
Ke esokan paginya, Felly, suami dan anaknya sudah datang ke rumah Bara tuk melepas kepergian Bara pindah ke Surabaya
" Assalamu'alaikum "
Kata Fito memberitakan bersama keluarganya sambil mengetuk pintu
"Wa'alaikum salam" terdengar suara Hanifah dari dalam berjalan ke arah pintu dan membukanya
" Eeh ada Felly dan mas Fito, mari silahkan masuk" kata Hanifah senang menyilahkan tamu sekaligus saudara angkat dan tetangganya masuk
Disana di ruang tenggah nampak Bara yang lagi menyusun-nyusun barang bawaannya yang tak seberapa, soalnya semua barang telah di kirim terlebih dahulu
" Bagaimana, jam berapa berangkatnya Bara" tanya Fito
" Keberangkatan 10:30 Fit, bandara kan tidak jauh juga dari sini" kata Bara
" Haii ,,ada Vera, om dan Tante " kata Varel senang saat melihat tamunya ada di rumahnya
" Haii kak Varel, verra sedih nih di tinggal sama kak Varel, nanti Vera Main sama siapa lagi di rumah dan di sekolah, tidak ada yang jagain Vera lagi, kak Varel pergi jangan lama- lama ya " kata Vera berlari ke arah Varel, memeluk Varel dan menangis di
" Vera , kak Varel tidak akan lama di Surabaya, kata papi sampai masalah kakek bisa di selesaikan sama papi, Kuta semua akan kembali ke Jakarta ini, kita akan bersama lagi seperti dulu, kak Varel sayang sama Vera, Kaka Varel juga tidak mau lama-lama meninggalkan Vera, jadi tunggu kami pulang ya Vera, jangan pernah pergi kemana-mana " kata Varel yang juga menangis tersedu-sedu.
Mereka berdua berpelukan sambil menanggis tersedu-sedu, tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa
Kedua orang tua mereka menyaksikan anak-anak mereka yang begitu saling menyayang dengan perasaan haru biru, turut menanggis juga
" Baik-baik di sana ya Varel, jangan nakal,dan patuh selalu pada mami dan papimu ya, kami disini selalu merindukanmu" kata Fito papanya Vera sambil mengusap kepala Varel dengan satang
" Iya om Fito, Varel titip Vera ya om, jaga selalu Vera, karena Vera bagi Varel seperti adik sendiri " kata Varel sedih
Varel memeluk Vera lagi kemudian Varel menatap Vera dalam-dalam, Varel melihat kalung perak yang di beli bareng orang tua mereka 5 tahun yang lalu masih di pake Vera, Varel memegangnya dan memperhatikannya, kemudian Varel meraba kalung perak jangkar yang lagi di pakainya, Varel melepasnya.
" Vera , biar kita selalu merasa dekat, bagaimana kita tukaran kalung perak kita ini, nanti setelah kita bertemu lagi, kita tukaran lagi" kata Varel sambil menyodorkan kalungnya ke Vera
" Boleh kak Varel, Vera setuju " kata Vera yang juga melepas kalung anggreknya
__ADS_1
" Ini kalung Vera kak Varel, kak Varel harus menjaganya dengan baik,jangan sampai hilang dan di kasihkan pada siapa pun" kata Vera wanti-wanti
Kemudian merekapun mengenakan kalung itu masing-masing ke lehernya
Kedua orang tua mereka hanya bisa geleng- geleng kepala menyaksikan ulah anak-anak
Jam di dinding sudah menunjukkan di angka 9:45
"Baiklah Fito dan Felly kita pamit dulu ya, sebentar lagi kita pesawat kita mau berangkat " kata Bara
Mereka pun berpelukan satu sama lain
" Setelah sampai di sana jangan lupa bertukar kabar ya Hanifah, kami selalu menunggu kabar&kabar terbaik darimu sekeluarga" kata Felly masih dalam di pelukan Hanifah
" Insyaallah, itu sudah pasti Felly" jawab Hanifah
Kemudian mereka semua keluar dari rumah Bara, bara mengunci pintu rumahnya karena didalam sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Bara dan keluarganya berjalan ke arah mobil yang sudah datang menjemputnya dan lalu masuk ke mobil. Setelah masuk ke mobil Varel membuka pintu kaca tempat duduknya dan mengeluarkan kepalanya
" Tunggu kak Varel ya Vera " kata Varel sambil melambaikan tangannya
Mobil itu pun pergi menjauh dari mereka.
Kemudian mereka pulang dengan lesu seperti kehilangan semangat .
Sesampai di rumah Vera langsung masuk kamar nya dan menangis di sana
Tidak ada yang dapat di lakukan oleh Fito dan Felly Saat ini, mereka hanya membiarkan Vera untuk sendiri dulu biar kesedihannya hilang
Siang harinya saat jam makan tiba, Felly memanggil verra ke kamar untuk makan siang,
" Vera, sudah siang sayang, Ayuk makan siang dulu" kata Felly
Vera hanya diam saja , tidak mau menjawab panggilan mamanya
" Ayolah Vera, makan dulu, nanti kalau siap makan, Vera boleh masuk kamar lagi, Ayuk Veraa" kata mamanya memaksa Vera makan, Felly takut anaknya akan sakit bila telat makan.
__ADS_1
Vera bangun dari tempat tidurnya, tanpa bicara langsung berjalan keluar pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan, matanya sembab karena habis menanggis, Felly sedih melihat keadaan putri cantiknya, Felly mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Vera, dan meletakkannya di depan Vera
"Ayuk di makan sayang, habis makan Vera boleh ke kamar lagi kok" kata Felly lagi, sedih melihat anaknya yang baru kehilangan sahabatnya ini
Vera pun makan dengan diam sambil menangis, setelah makan, Vera berdiri dan masuk kamar mengurung diri lagi
Melihat semua itu Felly menelpon suaminya dan menceritakan tentang Vera semuanya.
" Mama awasi Vera saja, jangan lupa kasih perhatian lebih padanya, biar dia tidak merasa kurang kasih sayang karena di tinggal Varel" kata Fito di sebrang sana
" Iya pa ,baiklah, mama akan menjaga Vera di depan kamarnya, mama akan taruh kursi dan meja juga disana untuk duduk, biar mama tau bila Vera keluar kamar ' kata Felly lagi
" Baguslah itu, papa lanjut kerja dulu" kata Fito di sebrang sana
" Iya papa, selamat bekerja" kata Felly sambil menutup telponnya
Beda dengan Vera, Varel dari rumah sampai di bandara, di dalam pesawat dan bahkan sampai di rumah depan rumah kakeknya sekitar jam 3 siang hanya diam tanpa bicara sepatah katapun, sesekali selama di perjalanan tadi Varel sempat menangis mengeluarkan air matanya, kedua orang tuanya hanya bisa diam dan sedih menyaksikan semua ini, tapi apa daya , mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa
" Varel, lihat kita sudah sampai di depan rumah kakek" Bara menyemangati Varel
Varel tidak bereaksi dan tetap diam tanpa bicara, melihat pun tidak ke arah yang di tunjukkan papi nya padanya
Setelah sampai merekapun turun dari mobil, dan berjalan menuju teras rumah, di sana sudah ada opa dan omanya menyambut kedatangannya
" Haii Varel cucu oma, sudah datang ya " kata omanya, sambil merangkul Varel dan menciuminya
" Varel sudah besar sekarang, tampan lagi " kata omanya lagi sambil menciumi pipi Varel
Varel hanya diam membisu tanpa bicara sepatah katapun.
" Varel kenapa sayang, Varel sakit" tanya omanya sambil menaruh telapak tangannya di kening Varel
" Tidak demam juga" kata omanya heran, opa Varel yang melihat itu melihat ke arah anaknya Bara sambil beri isyarat bertanya kenapa
" Varel tidak apa-apa Bu, dia hanya lagi sedih dan galau saja meninggalkan sahabat kecilnya di Jakarta" kata bara sambil menjelaskan
__ADS_1