
Kevin sudah dalam keadaan babak belur saat tubuhnya diseret oleh para bodyguard Dimas. Mukanya sudah lebam di beberapa sisi. Bodyguard Dimas cukup sadis memperlakukan tubuh Kevin yang sudah tak berdaya. Di bawanya ke dalam mobil dan membuangnya tubuh Kevin di pinggir jalan yang lumayan jauh dari keramaian kota. Setidaknya saat ini Kevin cukup kesulitan untuk kembali ke rumahnya lagi.
Setelahnya membuangnya, para bodyguard nya langsung melaporkannya kepada boss nya perihal itu. Dimas hanya tersenyum sinis membaca dan melihat foto foto yang dikirimkan oleh anak buahnya itu.
"Ini balasan yang setimpal atas perbuatan loe sendiri" ucapnya sambil memandangi layar ponselnya.
#######
Pagi ini lumayan cerah. Marahari sangat ceria menyambut hari ini. Sinarnya yang terang sudah menyusup celah celah jendela kamar Erina. Matanya masih terasa berat untuk di buka. Seakan ada beban yang sangat berat yang masih menarik matanya untuk tetap terpejam. Di tambah lagi kepalanya yang terasa sedikit agak pusing menambah rasa malas untuk segera bangkit.
Hari masih menunjukkan jam enam lewat tiga puluh menit. Namun seperti sudah pukul sepuluh saja. Teriknya sinar matahari membuat hari itu terasa lebih garang dan lumayan panas.
Erina mengerjapkan matanya memaksa untuk bangun. Tubuhnya menggeliat merenggangkan otot otot yang terasa kaku. Di ambilnya gelas air minum di atas meja belajarnya dan langsung meminumnya. Rasa dingin air dalam gelas langsung mendinginkan tenggorakan dan cukup membantu matanya untuk terbuka. Sayangnya, tenggorokannya yang dari kemarin sudah tak bersahabat dengannya masih enggan berbaikan dengannya. Rasa gatal yang membuatnya harus batuk harus ia alami pagi itu.
Hari ini Erina ingin ijin datang terlambat. Diraihnya ponselnya dan dikirimkannya pesan singkat perihal maksudnya itu kepada atasannya ibu Sandra. Ijin itu dengan sangat mudah ia terima. Pesannya langsung di balas oleh Ibu Sandra yang mengerti dengan kondisi kesehatannya.
#######
Erina berjalan perlahan di lobby kantor menuju pintu lift. Entah kebetulan yang sama atau memang karna mereka berjodoh, hari itu juga Dimas datang agak siang. Karna jam tidurnya yang sudah sangat larut membuat matanya harus terbangun lebih lambat dari biasanya.
Mata Dimas melihat sosok Erina yang berjalan lesu dengan wajah yang tak bersemangat. Sepertinya kondisi Erina memang sedang tidak baik. Itu yang ada dalam pikirannya. Dimas berjalan mendekati Erina yang tengah berdiri di depan pintu lift menunggu terbuka.
"Selamat pagi Erina..." suara Dimas cukup mengagetkan Erina yang sedang terdiam. Ia tak sadar sejak kapan Dimas sudah ada di sebelahnya.
"Oh, Selamat pagi pak Dimas..." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. Jawaban formal Erina terdengar sangat risih di telinga. Sejujurnya, Dimas merasa kurang nyaman dengan panggilan Pak dari mulut Erina kepadanya.
"Wajah kamu sedikit pucat. Kamu masih sakit?" Erina hanya menggelengkan kepalnya sambil tersenyum tipis tanpa memandang wajah Dimas.
"Saya baik baik saja pak Dimas" suara Erina terdengar pelan dan lemah. Ingin sekali rasanya Dimas untuk merengkuh tubuh lemah Erina dan membawa ke dalam pelukannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" ajak Dimas.
__ADS_1
"Lain kali saja ya pak. Hari ini pekerjaan saya lumayan banyak. Maaf." lagi lagi Erina menjawab pertanyaan Dimas tanpa menatap mata Dimas. Erina lebih sering menundukkan wajahnya atau memalingkan pandangannya ke arah bawah yang membuat Dimas semakin gemas.
Perbincangan mereka terhenti ketika beberapa karyawan mulai berdatangan ikut mengantri di depan pintu lift.
"Selamat pagi pak Dimas..." sapa pak Haryo bagian finance dengan hormat dan sopan. Meski usianya lebih tua jauh di atas Dimas.
"Oh, pagi pak..." jawab Dimas dengan ramah.
"Bapak kenapa naik lift ini? Bapak bisa naik lift di sebelah sana yang langsung menuju lantai ruang kerja bapak?" ucapnya sambil menunjuk ke arah lift yang dimaksud.
"Iya ga apa apa. Sama saja" jawab Dimas santai. Matanya melirik ke arah Erina yang masih terdiam tanpa sedikitpun menolehkan pandangan ke arahnya.
Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan langsung memasuki ruangan lift yang cukup besar.
"Silahkan pak Dimas..." dengan sangat sopan pak Haryo mempersilahkan Dimas untuk memasuki lift. Dimas sudah memasuki ruangan lift namun Erina masih terdiam di posisinya. Ia sengaja menunggu pintu lift yang lain terbuka.
Erina mengambil ponselnya pura pura seperti sedang menerima panggilan sehingga ia bisa beralasan untuk tidak berada satu lift dengan Dimas. Dimas hanya menarik nafas pendek melihat sikap Erina yang dengan terang-terangan menghindari dirinya.
Erina menaiki lift dari pintu lain. Hatinya cukup tenang tak berada dekat dengan Dimas. Dengan langkah tenang ia keluar lift dan ingin segera menuju ke ruang kerjanya. Alangkah terkejutnya Erina ketika dirasa ada sebuah tangan kekar dengan kuatnya menarik tangannya dan memaksanya untuk mengikuti langkah kakinya.
"Aaaarrrgghhh....." teriak Erina refleks. Matanya terbelalak ketika ia menyadari bahwa saat ini ia sedang di tarik paksa oleh laki-laki tinggi yang sangat familiar. Dimas... Yups..
Tanpa adanya persiapan apapun Erina yang ditarik paksa oleh Dimas harus mengimbangi langkah Dimas yang berjalan cukup cepat di depannya. Dimas membawa Erina ke sebuah ruangan kosong di lantai 11 dan menutup pintu dengan rapat.
Dimas menatap Erina dengan tatapan dalam dan tajam. Erina sendiri mencoba untuk tetap tenang meski saat ini nafasnya masih terengah-engah. Erina menatap wajah Dimas dengan sekilas dan lalu menundukkan kembali pandangannya.
"Kenapa kamu begini?" suara dingin Dimas terdengar datar tapi sarat menuntut di dalamnya.
"Maaf, saya ga ngerti maksud bapak" jawabnya lirih.
"Haruskah kamu selalu memanggil aku dengan sebutan seperti itu?" Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Erina.
__ADS_1
Erina secara spontan menjauhkan wajahnya dari wajah Dimas.
"Saya rasa itu panggilan yang cukup sopan untuk anda"
"Erinaaaaa...." gertakan Dimas mengejutkannya. Dimas menyenderkan tubuh Erina ke dinding dan menguncinya dengan ke dua lengannya. Dipandanginya wajah sayu wanitanya dengan lekat. Erina hanya mampu menatap sekilas mata tajam Dimas yang saat ini sudah menatapnya tajam seperti akan menerkamnya.
"Pak Dimas, tolong jangan seperti ini. Saya tidak mau karyawan lain salah paham kalau mengetahui kita sedang bera....Mmmmpphhhh..." Dimas menempelkan bibirnya ke bibir Erina dan langsung melumatnya. Rasa rindu dan penyesalan akan kesalahan yang telah ia lakukan harus ia perbaiki segera. Sikap dingin dan menghindar yang Erina lakukan kepadanya terasa sangat menyiksa dirinya.
Ciuman Dimas terasa panas. Dimas mulai ahli dalam mencium. Dengan lancangnya Dimas ******* habis bibir Erina dengan sangat rakus. Erina mencengkram kuat lengan Dimas sebagai pertahanan dirinya dari pagutan bibir Dimas yang dalam dan menghayutkan. Dimas sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Erina melepaskan ciumannya. Sebelah tangan Dimas sudah melingkar di pinggang Erina menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh. Erina sendiri meski sudah berusaha untuk mendorong tubuh Dimas agar menjauh dan melepaskan ciuman panasnya, nyatanya itu tak berhasil. Tubuh Dimas sangat kuat dan kekar. Tangan rapuh Erina tak mampu menggeser sedikitpun tubuh Dimas darinya.
Nafas keduanya sama sama saling tersengal. Dimas mendekatkan hidungnya ke hidung Erina yang masih saja menundukkan wajahnya. Tangan Dimas menyentuh dahi Erina merasakan suhu badan yang terasa berbeda.
"Sayang, kamu sakit? Badan kamu anget. Kita ke dokter ya..." raut wajah Dimas benar benar sangat cemas dan khawatir.
"Saya baik baik saja. Tolong lepaskan saya" perkataan Erina masih terdengar formal. Dan itu sangat mengganggu telinga Dimas.
"Erina... Bisakah kamu kembali seperti Erina yang aku kenal? Erina yang hangat dan perhatian sama aku?" Erina hanya terdiam. Matanya mulai terasa panas. Air matanya terasa ingin meluncur bebas dari tempatnya.
"Maaf pak Dimas, saya harus kembali ke ruangan saya" Erina mendorong dengan kuat tubuh Dimas yang mulai lengah. Setengah berlari Erina meninggalkan Dimas. Dimas hanya menarik nafas kesal dan frustasi. Kondisinya saat ini terasa cukup sulit untuk dipulihkan seperti semula. Sepertinya kali ini Erina benar benar kesal kepadanya.
#########
Erina berlari menuju toilet wanita. Ia tak mampu untuk membendung lagi air matanya. Entah kenapa ia selalu cengeng jika berkaitan dengan Dimas. Hatinya terlalu lemah. Apalagi perlakuan Dimas yang barusan sungguh membuat dirinya menjadi tak karuan. Sikap dingin dan menyebalkan Dimas yang ia terima beberapa hari lalu, dengan mudahnya langsung berubah menjadi sikap apatis yang seolah olah baik baik saja dan dengan lancangnya mengambil kesempatan untuk menyentuh bibirnya tanpa seijinnya.
Setelah puas menangis, Erina mencuci wajahnya dan memulas kembali wajahnya dengan bedak dan sedikit lipstik. Ia tak ingin membuat siapa saja yang melihatnya akan dengan mudahnya menebak jika dirinya baru saja menangis karna wajahnya yang sembab.
.
.
.
__ADS_1