
Rio berjalan terburu buru menuju ruang kerjanya. Di tangannya terdapat sebuah map.
Rio segera menghampiri Dimas yang terlihat sedang sibuk dengan berkas berkasnya.
"Dim, ini gue dah dapet hasil laporan final dari Charles. Loe liat deh..." ucapnya sambil menyodorkan map dan sebuah usb yang segera di sambungkan ke laptop Dimas.
Mata Dimas menatap dalam dan sangat antusias. Dalam usb tersebut terlihat dengan jelas krusor yang berjalan sendiri dan link yang menghubungkan krusor tersebut. Dalam laporan yang berbentuk rekaman video yang dilacak oleh Charles, terlihat jelas sumber alamat link si pelaku. Link yang tersambung dengan google maps mengacu pada alamat kantor ayah Kevin. Jadi sudah jelas disini siapa pelaku utamanya. Dimas tersenyum tipis dengan hasil luar biasa yang Charles temukan. Ia cukup puas dengan hasil kerjanya.
"Bagus. Rekaman ini akan gue jadikan bukti konkrit buat nyeret si brengsek itu ke penjara. Yo, segera siapkan data data yang diperlukan. Gue mau bikin laporan kepolisian secepatnya. Gue akan bikin tuntutan sebesar 200 milyar. Biar dia tau siapa yang sedang dia hadapi. Kita ke kantor polisi siang ini juga" Rio mengangguki perintah dari boss nya itu.
"Satu lagi Dim. Ini juga loe harus lihat" Rio menyodorkan ponselnya kepada Dimas.
Dimas memperhatikan dengan seksama rekaman CCTV asli Erina dan Kevin yang berada di coffee shop. Awalnnya Dimas agak geram melihatnya. Namun senyumnya akhirnya mengembang saat matanya melihat dengan jelas sikap penolakan yang dilakukan oleh Erina. Dimas menghembuskan nafas lega dan menyerahkan kembali ponsel itu kepada Rio.
"Erina murni ga bersalah. Dia dijebak." ucap Rio meyakinkan Dimas.
"Iya. Gue juga dah menduga hal ini jauh sebelum loe kasihkan video ini" ucapnya santai. Rio mengangguk mengerti.
"Ya udah gue siapin dulu data data sama berkas berkas yang akan kita bawa ya bro"
"Okay"
Rio mulai sibuk menyiapkan data data dan laptopnya. Sedangkan Dimas, ia lebih memilih untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Erina si calon istrinya.
Wajah Dimas terlihat sumringah lengkap dengan senyumnya yang mengembang ketika ponselnya sudah tersambung dengan Erina.
"Hai sweety... My future wife..." Rio refleks menolehkan pandangannya ke arah Dimas yang sedang menelpon. Raut wajah nya terkejut mendengar perkataan Dimas yang terdengar sangat manis. Karna setau dirinya, hubungan boss nya itu belum sepenuhnya membaik.
"Future wife? Really...?" ucap Rio berbicara sendiri. Sesaat ia hanya tertegun dan lalu menggidikkan badannya mengabaikan yang sedang terjadi pada boss nya.
Tak lama kemudian, Dimas menyudahi telpon dirinya dengan Erina dan bersiap untuk ke kantor polisi.
"Gimana Yo, udah siap?"
"Yups."
"Ya udah kita berangkat sekarang" Dimas beranjak dari tempat duduknya dan merapihkan jas nya.
"Dim, loe dah baikan sama Erina?"
"He-emm... Dan Gue udah lamar dia di depan nyokapnya." ucapnya sambil memainkan alis matanya.
"Whaattt??? Serius loeee.... Waaahh... Dasar bucin... Bisa banget loe manfaatin situasi"
"Hari gini semua emang harus cepet bro... Lagi pula kemarin malam moment nya pas. Jadi sayang banget kalau sampai gue lewatin begitu aja."
"Boss gue emang cerdas. Selamat ya brooo... Akhirnyaaa... Jadi juga loe nyusul gue..." ucap Rio sumringah sembari menepuk pundak sobatnya itu.
__ADS_1
"Enak aja nyusul. Yang ada gue dulu keles..." goda Dimas menyanggah ucapan Rio.
"Hari H gue udah di depan mata buciinn... Sadaaaarrr..."
"Loe pikir gue ga bisa nikahin Erina sebelum hari H loe?"
"Berani taruhan? Loe atau gue dulu nih yang nikah?"
"Loe pasti kalah taruhan sama gue" sanggah Dimas penuh percaya diri.
"Kalau gue menang, mobil sport loe buat gue ya boss"
"Dasar kunyuk. Tau banget loe barang bagus. GA ADA !!! Ntar gue kasih mobil inventaris kantor buat kado pernikahan Loe. Udah ayo berangkat"
"Aduh... Tega banget Loe Dim..." Rio mengaduh sambil mengusap usap kepala saat tangan Dimas memukul kepalanya dan memintanya untuk segera bergegas ke kantor polisi.
Mobil Dimas melaju kencang menuju ke kantor polisi untuk membereskan cecunguk Kevin yang sudah berani mengganggu kedamaiannya serta sudah berani mencuri uang perusahaan miliknya tanpa ijin.
##########
Di butik Tasya sudah ramai dengan suara celotehan celotehan teman teman sohibnya yang sedang sibuk mencoba kembali gaun yang sudah selesai dibuat untuk digunakan pada acara pernikahan Chika dan Rio. Di sana juga ada Chika si calon pengantin yang sedang sibuk mencoba gaun pengantinnya. Chika sengaja meminta ke tiga temannya sebagai pengiringnya saat acara pernikahanya nanti. Chika juga meminta Tasya untuk membuatkan gaun khusus untuk para pengiringnya yaitu Erina, adel dan termasuk dirinya.
Dengan sangat detail dan teliti, Tasya membuatkan gaun pengantin yang sangat indah yang ia persembahkan khusus untuk sahabat karibnya itu.
Chika memandangi wajahnya di cermin besar. Bibirnya ternganga takjub dengan keindahan design gaun pengantinnya. Gaun berwarna gold keemasan dengan model sedikit terbuka bagian atas, dengan dress panjang menjulang sampai ke lantai dan dibagian atas sampai pinggang dipenuhi manik manik batu kecil yang berkilau jika terkena cahaya membuat penampilan Chika terlihat perfect sebagai ratu sehari di hari pernikahannya nanti.
"Waaw... Chika... Loe cantik bangeeett..." celetuk Adel sambil memandangi Chika yang masih asik bergaya di depan cermin sambil tersenyum puas.
"Gue akan selalu bikin gaun pernikahan yang indah untuk siapapun. Karna itu adalah gaun istimewa yang akan di pake di moment special. Apalagi orangnya adalah elo Chik,sahabat karib gue. Bahan gaun Silk dan Tulle ini special gue impor dari Perancis yang mempunyai kualitas terbaik. Gue bikin dengan sepenuh hati dan dengan tangan penjahit profesional pilihan gue. Dan gue yakin, loe akan terlihat yang paling cantik di hari pernikahan loe.." Chika memeluk Tasya erat, merasa terharu dengan ucapannya. Pelukan itu lanjut disusul oleh Erina dan Adel yang ikut memeluknya dirinya.
"Ayo kalau udah selesai, kita ganti baju lagi. Abis ini gue akan sibuk lagi nih buat bikin gaun pengantin baru yang special" ucap Tasya mengakhiri kegiatan berpelukannya.
"Elo dapet orderan gaun pengantin lagi Tas?" tanya Adel kagum.
"He-em"
"Wah kereeeennn... Makin terkenal aja nih teman kita" ucap Adel lagi bersemangat.
"Iya dong... Mau tau ga gue mau bikin gaun pengantin buat siapa?" Adel, Erina, dan Chika saling bertatapan melempar tanya. Wajah ketidak tahuan terlihat jelas pada ketiganya.
"Artis? Pejabat? Atau anaknya Mentri?" ucap Chika mencoba menebak. Tasya hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Erina" ucap Tasya santai namun penuh keyakinan.
"Whaaatt? Gue?" Erina sedikit syok mendengar perkataan Tasya yang entah benar atau hanya candaan semata. Otak Erina mulai berpikir keras, dari mana Tasya tau perihal lamaran Dimas akan dirinya? Apakah Dimas yang mengatakan ke Tasya kalau dia akan melamarnya dan minta dibuatkan gaun pengantin? Batin Erina bertanya tanya.
"Erina, loe mau nikah? Serius?? Kapan? Kok loe diem diem aja sih?" ucapan Chika yang syarat akan tuntutan mendapat anggukan dari semua teman temannya. Wajah Erina pun memerah tak sanggup menahan rasa malunya. Dan sebuah senyuman kikuk tersungging di bibirnya menutupi rasa groginya.
__ADS_1
"Enggak. Bu-bukan begitu... Gue belum ada rencana buat nikah. Lagian Tasya loe atas dasar apa bisa bilang kalau gue mau bikin gaun pengantin?"
"Hehehehe... Gue ngarang aja. Kali aja bentar lagi loe beneran nyusul Chika buat ikutan married. Bener kan guys?" Erina mendengus lega. Ternyata Tasya belum mengetahui perihal lamaran Dimas kepadanya.
"Iya iya... Bener. Udah sih Rin, aminin aja. Siapa tau doanya Tasya dikabulkan sama Tuhan" ucap Adel dengan antusias.
"Iya amiiinn... " Erina hanya bisa pasrah mengiyakan apa yang sudah di doakan temannya untuk dirinya.
#########
Dimas sudah melaporkan perihal perbuatan Kevin kepada polisi. Dan saat ini polisi sedang menyelidiki kasusnya. Untuk penanganan selanjutnya, Dimas mempercayakan kasusnya kepada pengacara keluarganya. Jadi ia sudah ga terlalu disibukkan dengan masalah kasus yang berkaitan dengan Kevin dan perusahaannya.
Semakin hari hubungan dirinya dengan Erina semakin baik dan kembali harmonis. Namun Dimas sengaja tak membahas masalah kelanjutan tentang lamaran dirinya malam yang lalu. Dimas ingin memberikan kejutan kecil untuk Erina.
Besok adalah hari pernikahan Rio dan Chika. Semua persiapan sudah seratus persen siap. Setelah mengantarkan Erina pulang sampai ke rumahnya, Dimas segera berpamitan untuk pulang. Karna besok dirinya akan menjadi saksi utama dari pihak mempelai pria. Jadi pagi pagi sekali dirinya harus hadir di acara akad nikah.
"Besok kamu aku jemput ya. Kita berangkat bareng. Kamu jadi pengiringnya Chika bukan?" Erina hanya mengangguk dan dibalas senyuman manis oleh Dimas.
"Ya sudah kamu masuklah. Jangan tidur malam malam. OK?"
"Baik Pak Dimas..." ucap Erina sambil tersenyum menggoda Dimas. Wajah Dimas berubah asam dan sengaja pura-pura kesal.
"Aku mau dengar kamu panggil aku sayang. Sekarang!!"
"Apa?"
"Atau aku marah nih" Erina mendadak salah tingkah dengan sikap serius yang ditampilkan oleh Dimas.
"Dimas, aku kan hanya bercanda. Gitu aja masa kamu marah?"
"Kalau kamu ga mau aku marah, cepat panggil aku dengan sebutan sayang. Harus yang lembut dan romantis"
"Idiiihh... Ini namanya pemaksaan..."
"Udah sana kamu pulang. Hati hati dijalan ya.." ucap Erina mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah aku pulang. Dan aku marah" sikap Dimas yang pura pura marah membuat Erina tertawa geli dan menarik tangan Dimas menahannya agar mendengarkan dirinya.
"Kamu kalau lagi ngambek lucu juga ya. Mirip kayak bayi yang ngrengek minta susu" ucapan Erina yang tak ia sadari malah semakin memancing Dimas untuk lebih nakal menggodanya lagi.
(Dimas sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Erina) "Nanti kalau kamu sudah sah jadi istriku, setiap hari aku pasti akan meminta jatah susu dari kamu" Erina terperangah dengan perkataan Dimas yang terdengar nakal.
"Ka-kamu... Apaan sih. Dasar mesum. Udah sana pulang." Erina berlari meninggalkan Dimas sendiri dan memasuki pintu pagarnya tanpa menoleh lagi ke arah Dimas. Dimas tertawa geli dengan sikap malu malu Erina kepadanya.
"Gue mesum? Masa sih? Kan jenis susu banyak. Kenapa dia mesti lari?" Dimas bicara sendiri sambil tertawa memasuki mobil dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.
.
__ADS_1
.
.