
"Dimas, selesai makan kamu ke ruang kerja papa ya. Ada yang ingin papa bicarain sama kamu" ucap pak Nugra di sela-sela makan malamnya. Suara yang terdengar santai tapi penuh penekanan keharusan.
"Papa mau ngomongin soal apa?" tanya Dimas penasaran.
"Nanti kamu akan tau sendiri" ucap papanya sambil mengakhiri makannya. Setelah meneguk air minumnya, pak Nugra beranjak dari kursinya dan pergi ke kamar.
Sementara itu Dimas yang masih bingung dengan maksud papanya menatap sang mama mencoba mencari jawaban dari rasa penasaran akan sikap papanya itu. Namun ibu Devita hanya menggidikkan bahunya mengisyaratkan bahwa dirinya pun juga belum tau apa yang akan di bicarakan oleh suaminya itu.
Dimas meletakkan sendoknya yang masih menyisakan sedikit makanannya dan bergegas pergi ke ruang kerja papanya. Nafsu makan Dimas sudah lenyap dengan rasa penasaran tentang ucapan sang papa yang penuh dengan makna keseriusan.
Dimas sangat paham akan karakter sang papanya. Pasti papanya akan membahas sesuatu yang penting. Karena biasanya, Jika ada hal yang serius, papa nya selalu membicarakan sesuatu itu di dalam ruang kerjanya. Tujuannya biar lebih privacy dan biar ga banyak orang yang tidak berkepentingan ikut tau dalam masalah yang akan di bahas.
Dimas memasuki ruang kerja papanya setelah mengetuk pintu sebelumnya. Ruang kerja pak Nugra cukup luas. Ada lemari buku-buku, satu set meja kerja kayu dengan furnisan tebal dan mengkilat serta ada sofa santai panjang yang sangat nyaman untuk di duduki.
"Sini Boy, duduklah" ucap pak Nugra menyuruh anaknya duduk di sofa yang sama ia duduki.
"Ada hal serius apa yang akan papa bicarain?" ucap Dimas yang sudah bisa menebak maksud dari papanya itu.
Pak Nugra menipiskan bibirnya dan menyunggingkan senyuman. Sepertinya Dimas sudah memahami karakternya. Sang papa menyadari kalau anaknya sudah tau tentang sebuah hal penting yang akan dibicarakannya. Pak Nugra menatap Dimas lagi, masih dengan senyum bangganya. Saat ini anaknya sudah remaja dan sebentar lagi akan menjadi. lelaki dewasa. Anak laki-laki semata wayangnya yang akan dia jadikan penerus perusahaan dan penerus keturunan dari Nugra Hadi Sasmita.
"Gimana sekolah kamu?" ucap pak Nugra membuka pembicaraan.
"Baik-baik aja pap"
"Paspor dan Visa kamu sudah papa siapkan. Semuanya sudah beres. Sebentar lagi kamu ujian akhir. Papa harap kamu sudah mempersiapkan mental kamu dari sekarang"
Dimas hanya menipiskan bibirnya sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
"Oia, Papa dengar dari mama, kamu sudah punya pacar. Apakah itu benar?" mata pak Nugra mengamati wajah Dimas dengan amat cermat. Wajah Dimas seketika memerah karna terkejut dengan pertanyaan sang papa. Apalagi infonya dari mamanya. Sedangkan Dimas ga pernah cerita apapun tentang pacar kepada mamanya.
"Dari mama? Dimas ga pernah bilang apa-apa ke mama soal pacar". jawab Dimas sambil mengernyitkan dahinya mencoba mengelak dan masih menyembunyikan Erina.
"Bukan hal penting mama kamu tau info itu dari siapa. Papa cuma ingin kamu jawab jujur dari pertanyaan papa tadi".
Posisi Dimas saat ini sudah tersudut. Ia harus jujur saat ini. Hatinya berkata kalau ia harus jujur tentang Erina sekarang. Percuma juga ia tutupi toh lambat laun papanya akan tau dengan sendirinya. Ga nyaman juga kalau papa mencari tau dengan caranya sendiri tentang Erina. Kalau papa ternyata ga cocok, Erina bisa terluka batin nanti.
Dimas menarik nafas dan dihembuskannya perlahan. Dimas mencoba tenang menjawab pertanyaan papanya.
"Jujur iya pap. Saat ini Dimas sudah punya pacar. Dimas suka sama adik kelas Dimas. Namanya Erina. Dia cewek cantik yang sederhana".
"Begitu ya... " ucap pak Nugra sambil manggut-manggut.
"Putuskan dia" sambungnya kemudian.
Mata Dimas langsung menatap ke arah papanya dengan tatapan kaget dan marah.
"Papa ingin kamu lebih fokus dengan ujian kamu"
"Kalau soal itu, papa ga perlu terlalu khawatir. Dimas akan pastikan kalau Dimas akan lulus dengan nilai yang bagus"
"Dimas, setelah lulus nanti kamu akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Apakah kamu memikirkan perasaan pacar yang kamu tinggal? Apakah kamu pikir hubungan jarak jauh itu mudah? Semua itu tak seindah yang kamu kira boy"
"Kita saling percaya kok"
Pak Nugra terkekeh mendengar jawaban dari anak laki-laki nya.
"Saling percaya? Apakah kamu yakin dengan kesetiaan nya di kemudian hari? Apakah kamu akan tau apa yang akan pacar kamu lakukan saat kamu tidak ada di sisinya? Apakah kamu yakin ga ada satu laki-laki pun yang tidak akan mendekati pacarmu?"
__ADS_1
"Cukup Paa.... " Teriak Dimas ga terima. Kuping Dimas terasa panas saat papanya berbicara seolah-olah merendahkan Erina.
"Dimas, kamu itu laki-laki. Kamu harus berpikir realistis dan kritis. Jangan mudah percaya dengan sesuatu yang belum jelas. Tugas kamu masih banyak. Papa ingin kamu berhasil menyelesaikan studi kamu. Kamu adalah satu-satunya orang yang papa handalkan. Kamu akan menjadi penerus perusahaan papa. Papa ingin kamu berhasil. Soal pasangan? Kamu ga perlu terlalu khawatir, kalau kamu menjadi sosok laki-laki hebat dan memiliki segalanya kamu bisa bebas memilih perempuan manapun yang Kamu suka. Dan papa jamin, tidak akan ada satu wanita pun yang akan menolak kamu"
"Erina itu beda. Ga seperti yang papa pikirkan" Dimas mencoba melakukan pembelaan.
"Semua wanita sama. Ingin memiliki pasangan yang mapan dan sukses. Kamu pikir, hidup kalian hanya cukup bermodalkan cinta semata? Wake up boy... Hari gini bukan cinta yang utama. Cinta akan datang di saat kamu jaya. Dan kamu, calon laki-laki hebatnya papa, kamu harus meraih kejayaan itu. Mengerti!! " perkataan pak Nugra terdengar sangat tegas dan menakutkan.
Dimas mengepalkan tangannya dan mengertakkan giginya. Perkataan papanya sangat menohok hatinya. Apa yang diucapkan papanya memang benar adanya. Tapi untuk memutuskan hubungannya dengan Erina, itu yang teramat sulit untuknya. Ga mungkin Dimas harus memangkas habis Bunga-bunga asmara yang sedang tumbuh bersemi di hati mereka. Dimas bisa membayangkan seberapa pedihnya hati Erina jika ia sampai hati berani memutuskannya.
"Papa ingin kamu bersihkan diri kamu dari hal-hal yang nantinya bisa menjadi hambatan diri kamu. No pacar no galau. Papa ga mau pikiran kamu bercabang sama pacar kamu dan membuat study kamu berantakan"
"Dimas ga bisa mutusin Erina. Dimas udah terlanjur sayang sama dia. Kita bisa menjalanin hubungan long distance. Dimas yakin Erina juga ga akan keberatan"
"Kalau kamu ga bisa mutusin dia, biar papa yang melakukannya". ucap pak nugra dengan santai.
Dimas membulatkan matanya dan menatap papanya dengan penuh amarah.
"Papa jangan lancang. Ini urusan pribadi Dimas. Papa ga berhak mencampurinya!!!"
"Kalau begitu segera kamu ambil keputusan. Mau kamu yang melakukannya atau papa yang ambil tindakan?"
"Papa keterlaluan. Papa pernah bilang kalau aku punya hak untuk menentukan pilihanku sendiri selain masalah kuliah. Dan ini adalah pilihanku Pa... Dimas sudah memilih wanita yang akan Dimas jadikan pasanganku kelak." Pak tak bergeming sedikitpun dengan gertakan dari Dimas. Wajah nya tetap santai dan elegan. Bahkan tidak ada raut wajah emosi di sana. Pak Nugra tetap tenang dengan gaya duduknya yang khas.
"Kamu benar, tapi itu berlaku nanti. Saat kamu sudah berhasil menyelesaikan tugas kamu. Papa janji, papa ga akan mencampuri urusan asmara kamu. Tapi untuk saat ini, no excuse boy. Kamu pikirkan baik-baik. Papa minta dengan sangat, tolong jangan kecewakan papa dan mama. Kamu satu-satunya harapan kami. Papa dan mama hanya ingin melihat kamu berhasil. Kalau kalian memang di takdirkan berjodoh, papa yakin kalian akan tetap bersatu kelak."
Ucapan papa benar-benar sangat menohok hati dan jiwa Dimas. Ia benar-benar ga menyangka kalau papanya sangat serius dengan masa depannya. Ucapan papanya ga ada yang bercanda. Nadanya yang tegas dan penuh dengan sebuah keharusan membuat jiwa Dimas menjadi linglung. Keputusan sangat berat yang harus ia lakukan. Seperti mimpi buruk di siang hari yang membuat kepalanya terasa sakit seketika.
.
__ADS_1
.
.