
Keluarga Bara kemudian masuk ke dalam rumah.
Varel pun hanya diam dan mengekor kedua orang tuanya dari belakang
Hari- hari pun berganti dan genap satu bulan Varel di Surabaya, selama satu bulan pula Varel berubah tidak seperti biasa, tidak seperti di Jakarta dulu.
Dulu di Jakarta Varel merupakan anak yang aktif, periang dan murah senyum, sebulan ini, Varel tidak pernah tersenyum, bicaranya pun jarang dan sering mengunci diri di kamar.
Varel sudah bersekolah di sekolah barunya di Surabaya, tapi itu malah membuat dia semakin pendiam dan dingin, Varel tidak punya banyak teman, Varel juga menutup dirinya untuk berteman dengan teman cewek di kelasnya, Varel benar-benar telah berubah 180 derajat.
Guru wali kelas pun telah memberitahu tentang Varel kepada kedua orang tuanya, tidak ada yang bisa dilakukan orang tuanya untuk mengembalikan ifat Varel yang dulu, orang tua Varel hanya menceritakan sebab dari mengapa Varel bisa seperti ini, dan wali kelasnya pun bisa mengerti.
Bulan berganti dan tahun pun menyusul, Varel pun telah lulus di sekolah menengah pertama, walaupun sifat Varel telah berubah dingin sedingin kutub Utara, tapi Varel tetap mendapatkan nilai terbaik, hanya waktu naik ke kelas enam nilai Varel anjlok dan tidak mendapatkan juara untuk pertama kalinya, itu semua karena lukanya yang mendalam karena di pisahkan dari Vera.
Sekarang Varel sekolah di SMA terbaik yang cukup terkenal di kota Surabaya.
Varel sudah duduk di bangku kelas 2 di SMA tersebut
Varel menjelma menjadi cowok tampan bak dewa Yunani, tapi sifat nya angkuh dan dingin, Varel aktif di basket dan menjadi kapten basket, dan juga menjadi ketua OSIS di SMA tersebut, walaupun begitu, itu tidak bisa merubah sifat Varel yang sudah mendarah daging padanya.
Banyak cewek di sekolahnya yang mengidolakan Varel, banyak juga yang menyukai Varel dan memburu cinta Varel, tapi tidak ada satupun cewek yang berhasil dekat dengan Varel, jangankan dekat untuk bicara 5 menit saja mereka tidak bisa, yah Varel dingin dan menutup mata dan hatinya untuk semua gadis, tanpa terkecuali, tidak peduli dari mana dan anak siapa
" Miko kamu tau tidak Varel itu sudah punya pacar apa belum" tanya Vania ke Miko teman basket Varel
" Selana saya tau, saya tidak pernah melihat Varel dekat dengan cewek ,apa lagi yang namanya pacaran" jawab Miko
" Kok bisa ya, apa Varel itu tidak normal ,hingga tidak punya rasa suka pada cewek-cewek cantik" kata Vania lagi
__ADS_1
" Hust,, jaga bicaramu, jika Varel mendengar, habis kita nanti" kata Miko bergidik ngeri membayangkan wajah Varel bila sedang.
Miko tau betul sifat Varel, selain sikapnya dingin, Varel juga tempramental jika ada yang menyinggungnya
Begitulah Varel, walaupun tampan tapi dingin, dan tidak pernah sedikitpun dekat sama cewek, bisa di bilang Varel alergi sama cewek, tapi jauh dalam lubuk hatinya Varel terukir nama seorang cewek bernama " Vera Rosalina Putri"
Setahun kemudian kemudian Varel pun telah menamatkan SMA nya dengan nilai terbaik.
" Varel dengan nilai terbaik yang kamu dapatkan di kelulusan ini, papi dan mami pengen tau dimanakah Varel akan melanjutkan kuliah nya, di Surabaya ini atau ke luar negri " Bara menanyai Varel putra semata wayangnya yang dingin bak kutub Utara itu.
Mendengar pertanyaan kedua orang tuanya, Varel lama diam membisu
" Varel mau kuliah ke luar negri yaitu ke Belanda " jawab Varel tegas
" Ke Belanda" jawab papi maminya bersamaan
" Tapi Belanda itu jauh sayang " kata maminya lagi
" Varel tidak peduli " jawab Varel lagi
" Mami mohon Varel Fikirkan lagi ya, Belanda itu jauh, kuliah disana pasti butuh waktu lama bertahun-tahun, bagaimana mami dan papi tinggal di sini, kesepian donk tidak ada Varel " kata Hanifah membujuk anaknya
" Pokoknya kalau tidak di Belanda, Varel tidak akan kuliah, kalau mami papi bilang kesepian, Varel juga lebih kesepian dari papi dan mami semenjak kalian membawa Varel ke sini, membohongi Varel, dan memisahkan Varel dengan Vera, papi dan mami tidak akan pernah tau rasa kesepian yang Varel rasakan" jawab Varel emosi, lalu pergi masuk ke kamarnya dan membanting pintu
Mami dan papi Varel merasa sedih, karena apa yang mereka takutkan dulu memang terjadi, kepindahannya berdampak buruk pada sikap anaknya, pada psikis nya juga.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Varel kuliah di Belanda. Di sana ada anak laki-laki paman Hanifah yang kuliah juga, jadi Varel ada temannya di sana, Papi dan mami nya Varel ikut mengantar Varel ke bandara
__ADS_1
" Hati- hati di sana ya sayang, jaga dirimu di sana dan jangan sampai telat makan ya" kata Hanifah memeluk farel sambil menangis
"Iya mi " jawab Varel singkat dan tidak ada tangis dari Varel yang dingin itu
Papinya pun ikut memeluk Varel
" Jaga dirimu di sana ya nak, tunjuk kan nilai terbaikmu pada kami nanti" kata Bara ,papi nya Varel
" Iya Pi ,insyaallah " jawab Varel singkat
Setelah itu Varel masuk ke dalam untuk check in dan naik kelantai 2 ruang tunggu keberangkatan
Bara dan Hanifah pun pulang ke rumah dengan lesu, baru hitungan jam mereka sudah merasa sangat kehilangan, dan disini mereka sadar, betapa bersalahnya mereka telah memisahkan Varel dengan Vera, dan akibatnya varel sikapnya berubah 180 derajat dan Varel berubah menjadi pendiam, dingin dan tempra mental.
Hanifah dan suaminya sudah tidak bisa bertukar kabar lagi dengan Felly semenjak anak mereka naik ke kelas 6, terakhir mereka berkabar kalau nilai anak-anak anjlok dan tidak meraih juara kelas lagi, karena henpond Hanifah hilang di pasar waktu pergi berbelanja, sedangkan Bara tidak ada menyimpan nomor handphone Fito.
Lain di Surabaya, lain pula Jakarta.
Di Jakarta semenjak Varel pindah ke Surabaya, Vera selalu mengurung diri di kamar setelah pulang sekolah, Vera bila di ajak ngomong akan menjawab seadanya saja, di bulan pertama kepergian Varel, Vera selalu menangis dan bertanya pada mamanya:
" kapan kak Varel pulang ma, Vera kangen" ini yang selalu di ucapkan oleh Vera pada mamanya, saat itu Vera masih bisa Vidio call sama Varel, walaupun begitu anak- anak berdua itu masih tetap bersedih dan berpengaruh ke nilai ujian mereka di sekolah
Nilai Vera pun anjlok pas naik ke kelas 6 , Vera tidak mendapatkan juara kelas di semester kedua di kelas 5, kepergian Varel sangat berdampak pada nilai ujiannya di sekolah.
Semua guru-guru bisa memaklumi itu.
Hari-hari berganti hingga bulan pun menyusul. Sudah satu tahun lebih kepindahan keluarga Varel, Vera masih belum bisa melupakan Varel, setiap hari sepulang sekolah, Vera selalu berdiri di depan halaman rumah Varel yang telah kosong, Vera betah berdiri disana berjam-jam tiap hari, sambil menangis dan mengucapkan nama Varel.
__ADS_1
Felly dan Fito tidak kuat melihat semua perubahan dan penderitaan putri tercintanya.