Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Kejutan Pahit


__ADS_3

Erina termangu dalam duduknya. Ia masih berpikir keras tentang hadiah apa yang akan diminta oleh Dimas.


"Kenapa tiba-tiba Dimas jadi minta hadiah sama gue? Urusannya sama gue apa? Kan ini pertandingan antar sekolah. Kok jadi gue yang kena imbasnya?" batin Erina bertanya-tanya.


"Erinaaaa..." suara Chika mengagetkan dan membuyarkan lamunan Erina.


"Loe ngelamunin apaan sih? Serius banget?" sambungnya lagi.


"Ah, enggak kok. Siapa juga yang ngelamun" jawab Erina menutupi kebohongannya.


"Oia, loe kemana aja? Dari tadi gue nyariin loe kok ga ketemu?" tanya Erina curiga.


"Gue ga kemana mana. Gue ada di lapangan. Kan gue nonton pertandingan. Seru tau... Loe ga mau nonton Rin? Dimas keren banget loh mainnya. "


Erina mencibirkan bibirnya sambil tertawa kecil.


"Dimas apa Rio yang keren mainnya?" ucap Erina ngeledek.


Wajah Chika seketika memerah malu.


"Loe jujur deh sama gue, loe ada hubungan special sama Rio ya? Jawab jujur, jangan bohong"


"Apaan sih Rin. Ga ada. Gue biasa biasa aja kok sama Rio"


"Beneeerrr?? Ini doa loohh... Kalau Rio nanti di gebet sama orang lain loe jangan nangis-nangis di depan gue yaaa... " ucap Erina sambil terkikik.


"Iiihh... Erina jahat deh loe. Amit amit deh"


"Jadi bener ya? Sejak kapan? Kok diem diem aja sih?" tanya Erina menelisik.


"Kita ke lapangan yuk. Bentar lagi pertandingan final. Loe pasti mau kasih semangat buat Dimas dong...?" jawab Chika mengalihkan pembicaraan.


Raut wajah Erina seketika berubah datar tanpa ekspresi. Tubuhnya terasa kaku dan kelu mendengar nama Dimas disebut.


"Rin, balik yuk" Kevin tiba-tiba datang dan mengagetkan Erina yang terpaku dalam diamnya.


"Hah, balik?" jawab Erina kikuk.


"Iya, balik. Tugas loe udah selesai kan. Tugas gue juga dah kelar. Mau ngapain lagi? Mendung nih. Mumpung belum ujan"

__ADS_1


"Gue.. Gue mau nonton final dulu Vin. Mang loe ga mau dukung team sekolah kita?"


Kevin terkekeh mendengar jawaban Erina.


"Ga perlu kita dukung, team basket sekolah kita udah pasti menang. Percaya deh sama gue. Team basket kita kan orang hebat-hebat semua. Mendingan kita pulang. Bisa istirahat lebih awal. Lagian mang loe ga capek seharian berada disini?"


"Ini nih ciri-ciri orang yang ga punya rasa solidaritas. Udah tau team sekolah masuk final, harusnya kita dukung bukan ditinggal kabur." ucap Chika gemas ga terima dengan perkataan Kevin.


"Ayo Rin, kita ke lapangan. Loe harus nonton sama gue" sambung Chika lagi seraya menarik tangan Erina dan langsung meninggalkan Kevin.


Kevin terlihat kesal dengan sikap Chika. Rencana untuk mengajak Erina pulang bareng menjadi gagal karena dirinya.


############


Pertandingan final hampir di mulai. Ke dua team sudah berada di dalam lapangan dan menempati posisinya. Kapten team melakukan suite choice untuk menentukan siapa yang akan memulai menguasai bola. Dan pertandingan pun dimulai.


Dimas mulai melakukan dribbling dan mencoba berlari ke arah ring lawan. Lawan team Dimas pada pertandingan final ini sangat alot dan gesit dalam menangkap bola. Gaya passing dan catching dalam melempar dan menangkap bola mereka sangat gesit. Teknik screen team lawan dalam upaya membebaskan teman satu timnya dari penjagaan tim lawan lainnya sangat terjaga. Mereka benar benar sangat terlatih. Ke dua team terlihat sama kuat.


Shooting bola melayang tinggi ke arah ring Dimas yang dilayangkan team lawan benar benar membuat jantung para supporter serasa berhenti sejenak. Karna kalau bola berhasil masuk, maka triple point akan langsung tercetak.


Tembakan tinggi dari lawan nyaris memasuki ring Dimas. Bola memantul di dinding ring yang membuat bola kembali jatuh bebas ke bawah. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Dimas. Dimas langsung melakukan rebound dan melempar bola kepada Rio. Bola lemparan Dimas tak sempurna di terima Rio. Nyaris lepas, namun Rio berhasil menangkap bola dan menguasai medan pertandingan lalu membuat gerakan pivot dimana ia menyelamatkan bolanya dengan gaya memutar dimana kaki sebagai porosnya tetap diam. Rio berlari tiga langkah sambil men drible bola dan lalu brrrrraaaakkkk.....


Tanpa sadar Chika berteriak kegirangan saat melihat kekasihnya berhasil mencetak point.


"Rioooo... I love youuuu.." teriak Chika dengan semangat.


Erina mendongak menoleh ke arah Chika tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Senyumnya mengembang dengan suara tawa kecil di bibirnya. Erina menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli melihat sikap Chika yang terlihat lebay dan gemas. Erina membiarkan gelora Chika yang sedang menggebu. Ia tak ingin menegurnya yang bisa membuat suasana hati temannya menjadi rusak.


Pertandingan final kali ini sangat menegangkan. masing-masing team bertahan sama kuat untuk mencetak point dan mempertahankan bola lawan supaya jangan sampai masuk ke ring sendiri. Keringat para pemain sudah terlihat membanjiri tubuh mereka. Walaupun sore ini cuaca agak mendung, tidak membuat semangat masing-masing team mengendur.


Babak pertama selesai. Team Dimas memimpin di angka 27:25, selisih tipis. Semua atlet beristirahat di tempat masing masing. Para coach sedang memberikan instruksi tentang strategi permainan kepada teamnya serta menyemangati kembali para atlet mereka. Wajah-wajah sangat lelah sudah terlihat di diri semua atlet serta diri Dimas dan team nya.


Babak kedua final di mulai. Masing masing team membuat strategi baru untuk mengelabuhi lawan. Kali ini team Dimas harus ikhlas menerima bola masuk dari lawan pada ring miliknya. Dua point untuk team lawan. Mata Dimas tiba-tiba melihat sosok Erina yang duduk di sebelah kanan atas nomor dua dari bawah. Senyumnya mengembang. Semangatnya kembali muncul dan menggelora. Terbersit rasa ingin pamer kepada Erina kalau dirinya mampu mencetak point baru untuk team nya.



Dimas menerima lemparan bola dari Martin salah satu teamnya, lalu men drible nya dan shooting keras ke arah ring lawan dan brrraaaakkk... Bola pun berhasil masuk.


Erina bertepuk tangan senang melihat Dimas berhasil memasukkan bola dan menambah point untuk teamnya. Babak ke dua final ini sungguh sangat menegangkan. Teknik dan kecakapan bermain para atlet membuat mata para supporter tak akan rela melewatkan sedikitpun kesempatan untuk meninggalkan permainan. Babak kedua ini benar-benar menguras tenaga. Pergantian pemain pun sudah dilakukan berkali kali. Wajah lelah mereka tidak bisa di bohongi.

__ADS_1


Wasit sudah meniup peluit panjang menandakan pertandingan telah selesai. Pertandingan final ini dimenangkan team sekolah Dimas. Para supporter sekolah Erina dan Dimas bersorak kegirangan menyambut kemenangan yang baru saja terjadi.


Erina tersenyum senang. Chika bahkan sampai melonjak lonjak seperti anak TK yang kegirangan karna dibelikan es cream oleh ibunya.


Para team sedang beristirahat sambil meminum air mineral dan mengelap keringat mereka yang basah kuyup membanjiri tubuh mereka.


Dimas pun sama, dia terlihat sedang mengelap keringat nya dengan handuk. Bajunya basah kuyup dengan keringat yang ia hasilkan. Erina tersenyum senang sambil masih memperhatikan gerak gerik Dimas yang masih sibuk dengan handuknya itu.


Namun pemandangan indah itu langsung berubah menjadi curam saat Erina melihat ada seorang perempuan yang sambil berlari larian mendekat ke arah Dimas dan perempuan itu tanpa rasa malu langsung memeluk dan mencium pipi Dimas dengan mesra.


Cup


(Satu ciuman mendarat di pipi Dimas)


Mata Erina terbelalak tak tercaya dengan apa yang ia lihat. Digigitnya bibir bawahnya kuat kuat menahan sekuat tenaganya agar airmatanya tak jatuh percuma.


"Kak Dimas, selamat yaaa... Kamu hebat bangeeeettt" ucapnya dengan penuh semangat.


"Wulan?" Dimas membulatkan matanya sambil memegangi pipinya. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan olehnya.


Wulan tersenyum senang. Senyumnya mengembang lebar di bibirnya. Dimas langsung menoleh ke arah tempat duduk Erina. Erina terlihat menunduk sambil meremas jari tangannya. Dimas yakin pasti tadi Erina melihat kejadian yang pastinya tak menyenangkan baginya.


"Wulan kamu apa-apaan sih? Jaga sikap kamu!" bentak Dimas. Raut wajah Wulan berubah sedih dan kecewa menerima perkataan keras dari Dimas.


"Kak Dimas marah? Aku kan cuma kasih ucapan selamat aja buat kakak"


"Iya tapi bukan begini caranya." jawab Dimas sambil lalu meninggalkan Wulan begitu saja.


Dimas menarik paksa tas sportnya dan bergegas pergi. Wulan sendiri masih berdiri diam memperhatikan kepergian Dimas yang tak memperdulikan dirinya.


Erina sudah dari tadi pergi meninggalkan sekolahnya dan bergegas menuju ke halte bus untuk kembali ke rumah. Rintik rintik hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Sepertinya langit ikut menangis menemani hati Erina yang sedang dirundung duka. Bayangan pelukan dan ciuman yang di layangkan Wulan di pipi Dimas melintas jelas lagi di ke dua pelupuk mata Erina. Dua butir haluspun lolos begitu saja sebelum berhasil di cegah.


Hujan sore itu lumayan deras. Di tambah hembusan angin yang melenggang kasar sungguh terasa menusuk ke sela sela tulang dan persendian. Sialnya lagi tak ada persiapan apapun menghadapi hujan yang turun secara serentak. Baju Erina basah sebagian besar. Atap halte yang lebar pun tak mampu melindungi dirinya dari guyuran air hujan yang terbawa oleh angin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2