Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Hari Pertandingan


__ADS_3

Pertandingan Basket antar sekolah tinggal hitungan hari. Pak Yudha mengumpulkan kembali para panitia yang akan bertugas. Kali ini tidak bersama para atlet. Para atlet berkumpul di ruangan berbeda bersama pelatih mereka.


Pertandingan basket antar sekolah akan di adakan pada hari sabtu besok. Persiapan yang dilakukan dari pihak sekolah sudah mencapai 90%. Mulai dari persiapan lapangan, property, konsumsi dan tempat parkir. Semuanya sudah siap.


Pak Yudha memperjelas kembali akan tugas-tugas nanti di lapangan serta atribut-atribut yang akan di gunakan baik untuk panitia maupun para atlet-atlet.


"Saya rasa semua sudah paham ya dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Jika nanti ada kendala di lapangan, tolong segera kabari saya segera. Okay?" ucap pak Yudha mengakhiri pertemuan hari itu. Semua panitia dengan serentak mengiyakan pertanyaan dari pak Yudha.


"Rin, mau pulang bareng lagi ga?" ucap Kevin menawarkan tumpangan lagi.


"Ga usah Vin. Makasih ya.. Next time bolehlah" jawab Erina sambil tersenyum lebar.


Kevin mencibirkan bibirnya tanda kecewa karna sudah di tolak oleh Erina.


"Hmm... Baiklah. Kalau gitu, gue duluan ya." sambung Kevin yang berlalu ke parkiran motor. Erina mengangguk dan melambaikan tangan perpisahan untuknya.


Erina berjalan santai menuju ke halte bus dan bergegas kembali ke rumah.


##########


Hari pertandingan basket pun tiba. Hari masih pagi, tepatnya pukul 4.00 wib alarm Erina berbunyi. Erina Membuka matanya yang masih terasa berat. Di matikannya alarm itu dengan malas. Tubuhnya masih terasa berat untuk beranjak dari nikmatnya bergumul dengan selimut dan gulingnya. Biasanya sabtu adalah waktu Erina untuk bermalas malasan dengan bangun siang. Kali ini ia harus bangun lebih pagi demi rasa tanggung jawabnya sebagai panitia.


Pukul 5.25 WIB Erina memesan ojek online lewat aplikasi dari ponselnya. Driverpun langsung ia dapatkan. Dilihatnya dari dalam jendela sudah ada sebuah motor yang terparkir di depan pagar rumahnya. Erina segera keluar rumah menghampiri motor tersebut. Mata Erina terbelalak tak percaya bahwa motor yang ia kira dari ojek online orderannya, ternyata tak lain dan tak bukan adalah motor Dimas.


Dimas tersenyum bahagia saat Erina keluar rumah dengan tergesa-gesa dan langsung menghampiri dirinya. Tanpa rasa malu dan dengan rasa percaya tinggi, Dimas langsung menyodorkan helm untuk Erina.


"Selamat pagi... Sudah siap? Yuk... " ucap Dimas santai.

__ADS_1


Erina tak menggubris ajakan Dimas. Erina diam mematung. Tak sepatahpun kata keluar dari mulut Erina. Erina tetap memilih untuk berdiri di tempatnya sambil menunggu driver ojolnya datang. Erina men-chat drivernya menanyakan akan posisinya saat ini. Erina pura-pura menyibukkan diri tanpa memperdulikan Dimas yang sedari tadi sudah memperhatikannya.


Dimas turun dari motornya dan berjalan mendekati Erina.


"Kamu masih ga mau bicara sama aku?" ucap Dimas dengan tatapan yang serius.


Tatapan mata Dimas benar-benar membuat detak jantung Erina berdetak tak beraturan. Erina menarik nafas panjang dan membuang tatapannya ke arah lain. Tak lama berselang, driver ojol yang Erina pesan pun datang. Erina mengabaikan pertanyaan yang Dimas lontarkan barusan. Kaki nya melangkah dengan cepat ke arah driver ojol dan berlalu begitu saja.


Dimas menarik nafas panjang dan mengacak rambutnya dengan kasar. Dimas melajukan kembali motornya sendiri tanpa Erina menuju ke sekolah. Hatinya cukup kacau hari ini. Semoga saja pikirannya bisa fokus dalam menghadapi pertandingan nanti.


#############


Semua panitia pertandingan sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Erina sudah berada di tempatnya di bagian registrasi ulang. Hari semakin siang. Matahari semakin tinggi menampakkan sinarnya. Para peserta dari sekolah lain sudah banyak yang berdatangan. Mereka datang lengkap dengan pelatih dan supporter dari sekolah masing masing. Erina terlihat mulai sibuk.


Dimas and team sudah berada di lapangan. Team Dimas mendapatkan kesempatan bermain pertama melawan team sekolah xxxx. Tepat pukul 8.00 WIB, pertandingan di mulai. Suara gemuruh dan sorakan sudah terdengar. Erina yang sedang bertugas di pintu depan, melihat sosok cewek yang sangat ia kenal.


Chika pun menoleh dan mendekati meja Erina.


"Hai Rin, loe lagi tugas ya?" ucap Chika berbasa basi.


"Iya, kan gue jadi panitia. Ngomong-ngomong loe ngapain ke sini?" tanya Erina heran.


"Gue kesini mau nonton basketlah... Kan gue mau kasih dukungan buat team basket sekolah kita" jawab Chika sambil cengar-cengir.


Erina mencibirkan bibirnya ke arah Chika. Ia tak percaya sepenuhnya dengan apa yang barusan diucapkan temannya itu.


"Hhhmmm... Dasar modus. Bilang aja loe kesini mau liat Rio main kan? Udah ngaku aja. Gue udah tau kok" ucap Erina asal tebak.

__ADS_1


Wajah Chika memerah karna malu. Ia terkejut melihat reaksi Erina yang katanya sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Rio.


"Apaan sih Rin. Gue ga ngerti ah. Ya udah gue masuk dulu ya. Pertandingannya kayaknya udah mulai deh. Byeee... " ucap Chika sambil berlalu masuk ke dalam lapangan.


Seperti biasa team Dimas masih memimpin. Babak pertama menang di angka 26:21.


Saat ini masing masing team sedang istirahat menuju babak ke dua. Coach dari setiap team terlihat sibuk memberikan pengarahan. Erina ingin sekali mencuri waktu untuk menonton permainan Dimas. Namun kakinya terasa berat untuk di langkahkan. Sebenarnya hampir semua peserta sudah datang dan sudah melakukan registrasi. Hanya beberapa peserta saja yang belum datang. Jadi Sebenarnya Erina punya kesempatan untuk menonton. Lagipula di tempat registrasi Erina tidak sendiri. Jadi dia bisa saja bergantian untuk menonton pertandingan. Mata Dimas melihat ke arah penonton untuk mencari sosok yang ia cari. Tapi matanya tak melihat sosok itu.


"Mungkin dia lagi sibuk sama tugasnya. Hmm... Ya sudahlah" batin Dimas.



Babak ke dua sudah di mulai. Sorakan dan tepukan tangan para supporter sudah terdengar riuh kembali. Hati Erina masih menimbang-nimbang untuk datang menonton atau tidak. Akhirnya karna rasa penasaran yang tinggi, Erina memutuskan untuk menonton permainan Dimas dan team.



Brrrraaakkkkk....


Dimas baru saja memasukkan bola ke ring dengan skor bertambah dua point untuk team Dimas. Supporter dari team sekolah bersorak riang kesenangan karna teamnya masih memimpin sementara. Senyum mengembang tersungging di bibir Erina. Tanpa sadar, tangannya ikut bertepuk tangan sebagai apresiasi dirinya untuk keberhasilan Dimas dalam mencetak point. Body Dimas benar benar terlihat sangat atletis. Badan kekar dengan kaki menjulang membuat mata para hawa tak akan berkedip dengan pemandangan itu. Di tambah lagi rambut Dimas yang terlihat acak-acakan membuat dirinya terlihat lebih sexy dan menawan.


Operan demi operan terjadi sangat cepat dan terstruktur. Permainan Dimas and team benar benar sangat menarik untuk di tonton. Teknik kerjasama yang apik membuat team Dimas terlihat solid dalam bermain. Point bertambah lagi untuk team Dimas. Rio berhasil menambah double point. Mata Erina terbelalak saat ia melihat Chika yang sangat antusias memberikan dukungannya untuk Rio tertangkap mata Erina ketika Chika memberikan Kissbye ke arah Rio. Rio pun membalas kissbye Chika dengan hal yang sama. Erina tertawa kecil melihat kejadian unik yang dilakukan temannya itu.


"Jadi selama ini loe sembunyiin hubungan loe sama Rio dari gue ya Chik? Okay. Sampai ketemu besok di kelas ya Chik." ucap Erina dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2