Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Second Kiss


__ADS_3

Drrtt... drrrtttt....


Ponsel Erina bergetar. Matanya masih terasa berat untuk terbuka. Dibiarkannya suara ponselnya sampai berhenti. Tak lama berselang ponsel nya bergetar kembali. Dengan malas Erina meraih ponsel nya dan dengan mata masih terpejam ia menerima telpon masuk tanpa melihat nama si penelpon.


"Halooo.... " suara Erina terdengar berat dan malas.


"Morning Baby... Cepat bangun... Sudah siang" ucap Dimas santai


"Ini siapa ya?" ucap Erina sambil melihat nama penelpon dari layar ponselnya. Dan ternyata tidak ada nama tertera hanya sederet nomor yang tidak dikenal.


"Kalau kamu bangun, kamu akan tau siapa aku"


Tak perlu butuh waktu lama karna Erina sangat kenal dengan suara laki-laki yang saat ini sedang menghubunginya.


"Dimaaasss? Kamu dapet nomor handphone aku dari siapa?" Mata Erina langsung terbuka namun tubuhnya masih dengan posisi berbaring.


"Bukan hal yang sulit buat aku dapetin nomor handphone kamu yang baru Baby..."


Erina menghela nafas malasnya.


"Aku kasih kamu waktu 30 menit buat siap-siap" sambung Dimas lagi.


"Siap-siap? Maksudnya?"


"Bangun dan lihatlah keluar?" perintah Dimas.


"Dimas aku masih ngantuk bangeeettt... Lagipula ini masih terlalu pagi untuk bangun" jawab Erina sambil menggeliat dan memeluk gulingnya.


"Dasar pemalas. Cepat bangun. Kalau kamu masih ga mau bangun, aku akan masuk ke kamarmu dan... " Dimas sengaja tidak meneruskan ucapannya. Nada bicaranya sungguh genit dan nakal.


Erina membulatkan matanya. Ucapan Dimas terdengar nakal dan menantang.


"Wait... "


"Oh shiiittt... Silau banget" batin Erina mengumpat.


Erina memaksa tubuhnya bangun dan membuka tirai jendela kamarnya. Mata Erina terasa silau dengan sinar matahari yang sudah tajam memancarkan cahayanya.


Ternyata hari sudah mulai siang. Dimas tersenyum manis sambil melambaikan tangannya ke arah Erina yang sedang menatap nya dari balik jendela. Sesaat Erina berdiri mematung antara percaya dan tidak saat matanya sudah melihat dengan jelas sosok Dimas yang sudah berada di depan rumahnya.


"Cepat siap-siap, aku mau ajak kamu ke suatu tempat" ucap Dimas menyuruh.


" Kemana?"


"Waktumu tinggal 25 menit lagi Baby... Kalau kamu ga cepat, aku yang akan membantumu membersihkan dirimu" ucap Dimas santai menggoda Erina.

__ADS_1


Ucapan nakal Dimas berhasil menggetarkan jiwa Erina. Seperti anak kecil yang disuruh mandi ibunya, Erina langsung bergerak cepat untuk patuh kepada perintah itu. Erina membalikkan tubuhnya dan langsung melihat jam dindingnya. Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, namun sinar matahari sudah bersinar terik. Erina langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Dimas.


#############


Dimas mengambil sebuah goodybag dari dalam mobilnya lalu berjalan santai memasuki pintu pagar rumah Erina. Dilihatnya dengan seksama kondisi rumah sang pujaan hati yang sudah lama tak pernah ia singgahi. Tak ada perubahan yang mencolok. Semua masih terlihat sama.


Dimas mengetuk pintu rumah Erina. Seorang wanita paruh baya membuka pintu untuknya. Ekspresi syok dan takjub adalah respon pertama yang ia dapati.


"Nak Dimaaaasss????" ucap ibu Astri sangat terkejut. Ia tak menyangka bakal kedatangan tamu tak terduga pagi itu.


"Selamat pagi tante... " jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Pagiiii... Kamu kapan nyampe Jakarta nya? Tante pangling banget loh sama kamu.. Tambah ganteng... " ucap Ibu Astri yang membuat wajah Dimas sedikit merona.


"Tante bisa aja. Saya bisa terbang loh dibilang ganteng" jawab Dimas sambil terkikik.


"Oh ya Tante, ini sedikit oleh-oleh buat tante"


"Waaaahhh... Apa ini?? Repot-repot. Terima kasih ya... Eh, ngomong-ngomong ini oleh-oleh cuma buat tante aja?"


Dimas mengangguk yakin sambil tersenyum.


"Buat Erina sudah saya siapkan khusus tant"


Ibu Astri tersenyum geli melihat wajah Dimas yang berubah menjadi kikuk.


Dimas duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Senyuman tersungging dibibirnya saat ia melihat ada satu foto baru yang terpasang di dinding. Foto Erina dan mamanya yang saling berpelukan dengan senyuman lebar di bibirnya. Foto yang menyiratkan rona bahagia yang penuh kasih sayang.


Dimas dan Ibu Astri asik berbincang-bincang di ruang tamu. Sementara di kamar, Erina tengah sibuk bersiap-siap merapihkan baju dan make up nya secara terburu-buru. Erina menggunakan blosue casual warna biru langit garis hitam yang disenadakan dengan celana jeans warna biru dongker. Make up nya juga sangat soft. Hanya alis mata dan bibir saja yang ia poles. Setelah menyemprotkan parfum, Erina meraih tas dan bergegas keluar kamar.


Setengah berlari Erina keluar kamar dan mencari sang mama untuk berpamitan. Dibukanya kamar sang mama, ternyata kosong. Erina berjalan menuju ruang makan dan dapur namun ia tak bisa menemui mamanya. Sayup-sayup telinganya mendengar suara tawa renyah dari ruang tamu. Erina berjalan perlahan menuju sumber suara. Ternyata di sana sudah ada Dimas dan mamanya sedang asik berbincang-bincang sambil bersenda gurau.


Dimas mengalihkan pandangannya ke arah Erina saat matanya melihat kehadirannya. Sedangkan Erina berdiri terpaku seolah-olah bingung akan bersikap bagaimana.


"Tante, saya ijin ajak Erina keluar sebentar boleh ya.. " ucap Dimas santun.


"Boleh doong... " jawab Ibu Astri cepat.


Erina terlihat canggung dengan sikap mamanya yang seolah-olah langsung memberikan lampu hijau buat Dimas. Sikap mamanya yang sangat ramah kepada Dimas membuat dirinya sedikit risih. Karna selama ini mama nya hanya tau satu sisi baiknya saja dari diri Dimas. Sedangkan sisi lain memang sengaja Erina tutupi. Jadi sebenarnya wajar-wajar saja jika mamanya bersikap demikian.


"Erina pamit dulu ya Ma" ucap Erina sambil mencium pipi kanan kiri mamanya yang langsung di angguki oleh sang mama.


"Kalian hati-hati ya. Nak Dimas, titip Erina ya.."


"Mama niiihh... Emangnya Erina barang dititipin" bisik Erina sambil memanyunkan mulutnya. Mamanya hanya tertawa geli mendengar penolakan dari putri nya itu.

__ADS_1


###############


Dimas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina. Ekspresi santai dan sumringah Dimas terpancar jelas di wajahnya. Sebuah rasa kepuasan yang mutlak ia rasakan kini. Rasa bahagia Dimas bertolak belakang dengan Erina. Wajah kesalnya menyiratkan ketidak sukaan atas sikap Dimas yang sudah memaksakan kehendaknya sesuka hatinya.


"Sebenarnya kamu mau bawa aku kemana?" tanya Erina ditengah perjalanan.


Dimas tersenyum mendengar pertanyaan Erina.


"Nanti kamu akan tau kalau kita sudah sampai"


Erina mendengus kesal. Lagi-lagi Dimas membuat dirinya penasaran.


"Oia, kamu sudah sarapan?" tanya Dimas santai.


Erina menatap kesal ke arah Dimas. Bisa bisanya dia bertanya seperti itu. Kapan waktunya dirinya bisa sarapan. Sedangkan waktu yang ia berikan buat siap-siap hanya 30 menit.


"Menurut kamu?" jawabnya ketus.


Dimas sedikit terkejut dengan ucapan Erina. Dan langsung tersadar dengan apa yang ia tanya. Dimas tertawa kecil menyadari kebodohannya.


"Sorry... Sorry aku lupa. Ya sudah kita sarapan dulu ya"


Dimas melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan padang yang cukup terkenal. Mereka menikmati makan pagi mereka disana. Selesai breakfast, Dimas melanjutkan perjalanannya.


Erina menyenderkan tubuhnya di jok mobil Dimas yang sangat nyaman. Kondisi perut kenyang dan hawa adem serta wangi dari mobil Dimas membuat mata Erina ingin melanjutkan kegiatan tidurnya yang sempat tertunda tadi.


Di dalam mobil, Dimas memutar musik slow rock sambil melontarkan beberapa pertanyaan sebagai bahan obrolan. Sesaat Erina dan Dimas saling ngobrol. Banyak pertanyaan dari Dimas. Ia sangat ingin tau apa saja yang selama ini sudah terjadi dan di alami olehnya. Sudah beberapa kali Erina menguap. Mata nya benar benar terasa berat. Rasa kantuknya sangat sulit ia tolak. Erina masih mencoba untuk masih menanggapi obrolannya dengan Dimas. Sampai akhirnya ia menyerah dan tanpa sadar matanya sudah terpejam.


Erina tertidur pulas di dalam mobil Dimas. Terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Dimas menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil melihat kelakuan Erina. Dimas mengusap lembut kepala Erina dan membiarkannya tertidur.


#############


Mobil Dimas sudah terparkir di area parkiran. Dilihatnya ke sebelah masih tampak nyata bahwa Erina masih tertidur. Dimas ga tega untuk membangunkannya. Dimas mendekatkan wajahnya memandangi dengan puas wajah tidur wanita yang ia cintai. Saat tidur, Erina terlihat polos seperti bayi. Kulit wajahnya yang putih dan mulus sangat persis seperti kulit bayi yang menggemaskan.


Dimas mendekatkan lagi wajahnya lebih dekat ke wajah Erina. Dinikmati aroma dengkuran halus Erina. Semakin lama Dimas menatap semakin ia gemas. Diciumnya kening Erina dengan lembut. Erina merespon nya dengan menggeliat. Lekuk tubuh Erina saat menggeliat membuat tubuh Dimas serasa disengat listrik. Hasrat ingin memiliki menggoda jiwa dan raganya. Dimas mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Erina. Erina masih saja terlelap dan bahkan dengkurnya semakin keras. Dimas menyolek-nyolek hidung Erina dengan jari telunjuknya dengan tujuan supaya Erina terbangun. Namun lagi lagi Erina hanya menggeliat dan merubah posisi wajahnya ke arah yang berbeda.


Dimas memposisikan kembali kepala Erina seperti semula menghadap ke arahnya. Dimas kembali tersenyum melihat gaya Erina tertidur. Beberapa menit Dimas masih menatapi wajah manis dan lucu wanita nya itu. Tiba-tiba mulut Erina ternganga membuat Dimas makin berhasrat kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, Dimas mendekatkan lagi wajahnya dan melabuhkan bibirnya ke bibir Erina. Dimas melumat bibir Erina dengan mesra. Erina menggeliat sambil mendesah kecil. Entah apakah ia menikmatinya atau karna engap karna sulit bernafas dari adanya himpitan wajah Dimas. Dimas semakin memperdalam ciumannya.


"Oh shhiittt... " batin Dimas mengumpat. Ciumannya membuat bagian bawahnya menjadi terasa penuh dan sesak.


Mata Erina terbuka saat ia merasakan ada sesuatu yang memenuhi wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat ia sadar kalau Dimas sudah berbuat asusila kepadanya. Bibir Dimas sudah menari bebas di atas bibirnya. Erina dengan refleks cepatnya langsung mendorong tubuh Dimas menjauh darinya.


"Kamuuuuu.... Uuuuuuggggghhhhh.... " gertak Erina dengan geram. Wajahnya memerah karna marah dan kesal. Rasa marah dan kesal benar benar merasuki jiwanya. Sebenarnya ia suka Dimas menciumnya. Tapi ia ga suka dengan cara Dimas yang mengambil kesempatan disaat dirinya lengah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2