
Akad nikah Rio dan Chika berjalan lancar. Rio bernafas lega karna penghulu dan semua saksi mengucapkan kata SAH. Suara riuh tepuk tanganpun pecah memenuhi ruang auditorium hotel. Tawa bahagia mempelai dan keluarga tercipta disana. Erina, Tasya dan Adel saling berpegangan tangan dan mempererat pegangannya dan berjingkrak girang karna saat ini temannya Chika sudah sah menjadi nyonya Rio Panji Wicaksana. Sebelum mempelai pengantin di giring ke ruang ganti, Chika langsung di culik oleh sekelompok anak alay siapa lagi kalau bukan para teman temannya dan memintanya untuk berpose dan berfoto bersama.
"Chikkkaaaa... Selamaaaaatt... Akhirnyaaa... Udah sah ya jadi Nyonya Rio" ucap Erina sambil memeluknya erat.
Selesai acara akad, tamu undangan yang sebagian besar adalah keluarga dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan. Wedding singer juga sudah mulai menyanyikan beberapa lagu romantis sebagai pengiring santap pagi.
Acara resepsi Chika dan Rio masih satu jam lagi. Mempelai digiring ke ruang pengantin untuk berganti busana. Erina and friend memilih duduk di sebuah meja bundar yang berada di bagian vvip. Mereka terlihat sedang bercanda gurau sampai sampai Erina melupakan adanya sosok Dimas yang juga berada di tempat yang sama.
Dimas memandangi Erina yang tampak sangat asyik dengan temannya. Dengan sengaja ia melangkahkan kakinya menggabungkan dirinya untuk ikut bergabung duduk di meja yang sama dengan wanitanya itu.
"Aku boleh duduk sini ya.." ucapnya sambil langsung mendudukkan dirinya di sebelah Erina. Adel dan Tasya berubah kikuk dan canggung dengan kehadiran Dimas.
"Abis Chika dan Rio langsung lanjut ke kalian ya..." celetuk Tasya dengan antusias sambil tertawa kecil sengaja menggoda Erina. Dimas tertawa kecil sedangkan Erina seperti biasa, wajahnya memerah dan salah tingkah.
"Tasyaa... Apaan sih" Erina menunjukkan wajah tak sukanya terhadap becandaan Tasya yang terkesan berani.
"Sayang, aku rasa apa yang dikatakan Tasya itu benar. Tolong kamu buatkan gaun yang sangat special buat Erinaku ya..." Tasya langsung mengangguk sambil memberi kode ok dengan jarinya.
"Dimaaaasss..." Erina membulatkan matanya ke arah Dimas. Dimas sendiri malah tertawa lepas dengan sikap Erina yang terlihat malu malu.
Adel dan Tasya beranjak dari duduknya untuk mengambil makanan. Erina terlihat canggung berada di sebelah Dimas di tempat keramaian seperti sekarang. Banyak mata yang memperhatikan dirinya dan Dimas.
"Menurutmu, bagaimana dengan pestanya Rio? Apa kamu suka?" pertanyaan Dimas sontak membuat Erina tergagap dan cukup terkejut.
"Iya, aku suka. Dekorasinya sangat indah dan megah. Tempatnya luas. Dan bunga-bunga nya juga sangat cantik" Erina menjawab pertanyaan Dimas dengan wajah yang penuh penghayatan. Dengan seksama, Dimas memperhatikan wajah Erina yang sepertinya sangat terpukau dengan hasil karya jasa wedding organizer yang di sewa Rio.
"Aku akan membuatkan yang lebih indah buat kamu" suara Dimas terdengar sangat serius dengan tatapan dalam dan tajam yang sudah mengarah kepadanya.
"A-apaa..." Erina terperangah dengan apa yang barusan ia dengar. Seperti mimpi. Tapi suara itu terdengar jelas di telinganya. Erina hanya tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.
"Aku serius..." ucapan Dimas semakin membuat Erina tak mampu berkata kata. Erina hanya menipiskan bibirnya dan terdiam dalam duduknya.
##########
Acara resepsi sudah berlangsung. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mata Erina cukup dikejutkan dengan kehadiran tamu VVIP siapa lagi kalau bukan boss nomor satu di perusahaan Rio yaitu ayah Dimas, Pak Nugra beserta istri yang berjalan bergandengan memasuki ruangan dan berjalan di atas red carpet menuju ke atas panggung untuk memberi selamat kepada kedua mempelai.
Detak jantung Erina seperti orang yang habis lari maraton. Jantungnya berdetak sangat cepat dan tak beraturan. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Sebelumnya ia sudah menyangka akan kehadiran mereka. Dan Erina juga sudah mampu menata hatinya agar bisa tetap tenang. Namun faktanya, saat matanya manatap langsung, ternyata hatinya lemah. Sangat sulit untuk bersikap tenang dan biasa.
"Erina, kita pindah ke meja sana ya..." Dimas beranjak dari duduk nya mengajak Erina untuk menemui orangtuanya.
"Dimas aku...." Erina menggelengkan kepalanya. Ia benar benar tak siap dengan kondisi seperti itu. Kalau dia ke meja orangtuanya Dimas, akan makin banyak mata yang melihat ke arahnya dan pastinya dirinya akan menjadi trending topik nomor satu yang bisa menggegerkan dunia maya.
"Orangtuaku ga gigit kok" ucap Dimas santai sambil tersenyum.
"Dimas aku ga bercanda" Erina mulai geram dengan sikap Dimas yang slengean.
"Aku juga ga bercanda. Udah ayok..." Dimas menarik tangan Erina dengan paksa dan membuat Erina hanya pasrah dan mengikuti langkah Dimas.
Dimas menyapa orangtuanya masih sambil menggenggam tangan Erina.
"Hai Ma, Pa... Udah dari tadi atau baru dateng?" ucap Dimas berbasa basi.
"Dimaaaasss... Kamu udah disini...? Mama sama Papa baru aja dateng" jawab ibu Devita dengan gayanya yang anggun. Pak Nugra menatap Dimas dan Erina dengan tatapan datar dan masih terdiam.
Ibu Devita menolehkan pandangannya ke arah Erina. Erina menyunggingkan senyum manisnya kepada calon ibu mertuanya itu. Mungkin kalau saat ini Dimas tak menggenggamnya erat, ia bisa jatuh karna tak mampu menampung detak jantungnya yang berdetak sesukanya.
"Halo Tante... Om.. " sapa Erina, kikuk dan canggung. Orangtua Dimas hanya mengangguk pelan.
"Ayo sini.. sini... Duduk... " ucap ibu Devita mempersilahkan Dimas dan Erina untuk duduk.
"Kamu Erina kan?" ucap sang mama memulai pembicaraan. Erina hanya mengangguk canggung. Sekuat tenaga ia menata hatinya supaya tetap tenang dan tidak tegang.
"Ternyata kalau diperhatikan dari dekat, kamu itu cantik banget ya..." Erina semakin canggung dengan pujian dari mamanya Dimas.
__ADS_1
"Terima kasih, tante terlalu memuji"
"Pa, anak kamu ternyata pintar loh pilih calon istri, cantik..." Pak Nugra hanya tersenyum simpul mendengar kata kata pujian dari istrinya.
Tangan Erina mulai berkeringat. Diliriknya Dimas yang berada di sampingnya. Dimas nampak tenang dan cool. Berada dalam situasi menegangkan seperti ini sungguh membuat Erina seakan sesak nafas.
Seperti saat pertemuan di acara ulang tahun perusahaan, pak Nugra lebih sibuk dengan handphone dan client client nya. Sama halnya saat ini, Pak Nugra lebih memilih berbincang bincang dengan rekan kerjanya. Banyak relasi dan pejabat perusahaan yang ternyata Rio undang juga di acara pernikahannya. Ga heran sih kalau Rio ngundang mereka, secara Rio adalah assistant pribadi Dimas yang pastinya akan mengenal dan dikenal oleh para pejabat maupun para relasi perusahaan.
"Erina kamu sudah makan?" ucap bu Devita lagi.
"Iya, sudah tante..."
"Erina makannya banyak loh mah... Dia juga sama kayak mama, suka ngemil" Erina membulatkan matanya ke arah Dimas. Pipinya merah menahan malu dan kesal atas ucapan Dimas yang ngasal tentang dirinya. Dimas sendiri hanya tertawa geli dengan kelakuannya.
"Waahhh... Sama dong kita... " lagi lagi Erina hanya tersenyum nyengir dengan pembelaan dari sang calon mertua.
MC acara memanggil nama Pak Nugra dan keluarga untuk ikut berfoto dengan mempelai sebagai tamu undangan VVIP. Pak Nugra beranjak dari duduk yang langsung diikuti oleh istrinya. Dimas juga beranjak dari duduknya untuk ikut berfoto. Dimas tertawa kecil melihat Erina yang masih terdiam dalam duduknya.
"Kamu mau aku gendong sampai ke panggung?"
"Hah? Maksudnya?" Erina terkejut dengan perkataan Dimas yang terdengar ambigu.
Dimas menarik lagi tangan Erina dan menuntunnya ke arah panggung mengikuti langkah orangtuanya yang sudah hampir sampai kesana.
"Dimas, aku ga ikut foto ya... Kalian aja yang foto." Erina menghentikan langkahnya merasa malu dan ragu.
"Kenapa?"
"Aku malu... Aku kan bukan..."
"Jadi kamu malu jadi pacar aku?"
"Bu-bukan itu maksud aku... Aku kan belum jadi keluarga kamu. Jadi rasanya kurang pantas aja kalau aku ikut foto bareng sama orangtua kamu"
"Aku kan udah ngelamar kamu jadi istriku. So? Apa masih kurang cukup?" Erina tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya nurut berjalan menaiki panggung pengantin dan ikut berfoto dengan orangtua Dimas.
"Ciiieeee... Yang bareng sama calon mertua. Cepet nyusul ya beb..." bisik Chika di telinga Erina setelah selesai berfoto. Erina tak menjawab, hanya tatapan malas dan cubitan kecil di pipi sebagai jawabannya.
Selesai berfoto dan mengucapkan selamat, orangtua Dimas segera meninggalkan tempat acara. Erina sedikit bernafas lega. Dadanya terasa terhimpit batu besar ketika ia harus berhadapan dengan calon mertuanya.
########
Sesi yang ditunggu tunggu oleh sebagian para jombloan akhirnya sampai juga. Chika dan Rio sudah bersiap untuk melempar buket bunga pengantinnya. Para jomblowan dan jomblowati sudah memenuhi pelataran panggung pengantin mencoba menangkap buket bunga yang konon katanya bagi yang berhasil menangkap buket bunga milik pengantin akan cepat dapat jodoh dan segera menyusul untuk menikah.
Tasya dan Adel sangat antusias bersiap untuk ikut dalam acara special itu. Erina memilih untuk tetap duduk di sebelah Dimas. Tubuhnya refleks menolak ketika kedua temannya menariknya paksa untuk ke depan panggung mengikuti acara tangkap bunga.
"Tasya, Adel, gue ga mau ah... Malu tau..."
"Ngapain malu... Udah ayok buat rame rame..."
"Gue kan udah punya cowok. Ga mau ah..."
"Biar loe cepet nyusul Chika. Buruan bangun..." Dimas tertawa kecil melihat tingkah laku temen Erina yang terkesan alay. Dengan langkah terpaksa, akhirnya Erina mengikuti ajakan Tasya yang sudah menyeretnya ke depan panggung. Tapi Erina memilih posisi di bagian belakang yang ga mungkin bisa di lewati lemparan buket bunga.
"Ok, kita mulai ya sesi menegangkan lempar bunga dari kedua mempelai kita... Kita mulai dari hitungan 3...2...1... LEMPAAAAAARRR...." suara MC wedding dengan lantangnya memicu Rio dan Chika untuk menggerakkan tangannya ke arah belakang untuk melempar buket bunga mereka.
Lemparan buket bunga Rio dan Chika melenting jauh ke belakang. Semua tangan sudah refleks ke atas mencoba menangkap buket tersebut.
Brrruuukkk....
Gerakan refleks menangkap yang tidak siap namun berhasil menangkap, telah membuat buket bunga Chika nendarat di dada Erina.Mulut Erina ternganga tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia tak menyangka kalau ternyata buket bunga itu menghampiri dirinya. Padahal posisi dirinya berada jauh di belakang.
Dimas tertawa geli sekaligus malu saat dirinya melihat buket bunga itu berhasil ditangkap oleh wanitanya. Peringatan keras ini. Batinnya.
__ADS_1
"Ciiieeee.... Calon pengantiinn... Selamat ya... Kaaannn.... Apa gue bilang..." ucap Tasya menggoda Erina yang sudah memerah.
Erina kembali ke kursinya dengan membawa buket bunga dan di sambut senyuman menggoda dari Dimas.
"Apaa??" ucapnya sambil melotot. Dimas tertawa lepas dengan sikap Erina yang terlihat malu dan canggung.
##########
Mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Seharian di acara pernikahaannya Rio dan Chika cukup membuat badan terasa pegal dan lelah.
"Makasih ya Dim" Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum tulus.
"Ya udah aku turun ya..."
"Wait..." Erina mengurungkan niatnya untuk membuka gagang pintu mobil Dimas dan menatap ke arahnya.
Sesaat Dimas terdiam dan membuat Erina bingung dengan sikapnya. Dimas menatap mata Erina dengan tatapan dalam. Senyumannya sungguh memikat siapapun yang melihatnya.
"Ada apa?" lagi lagi Dimas hanya tersenyum dengan pertanyaan yang di lontarkan Erina.
Dimas menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam berlapis garis emas berkilau. Erina menatap kotak itu dengan wajah heran.
"Erina Arvianto... Menikahlah denganku" Dimas membuka kotak hitam itu dan di sodorkan kepada Erina. Sebuah cincin bermatakan berlian berwarna pink dengan design mewah dan sangat indah membuat bibir Erina membeku dan terpaku.
"Aku ga butuh jawaban NO dari kamu" ucapan Dimas terdengar lucu dan membuat Erina harus tertawa.
"Ini namanya pemaksaan"
"Apapun namanya, intinya kamu harus menikah denganku. Hanya denganku..." perkataan Dimas datar namun penuh penekanan.
Dimas mengambil cincin dalam kotak dan langsung memakaikannya di jari Erina. Erina masih mematung sambil melihat jarinya yang kini sudah terpasang sebuah cincin yang sangat indah. Seperti mimpi disiang hari.
"Aku akan mempersiapkan secepatnya pernikahan kita"
"Dimas... Apa..Apakah orangtua kamu sudah setuju dengan rencana kamu untuk menikah denganku? Karna..."
"Why Baby? Kenapa mereka mesti ga setuju?"
"Aku lihat dari raut wajah papa kamu, sepertinya dia kurang suka sama aku"
"Itu hanya perasaan kamu aja. Papaku orang yang sangat demokratis kok. Kamu ga perlu kuatir." Erina hanya mengangguk pelan.
"Dua minggu lagi kamu akan berulang tahun bukan?"
(Erina tertawa kecil, senang)
"Kamu selalu ingat ya dengan tanggal ulang tahun aku?"
"Pastinya... Kan aku pacar yang baik" gaya percaya diri Dimas membuat Erina menatap malas kepadanya.
"Dan di tanggal itu, akan menjadi tanggal hari pernikahan kita."
"A-apaaa.... Secepat itu?"
"He-emm... Kalau kamu mau, besok pagi aku juga bersedia buat nikahin kamu..."
"Dimas please... Seriuslah sedikit."
"Seperti ini?" Dimas membuka seatbeltnya dan mendekatkan dirinya ke tubuh Erina dan menguncinya dengan kedua lengannya.
Wajah Dimas sudah sangat dekat dengan wajah Erina. Hembusan nafas Erina pun terasa di wajahnya. Bibir keduanya telah menyatu. Ciuman tanpa perlawanan. Rasanya begitu manis dan nagih.
.
__ADS_1
.
.