
Hari ini Siti dan anak telah bersiap-siap. Ketiga jagoan Siti itu, kini tampak bahagia dan sangat semangat karena Siti bilang mereka akan bertemu kakek dan nenek, serta tentu saja dengan Ayah yang mereka rindukan.
"Bu, sekolah Rama bagaimana ?"
Siti duduk dan merapikan baju Rama, " Sudah izin kok sama Bu guru. .!! Rama senang kan mau ketemu nenek dan kakek ?"
" Rama senang ketemu Ayah Bu !! Sudah lama Ayah nggak ngehubungin kita, ya kan ?"
Siti tersenyum tipis, bagaimanapun Sosok Dadang selalu jadi yang pertama bagi Rama, dan juga adik-adiknya, tapi entah kenapa mantan suaminya itu kini bahkan tak perduli lagi. Jangankan uang nafkah, menanyakan kabar saja sangat sulit, Dan juga kelakuan Dadang kemarin semakin membuat catatan kelam di hati Siti jadi bertambah tentang Ayah dari anak-anaknya itu. Dia merasa tidak lagi mengenal Dadang saat ini !!
Mereka kini duduk didepan, karena Fian baru saja memberi kabar jika dia telah sampai di perempatan jalan masuk ke rumah bude Dewi.
***
" Bang , temani aku ke ATM yah hari ini ?"
Dadang baru saja duduk dan ingin meminum kopinya ketika Sandra merengek dengan nada manja. Istrinya itu baru saja bangun dari tidurnya, padahal jam sudah menunjukan pukul delapan pagi.
" Loh ngapain lagi ? Bukannya kemarin sudah sama Mbak Fatma ?"
Dadang menatap Sandra keheranan.
" Ada yang kurang bang, mumpung kamu libur kan hari ini !! Kita ke ATM, terus ke pasar sekalian. Aku mau beliin kamu baju barang selembar dua lembar. Kan kamu nggak bawa baju kamu kesini, kalau baju aku sih. Sudah diantar sama Salsa kemarin!!"
Dadang semakin menatap Istrinya curiga, " kenapa nggak sekalian kemarin sih ? Kan bisa langsung saja . Memangnya berapa lagi sisa saldo yang ada di ATM milikmu ?"
Sandra tersenyum kikuk, " Adalah bang, kalau untuk beli baju kamu mah ..hehehe"
"Ya sudah, mandi sana biar kita berangkat pagi ini !! Kebiasaan nggak pernah keramas kamu . Masak juga harus aku.."
Sandra malah tertawa menggoda " Aku kan capek bang, kamu gempur semalaman..
yang penting kamu puas. Sarapannya nanti saja , selesai kita gesek hiihi "
__ADS_1
Dadang akui pelayanan Sandra membuatnya benar-benar terbuai, sama seperti saat-saat awal pernikahannya dengan Siti. Bedanya, Siti selalu saja keramas dan bangun pagi demi melayani Dadang, tak seperti Sandra yang mengatakan capek secara terus menerus..
Memikirkan perbedaan signifikan dari Siti dan Sandra membuat Dadang berpikir, apakah Sandra akan semakin malas ,saat anak mereka lahir nanti ?
Selesai mandi Sandra kini nampak mematut dirinya di cermin, entah kenapa semua baju yang tadi dicobanya tak ada yang pas ditubuhnya, ia sedikit menggerutu akan kehamilannya ini, karena menyebabkan dirinya tak bebas lagi mengenakan baju apapun
"Aduh gimana nih bang ? Kok semuanya kesempitan sih ?" Aku kan jadi malas pergi kalau begini.."
Dadang menyesap rokoknya dengan santai, sebenarnya sedari tadi dia memperhatikan Sandra, dan jujur saja itu membuatnya pusing. Apalagi jika harus mendengar keluhan tak berdasar dari perempuan muda itu !
" Bang !!!! Kok diem aja Sih ? kasih solusinya dong, biar kita bisa berangkat.."
" Pakai baju Abang Aja sana, dijamin nggak akan kekecilan.."
Jawaban Dadang yang terkesan cuek membuat Sandra memandang sebal pada suaminya.
" Peka sedikit kenapa sih bang ? Aku kan serius !!!"
Dadang diam, memandang Sandra dengan Aneh, baginya tak ada kata bercanda dalam kalimatnya tadi. karena Siti juga akan melakukan hal itu jika bajunya tak lagi muat karena perutnya yang membuncit. Entah kenapa hal apapun itu, selalu saja mengingatkan Dadang pada sosok Siti, sang mantan Istri..
" Ya sudah, Maaf. Terserah kamu kalau begitu, lagian kamu kan lagi hamil, yang memang penampilan kayak gimanapun nggak akan bisa menyembunyikan perut kamu yang buncit itu.. Kenapa juga mesti malu coba ?"
Sandra menghentakkan kakinya kesal, dia melirik Dadang. Jika bukan membayangkan banyaknya uang yang akan dia dapatkan nanti , Sandra tak akan mau pergi hari ini. Baginya penampilan merupakan hal yang paling penting.
Kini suami istri itu, berjalan beriringan ke rumah Fatma, ingin pinjam motor. Karena motor milik Dadang sudah dimodifikasi khusus untuk pergi ke kebun Kopi.sehingga jika tetap nekad berkendara di kerumunan, mereka akan kena tilang, dan kemungkinan terburuk motor akan disita.
" Memangnya mau kemana kalian ?"
Fatma buka suara melihat Dadang mengeluarkan motor matic miliknya.
" Mau ke pasar Tante. Sudah izin tadi , pinjam sama om. Bolehkan Tan ?"
Sandra bersuara , menjawab Fatma yang menatap mereka dengan tatapan ingin tahu.
__ADS_1
" Ohh.. mau belanja lagi kah ?"
" Enggak kok bude, bang Dadang katanya mau ketemu teman lama, ngomongin soal bisnis !!"
Dadang diam saja, dan langsung menyalakan mesin motor. Dia malas bertanya, apalagi berdebat jika harus menyela ucapan Sandra yang sedang mengarang bebas, entah untuk alasan apa?
" Oh ya sudah. Hati-hati, ya..!! ingat istrimu lagi hamil Dang !!!"
" Iya Mbak. Kami pamit ya !!"
Dadang melajukan motor dengan pelan, membawa sang istri membelah jalanan yang cukup padat. Sandra kini menikmati kebersamaan mereka di atas motor , dia memeluk erat tubuh suaminya.
Nikmat mana lagi yang dia dustakan, punya suami seperkasa Dadang dan juga ATM milik Siti sebagai sumber uang.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai. Dengan gesit Sandra langsung masuk, Dan menatap mesin ATM didepannya dengan mata berbinar.
Bayangan uang Dua puluh juta kini seolah telah menari pelupuk matanya.
Belum juga hilang binar senyum di bibirnya. Mata Sandra membulat kaget, ketika menatap pada layar yang bertuliskan ATM TERBLOKIR, meski tak tertulis dengan huruf kapital, tapi entah kenapa seolah matanya kini disuguhi sesuatu yang membuatnya memejamkan mata karena merasa tak percaya.
'" Kenapa bisa ? Apa ini ulah Siti ? Sial kenapa aku nggak kepikiran sampai ke sana sih ?"
Sandra berbicara sendiri dan seolah mengutuk, akan kebodohan yang kini membuatnya harus gigit jari. Karena tak membuahkan hasil yang semestinya dia dapatkan !!
Dengan kesal dia menarik kartu, dan berbalik. Jika saja tak menemukan wajah Dadang yang menatapnya dengan aneh, Sandra sudah pasti bakalan mematahkan kartu itu dan membuangnya ke tong sampah. Tapi, berhubung Dadang seolah mengawasi gerak-geriknya membuat dia mengurungkan niatnya dan juga sebisa mungkin menyembunyikan wajah betenya.
" Kenapa batal ? katanya mau ambil uang ?"
Sandra gelagapan, apakah Dadang mengawasinya sedari tadi ?
" Sudah kok. Abang aja yang nggak tahu. Ini uangnya ada disaku.."
Sandra mengeluarkan uang tunai satu juta dari saku celananya dan menunjukannya pada Dadang. Dia bersyukur masih ingat membawa sisa uang yang kemarin diambilnya, jika tidak entah alasan apa yang harus dia utarakan ke suaminya itu.
__ADS_1
Dadang diam saja, meski matanya memandang Sandra dengan tatapan curiga. Bukankah jelas-jelas , sedari tadi dia melihat semua yang dilakukan Sandra, jadi kapan Sandra mengantongi uang itu..?