
Sore ini Dimas sedang asik memberi makan ikan Koi di kolam depan rumahnya. Kolam ikan yang ga terlalu besar tapi cukup memberikan nuansa damai dan asri bagi jiwa yang sedang kacau. Gemericik air sebagai sirkulasi udara membuat kolam ini bisa membuat siapa saja yang berada disitu menjadi nyaman. Keindahan warna dan pola ikan-ikan Koi sungguh membuat decak kagum kepada sang pencipta yang sudah dengan sempurna menciptakan makhluk hidup sejenis ikan yang sangat cantik untuk di pandang.
Cukup lama Dimas menyendiri dengan keasikannya itu. Hati dan jiwanya sejenak bisa tenang saat ia bermain dengan ikan-ikan peliharaannya. Senyumnya mengembang lagi saat ikan-ikannya mendekat padanya dan saling berebut makanan dengan teman lainnya.
"Serius banget kak" ucap Wulan mengejutkan Dimas.
Dimas menolehkan kepala ke sumber suara yang menyapanya.
"Wulan?"
Wulan tersenyum manja sambil berjalan mendekati Dimas. Wulan duduk santai di pinggir kolam sambil memainkan tangannya ke dalam air.
"Ini kakak yang pelihara?" tanya Wulan berbasa-basi.
"Bukan. Bokap. Gue awalnya ga suka main sama ikan. Tapi waktu gue kecil, bokap ngenalin gue sama berbagai ikan hias. Lalu bokap sengaja bikin ini kolam buat gue bisa main kapan aja kalau lagi bosen. Lama-lama gue suka sama ikan jenis ini. Ini ikan bokap yang pilih. Kata bokap, ini ikan hoki. Entahlah.Oia ikan-ikan ini udah ada di kolam dari masih kecil loo... Sampai sekarang udah gede begini" jelas Dimas dengan antusias.
"Waaaahh... Seru banget ya Kak. Warna ikannya juga bagus-bagus."
"Yups, coba deh kamu perhatiin. Setiap ikan memiliki corak dan motif yang berbeda. Walaupun warna ada yang sama, orange merah tapi motif nya tetep beda" jelas Dimas sambil tersenyum puas.
Wulan menipiskan bibirnya sambil mengangguk-angguk. Wulan mengembangkan senyumnya saat melihat senyuman Dimas yang mengembang. Wajah Dimas yang tirus dengan rambut lurus sedikit panjang dan kulit wajah yang mulus tanpa jerawat membuat Senyumnya terlihat sempurna di mata Wulan.
"Aku seneng deh bisa liat Kak Dimas senyum lagi seperti ini" ucap Wulan masih memperhatikan Dimas dengan senyuman di bibirnya.
Dimas melihat ke arah Wulan sekilas lalu tersenyum lagi.
"Aku perhatiin akhir-akhir ini kakak sering murung ya. Kakak juga jarang jalan bareng sama Erina. Ga kayak dulu."
Dimas cukup terkejut dengan ucapan Wulan yang terkesan menelisik urusan pribadinya. Dimas hanya menipiskan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Wulan untuknya. Dimas kembali asik dengan ikan-ikan nya. Wulan sedikit canggung dengan sikap cuek yang diperlihatkan oleh Dimas terhadapnya.
"Kak Dimas, apakah... Apakah kakak udah putus sama Erina?" tanya Wulan yang sontak membuat Dimas menghentikan kegiatannya dan lalu menolehkan kepalanya ke arah Wulan.
"Kenapa loe pengen tau urusan gue?" jawab Dimas dingin.
Wulan menarik nafas panjang menanggapi sikap dingin Dimas kepadanya.
"Kalau kak Dimas udah ga ada hubungan lagi sama Erina, aku seneng" ucap Wulan lagi jujur.
Dimas mengernyitkan dahinya lalu menatap tajam ke arah Wulan. Tatapan yang penuh tuntutan akan penjelasan akan arti dan maksud dari perkataannya. Ucapan Wulan sungguh membuat hatinya tak senang.
"Maksud loe apa?" tanya Dimas singkat dengan nada dingin dan sinis.
"Aku suka sama kakak. Dari pertama aku ketemu kakak, aku udah suka. Aku bisa menggantikan posisi Erina dengan baik di hati kakak" ucap Wulan dengan sangat sungguh-sungguh. Matanya memancarkan rona keseriusan.
__ADS_1
"Tapi gue ga suka sama loe, sorry..." jawab Dimas cepat. Dimas sungguh ga perduli dengan perkataannya. Dia juga ga perduli jika ucapannya yang barusan akan membuat Wulan sakit hati.
"Kita bisa mencobanya dulu" ucap Wulan setengah memaksa.
"Sorry gue lagi ga mood buat ngebicarain soal beginian" jawab Dimas sambil melangkahkan kaki nya meninggalkan Wulan yang masih terpaku di samping kolam.
"Kak Dimas aku serius"
"Gue 2x lebih serius" jawab Dimas tanpa ekspresi dan langsung meninggalkan Wulan sendiri di kolam.
Wulan menggertakkan giginya menahan kekesalannya karna sudah di tolak terang-terangan oleh Dimas.
###########
Chika sudah memberitahukan kepada Tasya dan Adel perihal putusnya hubungan Erina dengan Dimas. Reaksi mereka sama. Marah. Mereka sangat kesal dengan sikap Dimas yang lemah. sebagai teman yang baik, malam ini mereka berniat mengajak Erina ke salah satu mall yang ada di Jakarta untuk menghabiskan waktu malam minggu mereka bersama. Mereka ingin menghibur hati Erina yang sedang tertutup kabut hitam.
Tepat pukul 18.30wib mobil Tasya sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Erina langsung berpamitan dengan mamanya saat terdengar klakson mobil Tasya berbunyi.
"Hai Girls.... " sapa Erina sambil melempar senyuman.
"Hai Baby. Cantik bener hari ini" goda Chika kepada Erina
"Always dooong... " jawab Erina santai sambil menutup pintu mobil.
Tasya hanya tersenyum melihat kelakuan para teman-temannya. Tasya sengaja memutar musik R&B yang cukup nge-bit untuk menciptakan suasana ceria di dalam mobilnya. Chika dan Adel ikut bernyanyi layaknya orang gila yang bernyanyi setengah teriak sampai memekakkan telinga. Erina tertawa terbahak-bahak melihat kegilaan yang diperlihatkan teman-temannya itu. Wajah Erina terlihat ceria malam ini.
Tapi seperti biasa sebelum nonton, Adel merengek minta makan dulu. Karna memang sudah mendekati jam makan malam, akhir nya mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum nonton.
Mereka memilih tempat makan di area Food Court yang menyajikan berbagai menu makanan yang bisa bebas dipilih. Setelah memesan makanan yang di sukai, mereka memakan makanan mereka dengan suka cita diselingi candaan dan gurauan.
Erina sudah memesan 4 tiket film melalui aplikasi Bioskop dari ponselnya yang memudahkan para consumer memesan dan memilih kursi yang akan dibelinya.
Film horor yang akan di tontonnya sebentar lagi akan tayang. Erina and gank bergegas menghabiskan makanan mereka dan lalu bergerak menuju lift untuk menuju ke lantai paling atas tempat bioskop berada.
Hampir 2 jam lamanya mereka menikmati tontonan film horor terbaru yang ditayangkan di bioskop itu. Chika dan Tasya terlihat sangat menikmati film horor tersebut. Tapi berbeda dengan Adel dan Erina yang ga begitu suka dengan film horor. Raut wajahnya terlihat kusut karna takut. Chika dan Tasya puas banget nggodain Erina dan Adel di dalam saat film berlangsung. Adel berteriak histeris saat hantu pada film itu muncul. Sedangkan Erina dari awal sampai akhir film selesai tangan nya ga pernah jauh-jauh dari wajahnya. Tawa ngakak Chika dan Tasya terasa lepas dan puas saat mereka berhasil membuat Adel atau Erina berteriak karena ketakutan.
"Besok lagi gue ga mau ah nonton film horor. Gila, jantung gue kayak mau copot tauuuu... " ucap Adel sambil memoyongkan mulutnya.
"Gue juga. Parah, itu setannya serem banget" sambung Erina.
"Ah kalian cemen semua. Cuma film horor begitu aja udah nyerah" jawab Tasya santai.
"Iihh... Tasya, Ntar malem kalau gue ga bisa tidur gimana ini? Itu setan masih terbayang-bayang di mata gue lagi, huuufftt... " gerutu Adel lagi.
Tasya dan Chika lagi-lagi terbahak-bahak puas melihat reaksi Adel yang masih gelisah.
__ADS_1
############
Seperjalanan ke parkiran mobil, tiba-tiba Tasya menghentikan langkahnya sambil melototkan matanya. Matanya melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal.
"Ferry" ucap Tasya lirih.
Ferry adalah cowok Tasya yang sudah ia pacari selama hampir 1 tahun lamanya. Ia ga menyangka kalau malam ini ia harus melihat sebuah penghianatan dari kekasih yang selama ini ia percaya. Tasya berjalan lebih cepat mengejar langkah Ferry yang sedang asik merangkul pinggang seorang cewek dengan mesra.
Tasya berhasil menghadang langkah Ferry. Betapa terkejutnya Ferry saat ia melihat ada cewek yang sangat ia kenal menghadang langkahnya dengan raut wajah membunuh.
"Tasya... " ucap Ferry panik.
"Jadi begini kelakuan loe di belakang gue, hah?" ucap Tasya setengah berteriak.
"Tasya tenang dulu. Aku bisa jelasin" ucap Ferry membela diri.
"APA LAGI YANG MAU LOE JELASIN???
LOE PIKIR GUE CEWEK BEGO YANG BISA LOE KADALIN??"
"Sayang, siapa sih dia? Kayak preman" ucap teman cewek Ferry dengan sinis.
"Loe bilang gue preman? Loe sendiri apa? Ngacaaaa!!!!!" jawab Tasya yang emosinya mulai meninggi. Erina memegangi lengan Tasya sambil mengelus-elus pundaknya supaya Tasya menurunkan emosinya.
"Tasya tenang Tas." ucap Erina berusaha membuat Tasya ga melakukan hal yang nekat.
"Tasya, dengerin aku dulu" ucap Ferry mencoba meyakinkan Tasya sambil mencoba merengkuh tangan Tasya.
Tasya langsung mengibaskan tangan Ferry sebelum ia berhasil menyentuh tangannya.
"MULAI DETIK INI JANGAN PERNAH LAGI LOE GANGGU HIDUP GUE. GUE JIJIK SAMA LOE. DASAR PLAYBOY KALENG-KALENG" ucap Tasya dengan nada mengancam sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Ferry yang ternganga bingung dan teman wanitanya yang tersenyum sinis.
Tiba-tiba Tasya menghentikan langkahnya lalu kembali lagi ke arah Ferry,
" MULAI DETIK INI KITA PUTUS!!!! "
Tasya berjalan cepat meninggalkan Ferry dan teman-temannya menuju ke mobilnya. Erina, Chika dan Adel mengekori Tasya dan kembali ke mobilnya. Tasya membanting pintu mobilnya dengan keras. Tangisannya pecah di depan stirnya. Air mata Erina ikutan mengalir saat ia melihat Tasya menangis tersedu-sedu. Hati Tasya pasti hancur lebur seperti hatinya kemarin.
"Tasya, loe yang sabar ya... Ambil positifnya aja ya. Mungkin Tuhan sayang banget sama loe. Tuhan tunjukin kebenaran di mata loe. Loe beruntung bisa tau busuknya Ferry di awal sebelum loe semakin jauh sama dia" ucap Chika mencoba menenangkan sahabatnya yang masih larut dengan tangisannya.
"Tas, sorry banget nih. Kayaknya loe lebih baik geser ke belakang ya. Biar gue aja yang nyetir" ucap Chika lagi menawarkan diri untuk melajukan mobil Tasya.
Tasya ga menjawab. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban darinya.
.
__ADS_1
.
.