
Ga terasa satu minggu sudah berlalu sejak Erina dan Dimas putus. Entah kenapa rasa sakit di hatinya masih basah dan masih sangat terasa. Erina seolah-olah masih ga rela Dimas memutuskan hubungannya yang secara tiba-tiba. Rasa sayang dan cintanya terhadap Dimas saat itu memang sedang tumbuh bersemi dan sudah mengakar sampai ke dasar hati. Kepercayaan akan janji Dimas yang akan selalu menyayangi dan mencintainya sudah berhasil membuat jiwanya terjerembab pada cinta semu Dimas. Hati Erina masih sangat sulit untuk menerima kenyataan pahit dan harus berbesar hati untuk melepaskan cintanya yang setengah telah di bawa pergi oleh Dimas.
Satu minggu ini sikap Erina lebih banyak diam dari biasanya. Ia pun menyadari hal itu. Sangat sulit sekali untuk menata hatinya saat ini, dan supaya bisa tenang dalam menjalani kehidupannya tanpa kehadiran Dimas lagi di hari-harinya. Hatinya bagai tersiram cuka yang membuat perih sampai terasa nyeri saat matanya tanpa sengaja melihat Dimas sedang bersenda gurau dengan wanita lain. Walau Erina tau kalau wanita itu hanya teman-teman kelas Dimas tetap saja hatinya terasa nyeri tak terperi. Dan bodohnya, air matanya selalu mendukung akan kesedihannya itu.
Malam ini, untuk mengusir rasa penat di kepala, Erina berniat untuk lebih menyibukkan dirinya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru kelasnya hari ini. Sambil menyetel musik favorite nya Erina memulai membuka lembaran-lembaran tulisan tugas-tugas dan menghanyutkan jiwanya pada soal-soal yang tertulis disana.
Punggung Erina terasa pegal saat satu demi satu tugas sekolah sudah selesai ia kerjakan. Tubuhnya refleks menggeliat untuk memuaskan rasa pegal yang seketika menjadi lebih ringan saat tangannya menarik otot-otot punggungnya ke atas sampai terdengar bunyi erangan dari mulutnya.
"Huft, selesai juga nih tugas-tugas" gumam Erina sambil tersenyum puas.
Erina masih duduk di meja belajarnya. Musik love song yang mengalun malam itu masih melarutkan jiwanya dalam kedamaian sesaat. Erina memejamkan matanya menikmati nada demi nada alunan lagu yang sedang mengalun indah dan berhasil membuat jiwanya lebih rileks.
Di tengah keasikannya mendengarkan musik, matanya yang tadinya terpejam kini sudah terbuka kembali. Tanpa disengaja, mata Erina melihat ke arah sebuah benda berbentuk kotak kecil yang sangat indah di pandang mata namun dengan seketika langsung membuat jantungnya berdetak zig zag. Yups betul, jam tangan mahal, bukan, bahkan sangat mahal. Jam pemberian Dimas sebagai tanda kepemilikan dirinya untuk Erina, menarik tangannya untuk menyentuhnya lagi.
Erina baru sekali menggunakan jam pemberian Dimas. Dia ga berani menggunakan nya sering-sering. Takut rusak atau bahkan hilang. Makanya Erina lebih senang menyimpannya di tempatnya kembali dan memajangnya di atas meja belajarnya nya. Setiap ia melihat jam itu, bibirnya selalu mengembang bahagia. Dan kini, benda itu telah merubah senyum mengembangnya menjadi senyuman getir yang harus ia tahan seorang diri.
Erina memasukkan kotak kecil yang indah itu ke dalam goodybag kecil dan memasukkannya ke dalam tas supaya ga lupa. Besok ia berniat untuk mengembalikan barang itu kepada pemilik awal agar tidak ada lagi kenangan dari Dimas yang bisa membuat dirinya selalu mengingat tentangnya.
############
Bel istirahat ke dua telah berbunyi. Erina melangkahkan kakinya ke lantai tiga dengan perasaan yang ga karuan. Jantungnya berdetak hip hop. Rasa deg-degan dari bayangan tatapan mata Dimas yang tajam membuat detak jantung Erina semakin ga beraturan. Erina menarik nafas panjang sejenak saat dirinya sudah sampai di depan kelas Dimas. Langkahnya terhenti. Ada sedikit keraguan untuk mempertemukan dirinya kembali dengan Dimas. Namun juga terbersit rasa rindu yang teramat sangat kepadanya.
"Tenang Rin, loe pasti bisa. Tenaaanngg... " ucap Erina dalam hati seraya menenangkan dirinya.
Erina memberanikan dirinya untuk melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas Dimas. Baru saja Erina akan mengarahkan kepalanya masuk ke ruang kelas Dimas, dari balik pintu sudah ada Rio yang akan keluar kelas.
"Eh, ada Erina... " ucap Rio membuat Erina sedikit terkejut.
"Em, iya" jawab Erina cepat sambil menyunggingkan senyum nyengir nya.
"Kak Rio sorry, ada Dimas ga?" tanya Erina dengan sikap canggung.
"Dimas? Yaaahh.. Dia baru aja keluar. Tadi sih dia bilang dia mau ke koperasi mau beli tipe-x" jawab Rio jujur.
"Oh, begitu ya... " ucap Erina sambil berpikir sejenak.
"Em.. Kak Rio, aku boleh titip sesuatu ya buat Dimas"
"Oh, boleh-boleh" jawab Rio cepat.
Erina menyerahkan goodybag kecil yang ia bawa ke tangan Rio. Lalu Erina kembali ke kelas nya dengan sebelumnya sudah mengucapkan terima kasih kepada Rio.
Hati Erina sangat lega karna ia ga perlu bertatap muka dengan Dimas.
Sekembalinya Dimas ke kelas, Rio langsung memberitahu kepadanya perihal titipan sesuatu dari Erina. Wajah Dimas memerah senang saat ia dengar kalau Erina memberi sesuatu untuknya.
"Dim, Erina tadi ke sini nyariin loe" ucap Rio santai
"Oia?? Serius?" jawab Dimas yang balik bertanya.
"He-em. Dia nitipin ini buat loe " ucap Rio sambil menyodorkan goodybag dari Erina.
Dimas langsung membuka isi dari goodybag itu. Ekspresi wajahnya langsung muram saat ia mengenali benda tersebut. Erina meninggalkan sebuah memo pada secarik kertas.
__ADS_1
***Dear Dimas,
Maaf, aku sudah ga pantas lagi untuk menyimpan benda ini.
Erina***
Dimas meremas kertas yang berisi pesan singkat dari Erina. Tangannya mengepal penuh dengan kekesalan. Di masukkannya benda kecil itu ke dalam tasnya dengan kasar.
Rio mematung sambil memperhatikan tingkah sobatnya yang terlihat kesal setelah membaca isi pesan dari Erina pada secarik kertas kecil.
"Dim, sorry. Bukannya gue mau ikut campur masalah loe sama Erina. Cuma akhir-akhir ini gue perhatiin, Loe udah mulai jarang ya berduaan lagi sama Erina. Kalian lagi berantem?" tanya Rio dengan wajah sangat ingin tau.
Dimas hanya diam.
"Dim, kalau loe emang lagi punya masalah sama Erina, gue mau kok bantuin loe supaya loe bisa baikan lagi sama dia"
"Ga usah Yo, gue masih bisa kok nyelesein urusan gue" jawab Dimas mengelak.
"Gue serius Dim. Gue ikhlas kok bantu Loe. Gue senep aja akhir-akhir ini sering banget liat muka loe tuh asem, murung, kayak ga keurus gitu. Ngerti ga loe?"
"Gue dah putus sama Erina" jawab Dimas pelan yang sontak membuat mata Rio terbelalak dan mulutnya berteriak ga percaya.
"APAAAA? PUTUS?"
Suara teriakan Rio membuat seisi kelas langsung menatap ke arahnya dengan tatapan curiga. Untung saja saat itu
masih jam istirahat bukan jam pelajaran.
"Dimas loe serius? Loe salah apa sampai di putusin sama Erina? Sakit kayaknya itu orang udah berani mutusin elo" gerutu Rio ga percaya.
"Whaaattt???" mata Rio semakin dalam membelalakan matanya.
"Wah, loe gila Dim. Parah loe... Cewek secantik dan sebaik Erina loe putusin? Loe ga takut kalau ada cowok lain yang berusaha deketin dan ngambil hati Erina? Loe yakin ga bakal nyesel?" ucapan Rio semakin membuat dada dan kepala Dimas menjadi panas.
"Gue terpaksa Yo. Panjang ceritanya. Dan sebenarnya gue juga nyesel udah mutusin dia. Jujur, hati gue masih sayang banget sama Erina. Tapi semua percuma. Erina dah mulai benci sama gue. Dia selalu berusaha menghindar kalau ketemu gue. Telpon dan pesen gue juga ga pernah dia respon lagi" jawab Dimas lemah dan frustasi.
Dimas menundukkan wajah sedihnya sambil mengepalkan tangannya di atas meja. Rio menepuk bahu sobatnya itu mencoba untuk menenangkan.
"Sabar ya Bro.... Loe yakinin ke diri loe, kalau Erina itu jodoh Loe. Banyak-banyak berdoa aja semoga doa loe di kabulkan sama Tuhan. Gue selalu berdoa yang terbaik buat Loe. Dan semoga kalian berjodoh dan akan bersatu lagi kelak"
ucap Rio sambil mengelus-elus pundak Dimas.
Kelakuan Rio membuat beberapa mata cewek di kelasnya merasa jijik dan risih. Dimas yang ngeh dengan tatapan mata cewek di kelasnya langsung menepis tangan Rio yang sedari tadi mengelus-elus pundaknya.
"Singkirin tangan loe. Jangan sampai mereka berpikir kalau kita udah ga waras" gertak Dimas. Rio hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi respon Dimas yang merasa jijik sama dirinya.
###########
Jam 19.35 Dimas sudah sampai di rumah Erina. Dimas masuk ke dalam pintu pagar rumah Erina yang belum terkunci. Dimas memberanikan diri untuk bertemu dengan Erina.
Diketuknya pintu rumah Erina. Tak lama muncul sosok wanita setengah baya dari balik pintu sambil tersenyum menyapanya.
"Eh, ada nak Dimas" sapa Mama Erina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Malam tante" sapa Dimas canggung.
"Malam. Mau ketemu Erina ya?" tebak ibu Astri yang membuat wajah Dimas memerah karena malu.
"Iya tante, Erinanya ada tant?"
"Ada. Masuk dulu yuk? Tante panggilin Erina nya"
"Saya di sini saja Tant. Terima kasih" jawab Dimas dengan sopan menolak tawaran Ibu Astri untuk masuk ke dalam dan memilih di teras saja.
Ibu Astri hanya tersenyum dan lalu masuk lagi untuk memanggil putrinya itu.
Setelah mengetuk pintu kamar Erina, mamanya langsung memberi tahu akan kedatangan Dimas.
"Erina... Ada Dimas tuh di depan" ucapan sang mama sontak membuat Erina terkejut. Dia ga percaya kalau Dimas datang. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Namun hatinya langsung melarangnya untuk menemui Dimas.
"Ma, Erina boleh minta tolong ya?" ucap Erina sambil memelas.
"Minta tolong apa?"
"Tolong bilang ke Dimas ya ma, kalau Erina udah tidur, Please... "
Ibu Astri mengernyitkan dahinya ga setuju dengan permintaan putrinya itu.
"Kok kamu nyuruh mama bohong sih?"
"Sekali ini aja ma. Pleaseeee.... " ucap Erina lagi memelas.
Ibu Astri menarik nafas panjang terpaksa menerima kekalahan nya.
"Erina,,, Ga baik loh berantem lama-lama" ucap mamanya bijak.
"Iya ma. Erina tau." jawab Erina sambil menunduk.
"Hhmm... Ya sudah kalau begitu" ucap Ibu Astri sambil menutup kembali pintu kamar Erina dan mengabulkan permintaan anaknya untuk berbohong.
Dimas berdiri sigap saat ibu Astri sudah ada di hadapannya. Dengan wajah bersalah Ibu Astri mengungkapkan kebohongan yang diminta oleh putrinya itu.
"Dimas maaf ya, Erinanya ternyata sudah tidur" ucapnya dengan wajah bersalah.
"Oh, iya ga apa-apa tante. Kalau begitu saya boleh ya titip ini buat Erina." ucap Dimas sambil menyodorkan goodybag kecil kepada mama Erina.
Ibu Astri mengangguk pasti sambil menerima benda itu. Dimas berpamitan pulang segera dan tidak lupa menitipakan salamnya untuk Erina.
Ternyata Dimas ga langsung melajukan motor maticnya. Matanya tertuju pada kamar Erina yang lampunya masih menyala.
"Aku tau kamu bohong Erina. Aku tau kamu belum tidur. Aku juga tau kamu sengaja ga mau nemuin aku. Yang aku ga tau, sampai kapan kita akan seperti ini?" ucap Dimas berkata sendiri di atas motornya.
"Aaaaarrrrgghhh.... Gue bisa gila kalau kayak gini terus" ucap Dimas sambil mengacak kasar rambutnya.
.
.
__ADS_1
.