
Tttiing...
Satu Pesan masuk dari Erina. Di buka dan di bacanya isi pesannya.
Dim, pulang sekolah nanti aku ga bisa bareng sama kamu ya. Maaf, Aku ada keperluan lain.
Dimas terkejut dengan isi pesan Erina. Dimas ga langsung menerima alasan nya. Dimas ingin tau lebih jelas akan keperluan apa yang di maksud kekasihnya itu.
Kamu ada keperluan apa? Kenapa ga pergi sama aku aja? Kan bisa sekalian aku antar?
Erina menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Kali ini otaknya harus berpikir keras tentang alasan selanjutnya yang akan ia jelaskan kepada Dimas. Erina benar-benar bingung saat ini. Ia seolah-olah ga punya alasan yang tepat yang akan ia jelaskan kepada Dimas. Ga mungkin ia harus mengatakan dengan jujur kalau alasan ia ga bisa pulang bareng karna enggan satu mobil dengan wulan. Ya walaupun memang benar itu alasan utamanya. Tapi rasanya terlalu kekanak-kanakan untuk tidak bisa berbesar hati dan bersikap dewasa menerima orang baru yang statusnya hanya teman biasa.
Ucapan Wulan saat di toilet tadi, masih terngiang jelas di telinga. Erina memejamkan matanya mencoba untuk melupakan kejadian yang ga mengenakan itu. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benaknya.
Perasaan ragu dan curiga tentang Dimas mulai muncul. Apakah Dimas benar sudah memiliki seorang tunangan? Apakah Dimas akan mempermainkan perasaan nya? Apakah... Apakah... dan masih banyak apakah yang muncul di kepala Erina.
Bel akhir pelajaran pun berbunyi lantang. Erina segera membereskan peralatan sekolahnya dan memesan ojek online. Setelah dapat, Erina langsung berpamitan kepada teman-teman nya dan bergegas pergi meninggalkan kelas.
"Guys... Sorry, gue duluan ya" ucap Erina dengan buru-buru.
"Mang loe mau kemana sih Rin? Buru-buru amat?" tanya Tasya sambil memasukkan bukunya ke tas.
"Ada deh" jawabnya cepat.
"Loe mau pergi sama Dimas ya?" tanya Tasya lagi.
"Enggak. Gue sendiri. Gue duluan ya guys... Bye... "
Erina setengah berlari meninggalkan kelas. Ia ga mau sampai Dimas melihatnya dan pasti akan menahannya untuk pergi sendiri.
Erina sudah menemui driver ojolnya lalu segera pergi meninggalkan sekolah. Dimas menunggu Erina dan Wulan di depan anak tangga lantai dua. Dimas ga sengaja bertemu dengan Tasya dan Adel
"Tasya, sorry nanya. Erina masih di kelas ga?"
"Tadi Erina pulang dengan buru-buru gitu kak. Aku juga ga tau dia ada keperluan apa" jawab Tasya menjelaskan. Dimas hanya mengangguk.
"Okay. Makasih ya?"
Dimas mencoba menghubungi nomor ponsel Erina. Dimas berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Erina namun ga berhasil. Erina sengaja ga ingin menerima telpon dari Dimas sebelum ia sampai di rumah. Hatinya sedang kacau saat ini.
"Ada apa ya sama Erina? Kok tiba-tiba dia jadi aneh begitu. Kalau memang ada suatu keperluan, Biasanya Erina pasti bilang. Tapi ini kok enggak ya?" Dimas bertanya-tanya pada dirinya.
"Kak Dimas, udah dari tadi disini? sapa Wulan mengejutkan pikirannya.
"Oh iya, aku belum lama kok" ucapnya cepat sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Kakak masih mau nungguin Erina ya?" ucap Wulan berpura-pura perhatian.
"Kayaknya Erina ga pulang bareng sama kita. Ya udah, kita pulang yuk"
__ADS_1
Senyum kemenangan Wulan mengembang saat Dimas memastikan kalau Erina ga ikut pulang bareng bersama mereka. Hati Wulan sangat bahagia karena bisa berduaan saja dengan Dimas.
Di mobil, Wulan sengaja memutar lagu romantis yang ditujukan untuk dirinya dan Dimas. Sebuah lagu dari Ed Sheeran "Thinking Out Loud" mengalun merdu menemani perjalanan mereka menuju rumah. Wulan sesekali ikut bernyanyi dan tersenyum kepada Dimas. Namun musik yang Wulan putar tidak bisa diresapi oleh Dimas. Pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Erina. Pasti Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Erina.
#############
Tepat pukul 19.00 WIB, motor Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Dimas sebelum nya memang ga bilang kalau malam ini ia akan datang ke rumahnya. Dimas sengaja ingin meminta penjelasan dari alasan Erina soal tadi siang.
Dimas melihat ke arah lantai atas, tepatnya ke kamar Erina. Lampu kamar Erina masih menyala. Itu artinya Erina belum tidur. Dimas mencoba menghubungi ponsel Erina. Kali ini Erina mengangkat telpon darinya.
"Halooo" suara Erina terdengar lemah.
"Hai Sayang, kamu lagi apa?" tanya Dimas.
"Aku lagi nyantai aja. Ada apa Dim?"
"Keluar sebentar dong... "
"Maksudnya?"
"Aku udah ada di depan rumah kamu"
"Apaaa? Serius?" Erina sangat terkejut dengan ucapan Dimas. Erina bergegas membuka tirai jendela kamarnya dan melihat ke arah luar. Dimas masih memegang ponselnya dan melambaikan tangannya ke arah Erina sambil tersenyum.
Jantung Erina berdetak ga beraturan. Erina tak siap dengan pertemuan dadakan ini. Dimas biasanya selalu bilang kalau mau datang. Tapi malam ini ia benar-benar memberi kejutan untuknya.
(Telpon Dimas masih tersambung)
"Ah, iya masih"
"Ya udah, turun ya sekarang. Aku tunggu"
Dengan langkah ragu, Erina melangkahkan kakinya menemui Dimas yang masih dudukndi atas motor maticnya. Degupan jantung Erina terdengar seperti musik hip hop yang sedang mengalun ramai. Berkali-kali Erina menarik nafas mencoba menenangkan hatinya.
"Dimas... Ada apa? Tumben banget kamu ke sini ga bilang dulu?" tanya Erina mengawali pembicaraan.
Dimas ga langsung menjawab pertanyaan Erina. Dimas menatap Erina dengan tatapan serius. Erina mencoba membalas tatapannya namun ga mampu mengimbangi sorot tajam dari mata Dimas. Erina membuang tatapannya ke arah lain.
"Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Dimas dengan suara dinginnya.
"Hah? Eng..Eng-gak ada kok" Erina nampak sangat gugup dengan pertanyaan Dimas.
"Aku tau, Kamu itu ga pinter berbohong. Apalagi sama aku"
"Siapa juga yang bohong..." sanggah Erina menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa tadi kamu sengaja bohong? Aku tau keperluan yang kamu bilang itu bohong kan? Kamu sengaja menghindarkan? Apa ini ada kaitannya sama Wulan? Kamu ga nyaman ya kalau mesti satu mobil dengan dia?" Erina tak langsung menjawab. Ditatapnya wajah Dimas dalam dalam.
Setelah menarik nafas dalam, Erina melangkahkan kaki nya menuju kursi panjang taman kecil depan pagar rumahnya. Dimas turun dari motornya mengikuti Erina dan duduk di sebelah Erina.
__ADS_1
Erina masih saja terdiam. Dimas meraih tangan Erina dan menggenggamnya. Suasana hening sesaat. Erina melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas dan meremasnya sendiri dengan ke dua tangannya.
"Kalau seandainya kamu diposisi aku, kira kira kamu bisa nyaman ga, satu mobil dengan orang yang punya rasa suka dengan pacar kamu?" Dimas tertegun dengan pertanyaan Erina. Dimas menyadari perasaan Erina saat ini. Pasti rasa kesal dan sakit hati melingkupi ruang hatinya saat berada dalam posisi seperti ini.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu ga nyaman. Tapi saat ini aku juga ga bisa berbuat banyak. Kalau bukan mamaku yang maksa, aku juga ga bakal mau pulang pergi bareng sama Wulan setiap hari"
"Tadi Wulan juga bilang sama aku, kalau kamu dan dia...." Erina tak kuasa melanjutkan ucapannya dan menggigit bibir bawahnya menahan supaya air matanya ga menetes.
"Wulan bilang apa, cepat katakan?" desak Dimas ga sabar.
Erina menarik nafas dan mencoba untuk menenangkan hatinya kembali.
"Wulan bilang... Kalau dia adalah calon tunggal tunangan kamu. Apakah itu benar?"
Dimas membulatkan matanya. Dimas sangat terkejut dengan ucapan Erina. Dimas sendiri ga nyangka kalau ternyata Wulan berani berbicara seperti itu. Karna Wulan sendiri belum pernah menyatakan tentang perasaannya. Orangtuanya pun juga ga pernah menyinggung masalah pertunangan.
"Aku bisa pastikan kalau itu tidak benar Erina. Aku ga pernah ada rencana tunangan dengan siapapun. Kalaupun aku mau bertunangan, aku maunya hanya kamu yang jadi pasanganku" ucap Dimas serius. Nada ucapannya menjelaskan kesungguhan.
"Tapi Dimas, Wulan suka sama kamu. Tadi dia terang-terangan minta aku untuk menjauhi kamu. Dan segera mengakhiri hubungan kita. Akuu... "
"Erina... Dengar aku. Aku sayang banget sama kamu. Hatiku sudah terisi penuh denganmu. Aku ga ada niatan sedikit pun untuk menggantikan posisimu di hatiku. Aku tau, perjalanan cinta kita masih terlalu dini. Tapi aku ingin kita bisa perjuangkan cinta kita sampai nanti, sampai waktunya kita ke jenjang ikatan sakral. Kamu percaya kan sama aku?"
Dimas membelai lembut rambut Erina dengan tatapan serius. Tidak ada kebohongan disana. Apa yang dikatakan oleh Dimas memang benar dari hatinya. Erina sangat lega dengan penjelasan Dimas. Hatinya yakin dengan ketulusan cinta Dimas. Walaupun saat ini Dimas satu rumah dengan Wulan, bukan berarti Dimas dengan mudah bisa terpesona dengannya.
Dimas menatap wajah Erina sangat lekat dan semakin dekat. Erina tak kuasa untuk terus menatap mata Dimas yang sangat serius. Erina menipiskan bibirnya, melempar senyumnya untuk Dimas dan kembali menunduk. Dimas meraih tulang pipi Erina dengan lembut dan melabuhkan bibirnya di bibir Erina.
Mata Erina terbelalak kaget saat ia sadar bibir Dimas sudah menempel di bibirnya. Erina mencoba mendorong tubuh Dimas agar lepas dari ciumannya, namun Dimas dengan cepat meraih tengkuk Erina dan membuat ciuman bibirnya lebih dalam.
"Ciuman pertama ku" batin Erina.
Walau seluruh tubuhnya terasa kaku, namun Erina merasakan kelembutan dari bibir Dimas. Dimas menciumnya dengan sangat lembut.
"Maaf Erina.. Aku ga sengaja. Aku... "
Erina ga ingin membuat Dimas merasa bersalah. Dimas memang sudah salah menciumnya tanpa ijin. Tapi jujur Erina sangat senang dengan perlakuan Dimas.
"Aku ga apa-apa" ucap Erina dengan senyum tipisnya.
"I love you Erina"
Erina menatap mata Dimas yang masih menatapnya dan ingin segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"I love you too Dimas " jawab nya sambil tersenyum.
.
.
__ADS_1
.