
Team Dimas menang pada sesi awal. Sorakan riuh senang atas kemenangan team Dimas bergemuruh dimana-mana. Team Dimas akan bertemu lagi dengan lawan baru di semi final yang akan di adakan nanti. Saat ini team Dimas sedang beristirahat untuk merenggangkan otot-otot mereka.
Di lapangan basket masih berlangsung pertandingan basket dari sekolah lain. Dimas and team meninggalkan lapangan basket dan pergi menuju kantin untuk makan. Pihak sekolah sudah menyiapkan nasi kotak untuk semua atlet, coach dan panitia. Sebelum ke kantin, Dimas sudah mengganti baju basketnya yang basah dengan kaos oblong kering yang baru.
Di kantin sudah ada Erina yang sedang asik makan nasi kotaknya seorang diri. Erina makan dengan mengenakan headset di telinganya. Dimas tersenyum melihat gaya makan Erina yang terkesan cuek dengan telinga yang di sumpel dengan headset nya. Dimas berjalan mendekati meja Erina dan langsung duduk dengan santainya di sebelah Erina.
Erina cukup terkejut dengan kehadiran Dimas yang secara tiba-tiba langsung duduk di sebelahnya dan langsung makan dengan lahapnya. Erina melepas headset nya dan menatap dalam Dimas yang sedang asik makan tanpa menoleh kepada nya.
"Udah lanjutin makannya, jangan ngeliatin aku terus. Ntar kamu keburu kenyang gara-gara liat mukaku yang ganteng" ucap Dimas di sela-sela makannya tanpa melihat ke arah Erina.
Wajah Erina memerah mendengar ucapan Dimas yang terdengar berlebihan. Erina menarik nafasnya, dan memasang kembali headset nya lalu melanjutkan makannya kembali.
Untuk beberapa waktu, mereka sibuk dengan makanan mereka masing masing. Dimas yang kelaperan karna kehilangan banyak energi setelah bertanding, lebih cepat menyelesaikan makannya. Dan Erina masih sibuk dengan makanannya yang terlihat masih ada setengah. Dimas mengambil headset yang terpasang di telinga Erina dan meletakkannya di meja.
"Kalau makan tuh yang cepet. Makan lelet banget, kayak ulet" ucap Dimas santai.
Erina menghentikan makannya dan tak merespon ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Dimas. Erina kembali menyibukkan dirinya dengan makanan miliknya.
"Team aku menang" ucap Dimas lagi.
"Iya aku tau, selamat ya... " jawab Erina tanpa menoleh ke arah Dimas.
"Kok kamu bisa tau? Emangnya kamu tadi nonton? Kamu duduk dimana? Kok aku ga liat kamu?" ucap Dimas dengan sederet pertanyaan kepo nya yang membuat Erina ternganga.
"Kan tadi disiarin. Makanya aku tau" jawab Erina berbohong.
"Ooh... Aku kirain tadi kamu nonton" jawab Dimas dengan suara yang terdengar lemas.
Erina menghentikan makannya dan menoleh ke arah Dimas. Ia melihat ada segurat rasa kecewa di mata Dimas.
"Nanti aku ada pertandingan lagi. Kamu jangan lupa nonton ya... Kasih semangat aku. Biar sekolah kita menang" sambungnya lagi dengan nada pengharapan.
"Iya nanti aku nonton" jawab Erina santai.
Dimas melihat makanan Erina masih ada setengah. Lauknya juga masih banyak.
"Cepet abisin makanan nya. Keburu dingin nanti jadi kurang enak"
"Aku dah kenyang"
"Serius kenyang? Kamu makan sedikit banget?"
__ADS_1
Erina hanya mengangguk pelan.
"Ya udah sini, kalau ga mau kamu habiskan buat aku aja" ucap Dimas sambil mengambil makanan milik Erina yang belum habis dan langsung memakannya dengan santai.
Erina tertegun melihat kelakuan Dimas yang secara tiba-tiba langsung mengambil makanan miliknya dan langsung memakannya dengan sendok bekas dirinya. Tak ada rasa jijik terlihat di wajah Dimas. Dimas melahap semua makanan miliknya. Erina memperhatikan Dimas yang sangat menikmati makanan yang ia makan. Dan tanpa ia sadari tawa kecil keluar dari mulutnya.
Dimas terkejut melihat Erina tertawa. Matanya langsung menatap mata Erina dengan lekat yang sontak membuat Erina menjadi salah tingkah.
"Aku seneng bisa liat kamu tertawa lagi seperti ini" ucap Dimas dengan tatapan serius.
Erina menundukkan wajahnya, diam tanpa suara. Jantungnya berdetak sangat cepat.
"Aku duluan ya Dim, aku harus balik lagi ke depan. Aku dah terlalu lama istirahatnya" ucap Erina mengalihkan pembicaraan.
"Okay. Tapi nanti saat aku tanding lagi, kamu jangan lupa nonton ya. Aku tunggu kamu disana" jawab Dimas memastikan.
"Iya" jawab Erina cepat sambil tersenyum simpul dan beranjak pergi meninggalkan Dimas.
Sepergian Erina, Rio langsung menghampiri Dimas yang masih sibuk dengan makanannya.
"Ciiieeee.... Yang abis pacaran, sumringah beneeeer..." ledek Rio kepada Dimas.
"Tau ah, pusing gue"
"Kenapa?"
"Gue punya pacar tapi kayak ga punya. Masa gue harus sembunyi sembunyi kalau mau bareng sama dia. Malesin banget ga tuh?" ucap Rio menggerutu.
"Udah nikmatin aja. Kalau emang itu buat kebaikan kalian berdua, why not?"
"Ngomong-ngomong loe dah balikan lagi sama Erina?" tanya Rio ingin tahu.
"Belum. Kayaknya susah,Yo. Erina yang sekarang ga seperti Erina yang dulu. Dulu gue masih gampang dapetin hatinya. Sekarang susahnya minta ampun"
"Salah loe juga sih. Kenapa kemarin mesti loe putusin? Kan dia jadi ill feel sama loe"
"Semua udah terjadi Yo. Mau disesalin seperti apa ga akan bisa merubah kenyataan. Yang terpenting sekarang, gue akan tetep kejar Erina sampai gue dapetin lagi hatinya buat gue"
#########
Pertandingan demi pertandingan sudah selesai. Tiba giliran team Dimas akan bertanding lagi di babak semi final. Kalau team Dimas menang, maka akan langsung ikut ke babak final.
__ADS_1
Sorak sorakan dari para supporter semakin siang semakin panas. Pertandingan semakin alot. Team lawan cukup solid dalam bermain. Setelah melewati 2 babak, akhirnya team Dimas menang beda tipis hanya selisih beberapa point saja. Team Dimas sudah terkenal di sebagian besar sekolah lain. Team Dimas terkenal sangat sulit untuk ditaklukkan. Setiap ada pertandingan, pasti team Dimas selalu menang.
Erina langsung meninggalkan lapangan saat pertandingan sudah selesai. Masih ada pertandingan sekali lagi. Erina akan menonton nya kembali nanti tanpa sepengetahuan Dimas. Langkah Erina tertangkap mata Dimas. Dimas langsung memanggil dan berlari ke arah Erina.
"Erinaaaa..... "
"Makasih ya kamu udah mau nonton aku main." ucap Dimas dengan nafasnya yang masih tersengal.
Erina hanya mengangguk.
"Jangan lupa, nanti aku ada pertandingan sekali lagi. Kamu nonton lagi ya... "
Dan lagi lagi Erina hanya mengangguk.
"Kalau di final nanti team aku berhasil menang, boleh aku minta hadiah sama kamu?" ucap Dimas yang sontak membuat Erina sangat terkejut.
"A-apa? Hadiah?" jawab Erina dengan tatapan herannya.
"He-em" jawab Dimas yakin sambil tersenyum.
"Hadiah pertandingan sudah dipersiapkan Dimas. Tanpa kamu minta pun, kalau team kamu menang, hadiah itu akan kalian dapatkan secara otomatis" jelas Erina dengan antusias.
"Bukan itu maksud aku. Aku ingin hadiah khusus dari kamu. Hadiah pribadi dari kamu Special untuk aku" jawab Dimas sambil tersenyum nakal.
Mulut Erina ternganga mendengar ucapan Dimas. Perkataan Dimas sungguh membuat dirinya terkejut. Erina menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya.
"Aku ga punya uang buat beliin kamu hadiah" jawab Erina ketus. Dimas terkekeh mendengar jawaban Erina.
"Dasar bodoh" ucap Dimas sambil medorong jari telunjuknya ke kening Erina.
"Di otak kamu, hadiah itu selalu berupa barang ya?" ucapnya lagi sambil terkekeh.
Erina membuang muka ke arah lain dan ga memperdulikan sikap Dimas yang membuat dirinya terlihat bodoh di matanya.
"Pokoknya kamu punya utang 1 hadiah untuk aku. Okay" ucap Dimas sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu meninggalkan Erina yang masih terdiam dalam bingungnya dan kembali ke team nya lagi.
.
.
.
__ADS_1