Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Orang Tua Baru


__ADS_3

Pagi pagi sekali Mama Astri setengah berlari di lorong rumah sakit menuju ke ruang perawatan Erina. Semalam Dimas sengaja tidak langsung menghubungi mama mertuanya. Kondisi malam yang sudah sangat larut terlalu beresiko jika harus memintanya datang untuk melihat putrinya yang melahirkan. Jadi Dimas hanya mengirimkan pesan singkat ke ponsel mama mertuanya sebelum waktu shubuh tiba.


Erina sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kamar VVIP yang menyediakan fasilitas kelas atas dan semua serba mewah. Namun meskipun semewah apapun kamar yang ia tempati, tetap saja Erina masih harus merasakan sakitnya bekas operasi yang telah menyayat perutnya.


Bayi Erina masih tertidur di samping ranjangnya. Sepertinya bayinya cukup nyaman dengan baby box yang disediakan pihak rumah sakit. Dimas dan kedua mertuanya juga masih tertidur di sofa. Dimas sendiri lebih memilih tidur di samping ranjang Erina meskipun dalam posisi setengah duduk. Persalinan semalam sungguh menguras tenaga. Apalagi Dimas yang harus kembali ke rumah untuk menguburkan ari ari bayinya dan kembali lagi ke rumah sakit. Jadi sudah pasti kalau dirinya lelah dan larut dalam rasa kantuknya.


Mata Erina tertuju ke arah pintu ketika dengan sangat hati hati mamanya memasuki ruang perawatannya. Erina sudah terbangun dan melempar senyuman manis ke arah mamanya. Dengan sayangnya, mama Astri langsung memeluk dan menciumi wajah putri semata wayangnya sambil menangis haru dan sangat bahagia. Bahagia karna ia telah memiliki seorang cucu laki laki yang tampan dari putrinya.


"Selamat ya sayang... Kamu sekarang sudah sah menjadi seorang ibu. Maafin mama ya sayang karna mama baru datang. Mama ga tau kalau kamu semalam masuk ruang operasi." ucap mama Astri dengan suara pelan karna orang orang dalam ruangan ini masih terlelap dalam mimpinya.


"Ga apa apa Ma.. Yang penting mama sudah datang. Mama sehat kan?"


"Iya, mama sehat. Mama dan bi Minah baik baik saja. Bagaimana kondisi kamu? Apa masih terasa sangat sakit?" raut wajah mama Astri terlihat sangat cemas dan khawatir. Erina mengangguk pelan karna memang bekas jahitannya masih basah dan masih terasa sakit.


Mama Astri beralih ke box baby. Matanya brrkaca kaca bahagia melihat sesosok makhluk kecil yang indah dipandang mata sedang tertidur tenang dengan wajah yang sangat menggemaskam. Pipi cubby yang berwarna merah muda dengan hidung mancung dan rambut tebal berwarna hitam pekat membuat mata teduh dan terasa damai.


"Cucuku... Kamu ganteng sekaliii..." Senyuman kebahagiaan terurai di bibir mama Astri. Tangan tuanya menyentuh lembut pipi mungil yang lucu dan menggemaskan.


Perlahan Dimas memerjapkan matanya dan tersadar akan kehadiran mama mertunya.


"Mama...." ucap Dimas dengan suara paraunya. Mama Astri hanya mengangguk dan tersenyum dan mengalihkan pandangannya kembali ke wajah mungil kesayangan barunya.


Dimas memeluk dan memberikan morning kiss untuk istri tersayangnya yang sudah terbangun.


"Pagi sayang... Kamu kok udah bangun? Matahari aja belum terbit." ucap Dimas masih dengan menciumi kepala Erina.


"Aku belum puas melihat anak kita. Entah kenapa tidurku juga kurang nyenyak. Apa kamu bisa tidur dengan baik?"


"Hmm... Lumayan. Perut kamu bagaimana? Masih sakit?" Erina mengangguk pelan sambil melempar senyum manisnya.


"Perutku masih terasa sakit. Tapi rasa sakit ini langsung hilang saat aku melihat wajah mungil anak kita. Dia sangat tampan seperti papanya" bibir Erina dengan tulus memuji ketampanan suami dan anaknya. Namun pujian itu ternyata malahan membuat Dimas GR dan langsung besar kepala.


"Pastinya doongg... Aku kan memang tampan. Makanya kamu tergila gila sama aku" Erina menatap wajah Dimas dengan malas dan kemudian tertawa geli atas rasa percaya diri yang tinggi suaminya. Diciumi lagi pelipis Erina dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya sayang, kamu sudah berjuang melahirkan anak kita. Liat tuh Oma omanya girang banget dikasih mainan baru" Erina mengangguk dan tertawa kecil melihat sikap mamanya yang terlihat norak dengan mainan barunya. Pasti nantinya mereka akan saling berebut satu sama lain.


"Kok Mama ga dibangunin sih..." rengek mama Devita yang terbangun dan seketika dirinya menjadi sedikit salah tingkah ketika matanya melihat sosok dari besannya sudah berdiri rapi di samping box bayi Dimas.


"Eh, ada mama Astri... Maaf ya Mam saya malah baru bangun" Mama Devita beranjak dari sofa dan membangunkan pak Nugra yang saat itu masih tertidur.


"Sudah biarkan dulu saja Bu, bapak masih ngantuk. Saya yang terlalu pagi datang kesininya." mama Astri merasa sangat canggung ketika mata ngantuk pak Nugra harus terbuka dengan paksa karna dibangunkan oleh istrinya.


"Ga apa apa Mam. Lagipula ini juga sudah pagi. Saya permisi cuci muka dulu ya mam.." Mama Astri hanya mengangguk dan melanjutkan lagi memandangi cucu kesayangannya.


###########


Matahari sudah menampakkan wajahnya. Pancaran sinar raksasanya telah menerangkan seluruh alam yang membuat semua orang bergegas kembali dengan aktivitasnya masing masing.


Seorang suster mengetuk pintu kamar Erina berniat untuk mengambil si baby boy untuk dimandikan dan dijemur. Sinar matahari pagi yang cukup terik sangat bagus untuk membantu menyempurnakan pertumbuhan kulit menjadi lebih kuat dan menghindarkan si bayi dari adanya penyakit kuning karna kurangnya vitamin D didalam tubuhnya.


Awalnya Dimas sedikit tidak rela mesti berpisah dengan si baby. Namun demi kesehatan di baby, akhirnya Dimas mengijinkan suster untuk membawa si baby untuk dibersihkan. Para orangtua ikut mengawal suster untuk melihat prosesi si baby dimandikan dan dijemur. Lalu setelahnya mereka pergi ke restoran dekat rumah sakit untuk menikmati makan pagi mereka. Raut wajah para oma dan opa baru ini sangat sumringah bahkan ketika mereka menyantap makan pagi. Obrolan mereka hanya seputar cucu baru kesayangannya.


Sementara di baby di bawa untuk dibersihkan, Dimas membantu membersihkan tubuh Erina dan menggantikan baju dasternya. Dimas benar benar sangat protektif dengan Erina. Ia tidak mengijinkan suster untuk membantu membersihkan tubuh istrinya. Dia sendiri yang melakukannya. Tapi bukan Dimas namanya kalau ia tak melakukan hal hal usil yang membuat Erina harus menahan kekesalannya dari kejahilan sang suami.


"Sayang, jangan iseng dong... Kamu jahat banget ih. Aku masih sakit begini masih aja kamu isengin" bukannya menyesal, Dimas malah tertawa lebar dengan reaksi kesal nya Erina. Sambil membersihkan tubuh Erina, bibir Dimas dengan sengaja menyusuri leher Erina dan meninggalkan kecupan panas disana. Pukulan bertubi tubi yang dilayangkan Erina tak lantas membuat Dimas bergeming dan malahan semakin membuat Erina semakin geli dengan kenakalan bibir Dimas.

__ADS_1


"Dimaaaassss.... Gelii... Aku laporin ke dokter Rasti nih. Biar kamu diomelin. Aduh perutku sakit..." wajah Dimas mendadak panik dan cemas mendengar rintihan Erina. Matanya langsung tertuju ke bagian perut Erina yang sudah dipegang oleh istrinya itu.


"Erina kamu kenapa? Perut kamu sakit sekali???"


"Gara gara kamu nih. Perutku jadi sakit. Udah sana... Aku mau tidur lagi" ucapan pengusiran dari Erina membuat Dimas tersadar kalau barusan istrinya sudah berhasil mengelabuhi nya sehingga dirinya berhasil menghentikan sikap konyol nya yang tadi.


"Baiklah... Karna kamu sudah berbaik hati melahirkan jagoanku dengan baik, aku akan membiarkan dirimu untuk beristirahat. Silahkan tidur kembali permaisuriku..." ucapan menggoda Dimas berhasil menggelitik hati Erina dan malahan membuatnya tertawa lebar karenanya.


#########


Tuk... Tuk.. Tuk...


Suara ketukan pintu dari suster membuat wajah Erina menjadi sumringah. Suster itu mendorong box bayi Erina dan menyapanya dengan suara yang ramah. Seorang petugas pengantar makanan juga bersamaan memasuki kamar Erina untuk mengantarkan makan pagi untuknya.


"Makanannya jangan lupa dihabiskan ya bu.." ucap petugas itu sambil meletakkan senampan penuh makanan sehat yang sudah Dimas pesan khusus untuk istri tercintanya.


"Ibu Erina... Baby nya sudah mandi. Sudah ganteng... Nanti tolong sambil di coba disusuin ya... Ibu sudah bisa duduk?"


"Iya sudah sus"


"Wah, syukurlah. Nanti bapak juga tolong bantu istri bapak saat menyusui ya.." Dimas sedikit tertegun bingung dengan ucapan perintah dari suster. Hingga secara impulsif Dimas melontarkan pertanyaan bodoh yang membuat suster tertawa kecil.


"Saya juga harus membantu istri saya menyusui sus? Bagaimana caranya? Apa saya harus membantu memegang ****** susu istri saya?" Erina memelototkan matanya ke arah Dimas. Pertanyaan Dimas terdengar vulgar dan tidak tau malu.


"Bukan pak. Bapak bisa membantu memijat pundak istri bapak ketika istri bapak sedang mencoba menyusui anak bapak. Biasanya rangsangan berupa pijatan bisa membantu memperlancar keluarnya asi"


"Oh, o-okay sus..." Dimas menyengirkan deretan gigi rapihnya dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Erina.


Suster mengangkat tubuh kecil yang memiliki aroma harum yang khas dan lalu diserahkan kepada Erina sang ibunya untuk segera diberikan asi pertamanya.


Asi Erina belum keluar dengan lancar. Keluarnya masih baru beberapa tetes. Hal itu membuat si baby boy mulai kesal dan frustasi karna tak mendapatkan asupan asi yang cukup. Suara tangis pun akhirnya pecah memenuhi ruangan. Dimas dan Erina panik luar biasa. Si baby tak kunjung berhenti menangis. Semakin lama suara tangisannya semakin kencang. Suster membantu menggendong untuk kembali si baby untuk menenangkannya. Lalu diarahkan kembali kepada Erina untuk kembali disusui. Namun hal itu gagal. Asi Erina masih belum bisa keluar banyak. Si baby semakin memberontak dan hanya mengusel usel kesal.


"Boleh ibu. Tapi ibu Erina dan suami harus menanda tangani formulir persetujuan pemberian susu formula terlebih dahulu" Erina menatap ke arah Dimas. Tatapan keraguan yang membutuhkan jawaban segera. Dimas menghela nafas panjang dan akhirnya mengangguk pelan.


Suster segera menuju ke ruang bayi untuk menyiapkan formulir dan susu formula untuk bayi Erina. Tak butuh waktu lama, suster kembali ke kamar rawat Erina dengan membawa susu dan berkas yang harus ditanda tangani orangtua baru ini.


Bayi Erina melahap dengan cepat satu botol kecil yang berisi penuh cairan susu. Tak lama berselang si bayi sudah tertidur dengan pulas kembali. Erina dan Dimas bisa bernafas lega karna bayinya sudah tenang dan kenyang.


"Nanti kalau bayi ibu bangun, tolong di coba kembali dengan asi ya. Saya permisi..." Erina mengangguk mengerti. Bibirnya melabuhkan ciuman ke pipi mungil baby nya yang tertidur pulas. Ciuman gemas yang penuh kasih sayang.


"Papanya ga dicium juga nih?" goda Dimas sambil menyedekapkan kedua tangannya.


"Sayang, liat tuh. Papa kamu cemburu. Lucu deh mukanya...Hihihi..." Dimas memanyunkan bibirnya dan berpura pura kesal.


Dimas dan Erina harus menolehkan kembali wajahnya ke arah pintu ketika ada suara ketukan dan pintu yang tiba tiba terbuka. Sepasang suami istri dan seorang bayi mungil dengan senyum merekah menyapa mereka dengan gemas.


"Chikaaa...." ucap Erina senang.


"Erinaaaaa.... Selamat ya cintaaa... Akhirnya... Loe punya juga Erina junior." Chika yang masih sambil menggendong bayinya mencium kedua pipi sahabatnya secara bergantian.


"Bukan Erina junior, tapi Dimas junior" Dimas mendongakkan kepalanya dengan sikap arogant dan sangat percaya diri. Chika sendiri hanya tertawa kecil melihat gaya Dimas yang terlihat impulsif dan posesif.


"Selamat ya boss... Loe sama kayak gue sekarang. Sah menjadi ayah" suara tawa renyah Rio dan Dimas menggema memenuhi ruangan.


"Oia Rin, nama anak loe siapa?" Erina tertegun dengan pertanyaan Chika. Ia baru sadar kalau anaknya belum ia kasih nama.

__ADS_1


"DARREN NUGRA ARVIANTO" celetuk Dimas dengan cepat. Erina terkesima dengan nama yang baru saja diucapkan suaminya. Baru saja dirinya ingin bertanya, ternyata diam diam Dimas sudah menyiapkan nama yang indah untuk baby boy nya.


"Waaahh.... Namanya keren banget..." puji Chika dengan tulus. Erina turut tersenyum senang. Senyumnya mengembang dan merekah merona.


"Sayang, kok kamu menyematkan nama kedua kakeknya di nama anak kita?"


"Iya, aku memang sengaja menyematkan kedua nama itu di nama anak kita agar jiwa kedua kakeknya menyatu dijiwa anak kita. Kakek Darren adalah pekerja keras dan sangat bertanggung jawab pada keluarganya. Jadi, aku ingin anak kita akan memiliki jiwa yang sama seperti kakeknya. Dan nama Darren artinya laki laki hebat. Selain itu, nama Darren juga terdiri dari gabungan kedua nama kita. Keren kan..." Erina tak mampu berkata kata. Mulutnya menganga, takjub dengan penjelasan Dimas yang luar biasa untuknya.


"Boss ku emang sangat kreatif ya... " ucap Rio sambil menepuk pundak Dimas lengkap dengan gaya tengilnya yang khas.


"Gue kan emang selalu kreatif" jawab Dimas tak mau kalah dengan ucapan asisstantnya dan bergaya sedikit arogant terhadapnya.


"Oia Chik, kok loe bawa sicantik Azkia kesini? Apa ga terlalu beresiko?"


"Hari ini jadwalnya Azkia imunisasi hepatitis B yang ke dua. Trus ternyata bebarengan sama loe lahiran. Sekalian deh gue nengokin loe..."


"O.. Begitu..."


Kedua pasangan orang tua baru itu saling berbincang bincang dan saling memuji anak-anak mereka. Bayi Erina dan bayi Chika terpaut selisih usia satu bulan. Jadi nantinya mereka pasti akan seru saling bertukar cerita dan pengetahuan seputar mengasuh anak.


Perbincangan mereka terhenti ketika tiba tiba seorang suster memakai masker memasuki kamar untuk meminta anak Erina untuk dibawa kembali ke ruang bayi.


"Selamat pagi... Maaf mengganggu. Ibu Erina, baby nya saya ambil ya... Dokter akan mengimunisasi bayi ibu." Mendengar ucapan suster yang baru saja masuk, Chika dan Rio langsung berpamitan untuk kembali ke ruang poliklinik anak untuk mengimunisasi Azkia putrinya.


Dimas sedikit curiga dengan suster yang datang. Suara suster ini mirip dengan seseorang yang Dimas kenal. Tapi rasa curiga Dimas segera ia pupus dan tetap berpositif thingking.


"Imunisasi apa ya sus?" tanya Erina ingin tau.


"Imunisasi hepatitis ibu" jawab si suster sambil mengambil alih bayi Erina yang masih tertidur dalam gendongannya.


"Tapi bayi saya masih tertidur. Apakah tidak apa apa imunisasi saat bayi sedang tidur?"


"Tidak apa apa bu. Lagipula bayi ibu kan baru lahir. Sudah pasti akan selalu tidur. Saya permisi ya..." suster bermasker meninggalkan kamar Erina dengan membawa Darren ditangannya.


Erina tidak memiliki kecurigaan sedikitpun terhadap suster itu. Karna semua pegawai rumah sakit tempatnya dirawat pasti adalah orang orang terpilih dan sudah terpercaya keprofesionalannya dalam bekerja.


"Sayang, kamu makan dulu ya. Kamu kan belum makan apa-apa" Erina hanya mengangguk tak membantah. Dimas memindahkan nampan yang berisi makanan ke meja yang berada di atas ranjang Erina. Dengan senang hati Erina langsung menyantap makanan itu satu persatu sampai tandas. Dimas tersenyum melihat istrinya makan dengan sangat lahap.


Para orangtua sudah kembali ke kamar Erina. Mereka sedikit kecewa karna tak menemukan cucu kesayangan mereka di kamar. Perasaan Dimas mendadak tidak enak sejak kehadiran suster bermasker. Suara suster itu terdengar tidak asing ditelinganya.


"Sayang, kamu habiskan makan kamu ya... Aku mau melihat bayi kita diimunisasi" Erina mengangguk sambil tersenyum dan melanjutkan kembali makan paginya.


"Mam, Dimas titip Erina ya... Dimas mau ke ruang bayi dulu"


"Ok sayang" ucap mama Devita sambil tersenyum.


###########


Dengan cepat suster gadungan itu memasuki ruangan bayi VVIP dan memandangi wajah mungil yang tak berdosa dengan tatapan kebencian dengan senyuman jahat dibibirnya.


Ruang bayi VVIP ini adalah ruangan bayi khusus pasien VVIP dimana bayi yang berada disitu tidak dicampur dengan bayi pasien lain. Dan kebetulan ruang bayi VVIP hari itu hanya diisi tiga bayi saja, salah satunya adalah bayi Erina.


"Halo baby boy... Kamu tampan sekali. Wajahmu sangat mirip dengan ayahmu. Tapi sayang, kehadiranmu semakin membuatku marah. Kamu tidak seharusnya berada di dunia ini. Bagaimana kalau aku membuatmu bermimpi indah selamanya? Menarik bukan?" tawa kecil yang penuh kebencian dan amarah tersungging dibibirnya. Rasanya akan terasa sangat bahagia kalau setelah racun tetes yang ia bawa berhasil disesap oleh bayi mungil ini. Terasa impas dengan apa yang ia rasakan selama ini. Dendam ini pun akan terbalaskan dengan sangat puas.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2