Kisah Cinta Varel Dan Vera

Kisah Cinta Varel Dan Vera
Bab 15 Kenyataan pahit


__ADS_3

Varel  menarik nafasnya dalam-dalam lalu duduk dengan tenang, tangannya masih dia taruh di dadanya, sambil mengenggam  liontin kalungnya dari luar bajunya. varel memejamkan matanya merasa kan dadanya sesak saat tiba-tiba teringat Vera.


Varel tidak kuat menahan rindunya pada Vera


Flashback


Suatu hari saat Varel liburan sekolah di kelas  2 SMP,  Varel  merengek pada kedua orang tuanya untuk  berlibur ke Jakarta


" Mami ,, papi,, Varel kangen sama Vera, Varel pengen ketemu sama Vera , sekarang sekolah libur, ayo kita ke Jakarta menemui Vera, ayo mi , Pi " rengek Varel pada mami papinya


" Nanti ya Varel , kerjaan papi disini lagi numpuk, nanti setelah selesai kita pergi ke Jakarta menemui Vera " jam Bara  papinya Varel


" Varel tidak mau menunggu lagi Pi, pokoknya besok kita ke Jakarta menemui Vera, kalau papi mami tidak mau, Varel akan pergi sendiri ke Jakarta mencari Vera " kata Varel mengancam kedua orang tuanya


" Bagaimana nih Pi , mami takut ancaman Varel, kalau memang dia pergi sendiri, Varel pasti akan nyasar kemana- mana "  kata Hanifah cemas berbisik pada suaminya


" Baiklah mi tidak ada jalan lain kita ke Jakarta besok " Jawab Bara mengambil keputusan


Karena  Varel yang tak main- main dengan ancamannya  akhirnya mereka berangkat ke Jakarta pagi  keesokan harinya. Di sepanjang jalan    Bara dan Hanifah melihat senyum Varel untuk pertama kalinya setelah 3 tahun berpisah dengan Vera.


Jam diangka 13: 00 mereka sampai di bandara internasional  Soekarno Hatta, Varel begitu bersemangat turun dari jenjang pesawat, seperti ada yang mengejar, Varel berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar, karena mereka hanya membawa tentengan  koper kecil yang di bawa naik ke pesawat, jadi mereka tidak perlu menunggu barang dari bagasi lagi.


Melihat anaknya yang berjalan cepat dan seperti tergesa-gesa, Bara dan istrinya hanya bisa mengiringi langkah Varel dari belakang dengan setengah berlari


Sesampainya di pintu kedatangan mereka sudah ada yang menyambut, Bara dan keluarganya naik ke mobil dan langsung menuju rumahnya yang dulu dia tinggalkan.

__ADS_1


Tak butuh waktu satu jam perjalanan dari bandara, karena jalanan tidak macet, akhirnya mereka sampai di rumahnya dengan selamat.


Varel pun setelah masuk ke dalam rumah nya sebentar  untuk mengambil oleh-oleh untuk Vera, lalu berlari keluar  menuju rumah Vera. Sesampainya di sana, Varel mengetuk pintu rumah tersebut dengan kencang sambil berteriak  memanggil nama Vera,


" Vera ,, Veraa,, kak Varel sudah pulang nih , buka pintunya Vera , Tante Felly , buka pintu" teriak Varel sambil mengedor-ngedor pintu rumah tersebut.


Hanifah dan Bara hanya mengikuti Varel dari belakang .


Setelah agak lama Varel mengedor-ngedor  pintu, akhirnya pintu rumah Vera ada yang membukanya seorang ibu- ibu seumuran dengan Felly


" Ini siapa ya , Vera mana " tanya Varel ke orang yang membuka pintu dengan tidak sabaran


"  Nama saya Bella, saya pemilik rumah ini" kata ibu- ibu tersebut pada Varel


" Tante jangan bohong, ini rumah Vera, rumah Tante Felly dan om Fito " jawab Varel lagi dengan suara lantang


" Maaf Bu , saya Bara , rumah saya yang di ujung itu yang bewarna coklat susu , saya pengen bertanya, pemilik rumah ini sebelum ibu kemana ya kami kehilangan kontak 2 tahun yang lalu karena handphone istri saya hilang " tanya Bara


"Silahkan masuk dulu bapak dan ibu Bara, kita bicara di dalam saja " kata ibu Bella penghuni baru rumah Felly


Bara dan keluarganya pun masuk ke dalam rumah  dan  langsung di arahkan Bu  Bella untuk duduk di ruang tamu. Setelah mereka duduk ibu Bella pun mulai bersuara


"  Pak Bara dan Bu Bara, Felly dan Fito sudah tidak tinggal di sini lagi,  Felly menjual rumah ini ke saya kurang lebih 2 tahun yang lalu , karena Felly dan suaminya tidak tega melihat anak semata wayang nya Vera hancur karena selalu menggenang sahabat nya yang bernama Varel , setiap hari selama satu tahun setengah Vera selalu berdiri berjam jam di depan rumah Varel sambil menanggis menyebut nama Varel, dan di rumah pun Vera berubah dari anak gadis periang menjadi anak gadis yang dingin, dan jarang bicara, dan tidak pernah tersenyum.  Felly dan suami nya tidak tega melihat putrinya hancur karena kehilangan sahabat masa  kecilnya,lalu menjual rumahnya kepada saya, dengan harapan Vera bisa melupakan masa lalunya dengan Varel"   cerita Bu Bella pada keluarga Bara


" Lalu   klo boleh tau Felly pindah kemana  Bu " tanya Hanifah

__ADS_1


" Saya tidak tau Felly  pindahnya  kemana, tujuannya hanya satu yaitu  fokus memberikan kasih sayang  yang berlebih pada putrinya   dan sekuat tenaga akan menyembuhkan psikis anaknya, dengar-dengar usahanya yang di sini semuanya dia tinggalkan, dan kariawannya tidak ada yang tau dia tinggal dimana saat ini , mereka menghilang dari Jakarta ini, saya tau karena saya juga  pelanggan di butik nya Felly


Setelah mendengar cerita Bu Bella , ada penyesalan yang  terdalam dihari Bara dan istrinya, ternyata keputusannya berdampak buruk pada anaknya dan anak Fito  hingga menorehkan  luka yang dalam di hati anak- anak mereka hingga  psikis mental mereka rusak .


Varel yang  mendengar semua cerita Bu Bella menangis tersedu- sedu


Sambil memanggil nama Vera dan akhirnya jatuh ke lantai tidak sadarkan diri


" Varel,, Varel ,, bangun nak, bangun sayang, ini mami bangun sayaang, maafkan kami, maafkan kami "  tangis Hanifah di samping Varel yang masih pingsan yang sudah berada di rumahnya


Sekarang nasi ibaratkan sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, Vera hancur Varel  juga


 


" Varel kamu baik- baik saja kan, kamu ngak apa- apa kan, apa dadamu terasa sakit  " tanya Mike pada Varel yang masih memegang liontinnya dari luar bajunya, Varel tidak pernah mengeluarkan liontin kalungnya keluar dari dalam bajunya, karena Varel masih selalu memegang dadanya Mike khawatir Varel mengalami kesakitan di dada atau di jantungnya.


" Aku tidak apa-apa Mike, aku tidak sakit juga " kata Varel pada Mike sahabatnya


' Tapi hati ku remuk redam saat ini , hati ku sakit dadaku sesak karena tidak kuat menahan rindu pada Veraku ' Kata batin Varel


" Kalau kamu tidak sakit kenapa dari tadi kamu memegangi dada kamu Varel "  kata Mike lagi


" Aku memegang dadaku karena di dadaku ini ada


Nama kekasih hatiku, yang bersemayam di dalamnya, dan itu sangat  berat bagiku dan begitu sakit saat  aku merindukannya " jawab Varel sambil melihat tajam ke depan

__ADS_1


" Apa , apa aku tidak salah dengar kalau kamu punya kekasih,  sejak kapan, kok aku tidak pernah tau " tanya Mike tidak percaya


Mike dan Varel berteman sudah semenjak di SMP, tentu saja dia kaget tiba- tiba Varel bilang punya kekasih hati.


__ADS_2