
Siang sepulang sekolah Kevin mengantarkan Erina pulang. Erina menerima tawaran Kevin karna Kevin terus memaksa. Karna tak enak hati, akhirnya Erina menerima tawaran darinya.
"Thanks ya Vin " ucap Erina menyodorkan helm miliknya.
Kevin mengangguk sambil tersenyum. Matanya menatap Erina dengan tatapan yang tak biasa.
"Ya udah, loe balik gih. Hati-hati di jalan ya.. " ucap Erina lagi sambil tersenyum simpul.
"Gue suka sama loe. Loe mau kan jadi pacar gue?" ucap Kevin tiba-tiba yang langsung membuat Erina syok tingkat dewa. Erina membulatkan matanya menatap Kevin dengan tatapan dalam dan serius.
"Gue serius Rin. Gue tau loe dah lama putus sama Dimas. Jadi, gue boleh kan menggantikan posisi Dimas di hati loe?"
Erina menarik nafas panjang. Ia ga tau jawaban yang seperti bagaimana yang harus ia ucapkan saat ini. Otaknya berpikir keras mencari kata-kata yang tepat.
"Erinaaa... Loe denger gue kan?" ucap Kevin lagi membuyarkan lamunannya.
Erina menarik nafas sekali lagi dan menghembuskannya secara kasar.
"Kevin... Gue ga bisa terima cinta loe. Sorry... Gue ga ingin merusak pertemanan kita karna hal ini" jawab Erina jujur.
"Erina, loe harus bisa move on dari Dimas. Gue tau saat ini hati loe masih terluka karna Dimas. Gue udah tau semuanya. Masalah loe diputusin sama Dimas, gue juga tau. Ijinkan gue membantu menyembuhkan luka dihati loe, Rin. Gue janji, gue akan... "
"Cukup Kevin... Loe ga perlu kasih gue janji apa-apa. Terima kasih loe udah jujur tentang perasaan loe. Dan terima kasih juga untuk niat baik loe. Tapi MAAF, saat ini gue lagi ga kepikiran buat menjalin sebuah hubungan dengan siapapun. Gue harap loe bisa ngerti" ucap Erina dengan penuh keyakinan.
Raut wajah Kevin berubah murung. Rasa kecewa terpancar jelas Di wajahnya. Kevin menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Ok. Mungkin saat ini loe masih butuh waktu buat menata hati loe. Gue akan tunggu sampai hati loe benar-benar pulih seutuhnya. Dan gue harap, loe tetep mempertimbangkan perasaan gue ini. Gue tulus" Jelas Kevin mencoba untuk meyakinkan Erina.
Erina tak menjawab. Hanya anggukan kecil dan senyuman tipis yang ia berikan.
"Gue balik ya.. " ucap Kevin pamit.
"Ok. Hati-hati di jalan ya"
Kevin hanya mengangguk dan lalu melajukan motornya meninggalkan Erina yang masih mematung memperhatikan dirinya.
############
Setelah mandi, tubuh Erina terasa bersih dan segar. Ia mendudukkan dirinya di kursi belajarnya lalu membuka laptop miliknya. Ada beberapa email yang sudah masuk. Matanya tertuju pada satu email yang sangat ia nanti. Ini adalah email kesekian yang sudah dikirimkan oleh Dimas. Dimas benar, ia menepati janjinya.
Dibukanya email dari Dimas. Senyum Erina mengembang di bibirnya saat ia melihat foto yang dikirimkan olehnya.
Di foto itu nampak jelas wajah Dimas yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas seragam kuliahnya. Di bawah fotonya tertulis keterangan bahwa Dimas sudah memulai aktivas kuliahnya. Dimas juga menceritakan kegiatannya selama di sana. Entah kenapa airmata Erina kembali mengalir. Kali ini karna ia terlalu bahagia melihat keadaan Dimas yang baik-baik saja. Sangat aneh memang, dirinya menjadi cengeng sejak kenal dengan Dimas. Hatinya seperti sudah terpatri oleh cinta semu Dimas. Semakin kuat ia mencoba untuk melupakan nama Dimas, namun semakin kuat pula ingatannya tentang Dimas selalu muncul di memory nya.
Ucapan Kevin tadi siang terlintas lagi di benaknya. Dipijit pijitnya pelipis kepalanya yang terasa pusing. Meski ia sudah menolaknya, Namun sepertinya Kevin masih tetap bersikukuh untuk mendapatkan hatinya. Erina bangkit dari duduknya lalu keluar kamar menuju dapur. Segelas coklat panas telah ia seduh dan ia sesapi perlahan. Secangkir coklat panas cukup membantu merilekskan dirinya dari pikiran kacau yang menyelimuti jiwanya.
##############
__ADS_1
Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa 1 tahun sudah berlalu. Hari ini adalah upacara perpisahan kelas 12. Raut wajah kegembiraan terpancar jelas di semua para siswa.
"Selamat ya girls... Kita akhirnya luluuuusss..." ucap Chika setengah berteriak kesenengan.
Mereka berempat bersorak kegirangan sambil berpelukan.
"Bentar lagi kita berpisah dong... Yaaahhh..." ucap Erina sedih yang membuat suasana senang tiba-tiba berubah haru.
"Iya ya... Tapi ingat ya girls... Walaupun nanti kita sudah sibuk dengan urusan masing masing, kita harus tetep bisa kumpul ya guys?" sambung Adel dengan ekspresi sedih dan berharap.
"Tetep doongg... Pokoknya, sesibuk apapun kita nanti, kita wajib ngumpul walau cuma sekali dalam sebulan. Gimana?" jawab Tasya bijak.
"Setuju" teriak Chika yang di dukung dengan anggukan teman temannya yang lain.
"Oia, ngomong ngomong kalian mau ngelanjutin kuliah dimana? Ambil jurusan apa?" tanya Tasya
"Gue mau ke Bandung Tas. Gue rencananya pengen ambil jurusan Tata Boga. Gue pengen punya usaha kuliner. Dan Bandung kan salah satu kota kuliner tuh. Jadi pas." jawab Adel dengan sangat yakin.
"Elo Chik?" tanya Tasya lagi
"Gue masih bingung. Tapi nyokap minta gue buat kuliah di Kedokteran. Gue ga yakin gue mampu"
"Gue yakin loe Pasti mampu Chik. Biasanya pilihan orangtua itu Pasti yang terbaik untuk anaknya." ucap Tasya meyakinkan.
"Loe sendiri mau kuliah dimana? Ambil apa?" Chika balik bertanya.
"Gue mah di Jakarta ajalah. Kampus disini juga udah bagus bagus kualitas nya. Dan gue rencana pengen ambil jurusan Design baju gitu. Yah, sapa tau karya gue dilirik sama Bunda Ane Avantie. Hihihi... Amiinnn" jawabnya penuh harap.
"Daaaann... Tuan putri kita yang satu ini Kira-kira mau kuliah dimana ya?" ucap Chika meledek.
"Roman romannya bakal ke London nih, nyusul sang Arjuna" ucap Tasya sambil terkikik dan disusul oleh Chika dan Adel.
"Enggaklah... Apalah daku ini. Bisa kuliah disini aja gue dah bersyukur. " jawab Erina datar.
"Erina sorry... Gue cuma becanda kok. Jangan marah yaaa..." ucap Tasya menyesal.
Erina tertawa kecil.
"Gue paling ga bisa marah kalau Sama kalian. Kalian itu udah gue anggep sodara gue. Gue beruntung banget bisa punya temen seperti kalian" Erina membentangkan tangan untuk memeluk temannya. Bentangan tangan Erina disambut hangat oleh ketiga temannya. Mereka berpelukan kembali.
"Eheeemmm.... " suara dehem Kevin mengagetkan Erina and gank yang sedang asik berpelukan. Semua mata langsung tertuju kepada Kevin. Sambil cengar-cengir Kevin meminta ijin untuk meminjam Erina dari mereka.
"Sorry Kalau gue ganggu kalian. Gue ada perlu sama Erina sebentar. Gue boleh pinjem ya, sebentar. Erina, boleh kita bicara sebentar?" ucap Kevin datar.
Tasya, Chika dan Adel menoleh ke arah Erina. Tatapan mereka sangat dalam. Tatapan penuh pertanyaan dan haus akan penjelasan. Erina hanya tersenyum dan mengganguk kecil kepada ke tiga sahabatnya itu.
"Sebentar ya guys" Erina melangkahkan kakinya berjalan berdampingan mengikuti Kevin.
Tasya, Adel dan Chika menatap Erina dengan tatapan curiga dan penasaran.
__ADS_1
"Erina, Kevin? Gue ga salah liat kan?" ucap Adel
"Apa Erina udah bisa ngelupain Dimas dan membuka hatinya untuk Kevin?" ucap Tasya penuh tanya.
"Sabar guys, kita jangan buruk sangka dulu. Kita tunggu penjelasan dari Erina"
############
Erina mengikuti langkah Kevin. Kevin menggiring Erina ke sebuah ruangan kelas kosong. Langkah Erina terhenti saat Kevin hendak masuk ke ruang kelas kosong.
"Kenapa berhenti? Masuklah" ucap Kevin yang langsung berbalik ketika Erina berhenti di depan kelas.
"Gue rasa disini sudah cukup" jawab Erina tegas.
Kevin menarik nafas kesal. Ia akhirnya terpaksa mengikuti kemauan Erina.
"Loe mau ngomong apa? Cepat katakan" desak Erina.
Kevin menatap Erina lekat dan serius. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi menuntut.
"Jadi jawaban atas pertanyaan gue yang waktu itu apa?"
" Pertanyaan? Yang mana?" tanya Erina balik bertanya.
Kevin mengacak rambutnya dengan kasar.
"Erina, gue dah nunggu jawaban loe cukup lama. Kenapa sekarang loe seolah olah ga ngerti dengan Maksud gue?" ucap Kevin sedikit kesal.
"Oh soal itu. Bukannya waktu itu udah langsung gue jawab?" jawab Kevin.
"Apa loe ga bisa mempertimbangkan kembali perasaan gue?" Tanya Kevin penuh harap.
"Sorry Vin. Jawaban gue masih sama. Maaf..."
Kevin meraih tangan Erina dan mencengkram nya erat.
Cekrek..
(Di tempat lain yang tersembunyi seseorang sudah berhasil mengambil foto mereka berdua)
"Gue tulus sama loe Rin. Kenapa sih loe ga bisa buka hati loe sedikit aja buat gue? Apakah selain Dimas, tidak ada lagi laki-laki yang pantas buat elo?"
"Iya. Sorry... " jawab Erina cepat dan langsung meninggalkan Kevin yang masih mematung lesu.
"Sorry Kevin, Gue Belum bisa ngelupain Dimas" batin Erina.
Erina melangkahkan kakinya ke tempat acara dan bergabung kembali dengan teman-teman nya. Sedangkan Kevin, Ia duduk termenung di salah satu bangku panjang depan kelas yang kosong.
.
__ADS_1
.
.