Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Perpisahan


__ADS_3

Acara perpisahan kelas 12 sedang berlangsung. Upacara perpisahan dihadiri oleh para orangtua murid. Sambutan demi sambutan sudah di berikan baik dari Kepala sekolah selaku ketua dari pihak sekolah, perwakilan guru serta sambutan dari perwakilan orangtua murid.


Acara perpisahan sekolah juga diramaikan dengan berbagai pentas seni dari para siswa. Mulai dari dance, stand up komedi, musik, sampai sebuah drama musical singkat. Acara hari itu dikemas secara apik dan sangat matang. Tata panggung di percayakan pihak sekolah kepada team event organizer. Sesi video dan fotografer profesional juga tak luput dari acara tersebut. Semua siswa larut dalam kebahagiaan. Begitu juga para orangtua yang terlihat sangat menikmati suguhan demi suguhan dari anak anak mereka.


Hampir seharian lamanya acara itu berlangsung. Wajah wajah lelah bahagia tersirat di semua orang yang hadir disana. Para siswa yang sebentar lagi akan berpisah, tidak melewatkan sesi foto-foto dengan para teman mereka sebagai kenang kenangan mereka nanti.


Dimas and gank juga terlihat sama halnya dengan yang lain. Dia sangat sibuk dengan kegiatan foto fotonya.


Acara perpisahan pun akhirnya selesai. Semua hadirin meninggalkan tempat acara menuju ke parkiran kendaraan masing masing. Siang itu suasana sangat ramai, penuh dan riuh. Orangtua Dimas sudah memasuki mobilnya. Sedangkan Dimas masih asik bercengkeraman dan berfoto ria dengan teman sesama atletnya.


"Ma, tolong kamu panggil Dimas buat cepat masuk mobil. Papa masih ada meeting sore ini" ucap pak Nugra yang terlihat gelisah.


Mama Dimas tak menjawab, ia hanya mengangguk mematuhi perintah suaminya. Diturunkan nya kaca mobil untuk memanggil anak semata wayangnya itu.


"Dimaaasss... Ayoo... Udah sore" panggil sang Mama yang langsung di kabulkan oleh putranya. Setelah berpamitan dengan teman temannya, Dimas langsung memasuki mobil dan duduk di kursi depan.


Pak Tatang langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolahan. Jalanan sore itu lumayan ramai lancar. Pak Nugra terlihat sibuk dengan ponselnya. Begitu pun dengan Dimas yang terlihat asik memainkan ponselnya. Sedangkan Ibu Devita mencoba rileks memejamkan matanya karna merasa lelah seharian ini.


"Dimas" ucap Pak Nugra memecahkan keheningan sambil menutup ponsel miliknya.


" Ya Pa" jawabnya singkat.


"Jadwal keberangkatan kamu ke London sudah Papa siapkan. Lusa kamu sudah berangkat"


"Apaaa? Lusa??" Dimas membulatkan matanya sangat terkejut dengan ucapan papanya yang terkesan sangat mendadak sekali.


"Papa ga salah?" tanya Dimas penuh penekanan


"Yups, makin cepat makin baik." jawabnya santai.


"Tapi Pa, waktu untuk masuk kuliah juga masih lama. Jadi buat apa Dimas mesti buru-buru pergi ke sana?"


"Kamu butuh penyesuaian untuk tinggal disana Boy. Akan ada banyak hal yang harus kamu persiapkan."


"Kalau soal tempat tinggal Dimas nanti, bukannya sudah Papa percayakan ke om Indra?"


"Iya benar. Tapi om Indra kan juga bukan orang santai. Dia sangat sibuk. Papa juga ga bisa sepenuhnya menggantungkan kebutuhan kamu semuanya kepada om kamu. Jadi, kamu sendiri yang harus mempersiapkan semua kebutuhan kamu."


Dimas menarik nafas panjang sambil mendengus kesal mendengar keputusan sang papa yang sepihak.


"Oia, kamu nanti juga bisa belajar bisnis dari Om kamu itu. Kebetulan dia punya usaha restoran di London. Kamu jangan lupa untuk bantu bantu ya" jelas Pak Nugra lagi.


"Dimas ga mau. Dimas masih mau disini" jawab Dimas dengan penuh penekanan.


Pak Nugra menarik nafas panjangnya dan membenarkan posisi duduknya.


"Papa sudah pesankan tiket pesawat kamu untuk lusa. Dan Indra om kamu, juga sudah Papa kabari tentang keberangkatan kamu. Besok Dia yang akan jemput kamu langsung di bandara" jawab Pak Nugra santai. Ibu Devita ikut menarik nafas mendengarkan perdebatan kedua laki-laki nya.


"Cancel aja. Reschedule lagi nanti"


"Tidak bisa!!! Papa sudah tentukan. Lusa adalah jadwal kamu berangkat" tegasnya kembali.


"Dimas, please. Jangan berdebat sama Papa" ucap mamanya menengahi.


"Tapi Maaa?" bantah Dimas sambil menatap ke arah Mamanya. Ibu Devita membalasnya dengan anggukan tatapan tajam. Dimas mendengus kesal sambil menarik nafas dalamnya lalu kembali menatap ke arah depan menatap jalanan yang mulai padat.


Dimas sangat terpojok saat ini. Ambisi Orantua nya yang membuat keputusan sepihak membuat dirinya terikat tak bisa bebas menentukan pilihan. Terkadang terlintas pikiran untuk membangkang keputusan orangtua, namun bayangan durhaka juga secepat kilat ikut melintas dalam benaknya.


##############


Seharian ini Dimas sibuk menata baju-baju dan beberapa barang yang akan ia bawa nanti. Papanya sungguh keterlaluan. Ia tak memberikan sedikit waktu untuknya bersantai santai bersama teman-temannya.


Dimas tak punya waktu banyak. Ia melajukan mobil hitam sportnya menuju ke rumah Erina. Ia harus menemuinya malam ini juga. Kurang lebih 40 menit mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Dimas memasuki pagar rumah Erina yang belum terkunci. Diketuknya pintu rumah Erina yang terlihat sepi.

__ADS_1


Seorang wanita separuh baya keluar dari balik pintu sambil tersenyum manis kepadanya.


"Dimas?" ucapnya.


"Malam tante... " Dimas membalas senyum kepada wanita itu yang tak lain adalah Ibu Astri, mamanya Erina.


"Pasti mau ketemu Erina kan? Masuk Dulu yuk" tebaknya langsung sambil mempersilahkan masuk.


"Ga usah tante, saya di sini saja" jawab Dimas sambil tersenyum kikuk.


Ibu Astri mengangguk pelan tetap dengan senyum ramahnya. Ia bergegas menuju kamar Erina.


"Sayang, ada Dimas tuh di depan" ucapnya sambil tersenyum.


Erina cukup terkejut dengan kehadiran Dimas. Sejumlah pertanyaan langsung muncul dibenaknya. Sejenak ia hanya terdiam.


"Mama ga mau loh ya kalau disuruh bohong lagi.. " sambungnya lagi.


Erina tersenyum kecil dan menggeleng pelan.


"Enggak kok Ma. Ya udah, Erina ke depan dulu ya" jawab Erina langsung beranjak dari duduknya dan keluar menemui Dimas.


Dimas duduk santai di kursi teras dengan posisi kaki ditumpang di atas pahanya,menunggu dengan sabar kedatangan orang yang sangat ia tunggu.


"Hai Dim" sapa Erina dengan wajah datar.


Dimas beranjak dari duduknya, berdiri menyambut kedatangan Erina.


"Hai" jawab Dimas singkat sambil melempar senyum termanisnya. Ia tatap lekat lekat wajah perempuan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan dalam waktu yang cukup lama.


"Duduk Dim" ucap Erina.


"Aku mau bicara penting sama kamu. Boleh ga kalau kita pindah ke depan aja?"


Erina mengangguk pelan mengabulkan permintaan Dimas. Erina berjalan mengekori Dimas menuju kursi depan pagar dekat taman kecil rumahnya.


"Besok aku sudah berangkat ke London" jawab Dimas lirih. Detak jantung Erina serasa berhenti. Sebegitu cepatkah Dimas harus segera pergi ke sana. Erina hanya terdiam, bingung ingin berkata apa. Toh ia juga ga punya hak apa apa untuk menahan atau bahkan melarang Dimas untuk tidak pergi.


"Kamu kenapa diam? Bicaralah sesuatu" tanya Dimas dengan tatapan tajam ke arahnya.


"Ah, A-aku... " Erina tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku tau apa yang ada di hati dan pikiran kamu saat ini. Kamu ga perlu jelaskan. Aku hanya butuh doa dari kamu"


"Doa?" jawab Erina dengan ketidak pahamannya.


"Iya. Doa. Doakan aku supaya aku bisa bertahan dan kuat tanpa ada kamu di dekatku" ucapan Dimas terdengar sangat frustasi.


Erina menipiskan bibirnya dan menyunggingkan senyuman kecil dibibirnya.


"Aku yakin kamu pasti bisa menjalankan hari hari indah kamu di sana. Kamu harus kejar masa depan kamu Dim. Dan kamu ga perlu memikirkan aku. Aku... "


"Apakah sudah ada laki laki lain yang sudah berhasil menggantikan posisi aku di hati kamu?" ucap Dimas dengan nada serius.


"A-apa?" Perkataan Dimas sontak membuat Erina terkejut sekaligus terpukul. Ia pikir dirinya semudah itu melabuhkan hatinya ke laki laki lain setelah dirinya?


Dimas tertawa kecil melihat kekikukan sikap Erina.


"Lupakan saja" sambungnya lagi.


"Aku akan sering sering mengirimkan email. Kamu harus balas ya. Aku akan menghukummu kalau kamu sampai berani mengabaikan emailku" ucap Dimas sambil tersenyum. Erina masih terdiam, kaku. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.

__ADS_1


Cobaan ini terlalu berat terasa untuknya. Rasanya baru kemarin ia menerima kata putus dari Dimas. Dan kini ia harus melepaskan setengah dari hatinya untuk dibawa jauh olehnya.


"Kamu masih punya 1 hutang hadiah untuk aku bukan?"


"Hadiah?"


"He-em. Dan aku yakin memory ingatan kamu masih bagus" ucap Dimas sambil mengusap-usap rambut Erina.


"Seingatku, aku ga pernah janji mau kasih kamu hadiah. Kan kamu yang maksa aku seolah olah aku punya hutang hadiah" jawab Erina sambil cemberut.


"Terserah apapun pembelaan kamu. Tapi bagiku kamu tetap punya 1 hutang hadiah. Dan aku mau minta hadiahnya sekarang"


Erina membulatkan matanya syok dengan tagihan Dimas yang sangat tiba-tiba. Sekilas ia menatap mata Dimas. Dimas membalas tatapan Erina dengan sangat lekat dan dalam. Senyuman dan tatapan tajam dari mata Dimas membuat dirinya lemas bagaikan tak bertulang. Erina segera membuang pandangannya ke arah lain. Ditariknya nafas dalam dalam untuk menata hatinya yang berantakan.


"Kamu emang orang yang ngeselin ya. Suka maksa. Cepat katakan hadiah apa yang kamu mau dari aku? Aku akan berusaha untuk mencarikannya buat kamu" Ucap Erina mulai kesal.


Dimas tertawa kecil mendengar jawaban Erina.


"Aku mau 10 menit dari kamu. Dan kamu harus mengabulkannya! "


"10 menit? Maksud kamu apa?"



Dimas berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya menuntun Erina untuk ikut berdiri. Dan tiba-tiba Dimas langsung memeluk Erina dengan erat. Erina sungguh terkejut mendapati perlakuan Dimas. Untuk kesekian kalinya Dimas memeluknya lagi. Pelukan yang semakin lama semakin terasa erat.


"Jadi, maksud kamu 10 menit adalah ini?" ucap Erina dalam pelukannya.


"Biarkan aku seperti ini Erina. Aku ingin mengingat semua yang ada di diri kamu. Aku ingin mengingat hangatnya pelukan kamu, wangi parfum kamu, desahan nafas kamu, semuanya. Aku pasti akan sangat merindukan hal ini." Dimas memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di pundak dan leher Erina. Erina tak bersuara. Ia ikut larut dalam kehangatan dan kenyamanan pelukan Dimas.


"Berjanjilah satu hal untukku" ucap Dimas tiba-tiba membuat mata Erina terbuka kembali.


"Apa?"


"Tolong jaga hati kamu untuk aku. Suatu hari nanti, aku akan mengambilnya kembali. Dan kamu harus menyerahkannya hanya untuk aku, tidak untuk yang lain" ucap Dimas serius dengan nada penuh penekanan.


Erina masih tak bersuara. Air matanya mengalir hangat dan terasa di leher Dimas. Dimas melepaskan pelukannya dan menyeka dua bulir bening yang baru saja lolos dari mata Erina.


"Hey...Jangan nangis, please. Aku ga bisa lihat kamu menangis seperti ini"


Erina langsung menyeka sisa airmatanya yang masih membasahi pipinya.


"Maaf, aku terbawa emosi. Ga seharusnya aku jadi cengeng seperti ini" Erina menarik paksa bibirnya untuk terlihat tersenyum.


"Pesawatku besok jam Satu siang. Kamu ga perlu antar aku sampai bandara. Aku ga mau liat kesedihan dari wajah kamu"


Dimas menarik nafas panjangnya yang terasa berat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Dimas tak mungkin untuk bertahan lebih lama lagi disana. Sudah waktunya ia untuk pulang. Ia juga tak ingin Erina mendapat predikat buruk dari tetangga rumahnya karna ulahnya.


"Sudah malam. Aku pulang ya. Kamu Istirahat. Aku akan sering-sering kabari kamu"


Erina lagi-lagi hanya mengangguk pelan tanpa bersuara. Hatinya yang kemarin sudah tertata baik kini harus luluh lantah kembali.


Dimas melangkahkan kakinya menuju mobil sportnya. Lalu duduk di belakang kemudinya sambil menatap Erina yang berdiri mematung di samping mobilnya. Erina melambaikan berat tangannya sebagai tanda perpisahan dengan Dimas. Mobil Dimas melaju pergi meninggalkan rumah Erina dan dirinya dalam keheningan malam.


.


.


.


Hai readers, Maaf ya lama baru**** update lagi.Author liburan tahun baru dulu. Happy New Year everybody... 😍


Jangan lupa like Dan comment nya ya...

__ADS_1


Mohon dukungan vote nya juga ya readers.


Terima kasih ❤❤❤


__ADS_2