Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Bukan Wanita Bodoh


__ADS_3

Kevin melajukan kembali mobilnya meninggalkan Erina. Erina membalikkan tubuhnya berjalan ringan menuju pagar rumahnya. Betapa syoknya dia saat matanya melihat seseorang dengan wajah suram keluar dari mobil menatapnya dengan tatapan serius mematikan.


"Dimas?" ucap Erina lirih


Dimas berjalan ke arah Erina yang berdiri mematung manatapnya. Tak ada senyuman sama sekali disana. Erina mencoba mencairkan suasana hati Dimas dengan tetap tersenyum manis kepadanya. Meski sudah bisa ditebak kalau Dimas pasti cemburu melihat dirinya bersama laki-laki lain.


"Hai Dim..." sapa Erina dengan senyuman paling manis.


"Sejak kapan kamu berani menusuk aku dari belakang?" perkataan Dimas terdengar dingin dan sangat menusuk. Erina ternganga tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Dimaaasss..." Erina membulatkan matanya tak terima dengan tuduhan menyakitkan itu.


Dimas tak menjawab. Kedua tangan Dimas dimasukkan ke dalam saku celananya yang membuat gestur Dimas terasa sangat dingin dan kaku. Dimas juga sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain yang membuat Erina semakin merasa bersalah.


"Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan Dim"


"Oh ya? Memangnya apa yang aku pikirkan?" ucapnya masih dengan aura dingin.


"Dimas please... Tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Aku tadi pergi ke butiknya Tasya. Dan aku ga sengaja bertemu Kevin di sana"


"Jadi namanya Kevin?"


"Kevin teman SMU satu angkatan denganku. Tapi kita hanya berteman biasa."


"Lalu kamu diantar pulang? Dan kamu mau?" ucapan Dimas syarat akan bahasa ejekan yang membuat Erina kehabisan kata kata untuk menyanggahnya.


Erina terdiam malu. Posisinya saat ini berada di titik yang lemah. Meskipun ini bukan sepenuhnya kesalahannya, namun rasanya memang serba salah. Dimas sudah terlanjur salah paham terhadapnya.


"Dimas aku minta maaf kalau hal ini membuat kamu marah. Tapi Kevin hanya mengantarku pulang. Itu saja, tidak lebih"


Dimas memicingkan matanya dan berjalan menuju ke kursi panjang depan pagar rumah Erina. Erina mengekori dan ikut duduk disebelahnya. Dimas terdiam dengan pandangan ke depan. Entah kenapa ia harus marah dengan kebaikan laki-laki lain yang sudah berani mengantarkan wanitanya pulang ke rumahnya. Ada perasaan tak rela melihat wanitanya berbagi bahagia dengan laki-laki selain dirinya. Ditambah lagi wajah Erina tadi terlihat sangat sumringah saat mengantar si laki-laki itu kembali ke mobilnya. Rasa cemburu yang menderu terasa sulit untuk dipupus begitu saja.


Erina menatap dalam wajah Dimas yang masih suram. Sejenak mereka saling berdiam larut dalam pikirannya masing masing. Erina menolehkan kembali pandangannya ke arah Dimas. Dan lagi lagi Dimas masih terdiam tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya ke arahnya. Erina menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya. Diraihnya tangan Dimas yang sedari tadi dirapatkan olehnya dan disandarkan ke dagunya.

__ADS_1


Dimas menolehkan pandangannya saat tangannya direngkuh dan ditautkan dalam genggaman Erina. Erina menatapnya sendu dan menghadiahkan senyuman kecil untuknya. Sayangnya senyuman itu berubah menjadi senyuman pilu karna dibalas dengan tatapan dingin yang tak berbelas kasihan sama sekali.


"Dimas, tolong percayalah... Aku ga pernah sekalipun punya niatan untuk menghianati kamu. Sampai saat ini, baru kamu laki-laki yang masih memenuhi ruang hatiku. Dan soal Kevin, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Jangan marah ya Dim...


Aku...." Erina menundukkan pandangannya tak kuasa menatap mata Dimas. Digigitnya kuat kuat bibir bawahnya sebagai pertahanan dari penuhnya bendungan air yang hampir longsor.


Erina pun tak kuasa melanjutkan ucapannya. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya terlalu rapuh jika harus beradu pandang dengan Dimas. Ia hanya ingin hubungannya dengan Dimas baik baik saja tanpa ada kesalah pahaman. Sikap acuh dan dinginnya Dimas sangat membuat hatinya seperti luka yang tersiram cuka. Perih dan nyeri.


Dimas menatap wajah Erina yang terlihat sendu. Perkataan Erina terdengar jujur dan tulus. Dimas merengkuh tubuh Erina dan memeluknya erat. Dimas menenangkan hatinya dengan menarik nafas dalam sambil memejamkan matanya.


"Maaf" ucapnya pelan sambil mencium pucuk rambut Erina.


"Aku tadi terbawa emosi. Aku terlalu cemburu melihat kamu dengan laki-laki lain. Aku ga marah kok sama kamu" Erina sedikit tenang dengan usapan lembut tangan Dimas di pundaknya.


"Aku sayang banget sama kamu" Erina mendongakkan kepalanya menatap wajah Dimas dan melemparkan senyum kelegaan.


"Aku juga sayang banget sama kamu" Erina mengeratkan pelukannya yang dibalas dengan erat juga oleh Dimas.


"Kamu sudah makan?"


"Aku juga lapar. Kita makan, yuk..." Erina mengangguk yakin dan mengikuti langkah Dimas memasuki mobil miliknya untuk makan malam bersama.


#########


Hari ini suasana kerja di ruang kerja Erina terasa berbeda. Perubahan sikap rekan rekan kerjanya terasa sangat berbeda. Mereka bersikap sangat ramah dan hangat kepada Erina. Berbeda dengan beberapa waktu yang lalu dimana sikap meremehkan dan sinis sangat kental terasa. Namun perubahan yang terjadi dari mereka malah terasa asing dan aneh. Pasalnya keramahan dan kehangatan yang mereka tunjukkan terasa tidak natural. Seperti ada rasa takut karna tekanan atau ancaman yang melatar belakanginya. Dan nampaknya apa yang pernah Dimas ucapkan benar benar di realisasikan olehnya.


Dan nampaknya hal itu tak berlaku bagi Mieke. Hanya Mieke yang masih bersikap arogan dan sinis kepadanya. Mungkin karna ia adalah pimpinan tertinggi di divisi ini jadi... yaah... Mungkin sah sah saja jika dia bersikap seperti itu. Apalagi status Erina kan juga masih menjadi bawahannya meskipun levelnya sudah naik menjadi lebih baik.


Prrraakkkk.....


Erina mendongakkan kepalanya, terkejut saat beberapa tumpukan map dilemparkan ke arahnya dengan kasar. Dilihatnya wajah jutek Mieke yang sudah menatapnya dengan geram.


"Loe bisa kerja ga sih? Bikin laporan aja ga bener. Cek lagi!!!!"

__ADS_1


Mieke berbalik badan dengan menyombong kan dagu wajahnya yang masih di dongakkan ke atas seakan memperlihatkan kekuasaan nya. Erina hanya menarik nafas panjang menahan emosinya, menerima perlakukan kasar dari boss nya barusan. Di ambilnya map yang berserakan di mejanya, dibukanya kembali dan dibacanya lagi secara perlahan.


Erina merasa sangat yakin kalau laporan yang ia buat sudah benar dan tidak ada kesalahan. Semua data sudah disesuaikan dengan laporan dari para staf serta data kepala proyek yang berada di lapangan. Jadi seharusnya ini sudah benar. Lalu kenapa berkas berkas yang sudah ia susun rapi dilempar kasar seakan tak berguna sama sekali?


Erina mencoba meluruskan masalah ini dengan berkompromi dengan Mieke. Ia memberanikan diri untuk mendatangi meja kerjanya.


"Maaf Bu Mieke, boleh saya ganggu waktunya sebentar?"


"Ada apa?" entah kenapa suara Mieke selalu ketus jika dengan Erina.


"Maaf bu Mieke, saya rasa laporan yang saya buat ini semua sudah sesuai. Saya sudah mencocokkan datanya dengan data dari staf dan kepala proyek yang ada di lapangan. Lalu bagian mana lagi yang menurut ibu masih salah?"


Mieke dengan sombongnya meletakkan pulpen yang tadi ia pegang dan menyenderkan punggungnya di kursi besarnya. Ditatapnya wajah Erina dengan tatapan remeh yang menyebalkan.


"Loe bilang semua sudah sesuai? Yakin??"


"Iya, saya yakin"


Mieke tersenyum sinis sebelum menjawab pertanyaan Erina. Mieke mengambil beberapa lembar berkas miliknya lalu dilempar ke depan meja Erina. Reaksi kaget Erina pun tak terelakkan lagi. Erina reflek membulatkan matanya ke arah Mieke.


"BACA!!! Coba loe samakan dengan data yang loe masukin ke dalam laporan loe?" Erina mengambil berkas itu dan mulai membaca nya dengan teliti.


"Beda kan?" sambungnya lagi dengan nada penuh kemenangan karna sudah berhasil membuat Erina menyadari kesalahannya.


Erina memang lemah dan mudah dikalahkan dari segi emosi. Tapi Erina bukan wanita bodoh yang bisa diperdaya oleh sebuah kekuasaan. Data yang Mieke berikan ternyata data yang unvalid. Dimana data itu adalah data rencana pengeluaran yang belum disetujui. Sedangkan data yang Erina terima dari para stafnya adalah data valid yang sudah disetujui oleh perusahaan yang sudah dibubuhi tanda tangan pejabat berwenang serta stample perusahaan.


"Maaf bu Mieke, bukannya saya lancang ingin menyanggah statement ibu. Namun seharusnya ibu Mieke yang harus lebih teliti lagi. Data yang ibu miliki ini adalah data rencana yang belum valid yang belum disetujui perusahaan. Sedangkan data yang saya masukkan adalah data valid yang sudah di tanda tangani pejabat perusahaan yang berwenang serta sudah dilengkapi stample perusahaan. Jadi mohon ibu Mieke lebih bijak lagi dalam bertindak. Permisi...."


Erina beranjak dari kursinya dengan kepercayaan tinggi. Ia tak memperdulikan reaksi Mieke kepadanya setelah ini. Emosi Erina benar benar seperti disiram bensin yang terasa panas meski belum di lempar api di atasnya. Dadanya terasa sesak menahan kekesalan atas sikap Mieke terhadapnya.


Mieke menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya merasa sangat kesal karna merasa sudah dipermalukan oleh Erina. Selama ini belum pernah ada karyawan yang berani bersikap berani kepadanya. Baru Erina yang sudah lancang berani menjatuhkan harga dirinya secara terang terangan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2