
Waktu seakan berjalan cukup cepat sampai tak terasa dua minggu sudah belalu sejak Dimas dan Erina kembali dari honey moon. Erina dan Dimas menjalani kehidupan baru mereka menjadi sepasang suami istri dengan suasana bahagia. Tiada hari tanpa pacaran dan bercumbu di atas ranjang.
Pagi dini hari tepatnya jam tiga pagi, Dimas terjaga dari tidurnya. Badannya terasa sangat tidak nyaman. Namun rasa kantuknya juga masih menggelayuti matanya untuk tetap terpejam. Segala posisi tidur sudah ia coba. Namun rasanya masih sama, tidak nyaman.
Dimas menolehkan pandangannya ke sebelah, dilihatnya Erina yang masih terlelap pulas dalam mimpinya.
Kepala Dimas terasa berat dan pusing. Perutnya juga terasa eneg dan mual. Rasanya ingin muntah tapi ga bisa. Entah kenapa tiba tiba Dimas merasakan hal aneh seperti itu. Otaknya berpikir keras tentang makanan dan minuman terakhir yang ia konsumsi semalam. Tidak ada yang aneh. Semalam ia makan nasi sayur dan ayam goreng seperti biasa. Dan bahkan semalam ia tak mengkonsumsi makanan pedas sama sekali. Minumnya juga hanya minum air putih.
Dimas memaksa tubuhnya untuk bangun dari ranjang. Dengan langkah tertatih ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Tidak tega rasanya untuk membangunkan Erina yang masih terlelap pulas. Sesampainya di kamar mandi, Dimas mencuci wajahnya supaya lebih segar. Dimas masih berdiri di depan wastafel sambil memandangi wajahnya. Tubuhnya tidak demam tapi ia sungguh merasakan rasa pusing yang memberatkan kepalanya dan menahan rasa mual yang mengganggu. Dimas mencoba untuk memuntahkan rasa mualnya. Sayangnya tidak ada cairan yang berhasil ia muntahkan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya kembali. Baru semenit Dimas merebahkan tubuhnya, tiba tiba isi perutnya seakan ingin dikeluarkan semuanya.
Hoek... Hoekk...
Mata Erina terperjap ketika telinganya mendengar suara agak kencang yang mengganggu tidurnya. Mata Erina tak melihat keberadaan Dimas. Dan sepertinya suara aneh yang didengarnya adalah suara Dimas dari balik kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Erina segera bangun dari ranjang dan setengah berlari menuju ke kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa?" panggil Erina sambil mengetuk ngetuk pintu kamar mandi. Erina mencoba membuka gagang pintu namun terkunci.
Erina mencoba untuk mengetuk kembali pintu kamar mandi karna tidak ada jawaban dari Dimas. Rasa panik mulai muncul di diri Erina. Erina menghela nafas lega ketika Dimas keluar dari balik pintu. Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang lunglai.
"Dimas, kamu sakit? Wajah kamu pucat" Erina yang panik langsung memeluk tubuh Dimas dan memapahnya kembali ke ranjang. Direbahkannya tubuh kekar Dimas yang lunglai di atas tempat tidur. Erina menyelimuti kembali tubuh Dimas dengan selimut tebal.
Tangan Erina sibuk menangkup wajah Dimas yang basah karna keringat dingin. Diusapnya wajah itu dengan perasaan cemas.
"Sayang, Apa yang kamu rasakan? Badan kamu ga demam, tapi kamu terlihat sangat pucat." Dimas menarik nafas perlahan mengatur nafasnya. Erina menatap lekat wajah Dimas yang terlihat payah.
"Kepalaku pusing. Kayaknya aku masuk angin atau salah makan, entahlah. Perutku eneg dan mual. Sayang aku mau muntah.... " Dimas menyingkap selimut tebal dan dibuang begitu saja lalu berlari ke arah wastafel kamar mandi. Dimas kembali muntah muntah lagi. Erina ikut berlari mengejar Dimas yang sedang kepayahan.
Dimas sepertinya masih belum puas dengan rasa mualnya. Rasa mualnya yang luar biasa membuat perutnya benar benar seperti terkuras habis. Tidak ada sisa makanan lagi yang ia keluarkan. Hanya cairan yang berwarna kuning pahit yang keluar dari perutnya. Erina sungguh tidak tega melihat suaminya harus kepayahan seperti itu.
##########
Dimas sudah kembali berbaring di ranjangnya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Erina mengangkat tubuh Dimas untuk duduk agar ia bisa menyuapkan teh manis hangat untuk menetralisir lidahnya. Perlahan Dimas menyesapi air teh manis hangat buatan istri tersayangnya. Lidahnya terasa lebih nyaman. Perutnya yang kosong juga sudah terasa hangat.
Dimas kembali berbaring di ranjang. Menghela nafas panjang sambil memijit pelan ujung hidungnya.
"Dimas, kamu aku tinggal sebentar ga apa apa ya? Aku akan buatkan kamu bubur. Perut kamu kosong. Kamu harus makan." Dimas menggeleng manja. Tangannya meraih jari Erina dan menggenggamnya erat. Walaupun Dimas memiliki tubuh tinggi kekar, tapi saat sakit seperti ini sikap manjanya sama sekali tidak menampakkan kedewasaannya.
"Aku ga apa apa. Perutku sudah enakan. Jangan tinggalin aku. Biar bi Atun aja yang bikin buburnya. Kamu harus tetap disini, sama aku" Dimas memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Erina yang diletakkan di atas dadanya. Melihat wajah Dimas yang lemah dengan mata terpejam membuat Erina tidak tega untuk meninggalkan suaminya. Erina membiarkan Dimas menggenggam tangannya dan ikut berbaring di sampingnya.
Mungkin karna lelah muntah dan kehabisan cairan, Dimas tertidur kembali. Erina meletakkan satu nampan berisi bubur dan air jeruk murni hangat buatan bi Atun di atas nakas. Dimas masih tertidur. Erina segera membuka kembali pintu kamarnya yang diketuk. Mama Devita dengan wajah paniknya bersama seorang dokter keluarga langsung menerobos masuk ke kamar Dimas. Tadi Erina sempat panik dan segera memberitahukan kepada mama mertua akan kondisi Dimas. Sang mama pun dengan cekatan langsung menghubungi dokter Irwan, dokter keluarganya untuk segera datang memeriksa Dimas.
"Dimas kenapa Erina? Kenapa tiba tiba dia bisa sakit? Semalam sepertinya Dimas baik baik saja?" serentetan pertanyaan langsung dilontarkan olehnya. Dengan langkah cepat mama Devita langsung menghampiri Dimas yang terbaring lemah di ranjangnya.
"Erina juga ga tau ma. Tadi pagi Dimas sudah ada di kamar mandi dan muntah muntah. Katanya kepalanya pusing. Tadi sudah Erina kasih minum air teh manis hangat, ga lama Dimas tidur." Erina menjalinkan jemarinya menutupi kepanikannya.
Dokter keluarga sedang memeriksa kondisi Dimas yang masih tertidur. Pemeriksaan yang dilakukan juga tidak lama.
"Dimas tidak apa apa. Asam lambungnya naik. Sepertinya Dimas sering terlambat makan. Saya akan tuliskan resep untuk Dimas. Tolong dijaga jam makannya. Obatnya juga harus diminum secara teratur. Kalau tidak ada perubahan, tolong segera kabari saya" Erina menerima resep obat dari dokter keluarga Dimas. Dokter yang sudah bertahun tahun menjadi dokter tetap keluarga ini. Bahkan sejak Dimas masih di usia lima tahun.
Ibu Devita mengantar dokter sampai ke pintu. Pak Nugra bergegas menghampiri istrinya dan ikut penasaran akan sakit yang diderita anak semata wayangnya.
"Gimana Dimas Ma? Sakit apa?" ucapnya cemas.
"Dimas ga apa apa. Kata dokter Irwan, kayaknya Dimas sering telat makan, makanya asam lambungnya naik." pak Nugra menghela nafas lega mendengar penjelasan dari istrinya.
"Huft, syukurlah. Lalu sekarang Dimas bagaimana? Apa sudah makan?"
__ADS_1
"Belum. Masih tidur."
"Ya sudahlah. Biarkan dia istirahat" Ibu Devita mengangguk pelan dan melanjutkan kegiatannya mengurusi suaminya yang bersiap akan ke kantor.
#########
Hari ini Dimas istirahat total di rumah bersama Erina sang istri tercinta. Setelah makan siang dan meminum obat, Dimas merasa tubuhnya enakan. Lelah juga tidur seharian di atas ranjang. Untuk menghilangkan rasa jenuh Dimas menyalakan televisi yang tergantung di dinding kamarnya. Erina sudah terlelap di sampingnya. Dimas tersenyum tipis melihat istrinya yang tertidur. Wajah cantiknya terlihat manis dan imut saat tidur.
Berkali kali Dimas menggonta ganti saluran televisi. Program acara siang itu tidak ada yang cocok untuknya. Rasa jenuh pun mulai menyeruak di jiwanya. Tanpa disengaja, jarinya tiba tiba memencet tombol remot yang masih berada di genggamannya. Sebuah acara kuliner yang berhasil menarik perhatian matanya.
Mata Dimas berbinar binar memperhatikan tayangan kuliner tersebut. Sebuah tayangan kuliner yang menyorot tentang kudapan dari Bogor yaitu asinan buah dan asinan sayur. Dalam tayangan itu terpampang dengan jelas segarnya buah buahan yang di campur dengan kuah merah pedas, manis, dingin dan asam yang pastinya terasa sangat nikmat bagi para pecintanya. Apalagi kalau dinikmati di bawah cuaca panas. Mata Dimas tak berkedip melihat tayangan itu. Tanpa terasa air liur nya pun membanjiri mulutnya. Dimas pun segera meraih ponselnya untuk mencatat alamat dari tempat kuliner tersebut.
Dimas mulai gelisah dan perlahan membangunkan Erina yang masih terlelap di sampingnya. Entah kenapa tiba tiba dirinya sangat ingin mencicipi makanan itu. Lidahnya sudah sangat tidak sabar ingin segera menikmatinya. Tayangan kuliner yang baru saja di tonton nya benar benar membuat dirinya seakan dipaksa untuk beranjak dari ranjang dan harus mendapatkan makanan itu.
"Sayang... Bangun dong..." Dimas mengguncang guncang pelan tubuh Erina bermaksud membangunkannya. Erina mengerjapkan matanya dan segera bangun karna takut Dimas kenapa-napa dan membutuhkan bantuannya.
"Dimas ada apa? Kamu mual lagi? Atau kepala kamu masih pusing?" tanya Erina cemas sambil memegang dahi Dimas.
"Aku dah enakan. Cepat ganti baju. Kita harus pergi ke suatu tempat." Erina menatap Dimas dengan tatapan heran dan bingung.
"Pergi ke suatu tempat? Kemana?" Dimas beranjak dari ranjang. Tubuhnya terasa ringan seperti bukan orang yang baru sembuh dari sakit. Erina semakin terheranan melihat tingkah laku suaminya itu. Sejenak Erina hanya mematung sambil memperhatikan suaminya yang sudah sibuk berganti pakaian.
"Sayang... Ayoo..." Erina terperjap kaget dan segera bangun berganti pakaian mengikuti perintah suaminya.
Dimas dan Erina menuruni anak tangga dan berpamitan kepada mama Devita yang sedang menonton acara televisi di ruang tengah.
"Mam, Dimas sama Erina pamit keluar sebentar ya..." ucap Dimas ringan. Ia tak memperdulikankan raut wajah mamanya yang terlihat keheranan.
"Sayang, kalian mau kemana? Kamu kan masih sakit..."
"Dimaaaasss...." suara teriakan mama Devita benar benar tak di hiraukan sama sekali oleh Dimas. Erina menolehkan pandangan rasa bersalahnya kepada mama mertuanya. Ia juga tak bisa berbuat banyak untuk menolak keinginan suaminya itu.
Dimas melajukan mobilnya dan memasang aplikasi maps untuk mencari tempat yang akan ditujunya.
"Sayang, sebenarnya kita mau kemana sih?"
"Nanti kamu juga akan tau. Pokok nya kita akan ke tempat yang pastinya kamu juga akan suka." jawab Dimas senang dengan wajah yang sumringah. Dimas benar benar terlihat sehat dan tidak kelihatan sedang sakit seperti tadi pagi. Erina menghela nafas pendek sambil menyenderkan tubuhnya di kursi mobil dan menurut saja dengan keinginan suaminya.
Lalu lintas siang itu tidak terlalu ramai. Dimas menambah kecepatan laju mobilnya. Ia sudah tak sabar untuk bisa segera sampai di lokasi. Sesampainya dilokasi, Dimas segera memarkirkan mobil dan bergegas turun. Erina terperangah tak percaya Dimas membawanya ke tempat seperti itu. Dengan percaya diri Dimas memesan dua porsi asinan buah dengan request nya sendiri.
Erina memandangi wajah suaminya dengan wajah keheranan. Ia tak habis pikir kenapa Dimas tiba tiba ingin memakan asinan buah seperti ini. Karna selama ia bersamanya, belum pernah sekalipun ia melihat Dimas memakan makanan seperti ini.
Wajah Dimas terlihat girang ketika pesanannya sudah datang. Dan tanpa membuang waktu Dimas langsung melahap asinan buah itu dengan lahap. Terlihat dengan sangat jelas Dimas sangat menikmati makanan itu.
"Sayang, dimakan dong. Gimana? Enak ga?" ucap Dimas di sela sela makannya. Erina mengangguk pelan dan memakan asinan buah itu perlahan. Sejujurnya Erina sendiri kurang bernafsu dengan asinan buah. Karna dirinya memang tidak terlalu kepengen dengan makanan itu. Tapi melihat antusias suaminya akan makanan itu membuat bibirnya mengulas senyum. Dan tiba tiba senyumnya hilang karna teringat kembali akan penyakit lambung yang menyerang suaminya tadi pagi.
"Dimas stop. Kamu ga boleh menghabiskan makanan ini. Asam lambung kamu kan sedang naik. Cuka ga bagus buat lambung kamu." Erina mencoba menyingkirkan piring asinan yang berada di depan Dimas.
"Aku udah ga apa apa kok sayang... Ini makanan enak banget. Aku masih mau makan" Dimas menarik kembali piringnya dan memakannya kembali. Erina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh suaminya.
##########
Puas menikmati sepiring asinan buah Dimas melajukan kembali mobilnya kembali ke rumah. Sebelum sampai ke rumah, Dimas mampir ke toko pastry dan membeli beberapa untuk di bawa pulang. Tubuh Dimas terasa sangat ringan dan sehat. Hatinya sangat bahagia karna sudah berhasil mendapatkan makanan yang diinginkan.
Erina meletakkan sekotak besar berisi pastry beraneka rasa di meja makan. Setelah mencuci tangannya, Dimas duduk di meja makan dan langsung melahap pastry yang tadi dibelinya.
__ADS_1
"Waaahhh... Kalian beli apa nih?" Mama Devita mendekati meja makan dan menatap heran ke arah Dimas. Melihat Dimas makan membuat matanya terperangah tak percaya.
"Dimas kamu makan pastry coklat?" ucapnya tak percaya.
"He-em. Cobain Ma. Enak deh..."
"Aneh... Kamu bukannya ga suka pastry rasa coklat. Kata kamu coklatnya terlalu mealted."
"Ini buktinya Dimas makan. Enak kok. Iya kan sayang...." Erina hanya menyengirkan barisan gigi putihnya mengiyakan ucapan suaminya.
"Jadi kamu pamit keluar buat beli ini? Kalau begitu kan bisa suruh pak Tatang aja yang beliin." Dimas menggeleng yakin dan berusaha menjawab pertanyaan mamanya sambil menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya.
"Bukan Ma. Tadi kita keluar buat makan asinan buah. Eeeennnaaakkkk bangetttt Ma. Tuh, Dimas dah bungkus juga buat mama." Mama Devita membulatkan matanya. Dirinya benar benar syok mendengar pengakuan jujur dari Dimas.
"Asinan buah?" ucapnya membeo. Erina mengangguk pelan. Dirinya juga merasa bingung dengan sikap aneh Dimas hari ini.
"Dimas... Erina... Jangan jangan kaliaaaannn..." mama Devita sengaja menghentikan perkataannya karna masih sedikit ragu.
"Dimas kenapa Ma?" Erina mendadak pucat melihat keraguan dari mama mertuanya. Dipandanginya lagi wajah suaminya yang ikut berhenti makan dan kemudian keduanya menatap wajah sang mama dengan tatapan penuh tanya.
"Semoga feeling mama benar ya sayang. Kalian tunggu di sini" Mama Devita bergegas ke dapur meminta mba Tini salah satu art rumah Dimas untuk segera ke apotik.
Sekitar 30 menit kemudian, mama Devita menyerahkan alat tes kehamilan kepada Erina. Erina sempat terkejut dengan sikap mertuanya yang secara tiba tiba meminta dirinya untuk mengetes kehamilan.
"Erina sayang, ini testpack. Coba kamu teteskan urine kamu di alat ini ya. Mama curiga kalau kamu hamil. Soalnya apa yang Dimas makan adalah makanan yang jarang sekali dia sentuh."
"Sekarang Ma? Bukannya test kehamilan itu lebih akurat pada urine di pagi hari?"
"Kalau kamu memang benar hamil, kapanpun kamu test hasilnya pasti akan sama. Memang benar, urine di pagi hari jauh lebih akurat karna kandungan HCG nya lebih banyak. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kamu coba sekarang?"
"Memangnya Erina beneran hamil Ma?" cletuk Dimas ikut penasaran.
"Makanya mama mau coba test. Soalnya mama agak janggal dengan keanehan kamu hari ini. Kalau Erina beneran hamil, keanehan kamu hari ini disebabkan karna faktor ngidam."
"Ngidam? Dimas, ngidam Ma?" ucap Dimas setengah tak percaya. Mamanya hanya mendengus kecil dan mengalihkan perhatiannya kepada Erina.
"Udah ayok jangan buang waktu. Erina cepat kamu ke kamar mandi. Mama sama Dimas tunggu di sini. Okay" Erina mengangguk menurut saja perintah mama mertuanya.
Erina menuju kamar mandi bawah dan segera melakukan test urine. Sementara di luar Dimas mulai gelisah menunggu hasil dari Erina. Mata Dimas tak lepas dari pintu kamar mandi. Berharap agar Erina segera keluar dan membawa hasil yang diinginkan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya yang di nanti tiba. Erina keluar dari kamar mandi dengan membawa alat test kehamilan. Wajahnya masih terlihat datar tanpa ekspresi.
"Sayang, gimana hasilnya?" Dimas setengah berlari menghampiri Erina. Erina menyodorkan hasil test urine nya kepada suami dan mama mertuanya.
"Garis dua. Tapi garis satunya agak tipis ga begitu keliatan. Apa itu tandanya aku hamil?" ucap Erina ragu.
"Erina... Kamu hamil sayang... Walaupun garis satunya tidak terlihat jelas, tapi mama yakin kalau hasil testpack itu menandakan kalau kamu sedang hamil... Mama mau punya cucu... Senangnyaaaa.... Terima kasih ya sayang...." mama Devita terlihat sangat kegirangan melihat hasil test urine menantunya.
"Sayang ini bukan mimpi kan? Kamu hamil? Berarti bentar lagi aku akan jadi papa?" Erina menipiskan bibirnya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Dimas meraih tubuh Erina dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Rasanya bahagia sekali ketika ada makhluk kecil sedang tumbuh di dalam rahim istrinya. Erinapun langsung refleks menyentuh perutnya dan mengusapnya lembut. Dalam hati tak henti hentinya ia berucap syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diberikan kepadanya.
"Besok kalian harus segera periksa ke dokter kandungan untuk lebih memastikan. Hmm.. Tapi mama sih yakin kalau Erina beneran hamil. Erina, kamu harus makan yang bergizi. Ga boleh makan sembarangan, harus cukup istirahat dan tolong jaga kandunganmu dengan baik. Itu cucu mama yang ada di sana" Erina tertawa kecil menanggapi sikap posesif dari mama mertuanya. Dimas kembali memeluk tubuh Erina dan kali ini sambil menghujani ciuman di seluruh kepala, kening, pelipis, pipi sampai bibir. Saking banyaknya ciuman, sampai sampai wajah Erina basah karna terkena saliva Dimas yang membasahi bibirnya.
.
.
__ADS_1
.