngomongin anak kamu nggak risih. Giliran ditanya biar cepat proses bikin anaknya kamu malah ngeles hahhaha..."
jlebbbb...
Dadang benar, entah kenapa aku tadi bersikap begitu, kenapa otakku malah lancar kalau ngomongin soal punya anak. Tapi bagaimana mau bikin anak jika belum menikah .. eeeh.
Kutimpuk kepalaku yang lagi lagi memikirkan hal aneh..
" entahlah aku juga bingung. Udah, jangan ngomongin hal yang bikin aku semakin bingung.. "
Dadang tertawa lagi, membuatku juga ikut tertawa mengingat pembicaraan konyol kami..
sekarang sudah pukul tiga sore, Tapi tidak ada pembicaraan Dadang yang menunjukan jika Ia akan mengantarkan aku untuk pulang. Kami malah masih asyik bercengkrama sekarang, karena kebetulan salsa sudah pulang ke rumah satu setengah jam yang lalu. gadis kecil itu juga membawa pecel lele dari rumah temannya tadi, karena memang keluarga temannya berjualan pecel lele, saat malam menjelang ..
aku sedikit khawatir jika bude malah menunggu dan marah kalau kami pulang dan sampai saat malam.
Jangan tanya apakah aku ditawari makanan atau tidak, karena nyatanya Dadang sengaja menyuruh Salsa membeli dagangan orang tua temannya itu khusus untuk kami makan bersama.
" sebentar lagi ya, pulangnya nunggu emak sama bapak dulu . bentar lagi mereka pasti sampai.."
Benar saja apa yang dikatakan Dadang ,Karena kini terdengar suara salam dari luar. diikuti Sosok emak, dan juga pria paruh baya yang ku yakini adalah sosok Bapak yang sering diceritakan Dadang, Sosok pria itu nampak masih segar dan kekar, meski PNS Dadang bilang jika Bapak masih giat mengurus kebun kopi dan juga menyadap getah karet. Sungguh sosok pejuang keluarga yang patut dicontoh, aku harap sifat bapak menurun ke Dadang, meski tak PNS setidaknya tidak menelantarkan keluarga dengan malas bekerja.
" Belum kamu antar Siti Dang ? kan ini udah sore, nanti malah kemalaman dijalan, kan nggak enak sama budenya ..!!"
Emak langsung bersuara ketika melihatku masih ada disini,
__ADS_1
" Lagi nungguin emak sama Bapak biar bisa pamit .. Oh ya pak ini Siti yang Dadang ceritakan kemarin .." Aku menyambut tangan Bapak dan menyalaminya.
" Oh. Ini yang namanya Siti. kalau Dadang macam-macam bilang sama Bapak ya nduk, biar bapak tegur dia.." Bapak memberikan senyum meneduhkan, membuatku hanya mampu mengangguk patuh tanpa mengeluarkan suara.
" Siti pamit pak, buk Salsa..Assalammualaikum..!!!"
Setelah mendengar jawaban salam dari mereka aku segera melangkah mengekor Dadang yang sedari tadi memang telah keluar lebih dulu setelah berpamitan
Motor kini mulai melaju mengarungi Jalanan yang kini nampak ramai. Karena warga disini yang mayoritas adalah petani kopi. Jadi memang jam-jam ini mereka akan pulang ke rumah. mengistirahatkan tubuh agar bisa segar beraktifitas lagi keesokan harinya.
" Bapak kayaknya baik ya" Aku memulai pembicaraan seraya menikmati pemandangan Sawah yang menghijau karena memang belum memasuki masa panen.
Cuaca hingga se sore ini masih saja mendung, sepertinya angin sengaja menghalau hujan agar tak menyapa bumi.
" Bapak aja nih yang baik. Yang lainnya enggak. gitu.!!! ..,"
Kucubit pinggang Dadang dengan kencang, motor yang kami kendarai sempat oleng membuatku mengeratkan pelukanku pada Dadang .
" Eh Dek, hati-hati bahaya tahu.."
" Makanya jangan menggodaku , Apa tadi yang kamu bilang dak dek dak dek. Aku nggak suka. Panggil nama saja kenapa sih.."
Ku lepaskan pelukanku ketika aku merasakan jika motor kini telah berjalan dengan stabil. entahlah kenapa aku jadi ngambek an kayak gini jika didepan Dadang .
" Ya udah.. Maaf. Lagian apa salahnya sih kalau manggil Dek ? kan biar romantis gitu, biar nggak kayak orang musuhan,,.."
" Nggak ada ya. romantis-romantis aku geli hiiii"
Tapi sepertinya sore sudah semakin menyapa hingga cuaca semakin terasa dingin. Dengan ragu aku kembali memeluk pinggang Dadang,,
"Kamu itu udah kayak bunglon. cepet banget berubahnya.. " Dadang ngedumel sementara aku memilih diam dan asyik memperhatikan pemandangan alam yang kami lalui.
__ADS_1
" Bunglon begini kamu tetap suka kan .." aku kembali menggelitik pinggangnya,membuat Dadang seketika menghentikan laju kendaraan kami. Sialnya tempat ini sangat sepi. Apakah Dadang mau berbuat macam-macam denganku ??