
Ujian akhir sudah berlalu dua minggu yang lalu. Kini para siswa sedang dibuat deg degan dengan hasil ujian mereka. Apakah mereka lulus atau tidak. Hari ini kepala sekolah mengumpulkan semua siswa kelas 12 di lapangan tengah sekolah. Semua siswa berkumpul untuk mendengarkan pidato singkat dari kepala sekolah.
Pak Hartanto, nama kepala sekolah Dimas belajar saat ini sudah berdiri di atas podium bersiap-siap untuk menyapa dan memberikan beberapa penjelasan dan sedikit petuah untuk para siswanya yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Wajah-wajah tegang para siswa terlihat jelas tidak sabar akan hasil ujian yang mereka nantikan.
Hari ini rencananya pihak sekolah akan mengumumkan hasil ujian dari para siswanya. Hari sudah merangkak siang. Matahari sudah terasa panas. Pak Hartanto akhirnya memulai pidatonya. Semua siswa mendengarkan dengan seksama kalimat demi kalimat dilontarkan dengan semangat olehnya. Namun semakin lama kalimat yang terlontar terdengar lebih mengharukan. Perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi membuat semua para guru merasa berat untuk kehilangan. Terlebih untuk siswa kelas 12 tahun ini terasa lebih istimewa. Dimana terdapat banyak atlet basket yang sudah berhasil mengharumkan nama sekolah, dan kini pihak sekolah harus melepaskan para atlet tersebut.
"Sebentar lagi kalian akan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Saya secara pribadi mengucapakan banyak terima kasih atas semua prestasi yang sudah di hasilkan terutama untuk para atlet basket sekolah yang sudah mengharumkan nama sekolah ini. Saya mendoakan semoga kalian semua sukses dimana pun kalian berada dan apapun pekerjaan kalian nantinya. Dan dengan bangga saya selaku kepala sekolah menyatakan bahwa semua siswa di sekolah ini dinyatakan LULUS"
Sorakan dan tepuk tangan meriahpun langsung menggelegar. Para siswa menyambut senang kalimat terakhir yang baru saja dilontarkan kepala sekolah.
Kurang lebih 40 menit lamanya pak Hartanto berpidato di atas podium nya. Pak Yudha sang guru olahraga, sudah terlihat membawa beberapa lembar hasil ujian yang akan ia tempel di mading sekolah sebentar lagi.
Sementara di kelas Erina, kelasnya saat ini masih riuh dengan suara-suara anak-anak yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Para guru sebagian besar masih ikut berbaris di lapangan tengah sekolah mengikuti sesi pidato dari kepala sekolah.
Hari ini Erina sedang menjadi bahan olok-olokan dari teman gank nya karna poni barunya. Erina memang sedang mencoba untuk merubah sedikit penampilannya. Bukan rambut panjangnya yang dipotong, tapi hanya poni depannya saja yang ia potong sedikit lebih pendek.
"Ciieeee... Yang punya poni baru. Mirip Dora deh loe Rin" ucap Adel terkikik.
"Iiihh... Jahat deh loe. Masa gue disamain kayak Dora?" Jawab Erina sambil memonyongkan mulutnya.
"Kalau menurut gue, loe cocok juga Rin pake model poni kayak gini". ucap Chika.
"Pastinyaaaa.... Kan gue cewek cantik." jawab Erina sambil tertawa lebar.
"Hmm... Nyesel deh gue." ucap Chika yang langsung dibalas suara tawa lebar dari Erina.
"Ngomong-ngomong kita pulang cepet kan ya hari ini?" tanya Chika
"Loe mau jalan sama Rio ya.. Ngaku deeehh" goda Tasya secara tiba-tiba yang langsung membuat Chika menjadi kikuk.
__ADS_1
"Apaan sih loe Tas. Siapa juga yang mau jalan sama dia" jawab Chika mengelak.
"Hhmmm... Gitu ya. Kalau gitu seru kali ya kalau gue coba deketin Rio. Secara gue kan jomblo nih sekarang, trus Rio juga ganteng, keren, atlet basket, tajir juga, plus udah lulus pula Sekolahnya." cletuk Tasya terang-terangan menggoda Chika. Mata Tasya melirik ke arah Chika sambil menahan tawanya. Wajah Chika langsung berubah muram mendengar ocehan Tasya yang barusan. Erina dan Adel juga ikut tertawa kecil melihat wajah Chika yang terpancing emosi.
"Awas aja ya Tas, kalau loe sampai berani godain Rio. Dia cowok gue!!" ucap Chika cepat dan gemas. Dia lupa tentang komitment awal yang ia buat sendiri dengan Rio.
Tasya tertawa terbahak-bahak saat Chika berkata jujur dengan suara geramnya. Erina dan Adel juga ikut tertawa Geli melihat sikap Chika yang terbawa emosi.
"Helloooo.... Kita semua udah tau keleeess... Makanya kalau punya hubungan itu harus jujur ya Neng... Ngapain juga mesti di umpetin? Giliran mau diambil orang loe sendiri kan yang kebakaran jenggot" ucap Tasya masih dengan tawanya.
"Loe ya Rin yang bocorin rahasia gue?" ucap Chika sambil menatap geram ke arah Erina.
Erina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
"Chikaaa... Kita Ini kan udah lama bersahabat. Kita juga udah kayak sodara bukan? Sebaiknya jangan ada rahasia di antara kita. Apalagi masalah cowok. Biar ga terjadi kesalah pahaman Chik. Untung kita tau kalau loe udah jadian sama Rio. Loe kebayang ga sih kalau seandainya salah satu diantara kita punya rasa ke Rio? Kita bisa jadi berantem kan?" ucap Adel panjang lebar. Kalimat yang dilontarkan Adel membuat Chika terdiam.
"Tenang Chik, gue ga ada rasa kok sama Rio" ucap Erina sambil tersenyum memecahkan keheningan.
Erina ga menjawab ucapan Adel. Satu cubitan kecil ia layangkan ke pipi Adel.
"Aduuhh... Kalian semua Ini kebiasaan deh suka banget nyubit pipi gue" ucap Adel meringis sambil memegangi pipinya.
"Hihihi... Maaf. Abisnya gue gemes sama loe" jawab Erina sambil terkikik.
###########
Siswa kelas 12 sudah dibubarkan dari pertemuan dengan kepala sekolah di lapangan tengah tadi. Kini mereka sedang berharap harap cemas menunggu hasil Ujian yang sedang di tempel di mading sekolah. Kini giliran kelas X dan XI yang masuk kelas. Para guru yang memiliki jadwal, memasuki masing-masing kelas.
Jam pelajaran hari ini tidak lama. Setelah memberikan tugas rumah, para siswa diperbolehkan untuk pulang. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk kembali ke rumah masing masing.
__ADS_1
Keramaian terjadi di lantai dasar tepatnya di mading dekat ruang OSIS, para siswa kelas 12 sangat ramai mengerubungi lembaran lembaran kertas yang tertempel di dinding mading. Semua siswa dinyatakan lulus namun dengan nilai hasil ujian yang berbeda beda. Mereka pada berdesak desakan untuk melihat berapa nilai yang mereka peroleh.
Erina and gank berjalan santai menuruni anak tangga menuju lantai paling bawah. Disana terlihat sekali keramaian dan keriuhan suara-suara suka cita anak kelas 12 atas kelulusan yang sudah mereka raih. Perlahan dengan sedikit ragu, Erina berjalan mendekati keramaian tersebut. Dari kejauhan Erina melihat Dimas yang tertawa gembira bersama teman-temannya karna kelulusannya. Erina memperhatikan gerak gerik Dimas dengan tatapan yang dalam. Senyumannya mengembang lebar di bibirnya. Ia senang sekali melihat wajah Dimas yang bisa tertawa lepas dan bahagia.
Erina mendadak salah tingkah saat matanya beradu tetap dengan mata Dimas. Rio yang bisa dibilang assistant setia Dimas sudah melihat keberadaan Erina yang sedari tadi sedang memperhatikan Dimas secara lekat. Rio menepuk bahu Dimas dan membisikkan informasi tentang keberadaan Erina. Dengan spontan, Dimas langsung mengarahkan pandangannya ke arah Erina berada.
Dimas berlari mendekati Erina. Detak jantung Erina pun mendadak berdetak lebih cepat dan menjadi tak beraturan. Dimas tersenyum lebar menyapa kehadiran Erina disana. Wajah Erina menjadi kikuk dan serba salah. Tatapan Dimas melekat tajam di matanya.
"Erina, aku lulus... " ucap Dimas dengan senyum lebarnya.
Erina menarik paksa bibirnya untuk tersenyum. Wajah malu nya sangat ketara. Ia sangat malu karna ketauan memperhatikan Dimas secara sengaja.
"Se-selamat ya Dim. Kamu udah lulus sekarang" ucap Erina terbata-bata.
"Makasih ya.. Ini semua juga berkat doa kamu" senyuman Dimas yang tulus sangat menyentuh jiwa Erina. Erina hanya mengangguk pelan tak mampu untuk berucap kata. Ia bingung harus berkata apa.
Kaki Erina terasa mulai lemas. Ia tak sanggup jika harus berdekatan sedekat ini dengan Dimas. Ditambah tatapan dan senyuman Dimas yang semakin membuat jantung nya serasa berhenti berdetak. Seandainya hubungan mereka tidak kandas seperti saat ini, Erina ingin sekali berlari dan memeluk Dimas dengan erat. Pelukan apresiasi dari sebuah prestasi. Namun, semua itu tak akan mungkin. Sekat tebal yang telah di bentangkan terasa sulit untuk di terjang begitu saja.
"Aku... Aku duluan ya Dim.. Bye... "
Erina membalikkan tubuhnya sesegera mungkin untuk meninggalkan Dimas. Dimas tertegun dengan sikap aneh Erina yang terasa kaku kepadanya.
"Erinaaaa.... " panggil Dimas cepat.
Erina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dimas sebentar. Erina mengangguk pelan dan menghadiahkan sebuah senyuman kecil untuk Dimas lalu kembali berlalu pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri mematung dengan raut wajah yang bingung.
.
__ADS_1
.
.