
"PAPA PUAS SEKARANG!" ucap Dimas dengan sangat geram. Wajah permusuhan yang ditampilkan membuat mata mamanya terbelalak ga percaya dengan sikap yang ditunjukkan anak semata wayangnya itu.
"Dimas, jaga sikap kamu!!" gertak mamanya.
"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba bersikap aneh kayak gini? Ada apa sih Pap?" ucap mamanya lagi. Mata elangnya menatap wajah suami menuntut penjelasan dimana si suami terlihat lebih datar dan santai menanggapi sikap anak lelakinya.
"Mama tanya aja sama papa" jawab Dimas singkat dan melengos pergi meninggalkan orangtuanya yang masih tertegun dengan kepergiannya.
Pak Nugra hanya menarik nafas panjangnya sambil menutup layar ponselnya. Di bukanya kacamata yang sedari tadi menempel di matanya.
"Sebenarnya ini ada apa sih Pap? Kenapa Dimas tiba-tiba bersikap ga sopan begitu sama kamu? Setau mama Dimas itu anak yang baik, yang sopan sama orangtuanya" sambungnya lagi dengan wajah yang dipenuhi guratan kepanikan.
"Mama ga usah kuatir. Dimas baik-baik saja." jawab pak Nugra santai.
"Baik-Baik saja? Papa sadar ga sih sama yang barusan itu? Itu bukan Dimas yang mama kenal. Sekarang gini deh pap, tolong papa jelasin sebenarnya ada apa antara kalian berdua? Mama ga mau ada hubungan yang tidak baik antara papa sama anak"
Pak Nugra sekali lagi memandang wajah istrinya dengan lekat dan tenang. Senyumnya mengembang saat wajah istrinya terlihat panik dan menuntut.
"Pap, aku nanya serius. Tolong di jawab. Ada apa?"
"Ma, anak kita itu sudah besar. Biarkan dia belajar arti hidup yang sebenarnya. Biarkan dia belajar untuk bisa lebih memprioritaskan sesuatu yang lebih penting"
"Maksud papa?"
"Biarkan dia merasakan dan melewati kekesalannya itu. Suatu hari Dimas akan menyadari akan arti emosi nya itu"
"Aduh mama makin ga ngerti deh sama maksud papa. Dimas emosi? Emosi kenapa?"
Pak Nugra merubah posisi duduknya dengan nyandarkan punggungnya ke sofa sambil menengadahkan wajahnya ke atas langit-langit.
"Papa minta Dimas buat mutusin hubungannya dengan pacarnya" ucap si Papa santai sambil memejamkan matanya.
Ibu Devita membulatkan matanya ga percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
__ADS_1
"Apa? Papa kok bisa jahat banget sama anak sendiri?"
Pak Nugra menatap wajah istrinya dengan lembut dan tersenyum simpul.
"Sayang, ketahuilah. Papa sangat sayang dan sangat peduli dengan anak kita. Dimas adalah anak kita satu-satunya, calon penerus perusahaan kita. Papa harus mendidik dia dari sekarang. Kekasih yang sebenarnya adalah nanti di saat Dimas sudah berhasil berdiri sendiri pada kekuatan kedua kakinya. Pacar untuk sekarang hanya akan mengganggu pikirannya untuk melangkah jauh ke depan. Dan papa ga akan membiarkan itu terjadi. Biarkan sekarang dia menangisi kesedihannya. Tapi nanti, dia akan mengembangkan senyum lebarnya kepada semua orang dan kepada wanita pilihannya".
Ibu Devita hanya terdiam mendengar penjelasan dari sang suami. Kata-kata suaminya memang benar adanya. Namun naluri keibuannya tetap memberontak akan sikap suaminya. Rasa kuatir akan hal-hal buruk yang akan di lakukan Dimas secara otomatis langsung terbersit di kepalanya.
"Kalau Dimas sampai berbuat nekat atau yang aneh-aneh gimana pap? Mama jadi kuatir" ucap mama Dimas cemas.
"Mama ga usah khawatir, Papa sudah mengerahkan anak buah papa buat mengawasi Dimas."
############
Pagi ini Dimas pergi ke sekolah sendiri dengan motornya. Ia ga memperdulikan Wulan untuk pergi bareng dengannya. Wulan sadar kalau suasana hati Dimas saat ini sedang tidak baik. Wulan memilih berangkat di antar pak Tatang dan membiarkan Dimas pergi sendiri dengan motornya.
Dimas sudah sampai di sekolah dan memarkirkan motornya di tempat biasa. Hari ini ga ada semangat sama sekali untuknya. Dimas berjalan pelan menuju ke kelas. Wajahnya muram dan ga ada gairah. Seperjalanannya ke kelas tak sedikit dari para cewek-cewek yang tersenyum dan menyapa dirinya. Dimas hanya membalas sapaan itu dengan senyum simpulnya yang terkesan dipaksakan.
Di tangga sekolah, Dimas bertemu dengan seseorang yang sangat ia kenali. Erina. Rasa canggung merayapi ke dua insan yang sedang patah hati. Erina hanya berhenti sesaat, menatap sekilas wajah Dimas lalu larut dalam diamnya. Sedangkan Dimas juga terdiam terbawa suasana canggungnya. Lidahnya ingin sekali menyebut nama gadis pujaannya itu, tapi entah kenapa tiba-tiba lidahnya seolah tak mampu untuk berucap.
Dimas menarik nafasnya dalam-dalam, hatinya terasa sangat nyeri. Tatapan mata Erina seolah mengisyaratkan kalau ia mulai berusaha menjauh darinya.
Sementara itu, Erina setengah berlari meninggalkan Dimas yang masih terpaku di bawah tadi dan langsung masuk ke dalam toilet. Erina ga mampu menahannya, dan Air matanya mengalir lagi. Tatapan mata Dimas sungguh membuat hatinya tersiksa. Tersiksa karna rasa cintanya yang dalam, dan harus pupus tumbang seketika tanpa adanya badai yang mendera.
Di basuhnya kembali wajahnya dengan air dingin wastafel sekolah yang membuat make up tipisnya memudar. Dibiarkannya saja wajahnya seperti itu. Erina ga bernafsu untuk merias dirinya kembali agar terlihat fresh seperti biasa. Hatinya sedang mendung. Semendung wajahnya sekarang.
"Rin, loe sakit?" ucap Chika saat Erina duduk tepat di sebelahnya.
Erina hanya menjawab dengan gelengan lemah kepalanya.
"Beneran? Loe baik-baik aja?" tanya Chika lagi cemas.
Lagi-lagi Erina ga menjawab. Hanya anggukan pelan sebagai jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Tumben Rin, loe kacau banget begini. Mana ga make up lagi. Kayak orang baru bangun tidur deh loe" ucap Chika sedikit julit.
Erina hanya meresponnya dengan senyuman kecilnya saja.
"ERINA... NGOMONG DONG... Gue udah kayak lagi ngomong sama patung kalau begini. Huft.. "Chika mulai sedikit kesel dengan sikap Erina.
"Chikaaa... Gue baik-baik aja. Jelas?" jawab Erina meyakinkan.
Chika mendekatkan wajahnya ke wajah Erina untuk memastikan kejujuran dari ucapan temannya itu. Erina tertawa kecil karna merasa risih dengan kelakuan Chika yang terasa aneh baginya.
" Loe apa-apaan sih Chik. Geli deh gue ngeliatnya" ucap Erina masih dengan kikikannya.
"Nah gitu dong ketawa. Abisnya dari tadi gue perhatiin muka loe di lipet mulu dah kayak amplop kondangan" ucap Chika sambil tertawa ngakak. Erina hanya memandang malas kepadanya.
"Ada yang lucu apaan nih? Ketawa ga ngajak-ngajak, huft... " tanya Adel tiba-tiba mengejutkan.
"Apaan sih loe Del, nyamber aja kayak kabel listrik" jawab Chika sambil mencubit pipi Adel.
"Iihh... Chika sakiiiittt.... Kebiasan deh sukanya nyubit-nyubit." ucapnya mengaduh sambil memegangi pipinya.
"Tasya kok tumben ya belum keliatan. Dah hampir jam masuk nih" ucap Chika kembali mengalihkan pembicaraan.
"Hayooo... Ngomongin gue yaaa... " jawab Tasya yang tiba-tiba muncul di hadapan para teman-temannya.
"Tumben siang Tas?" tanya Erina berbasa-basi.
"Iya, gue kesiangan. Tidur enak banget. Mager buat bangun. Gue. kirain masih jam 5 ga taunya udah jam 6 lewat." jawabnya sambil terkekeh.
Erina and gank hanya tersenyum geli mendengar penjelasan dari Tasya yang terdengar klasik tapi lucu karna muka polos Tasya memerah saat ia mengakui keteledorannya itu.
.
.
__ADS_1
.