
Hari-hari bekerja di bagian pengarsipan ternyata bukan sesuatu yang menyulitkan. Bahkan sebaliknya, lebih menyenangkan. Karna tidak terlalu pusing dengan data dan angka. Hanya saja agak ribet dengan penataan yang mesti detail sesuai dengan hari dan tanggalnya. Ditambah lagi aroma kertas yang kadang menusuk hidung menjadi bagian sedih dari sebuah konsekuensi. Meski sudah menggunakan masker, aroma tumpukan kertas kertas yang beraneka ragam tetap saja bisa menembus serabut halus bulu hidung yang menghadang.
Pekerjaan ini lebih rileks dan tak memerlukan tenaga ekstra dalam menyusunnya. Erina pun jadi mempunyai banyak waktu untuk berbincang bincang dengan sesama rekan kerja atau atasannya ibu Sandra. Sarapan pagi pun hampir setiap hari mereka lakukan bersama sama. Rasa kekeluargaan di sini terasa sangat kental. Beda jauh dengan divisinya terdahulu yang syarat akan individualisme dan diskriminasi.
"Erina..." panggil ibu Sandra. Suaranya yang lembut sungguh menenangkan jiwa.
"Jangan lupa, untuk berkas berkas yang ini nanti kamu susun di rak sebelah sana ya..."
"Oh iya. Baik bu" Erina segera membereskan pekerjaan nya lalu dengan segera ia menyelesaikan apa yang sudah diperintahkan oleh atasan barunya itu.
Hatchiiii...
Debu dan aroma kertas seakan dengan sengaja menusuk hidung Erina mengelitikinya sehingga membuat dirinya harus bersin untuk beberapa kali.
########
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Ibu Sandra ingin mengajak Erina bersama rekan kerjanya yang lain untuk menikmati makan siang bersama di kantin karyawan.
"Erina, saya dan teman teman yang lain mau ke kantin karyawan untuk makan siang. Kamu mau ikut?"
"I-iya bu. Saya ikut" jawab Erina dengan sangat antusias dan langsung terbalas senyuman manis dan sebuah anggukan.
Dengan beramai ramai mereka segera menuruni lift menuju ke kantin karyawan.
Kantin karyawan di saat jam makan siang memang selalu ramai dipadati para karyawan yang menikmati berbagai makanan yang tersedia di sana.
Ibu Sandra memilih satu meja yang cukup besar yang bisa ditempati oleh lima orang. Mereka menikmati makan siang yang hangat dan nikmat sambil berbincang bincang dan sesekali bersenda gurau. Ditengah tengah mereka menikmati makanan, mata Erina tanpa sengaja melihat pemandangan yang cukup menusuk hatinya. Di meja yang agak jauh darinya terlihat ada Dimas yang sedang menikmati makan siangnya bersama Rio dan seorang wanita yang berpakaian yang sangat sexy dan menggoda. Erina sepertinya mengenali wanita itu. Tapi sayangnya ia tak mengetahui nama dari sipemilik tubuh sexy nan indah itu.
Dimas memang tak hanya berdua saja dengan wanita itu. Masih ada Rio di sana. Tapi api cemburu di hatinya tetap saja tak mampu di redam begitu saja. Karna, Dini wanita yang sedang bersama Dimas saat ini terlihat manja dan genit kepada Dimas. Sikap cari perhatiannya kepada Dimas sangat jelas terlihat. Di tambah lagi Dimas seolah juga menikmati kegenitan dan sikap manjanya.
Selera makan Erina secara tiba-tiba menghilang. Ingin sekali ia segera pergi dari tempat itu. Matanya mulai terasa panas. Namun ia tak bisa. Ia harus menghargai Ibu Sandra yang sudah mengajaknya ke tempat itu.
"Erina, ayo cepat habiskan makanmu. Nanti keburu dingin ga enak" ucap bu Sandra kepada Erina. Perkataannya mirip seperti ucapan ibu kepada anaknya yang menyuruhnya makan.
"I-iya bu" jawabnya singkat.
Makanan milik bu Sandra dan rekan kerjanya yang lain sudah habis. Sementara makanan Erina masih ada setengah. Wajah Erina yang semula ceria secara tiba-tiba berubah murung.
"Erina, kamu sakit nak?" mata Ibu Sandra terlihat cemas.
Erina tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Enggak kok bu. Saya baik-baik saja"
"Trus kenapa makanannya ga kamu habiskan?"
"Porsinya terlalu banyak, saya ga mampu menghabiskannya" ucap bohongnya sambil melemparkan senyuman nyengirnya.
"Ooo... Ya sudah. Kita balik ke atas ya" semua mengangguk dan bergegas beranjak dari duduknya untuk segera meninggalkan kantin.
Erina mengekori Ibu Sandra berjalan menuju lift. Erina sengaja ga mau melihat lagi ke arah meja Dimas. Ia melangkahkan kaki nya dengan tatapan ke depan.
Kini gantian mata Dimas yang melihat Erina berjalan melintasinya. Meski jarak mereka agak jauh, namun Dimas bisa melihatnya dengan jelas. Dimas menatap wajah Erina dari sisi samping. Tatapan kerinduan. Sudah satu minggu lamanya mereka tak saling berhubungan saling berkomunikasi.
Dimas hanya menghela nafas pendeknya saat ia melihat Erina telah memasuki pintu lift bersama rombongannya.
Dddddrrrrttt.... Dddrrttttt....
Charles Calling...
Dengan cepat Dimas langsung menerima panggilan dari Charles yang tentunya pasti penting.
"Haloo...." suara sapaan Dimas terdengar dingin dan tegas.
"Selamat siang pak Dimas, mohon maaf mengganggu."
"Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada bapak. Kapan saya bisa bertemu dengan pak Dimas?"
"Sekarang. Di ruangan saya"
"Baik pak Dimas. Saya akan segera ke ruangan bapak"
Dimas mematikan sambungan telponnya dan mengajak Rio bergegas kembali ke ruang kerjanya.
#########
Tuk...Tuukk....
Suara ketukan pintu mengagetkan Rio yang tengah fokus dengan laptop kerjanya. Tanpa harus diperintah, Rio dengan sadar diri langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Dengan ramah, Rio mempersilahkan Charles orang yang sedang ditunggu kehadirannya untuk memasuki ruangan. Dimas menolehkan pandangannya ke arah Charles yang sudah datang dengan membawa tas yang cukup besar di tangannya.
"Selamat siang pak Dimas..." sapa Charles dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Silahkan duduk."
__ADS_1
"Jadi hal penting apakah yang mau kamu tunjukkan ke saya?" ucap Dimas to the point yang langsung di respon Charles dengan segera mengeluarkan laptop dan peralatan kerjanya.
Sesaat Charles sibuk mempersiapkan yang akan ia perlihatkan kepada Dimas. Dimas sendiri memilih untuk berdiam diri memberikan waktu untuk Charles menyiapkan segalanya.
"Silahkan Pak Dimas lihat." ucapnya sambil menunjukkan isi dalam layar laptopnya. Dimas dan Rio juga langsung spontan mendekatkan matanya ke arah layar laptop yang berukuran 14 inci itu.
"Bisa pak Dimas lihat, saya menemukan adanya seseorang yang sudah dengan sengaja meretas komputer milik Nona Erina. Lihat, krusor yang bergerak gerak sendiri tersebut. Krusor itu bergerak menjelajahi isi komputer nona Erina. Krusor itu juga berhasil meng-copy data proyek milik perusahaan bapak yang sedang berjalan. Jadi bisa dibilang, data perusahaan terkait proyek sudah bocor. Lalu silahkan bapak lihat ke arah pojok. Ini ada link yang menghubungkan ke GPS ponsel. Sepertinya pak Dimas memasang GPS di ponsel nona Erina ya?" Dimas terperangah saat Charles mengatakan kebenaran yang memang ia lakukan. Dimas menegakkan tubuhnya dan tetap menjaga kewibawaannya
"Iya Benar" ucapnya tegas.
"Jadi begini pak Dimas. Nomor ponsel nona Erina yang bapak pasang GPS, tersambung dengan account rekening pribadinya. Dan ponsel pak Dimas juga tersambung dengan account rekening pribadi bapak serta account rekening perusahaan. Itulah kunci penyebabnya kenapa si pelaku bisa meretas dengan mudah nomor rekening nona Erina dan nomor rekening perusahaan. Ini karna nomor ponsel pak Dimas dan nona Erina saling berhubungan. Dan sepertinya alat retas yang dimiliki oleh si pelaku sudah sangat canggih. Jadi si pelaku dengan mudahnya menjelajahi semua data yang ia inginkan"
Dimas menepuk dahinya karna merasa bodoh dan ceroboh.
"Lalu solusinya bagaimana?" ucap Dimas penasaran.
"Pak Dimas harus melepas GPS dari ponsel nona Erina. Saya punya alat yang bekerja seperti GPS yang bisa melacak keberadaan seseorang tanpa mengganggu account rekening. Nanti setelah dilepas, akan saya ganti dengan alat tersebut" Dimas menatap ke arah Rio dan langsung di respon anggukan tanda mengerti oleh Assistant pribadinya itu.
Rio bergegas ke lantai 11 untuk menemui Erina. Erina tampak terkejut dengan permintaan Rio. Hal itu sangatlah wajar, karna Rio tak menjelaskan dengan detail maksud dirinya untuk meminjam ponsel miliknya.
"Sorry kak Rio, bolehkan kalau aku bertanya? Untuk apa Dimas meminta ponsel aku? Apakah sampai sebegitunya dia mencurigai aku?"
"Dimas ga bermaksud buat mencurigai kamu Erina. Tolong kamu jangan salah sangka. Dimas meminta ponsel kamu karna ini berkaitan sama penyelidikan yang sedang berjalan. Dimas sedang mencurigai Kevin sebagai pelaku dibalik kasus ini. Dan nomor kamu sudah diketahui oleh Kevin. Maka dari itu, Charles ingin memeriksa ponsel kamu.
Aku akan segera mengembalikan ponsel kamu jika sudah selesai." Erina hanya bisa pasrah dengan penjelasan Rio. Rio pun segera pergi untuk kembali ke ruang kerjanya.
Baru beberapa langkah, Erina menghentikan langkah Rio untuk melontarkan satu pertanyaan yang sedari tadi sudah berada diujung lidahnya.
"Kak Rioo...." Rio menolehkan kepalanya ke arah Erina lagi.
"Ya..."
"Eeemm... Apa.. Apakah Kak Rio tau kenapa Dimas bersikap dingin sama aku?" ucap Erina berhati-hati. Rio tampak tak tega melihat mata sendu Erina yang terlihat sedih.
Rio menarik nafas sambil membenarkan posisi kacamatanya dan berdehem untuk menenangkan diri.
"Masalah itu, aku kurang tau Rin. Maaf ya..." Rio terpaksa berbohong karna tak ingin membuat Erina menjadi lebih sedih jika ia harus mengatakan hal yang sebenarnya.
Erina menipiskan bibirnya dan mengangguk mengerti. Rio pun bergegas pamit dan kembali ke ruangan untuk menyerahkan ponsel milik Erina agar segera di periksa oleh Charles.
.
__ADS_1
.
.