
Wajah Erina memerah menahan malu ketika untuk pertama kalinya sebagai anak menantu ia ikut hadir ditengah tengah keluarga Dimas untuk sarapan pagi. Seharian kemarin dirinya tak berani keluar kamar karna rasa perih dan nyeri bagian intimnya yang masih menyiksa dan membuatnya tak mampu untuk berjalan dengan benar. Jadi Erina memutuskan untuk tetap di kamar dan mengatakan kepada mertuanya kalau dirinya sedang tidak enak badan.
Senyum manis dari mama mertua membuat nya semakin salah tingkah. Sepertinya mama mertuanya itu memahami apa yang tengah ia alami kemarin.
"Erina, kamu kan sudah resmi jadi istrinya Dimas, jadi kamu sudah ga boleh malu malu atau canggung lagi sama kita. Karna kita sudah menjadi orangtua kamu juga. Betul kan pap?" ucap sang mama yang langsung di iyakan oleh suaminya.
"Betul dong... " jawab pak Nugra sambil mengunyah makanannya.
"Oia Dim, kalian mau honeymoon kemana?" sambungnya lagi.
"London" jawab Dimas cepat. Kedua orangtuanya saling bertukar tatap penuh keheranan dan lalu menolehkan tatapannya ke arah Dimas dan Erina secara bergantian.
"London? Kamu serius?" raut wajah pak Nugra masih terlihat heran tak percaya dengan jawaban Dimas yang terkesan asal jawab saja.
"Iya, serius. Dimas ingin ajak Erina berkeliling London. Biar Erina tau apartement dan kampus selama Dimas kuliah di sana. Gimana pap? Romantis kan?" Pak Nugra tak menjawab, hanya anggukan dan senyuman simpulnya sebagai jawabannya.
"Kapan rencana berangkat?"
"Besok siang pap. Tiket, paspor, visa dan hotel sudah siap" lagi lagi papanya hanya mengangguk angguk tanda mengerti.
"Semoga pulang dari London, Mama sama Papa dapet oleh oleh yang menggembirakan ya..." cletuk sang mama dengan wajah sumringahnya.
"Mama mau dibawain oleh-oleh apa? Nanti akan kami usahakan" jawab Erina dengan polosnya. Ibu Devita semakin tersenyum geli dengan sikap polosnya Erina yang kurang memahami maksud hatinya.
"Oleh-oleh yang mama maksud adalah cucu, sayang...." ucapan Dimas sontak membuat Erina malu dan tak berkutik. Wajahnya kembali memerah ketika matanya bersirobok dengan wajah sang mama mertua yang sudah tertawa kecil.
Erina menundukkan wajahnya. Dirinya benar benar sangat malu dengan percakapan pagi itu. Lega rasanya bisa segera menyelesaikan sarapan paginya dan kembali ke kamar. Orang tua Dimas benar-benar sangat baik memperlakukan dirinya sebagai menantu kesayangan di rumah itu sampai sampai membuatnya merasa sungkan dalam bersikap.
Erina duduk di meja belajar Dimas yang bisa dibilang mirip seperti meja kerja, sambil menatap foto close up suaminya yang terlihat manis dan tampan. Seketika dirinya terkejut ketika Dimas memeluknya dari belakang menciumi kepalanya dan langsung memutar kursi membuat dirinya berhadapan. Ciuman panas Dimas segera turun ke leher. Ciuman Dimas sungguh menggoda. Tangannya juga ikut bermain nakal menjelajahi tubuhnya.
"Dimaaasss.... Geli ah" penolakan Erina tak sedikitpun membuat suaminya itu menjauh darinya. Yang ada, Dimas semakin bernafsu menggodanya.
"Udah ga sakit kan sayang?"
"Apanya?" Erina sengaja berpura pura tak paham dengan pertanyaan suaminya. Dimas yang cerdas tak lantas mudah di manipulasi oleh istrinya. Dimas paham, kalau istrinya hanya sedang berpura pura tak mengerti dengan pertanyaannya.
"Aku mau lagi dong sayang..." ucapnya masih sambil menciumi leher jenjangnya Erina.
"Masih kenyang sayang... Lagipula ini masih pagi. Malu ah..." Dimas mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya kembali ke ranjang besarnya.
__ADS_1
"Malu sama siapa? Mama sama Papa? Atau malu sama aku, hem?"
"Aku...." Dimas tak memberi kesempatan Erina untuk mengucapkan perkataannya. Bibirnya sudah sibuk dengan hasratnya menjelajahi wajah sang istri yang membuat istrinya terdiam dan ikut larut dalam permainannya.
"Aaaaakkkhhh..." desahan Erina agak keras saat Dimas dengan sengaja meninggalkan kissmark di leher putihnya.
"Sayang jangaaann... Nanti keliatan orangtua kamu, aku malu...." sepertinya Dimas tak mendengar perkataan Erina. Ia justru membuatkan kissmark yang baru di bagian leher lainnya. Desahan Erina terdengar sexy dan semakin membuat Dimas merasa tergoda untuk berbuat lebih dari hanya sekedar ciuman.
Sentuhan demi sentuhan Dimas membuat diri Erina mabuk kepayang dan lupa akan rasa sakit yang kemarin sudah membuatnya trauma dan tak ingin mengulangi kegiatan yang telah menyakitkan bagian intimnya. Namun rasa nikmat akan sentuhan suaminya yang lembut membuatnya benar benar lupa akan rasa sakit yang kemarin. Bahkan kini tanpa ia sadari, suaminya yang lincah dan terampil sudah berhasil melucuti seluruh pakaiannya dan entah dibuang kemana olehnya.
Tubuhnya pun juga tak menolak sedikitpun akan perlakuan apapun yang Dimas berikan. Yang terjadi sebaliknya. Rasa ketagihan yang kini mendominasi telah menyemai dan menyeruak ke seluruh tubuhnya. Bagian intimnya juga sudah tidak terasa begitu sakit ketika Dimas mulai menyatukan tubuh mereka dan membawanya ke surga kenikmatan. Lama kelamaan rasa nikmatnya semakin terasa legit dan menyenangkan. Semakin lama semakin baik. Ditambah lagi perlakuan Dimas yang baik dan lembut serta keperkasaannya membuat dirinya lupa segalanya.
Senyum lebar Dimas merekah ketika hasratnya telah tersampaikan. Diciumi kembali istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sayang. Kamu selalu bikin aku ketagihan, selalu ingin lagi dan lagi. Aku sayang banget sama kamu..." ucapnya sambil melingkarkan lengan kekarnya ke tubuh Erina dan memeluknya erat.
"Aku juga sayang banget sama kamu...." senyum Erina puas dan bahagia.
#########
Pesawat Dimas dan Erina sudah take off meninggalkan Jakarta menuju London. Setelah berpamitan dengan mama Astri dan kedua orangtua Dimas, Erina langsung memasuki pesawat bersama suaminya Dimas. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan perjalanan panjang ke luar negri. Rasanya sungguh bahagia.
Cuaca hari itu cukup bagus sehingga perjalanan penerbangan mereka berjalan dengan mulus. Setelah melewati lamanya waktu terbang, pesawat pun akhirnya akan segera landing. Dimas mengecup bibir Erina yang membuat istrinya mengerjapkan matanya dan terbangun dari posisi tidurnya.
"Bangun sayang, pesawat kita sebentar lagi akan landing" Erina mengangguk cepat dan membenarkan posisi duduknya.
Erina merentangkan tangan sambil tersenyum lebar saat hidungnya menghirup udara London. Suasana yang sangat berbeda dari yang biasa ia rasakan. Dimas hanya tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap istrinya yang sedikit norak. Di gandengnya kembali tangan Erina dan digiringnya ke tempat bagasi untuk mengambil koper mereka.
Seorang laki-laki telah berdiri di depan pintu keluar sambil membawa sebuah kertas besar bertuliskan nama Dimas dan Erina. Ia adalah petugas hotel yang sudah ditugaskan untuk menjemput Dimas untuk menuju hotel yang telah Dimas pesan untuk tempat tinggal sementaranya selama di London.
##########
Hari masih malam ketika Dimas dan Erina tiba di kamar hotel. Setelah merapihkan koper, Erina bergegas ingin segera membersihkan diri ke toilet. Perjalanan panjangnya selama di pesawat membuat tubuhnya terasa lepek dan lengket. Langkahnya terhenti ketika tangan Dimas menarik dan menahan dirinya yang akan berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?" ucap Dimas penuh tanya.
"Aku mau mandi. Badanku lengket dan kotor. Memangnya kamu ga mau mandi?" perkataan Erina seolah terdengar sebagai tantangan untuk Dimas. Senyum nakalnya langsung terukir di bibirnya. Dengan santai, Dimas menggandeng tangan Erina memasuki kamar mandi.
Kamar mandi hotel yang mereka tempati cukup besar dilengkapi sebuah bathup yang cukup ditempati dua orang. Erina cukup terperangah dengan kelakuan suaminya yang ternyata diluar dugaannya. Dengan cekatan, Dimas segera membersihkan bathup lalu mengisinya dengan air hangat.
__ADS_1
Dengan santainya Dimas membuka kemeja dan celananya. Erina sendiri hanya terdiam mematung memperhatikan gerak gerik suaminya.
"Kenapa kamu diam saja? Katanya mau mandi? Ayo..." Erina mengerjapkan mata. Perkataan Dimas membuyarkan lamunannya. Cukup surprise saat Dimas mengajaknya untuk mandi.
"Kamu mau ikut mandi juga?" pertanyaan Erina terdengar impulsif di telinga Dimas. Kalau mereka saja sudah melakukan hubungan intim yang lebih dari sekedar mandi, kenapa mesti harus malu ketika harus mandi bersama?
"Kamu pasti akan senang kalau aku ikut mandi bersama kamu." tanpa pikir panjang, Dimas langsung menarik tangan Erina dan membawanya masuk ke dalam bathup.
Ternyata mandi bersama pasangan lebih menyenangkan ketimbang mandi sendiri. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan. (Readers bisa mengira-ngiranya sendiri ya...)
Setelah puas berendam dan bermain air, mereka berdua mengeringkan tubuh dengan handuk kimono yang telah disiapkan pihak hotel. Bukan Dimas kalau tak bersikap yang aneh aneh. Di gendongnya tubuh sang istri dan di baringkannya ke ranjang. Dimas tak memperdulikan tubuh Erina yang meronta ronta minta diturunkan.
"Sayang, rambutku masih basah. Aku juga belum mengenakan pakaianku. Bagaimana aku bisa tidur dengan posisi seperti ini?" ucap Erina sedikit kesal.
"Pakaian? Untuk apa? Lebih nyaman tidur tanpa pakaian, baby..." goda Dimas sambil menciumi wajah Erina. Erina sudah paham akan maksud dari sang suami yang tak jauh jauh dari kegiatan seperti kemarin pagi.
"Sayang, memangnya kamu ga capek?"
"Kamu masih ingat kan oleh-oleh yang sudah dipesan sama mama? Memangnya kamu ga mau memberikan oleh-oleh itu buat mereka?" Erina hanya terdiam. Mulutnya sedikit menganga dengan perkataan Dimas yang sulit untuk terbantahkan. Alhasil, malam pertamanya di London pun mereka sapa dengan kenangan manis di ranjang yang mereka habiskan sampai terbitnya sang fajar.
#########
Siang menjelang sore waktu London, Dimas mengajak Erina berjalan jalan mengunjungi semua tempat tempat yang dulu pernah Dimas singgahi. Dari kampus, apartement yang dulu pernah di sewanya, cafe, swalayan sampai taman hijau yang sering ia singgahi untuk membaca. Semua tak luput dari jangkauan Dimas. Sampai tak terasa malam sudah tiba. Makan malam romantis di bawah terangnya rembulan dan angin malam yang mendinginkan hati ditambah alunan biola yang menemani, menyempurnakan makan malam romantis mereka malam ini.
Puas menghabiskan waktu seharian, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Sesampainya di kamar, Erina langsung memasang kuda kuda untuk mencegah suaminya menyentuh dirinya. Seharian berkeliling kota London membuat dirinya sangat lelah dan tak mampu jika masih harus melayani hasrat suaminya di ranjang.
"Ih, GR. Siapa juga yang mau minta jatah. Aku mau tidur" ucap Dimas santai dan langsung melenggang masuk kamar mandi. Wajah Erina memerah sungguh merasa malu. Ternyata suaminya sudah dulu menolak dirinya sebelum dirinya mengatakan penolakan.
.
.
.
**Readers Author yang baik...
Bantu Author dengan memberikan vote poin kalian ya...
Terima kasih... 😘❤**
__ADS_1