Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Shock of Love


__ADS_3

Erina menyeka sisa airmata nya dan bergegas membereskan barang-barangnya. Hatinya ga karuan rasanya malam itu. Ia benar-benar kecewa dengan kelakuan Dimas kepadanya. Erina ga menyangka Dimas bisa berbuat perbuatan serendah itu kepadanya. Dan perbuatannya dilakukan ditempat umum.


Nilam rekan kerja sekaligus teman baik Erina selama ia bekerja, berjalan perlahan mendekati Erina yang masih sibuk memasuk masukkan barang ke dalam tasnya. Ditepuknya pundak Erina dan duduk di sampingnya.


"Rin, omongan bu Tina jangan langsung loe ambil hati ya... Dia pasti cuma sekedar gertak loe aja." ucap Nilam mencoba menghibur Erina.


Erina menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Nilam sambil tersenyum.


"Gue ga apa-apa kok Lam. Mungkin ini memang sudah waktunya gue berhenti kerja di sini" jawab Erina pasrah.


"Jangan gitu dong Rin. Loe kan udah lama kerja disini. Ga sepatutnya juga loe dipecat cuma gara-gara hal sepele kayak tadi"


"Gue tadi mukul orang Nilam. Dan menurut gue itu bukan hal sepele. Sudah termasuk hal kriminal. Yah walaupun posisi gue saat itu membela diri. Tapi mau bagaimana lagi? Kata pecat sudah terucap buat gue? Suka ga suka gue harus terima."


Erina menarik nafas dalam dan kembali tersenyum simpul.


"Gue ga apa-apa Nilam. Serius." ucap Erina sambil menatap Nilam.


Wajah sedih Nilam terlihat jelas. Nilam memeluk Erina sambil menangis tak kuasa menahan kesedihan harus berpisah dengan teman baik yang selama ini sudah menjadi partner kerjanya.


Erina mencangklong tasnya dan bersiap untuk pergi. Nilam masih menggenggam erat tangan Erina. Ia masih ga rela harus kehilangan teman seperti Erina.


"Lam, loe harus segera selesaikan kuliah loe. Loe dan gue sama. Harus segera menyelesaikan kuliah kita. Kita ga mungkin akan selamanya berada disini bukan? Dan mungkin saat ini gue yang harus pergi duluan dari pekerjaan ini. Gue doain loe dapet tempat kerja yang lebih baik dari sekarang. Gue pamit ya... Loe harus tetep semangat !!! Salam buat temen-temen yang lain" ucap Erina sambil tersenyum lagi dan memeluk lagi sahabatnya itu.


Nilam tak bisa berkata lagi. Dia hanya mengangguk lemah melihat kepergian Erina. Erina pergi meninggalkan coffee shop tempatnya bekerja dari pintu belakang, pintu khusus karyawan. Ia sengaja tidak berpamitan dengan teman-teman nya, karna ia tak ingin mengganggu pekerjaan mereka.


Erina berjalan santai meninggalkan coffee shop menuju ke halte bus. Erina sedikit pun tidak memperdulikan kehadiran Dimas yang sudah kembali dari London. Yang ia ingat saat ini adalah rasa kebencian kepadanya karna sudah merendahkan dirinya dan membuat dirinya kehilangan pekerjaannya.


Erina berjalan perlahan menuju halte dengan perasaan hati yang terluka. Dia ga ngeh kalau ada seseorang yang sedari tadi sengaja mengikutinya dari belakang. Dan sepertinya ia juga ga perduli akan hal itu. Jarak coffee shop ke halte lumayan jauh. Dan sebelum sampai ke halte, Erina harus melewati parkiran mobil yang cukup luas.


Sudah 100 meter Dimas berjalan mengikuti Erina dari belakang. Namun sepertinya Erina benar-benar tak menyadari keberadaan dirinya. Rasa tak sabar pun mulai muncul di diri Dimas. Sesampainya di area parkiran, Dimas mempercepat langkahnya mengimbangi posisi Erina dan langsung menarik tangannya.


"Aaaaarrrrgghhh..... " teriak Erina syok.


Erina terkejut luar biasa saat ada seseorang menarik tangannya dengan kuat dan membuat dirinya harus berjalan lebih cepat mengikuti langkah kaki orang itu. Erina mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan si orang misterius itu namun tak berhasil. Tangannya terlalu kuat dan kekar untuk dihempaskan.


Dimas menekan tombol pembuka kunci otomatis dari remote kunci mobil yang ia pegang. Di saat itu Erina berhasil menepis genggaman tangannya saat sampai di mobil Dimas.


"Lepasiiinn... " bentak Erina kesal.


Erina baru menyadari akan siapa sosok laki-laki yang sudah menarik tangan dan dirinya secara paksa. Erina syok untuk kedua kalinya. Matanya terbelalak dengan mulutnya yang sedikit ternganga.

__ADS_1


" Dimaaassss???" ucap Erina dengan tatapan tajam.


"Masuklah. Aku antar kamu pulang" jawab Dimas dengan nada santai tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


Erina menatap Dimas dengan tatapan penuh dengan kebencian. Kepalanya menggeleng-geleng tanda penolakan atas niat baik Dimas.


"Aku benci sama kamu" ucap Erina sambil berbalik badan dan meninggalkan Dimas.


Terlambat. Tangan Dimas sudah lebih cekatan menarik kembali tangannya dan kali ini ia berhasil memasukkan tubuh Erina ke dalam mobil sport super mewah miliknya. Erina tak habis akal. Ia mencoba untuk keluar lagi dari dalam mobil Dimas. Namun mobil Dimas adalah mobil keluaran terbaru dari koleksi mobil Eropa yang di design canggih dan nyaman bagi si pengemudinya. Kunci centalnya pun terletak pada si pemegang kunci. Jadi Erina tak semudah itu bisa kabur dari mobil Dimas.


Dimas duduk dengan tenang dibelakang stir mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya. Erina membuang muka dan menatap ke arah luar jendela. Dimas menoleh ke arah Erina sambil tersenyum kecil. Dimas mendekatkan wajahnya ke arah Erina. Erina yang sedang menatap ke arah luar tersentak kaget saat wajah Dimas sudah ada sangat dekat dengan wajahnya.


Erina menjauhkan wajahnya dengan menarik badannya ke belakang. Sedangkan kedua tangannya sudah berada diposisi depan dadanya siap menghalau serangan dari Dimas. Dimas tersenyum kecil melihat tingkah laku Erina yang terkesan ketakutan kepadanya. Dimas menatap Erina dalam-dalam sambil tersenyum. Erina tak membalas senyuman itu sedikitpun. Ia masih kesal dengan perlakuan Dimas yang tadi kepada nya.


Tangan Dimas menarik seatbelt dan dipasangkannya ke tubuh Erina.


"Duduklah dengan tenang" ucap Dimas santai. Dan melanjutkan melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran.


Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun dari keduannya. Erina masih membuang pandangannya ke luar. Dimas beberapa kali menoleh ke arah Erina yang sepertinya masih kesal kepadanya.


"Kamu apa kabar?" ucap Dimas memecah keheningan. Erina masih terdiam. Bibirnya terasa malas untuk berbicara. Ia masih ingin menenangkan dirinya.


Dimas tertawa kecil menanggapi sikap Erina yang masih acuh kepadanya.


Dan lagi lagi Erina masih tak menjawab pertanyaan Dimas. Dimas menghela nafas panjang berusaha sabar dengan sikap Erina. Diputarnya sebuah lagu lawas yang romantis untuk mengiringi perjalanan mereka.


EVERYDAY I LOVE YOU


by BOYZONE


***I don't know but i believe


That some things are meant to be


And that you'll make a better me


Everyday i love you...


I never thought that dreams came true


But you showed me that they do

__ADS_1


You know that i learn something new


Everyday i love you...


'Cause i believe that destiny


Is out of our control (don't you know that i do)


And you'll never live until you love


With all your heart and soul


It's a touch when I feel bad


It's a smile when I get mad


All the little things I am


Everyday I love you...


Cause i believe that destiny


Is out of our control (don't you know that i do)


And you'll never live until you love


With all your heart and soul


If i asked would you say yes?


Together we're the very best


I know that i am truly blessed


Everyday i love you...


And i'll give you my best


Everyday i love you***...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2