
Dimas dan Orang tuanya sudah berada di Bandara Heathrow. Indra dan keluarga ikut hadir untuk mengantar kakaknya di bandara. Rasa berat hati melepaskan kepergian orang tercinta untuk kembali ke rumah asalnya membuat rasa sesak di dalam hati. Raut wajah kesedihan nampak jelas di wajah Indra dan keluarga. Begitupun dengan Clara. Ia sungguh tak rela harus merelakan Dimas pergi kembali ke rumahnya. Selama lima tahun ini ia sudah terbiasa menjalani hari-hari bahagianya bersama seorang kakak laki-laki yang membuat dirinya nyaman dan merasa terlindungi kini harus pupus dan mengikis hari-hari indahnya.
Pak Nugra dan Indra saling berpelukan sebelum mereka benar benar berpisah. Dimas juga bergantian berpelukan dengan Indra dan istrinya. Dimas menatap Clara dengan tatapan sayang. Clara terlihat sangat tak rela melepas kepergiannya. Airmata nya telah pecah membanjiri kedua pipinya.
Dimas tersenyum manis dan memeluk tubuh mungil adik sepupunya itu. Dikecupnya dahinya sebagai tanda sayang kakak kepada adiknya.
"Kamu harus segera menyelesaikan kuliahmu. Aku tunggu kamu di Jakarta. Nanti saat kamu datang, aku akan mengajakmu berkeliling ke semua sudut kota Jakarta. Bagaimana?"
Clara hanya bisa mengangguk tanpa bisa berucap. Airmatanya masih saja mengalir. Dimas menyeka airmatanya dan memeluknya lagi dengan erat.
"Kak Dimas, I have something for you" ucap Clara sambil menyodorkan sebuah kotak kecil kepadanya.
"Apa ini?" tanya Dimas polos.
"Bukan sesuatu yang berharga. Aku ingin kakak menyimpannya untukku" ucap Clara seraya mencium pipi sebelah kiri Dimas. Dimas mengangguk dan tersenyum manis. Diterimanya kotak kecil itu dan di masukkannya ke dalam saku jaketnya.
Petugas bandara sudah menyiarkan pemberitahuan kepada seluruh penumpang pesawat jurusan Jakarta untuk segera memasuki pesawat. Pak Nugra dan istri bersiap-siap berjalan menuju pintu menuju pesawat berada. Dimas melambaikan tangan tanda perpisahan. Suasana haru sangat terasa kental di sana. Clara tak kuasa menahan rasa sedihnya harus berpisah dengan orang yang ia sayangi. Clara berlari ke arah Dimas, dan memeluknya kembali. Dimas membalas pelukannya sesaat dan melepaskan kembali pelukannya dan lalu berjalan masuk ke dalam lintasan kabin pesawat.
Indra menghampiri anaknya sambil mengelus-elus pundaknya, seraya menguatkan agar bisa tegar melepaskan kepergian Dimas.
"Rumah Dimas bukan di sini. Ia harus pulang ke rumahnya" ucap Indra sambil tersenyum kepada putri semata wayangnya.
"Tapi Daddy... " ucap Clara masih merasa keberatan atas kepergian Dimas.
"Nanti gantian kita yang berkunjung ke Jakarta" ucapnya bijak sambil tersenyum yakin.
"Really?"
"Sure" jawabnya masih sambil mengelus-elus pundak putrinya.
"Promise?" ucap Clara sambil menyodorkan jari kelingking nya kepada Daddy nya. Indra tersenyum dan melakukan hal yang sama dengan mengalungkan jari kelingkingnya di jari anaknya itu. Clara tersenyum bahagia menerima janji dari sang Daddy.
##############
Di dalam pesawat Dimas membuka kotak kecil yang tadi diberikan oleh Clara. Senyumnya mengembang melihat isi dari kotak kecil itu. Ternyata isinya lembaran-lembaran foto Clara dan dirinya. Dimas menyimpan kembali kotak kecil itu dalam saku jaketnya. Direbahkannya tubuhnya kesandaran kursi mencoba untuk rileks. Dimas memejamkan matanya sambil mendengarkan musik lewat headphone nya.
Papanya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dingin dari putranya itu.
#############
Pesawat Dimas sudah landing di Bandara Soekarno-Hatta. Anak buah Papa nya sudah berada di sana, siap sedia membantu mengambil koper-koper miliknya dan orang tuanya. Dimas berjalan menuju lobby depan. Di sana sudah terlihat pak Tatang driver setia keluarganya sudah menunggu dengan setia. Pak Tatang membukakan pintu mobil untuk orang tuanya dan lalu pintu depan untuk dirinya.
__ADS_1
"Selamat datang kembali Mas Dimas. Saya pangling loo... Mas Dimas sekarang terlihat lebih ganteng dan dewasa" ucap Pak Tatang dengan santun.
"Pak Tatang bisa aja. Bapak apa kabar? Sehat kan?" jawab Dimas sambil merangkul pundak Pak Tatang.
"Alhamdulillah Mas. Monggo silahkan masuk Mas" sambungnya lagi sambil membukakan pintu mobil depan.
Dimas mengangguk dan langsung duduk dengan tenang. Pak Tatang melajukan mobil meninggalkan bandara menuju ke kediaman majikannya. Di dalam mobil suasana hening. Mungkin karna perjalanan panjang yang melelahkan, membuat Pak Nugra dan istri memilih untuk tidur di dalam mobil.
Perjalanan sore itu lumayan melelahkan. Banyaknya kendaraan yang memadati jalanan membuat waktu tempuh menjadi sedikit tersedat. Kurang lebih hampir dua setengah jam akhirnya pak Tatang berhasil memarkirkan mobil majikannya di garasi rumah yang cukup luas. Dimas turun dari mobil dan memperhatikan dengan seksama rumah yang sudah lima tahun ia tinggalkan. Tidak ada perubahan yang mencolok. Semua masih sama seperti sebelum ia berangkat ke London. Hanya ada beberapa jenis tanaman bunga yang bertambah. Dimas tidak heran dengan semua itu. Pasti itu adalah tanaman koleksi baru milik mamanya.
Dimas langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa amat lengket dan kumel setelah seharian diperjalanan. Setelah mandi, Dimas memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak terasa matanya terlelap di atas ranjang nyaman nya di dukung dengan suasana kamar yang hening dan sejuk.
Tuk.. Tuk.. Tuk...
Dimas terbangun saat terdengar suara ketukan dari arah pintu kamar nya.
"Deeenn... Den Dimaaaasss... Maaf ini Bibi" ucap Bi Atun membangunkan Dimas.
Dimas mengernyipkan matanya. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Rasa kantuknya pun masih terasa.
"Ddeeeennn.... Den Dimaaasss... " ucap Bi Atun lagi.
Dimas memijit pelan pangkal hidungnya. Mata Dimas menatap ke arah jam dinding kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Ternyata dia sudah tertidur 3 jam lamanya.
"Makan dulu Deenn... Sudah malam" ucap Bi Atun.
"Iya Biii... "
Dimas memaksa matanya untuk terbuka. Di paksanya juga tubuhnya untuk bangun dan duduk. Dimas keluar kamar masih dengan muka bantalnya dan turun menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Di meja makan sudah ada mama dan papa nya yang siap untuk makan malam. Papa dan mamanya saling bertatapan memandang geli kelakuan anak semata wayangnya itu. Ibu Devita tanpa sadar tertawa geli saat Dimas datang dan duduk dengan wajah yang masih terkantuk.
"Dimaaaasss.... Kamu ini iiih... Cuci muka dulu sana? Yang ada kamu bisa tidur lagi di sini" ucap Sang Mama gemas.
"Iya" jawab Dimas cepat tanpa beranjak dari duduknya.
"Ya sudah kamu minum dulu saja" ucap pak Nugra
"Kamu ini udah lulus S2 tapi kelakuan masih kayak anak TK. Hhhhmmm... " ucap mamanya lagi gemas.
"Ngantuk banget Ma. Beneran deh"
"Hhhmmm.... Dasar anak manja"
__ADS_1
"Manja sama mama sendiri boleh kan? Ntar kalau Dimas udah punya istri, Dimas manjanya ga sama Mama lagi looohhh... " ucap Dimas menggoda mamanya.
"Ya ntar Papa yang manja sama Mama" ucap Pak Nugra ikut menggoda.
Ibu Devita memandang kedua laki-laki kesayangannya dengan tatapan malas. Dimas dan papanya saling tatap dan tersenyum puas bisa berhasil menggoda mamanya.
###########
Selesai makan malam, Dimas kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Malam ini ia berniat ingin datang ke rumah Erina. Rasa rindu yang teramat sangat membuat hasratnya ingin bertemu tidak bisa dibendung lagi.
Dengan langkah terburu-buru Dimas berjalan menuruni anak tangga dan bergegas keluar. Di ruang tengah terlihat Mama dan Papanya sedang duduk bersantai. Dimas menghampiri keduanya untuk berpamitan.
"Ma, Pa, Dimas pergi sebentar ya. Ada urusan" ucapnya sambil mencium pipi sang Mama.
"Dimaaasss.... Ini udah malam. Lagipula kamu kan juga baru nyampe rumah. Kayak ga ada waktu besok aja?" jawab sang Mama merasa keberatan.
"Ga bisa Ma. Harus malam ini. Dimas cuma sebentar kok. Ok Mam, Bye... "
"Bye Pap" sambung Dimas sambil berlalu pergi.
Ibu Devita menghela nafas kesalnya.
"Sudah biarkan saja Ma. Anak kita sudah besar. Biarkan dia dengan dunianya" ucap Pak Nugra yang semakin membuat istrinya makin kesal.
Dimas melajukan mobil sportnya dengan santai. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumah Erina. Mobil Dimas sudah terparkir agak jauh dari pagar rumah Erina. Kamar Erina masih gelap. Dimas mencoba menghubungi nomor ponsel Erina yang masih ia simpan. Namun nomornya sudah ga aktif.
Jam ditangan Dimas sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB. Dimas memutuskan untuk menunggu di mobil. Dia masih sangsi kalau Erina sudah tidur. Karna lampu ruang tamu rumahnya masih menyala. Dipandanginya lagi foto Erina dari layar ponsel nya. Senyumannya mengembang senang. Otaknya berpikir keras membayangkan perubahan Erina saat ini.
"Kayak gimana ya Erina sekarang?" batin Dimas bertanya-tanya.
Dilihatnya lagi jam tangan miliknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sudah satu jam ia menunggu. Kakinya juga sudah mulai pegal terlalu lama duduk di dalam mobil. Dimas merebahkan kursi mobilnya ke belakang. Saat ia hendak merebahkan tubuhnya, matanya melihat sosok wanita yang ia tunggu sedang berjalan pelan menuju ke rumahnya. Raut wajahnya terlihat lelah. Tubuhnya masih kurus sama seperti saat terakhir ia lihat saat ia masih duduk di bangku SMU.
Dimas tersenyum bahagia melihat kehadiran Erina. Ia belum berniat untuk menemuinya secara langsung sekarang. Erina yang sekarang terlihat lebih dewasa dan anggun. Lekuk tubuhnya juga terlihat lebih menawan.
Senyuman Dimas berubah getir saat melihat Erina berhenti berjalan karna bersin. Disitu tampak dengan jelas kalau Erina sedang tidak sehat.
Erina juga nampaknya ga ngeh dengan mobil Dimas yang sudah terparkir dekat rumahnya. Erina memasuki pagar rumahnya dan langsung menguncinya. Dimas keluar perlahan dari mobil nya dan perlahan memperhatikan langkah Erina memasuki rumahnya.
Lampu kamar Erina menyala. Dimas duduk di kursi panjang di taman kecil depan pagar rumah Erina. Dipandanginya dari luar jendela kamar Erina. Entah kenapa bibir Dimas masih saja tersenyum. Walaupun dari jauh ia memandang, namun ada sebuah kepuasan sendiri yang tak bisa dijelaskan.
.
.
__ADS_1
.