
Hari hari berikutnya , Varel dan Vera berpacaran hanya di kantor secara diam-diam , mereka pacaran hanya di waktu istirahat makan siang saja , karena mereka butuh waktu istirahat juga setelah pulang dari kantor
Empat hari kemudian , tiga hari sebelum acara lamaran , Varel mendatangi ruang kerja Vera
" Selamat siang sayang " ucap Varel setelah sampai di dalam ruangan Vera tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu
" Siang juga mas , tumben jam segini datang ke sini, masih dua jam lagi loh mas jam istirahat " ucap Vera sambil mengambil sesuatu
"Iya sayang , tadi mami dan papi bilang kalau mas harus mengajak Vera untuk membeli dua cincin untuk pertunangan kita yang tinggal 3 hari lagi , dan bukankah besok Vera dan keluarga akan duluan berangkat ke Bandung " ucap Varel menjelaskan
" Oh iya ya mas , Vera mengira kalau cincin tersebut sudah di beli oleh mami dan papi " jawab Vera lagi sambil memandang Varel lalu meneruskan gambarnya , Varel yang melihat Vera meneruskan pekerjaannya ,langsung menghampiri Vera sambil mengambil pulpen di tangan Vera
" Sayang , udahan dulu ya kerjaannya , nanti di teruskan lagi " ucap Varel lembut sambil mencium kening calon tunangannya tersebut ,lalu meraih tangannya untuk berdiri
" Aduh mas , ini gambar Vera nanggung loh mas , besok sudah tidak ada waktu lagi " ucap Vera manja setengah merengek
" Ya ngak apa apa juga sayang , Vera itu kerja disini santai aja , ngak siap sekarang , ya ngak apa apa, bila ada waktu aja di siapkan , kan bos nya Vera ini adalah mas Varel , calon suami kamu sendiri " ucap Varel gemes melihat calon istrinya si arsitek jenius itu ,lalu mencubit pipi nya
" Mas Varel ngak boleh begitu juga sayang , kasih Vera waktu 30 menit aja, Vera akan rampungkan gambar Vera dulu baru kita pergi , ya mas please " ucap Vera memohon sambil merapatkan dua telapak tangannya di depan dadanya pada Varel
" Haduh baiklah , Pi ada syarat nya , karena Vera sudah membangkang pada atasannya , Vera harus lakukan sesuatu dulu sebagai hukumannya " ucap Varel memasang wajah dinginnya
" Hukuman ? mas mau hukum Vera ? mas tega sana Vera " jawab Vera memplototkan matanya pada Varel
" Iya ,, bagaimana ?" tanya Varel dengan wajah dinginnya
Melihat perubahan wajah Varel , nyali Vera jadi ciut
__ADS_1
" Ba baiklah pak , eh mas silahkan hukum Vera , asalkan Vera bisa merampungkan rancangan Vera ini " jawab Vera menundukkan wajahnya
Varel tersenyum tipis senang bisa ngerjain Vera untuk pertama kalinya , di sini Varel tau kalau Vera itu gila kerja dan ciut saat melihat dirinya bersikap tegas padanya
" Benar kah Bu Vera mau terima hukuman dari saya?" tanya Varel semakin mendekatkan dirinya ke Vera
" I iya p ppak " jawab Vera gugup
" Baiklah saya mau menunggu Bu Vera 30 menit lagi , dan Bu Vera harus mencium saya , bagaimana ?" tanya Varel lagi sambil menahan tawanya melihat wajah Vera seperti orang ketakutan menundukkan kepalanya
" Kok cium sih pak ? bagaimana kalau potong gaji Vera aja " ucap Vera menawar
" Saya tidak menerima tawaran apapun , cepat lakukan " ucap Varel lagi
" B baik pak " ucap Vera kesal lalu mendekati Varel yang berdiri di hadapannya, lalu dengan cepat Vera mencium pipi kiri dan kanan bos nya itu
" Kok cipika cipiki sih , saya tidak mau , saya maunya di sini " ucap Varel menunjuk bibirnya
" Pak , Vera malu , masa cewek mencium bibir cowok sih " ucap Vera dengan pipi yang merah merona
" Iya pak , iya pak , Vera akan lakukan " ucap Vera lagi
" Kalau begitu ayo , lakukan dengan lembut , kalau tidak lembut , maka hukumannya di ulangi lagi " ucap Varel siap siap sambil menahan geli di hatinya menahan tawa
Vera perlahan lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Varel , lalu menaikan sebelah tangannya merangkul kepala belakang Varel , dengan pelan Vera mencium bibir Varel , Varel memejamkan matanya menikmati ciuman lembut Vera sambil perlahan memeluk tubuh Vera dan membalas ciuman wanita yang dia cintai itu , merasa cukup ,Vera pun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan bos nya itu
" Sudah ya pak " ucap Vera lagi
" Satu menit lagi sayang , ayolah please " jawab Varel berubah lembut pada Vera
" Dasar otak mesum " ucap Vera pasrah
__ADS_1
" Mesum pada calon istri tidak masalah , hitung hitung belajar , kan mas tidak pernah mesum pada siapapun " ucap Varel sambil mencium bibir Vera lagi dan tangan satunya merayap di gunung kembar Vera lagi , tidak tau kenapa bibir dan gunung kembar Vera adalah sebuah candu buatnya
" Stop mas , sudah , sudah lebih satu menit , katanya minta di cium , tuh tangan merayap entah kemana " ucap Vera kesal sambil melepaskan diri dari pelukan Varel , lalu duduk kembali ke kursinya
Varel tersenyum bahagia ,karena berhasil mengerjai calon istrinya itu
" Bentar sayang ,ini di benerin dulu " ucap Varel saat melihat dua kancing baju bagian depan Vera lepas ,lalu menolong mengancingkan nya
" Sudah sayang , makasih atas ciumannya ya , ternyata di cium oleh wanita itu lebih enak ya dari pada mencium wanita itu sendiri " ujar Varel sambil duduk di depan meja kerja Vera
" Au' ah mene ke tehe " ucap Vera memasang wajah sewotnya lalu melanjutkan merampungkan rancangan gambarnya , Varel pun hanya tersenyum sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar jawab Vera
Ternyata baru 20 menit rancangan gambar Vera telah rampung , Vera menyimpan rancangan tersebut ke dalam laci meja kerjanya
" Yuk mas " ucap vera sambil berdiri dari tempat duduk nya , tapi tidak ada jawaban dari Varel , dan saat Vera memperhatikan Varel , ternyata bos nya itu ketiduran di meja kerja Vera
" Mas bangun mas , ayo kita jalan " ucap Vera membangunkan lelaki teman masa kecilnya itu sambil menepuk nepuk pipinya
Varel pun perlahan membuka matanya
" Gimana sayang ? sudah siapkah gambarnya ?" tanya Varel sambil mengumpul kan separuh jiwanya yang telah melayang tadi
" Sudah mas , mas cuci muka dulu gih ke dalam " ucap Vera mengusulkan
" Iya sayang , bentar ya ?" ucap Varel , lalu berjalan menuju ke sebuah ruangan yang berupa kamar istirahat Vera jika lelah bekerja , di kamar tersebut ada tempat tidur , lemari kaca dan toilet juga
Lima menit kemudian Varel keluar dengan wajahnya yang sudah lebih fresh
Mereka pun meninggalkan ruangan tersebut , turun ke bawah setelah pamit pada Monica sekretaris Vera
Tiga puluh menit perjalanan mereka pun sudah sampai di sebuah toko emas langganan mami Varel
__ADS_1
" Selamat siang Nak Varel , mau cari perhiasan apa ?" tanya pemilik toko mas tersebut ramah yang sudah kenal dengan Varel anak dari pelanggan tetap di tokonya itu
" Selamat siang juga om Toni , saya mau mencari sepasang cincin tunangan untuk kami , sepasang cincin emas yang unik " jawab Varel sambil menyapu kan pandangannya ke dalam etalase perhiasan emas tersebut