
Tuk.. Tuk...
Pintu ruang kerja Dimas terdengar diketuk. Dengan langkah sigap Rio segera membuka kan pintu. Rio langsung memberikan sikap hormatnya saat mengetahui sosok Direktur utama yang tak lain adalah papanya Dimas memasuki ruang kerja anaknya.
"Selamat pagi Pak Nugra" respon Anggukan kecil dari pak Nugra sebagai tanda diterimanya sikap hormat dari Rio.
Dimas langsung beranjak dari kursinya dan menyalami tangan sang papanya itu.
"Papa? Tumben ke sini? Ada apa?" serentetan pertanyaan langsung Dimas sodorkan ke laki-laki paruh baya di depannya itu.
"Papa lagi iseng aja pengen mampir ke ruang kerja kamu. Ternyata ruang kerja kamu enak ya... Design interior nya kamu ganti ya?" ucapnya sambil memandangi setiap sudut ruangan itu.
"Iya. Tapi ga semuanya. Biar lebih nyaman aja sih Pap"
Pak Nugra menganggukkan kepalanya.
"Kerjaan kamu bagaimana? Ada kendala kah?"
"So far so good, Pap" jawabnya cepat.
"Ok, good. Kalau ada kendala apapun, papa ingin segera kamu laporkan ya"
"Siap komandan!!!" tawa pak nugra terdengar renyah melihat kelakuan putra semata wayangnya itu. Rio pun yang ada di ruangan ikut tertawa kecil melihat sikap manja Dimas kepada papa nya.
"Oia, papa mau kopi? coklat atau teh?"
"Ga usah. Sebentar lagi papa ada janji ketemu client diluar. Kamu tolong pantau proses proyek kita ya Dim. Pastikan semua berjalan sesuai deadline" titahnya.
"Baik pap"
"Ya sudah kamu lanjutkan lagi kerjaan kamu. Papa jalan ya"
Pak Nugra keluar dari ruangan Dimas dan bergegas pergi yang didampingi oleh Andra assistant pribadi setianya untuk segera menemui client pentingnya.
Dimas dan Rio sendiri kembali pada kesibukannya masing-masing. Dimas membuka buku agenda nya hari ini. Di buku itu ia tidak ada jadwal meeting dengan siapa pun. Senyumnya mengembang karna hari ini ia punya waktu kosong yang bisa ia gunakan untuk berdua kembali dengan Erina.
"Yo, hari ini gue ga ada jadwal meeting kan ya?" tanya Dimas memastikan.
"Sayangnya ada boss ku..."
"Serius loe? Kok dibuku agenda gue ga ketulis nih?"
"Kan loe sendiri yang kemarin minta re- schedule meeting untuk hari ini" Dimas menepuk jidatnya. Ia teringat kemarin memang benar ia telah membatalkan janji meeting dengan Pak Teddy client nya dari Pt. xxxx, dan lebih memilih keluar bersama Erina untuk mengambil gaun pesanannya.
"Jam berapa gue harus ketemu pak Teddy?"
"Jam 2 siang di cafee shop xxxxxxx"
"Hmmm.... Baiklah... " setelah mengambil nafas panjangnya, Dimas kembali menyibukkan dirinya dengan data-data yang telah tersaji di dalam laptop nya.
Tuk.. Tuk...
Rio kembali menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Masuk.... " Rio baru akan bangkit dari duduknya namun suara Dimas sudah keburu lantang mempersilahkan sipengetuk pintu itu untuk masuk.
"Permisi pak Dimas" ucapnya sambil melempar senyum paling manisnya.
Ternyata sipengetuk pintu adalah Dini. Sekretaris direksi yang manis nan sexy dengan tampilan yang selalu menggoda mata laki-laki. Bentuk tubuh yang indah dengan tonjolan dada montoknya yang selalu di perlihatkan memang sengaja ia lakukan guna mendapat simpatik dari Dimas. Boss paling muda dan tampan diperusahaan yang sudah mencuri hatinya. Dini memasuki ruangan Dimas dengan membawa satu buah map tipis tidak terlalu besar. Langkah jenjangnya dengan sombong berjalan masuk menuju meja Dimas, boss besar yang ia tuju.
"Maaf pak Dimas, ini saya membawakan data nama-nama calon tamu undangan yang akan diundang pada acara ulang tahun perusahaan besok. Mohon diteliti kembali pak, apakah masih ada yang harus di tambah atau diganti?"
Dimas menerima map itu dan sekilas membacanya daftar nama-nama dari si calon tamu undangan. Sebenarnya Dimas agak bingung kenapa daftar nama-nama calon tamu undangan mesti dilaporkan kepadanya. Dan bahkan ia sendiri ga semuanya kenal dengan nama-nama yang ada dalam daftar itu.
"Ini sepertinya kebanyakan nama-nama dari relasi pak Nugra. Saya sendiri kurang kenal dengan nama-nama yang ada di daftar ini. Kamu saja yang atur ya... Pastinya kamu yang lebih kenal dengan nama-nama ini semua bukan? " Dimas tersenyum dan mengembalikan map itu kepada Dini.
"Baik pak Dimas. Kalau begitu saya permisi" Dimas hanya mengangguk yakin.
__ADS_1
"Oia pak, maaf. Untuk makan siang hari ini bapak mau saya pesankan apa?" Dini masih berusaha mencari perhatian dari Dimas.
"Eemmm... Ga usah. Saya mau makan diluar bareng Rio. Kebetulan jam 2 saya ada janji bertemu client. Terima kasih ya... "
"Ya Tuhaaannn.... Senyumnyaaa... Rontok hatiku" bisik Dini dalam batinnya.
"Baik kalau begitu. Saya permisi" ucap Dini masih dengan senyum godanya.
Dini membalikkan badannya untuk segera keluar dari ruang kerja Dimas. Mata Rio sedari tadi masih mengikuti langkah Dini sampai keluar pintu. Tatapan terkesimanya Rio membuat naluri iseng nya Dimas kembali muncul. Dilemparnya ke arah Rio sebuah pulpen dan pas mengenai kepalanya.
"Eh kunyuk loe..." ucap Rio berlatah karna kaget dengan lemparan pulpen dari Dimas.
Dimas terkekeh dengan latahan Rio.
"Eh mata... Jaga mata... Inget Chika woy..." celetuk Dimas dengan kekehannya.
"Ya Tuhan... Nikmat mana lagi yang harus kudustai? Diiimmm... Iman gue kuat, tapi imin gue ga bakal kuat Dim kalau mesti berhadapan dengan wanita sexy macam Dini" Ucapnya seraya bergaya lemah.
"Gimana kalau gue memperkerjakan Chika sebagai dokter khusus karyawan di perusahaan ini? Imin loe pasti ga akan lemah"
"Yah jangan dong Dim... Sama aja loe bikin perang dunia ke lima"
"Hahahahahaa...." Tawa Dimas menggelegar di udara. Seisi ruangan dipenuhi oleh suara tawa ngakaknya.
############
Sejak pagi, suasana penuh kesibukan telah nampak di lantai 10 kantor Dimas. Dimana para karyawan organizer yang sengaja disewa perusahaan sedang berberes di aula besar perusahaan itu untuk mempersiapkan perayaan ulang tahun perusahan nanti malam.
Para karyawan masih bekerja seperti biasa. Namun mereka semua juga sudah sibuk mempersiapkan penampilan mereka untuk acara nanti malam. Topik pembicaraan seharian itu juga tak jauh-jauh dari acara nanti malam.
Waktu sudah hampir menunjukkan jam 7 malam. Acara perayaan ulang tahun perusahan sebentar lagi akan dimulai. Para tamu undangan sudah datang dan sudah menempati kursi undangan. Orang tua Dimas juga sudah menempati kursi VVIP.
Dimas dan Rio sudah bersiap dengan tuxedo nya. Sementara Erina masih sibuk dengan komputer dan berkas-berkas kerjaannya.
"Dim, gue ijin ke depan dulu ya buat jemput Chika. Dia kesini naik taksi. Katanya sih dah hampir nyampe"
"Okay. Gue langsung naik ke atas ya... Loe langsung nyusul aja"
Sepeninggal Rio, Dimas langsung ke lantai 9 untuk menyambut para tamu yang sudah menunggu kehadirannya. Tuxedo warna hitam pekat dengan kemeja dark grey dan dasi sutra hitam membuat penampilan Dimas terlihat sangat sempurna dan sangat elegant.
Acara pun dimulai. MC sudah membuka acara. Kata sambutan dan ucapan dari rekanan perusahaan mulai dilontarkan satu persatu. Mata Dimas masih belum melihat sosok wanitanya. Dengan sikap tenangnya, Dimas berusaha membunuh rasa kesalnya menunggu kehadiran Erina yang tak kunjung datang.
########
Diruangan masih ada beberapa karyawan yang lembur untuk segera menyelesaikan laporan keuangan project besar yang sedang dijalankan perusahaan. Erina menggeliat merenggangkan otot-otot tangan dan punggungnya yang terasa pegal.
"Huuffttt... Akhirnya... Selesai juga nih kerjaan" ucapnya lirih.
Ttiingg.... Suara dentingan pesan masuk ke ponsel Erina. Diambilnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja yang kebetulan sedang di charger. Erina sangat terkesima dengan banyaknya pesan dan panggilan masuk dari beberapa nomor. Namun satu nomor yang membuat mulut Erina ternganga. Dimas sudah menghubungi nya sampai 5x dan sudah mengirimkan pesan 10x. Dari pesan halus yang mengingatkan sampai pesan tegas bertuliskan huruf kapital yang tercetak tebal penuh dengan penekanan lengkap dengan emoji marah.
"ERINAAAA.... CEPAT NAIK KE ATAS! SEKARANG!!!! 😡 "
Erina menghela nafas panjangnya menimbang nimbang rasa kegalauannya. Ia belum pernah menghadiri acara besar seperti itu. Ditambah lagi ia harus memakai gaun yang telah dibelikan oleh Dimas. Rasa malu pun mulai menggerayangi jiwanya. Bukan karna malu dengan gaunnya, namun rasa mindernya dengan gaun yang terlalu indah dan sangat mahal. Karna jika dibandingkan dengan besarnya gaji yang ia terima, mana mungkin ia bisa dengan cepat membeli gaun semahal itu.
Jika memilih untuk datang, itu artinya ia harus menekan rasa malu dan mindernya dalam-dalam. Jika ia memilih tidak datang, Dimas pasti sangat kecewa. Dengan langkah terpaksa, Erina bergegas untuk berganti pakaiannya dengan gaun yang Dimas belikan.
Dilihatnya lagi gambar dirinya dicermin. Gaun yang sangat indah yang pernah ia pakai. Dengan langkah ragu, Erina memberanikan diri menuju lantai 9 dimana acara perayaan sedang berlangsung. Pintu lift telah terbuka, Erina berjalan perlahan memasuki aula besar dan mewah yang sudah ramai dihiasi oleh bunga-bunga serta hiasan yang sangat indah. Lebih tepatnya mirip seperti acara resepsi pernikahan mewah.
Saat Erina memasuki ruangan aula, MC sudah mempersilahkan para undangan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Mata Erina mencari-cari sosok Dimas atau teman lainnya yang ia kenal. Sayangnya matanya tak melihat keberadaan Dimas. Langkah ragunya tiba-tiba terhenti saat ada suara mengejutkan yang memanggil namanya.
"Erinaaa...." Chika berjalan mendekati Erina yang masih mencari cari sumber suara berasal.
Erina membulatkan matanya dan melebarkan senyumnya saat matanya melihat sosok Chika yang sudah berada di depannya.
"Chikaaaa???" seperti kebiasaan para wanita, merekapun berpelukan melepas kerinduan.
"Loe disini juga Chik?"
__ADS_1
"He-em.. Tapi Gue hanya tamu undangan Rin. Kebetulan Rio kerja di kantor ini"
"Rioo?? Maksud loe kak Rio?" Chika melempar senyum sambil mengangguk malu.
"Loe masih sama Kak Rio? Sampai sekarang? Kereeennn... "
"Loe juga keren. Masih awet aja sama Dimas" wajah Erina memerah saat Chika menyebut nama Dimas.
Dimas melihat dengan jelas kehadiran Erina. Dimas beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Erina yang terlihat sedang bercengkeraman dengan sahabatnya.
"Hayooo... Ada apa nih namaku di sebut sebut?" ucap Dimas yang sontak membuat keduanya menolehkan pandangan ke arahnya.
"Hai Dim... Maaf ya gue nahan bebeb loe sebentar" ucap Chika sengaja menggoda Erina.
"It's Okay... Mana Rio?"
"Tuh lagi ambil makanan" Dimas tersenyum kecil menatap ke arah ke Rio yang sedang sibuk mengambil makanan.
"Gue pinjem Erina sebentar boleh ya"
"Okay.. "
"Erinaaa... Have fun" bisik Chika ditelinganya.
Dimas menggandeng tangan Erina dengan erat. Dan genggaman itu langsung Erina lepaskan.
"Dimas, tolong jangan seperti ini. Aku ga enak sama karyawan yang lain"
"Aku ga peduli. Dan ga ada urusannya dengan mereka" tangan Dimas sengaja beralih merangkul bahu Erina dan menggiringnya ke meja VVIP tempatnya duduk bersama kedua orangtuanya. Erina hanya bisa diam dan pasrah dengan sikap dominant Dimas terhadapnya.
Pemandangan Dimas melingkarkan tangannya di bahu Erina, sungguh menyolok semua mata. Semua mata tertuju kepadanya. Tatapan syok, terkejut dan tak percaya.
Hal itu pun tak luput dari tatapan Dini maupun Mieke. Mata Dini berubah seperti mata harimau yang bersiap mencakar dan mencabik cabik musuhnya. Sama halnya dengan Mieke, tatapan bencinya terlihat jelas. Staf biasa yang menjadi anak buahnya ternyata memiliki hubungan khusus dengan orang nomor dua di kantornya.
Dimas sudah sampai di depan mejanya. Orang tuanya terlihat sedang asik menikmati makanan sambil bercakap-cakap dengan relasinya. Dimas sedikit membungkukkan tubuhnya meminta ijin untuk menyela percakapan mereka untuk memperkenalkan Erina kepadanya.
"Pa, Ma... " kedua orangtua Dimas dengan segera langsung menolehkan pandangannya ke arah Dimas. Raut wajah mereka sedikit terkejut karna Dimas terlihat membawa seorang wanita cantik bersamanya.
"Dimaaasss??" jawab sang Mama masih menatap Dimas dan Erina yang tersipu malu.
"Papa, Mama, kenalin ini Erina.. Calon istri Dimas" Seperti tersiram air es dari freezer kedua orangtua Dimas sangat terkejut dan saling bertatapan. Tatapan terkejut dan tak percaya akan apa yang barusan mereka dengar.
Syok itupun juga sama besarnya dialami oleh Erina. Rasanya ia seperti ingin pingsan saja saat Dimas dengan PD nya mengatakan di depan orangtuanya bahwa ia adalah calon istrinya. Dimas benar-benar diluar prediksi. Tanpa konfirmasi apapun kepadanya Dimas secara tiba-tiba langsung mengambil keputusan sepihak yang sungguh membuat semua pihak menjadi sangat terkejut.
Erina membulatkan matanya ke arah Dimas. Tatapan dalam penuh tuntutan untuk mengoreksi leluconnya yang sama sekali ga lucu. Namun Dimas membalasnya dengan kedipan sebelah mata yang membuat Erina semakin tak karuan dibuatnya.
Ibu Devina mengembangkan senyumannya. Senyum bahagia karna putra semata wayangnya ternyata sudah menjadi laki-laki dewasa yang sudah mengenal cinta.
"Oh... Haloo... Mari sini... Duduklah disini.. " Ibu Devita mengarahkan Erina untuk duduk dikursi kosong disebelahnya. Kursi itu memang sudah sengaja Dimas siapkan untuk Erina. Dengan ragu-ragu dan sekilas menatap kearah Dimas, Erina berlanjut menduduki kursi itu. Dimas mengikutinya dengan duduk dikursinya semula yang terletak tepat disebelah Erina.
Detak jantung Erina berdegup kencang mirip atlet pelari yang sudah berlari sejauh 1 km. Nafasnya terasa berat. Sikap kikuk dan canggung tergambar jelas di wajahnya. Erina menempatkan tangannya di atas pahanya yang ia rapatkan. Dimas menggenggam tangan itu yang berada di bawah meja untuk membantu menenangkan hatinya.
Mama Dimas mulai mengajak Erina bercakap-cakap untuk mencairkan sikap tegangnya itu. Dengan ekspresi malu, Erina menanggapi percakapan antara dirinya dengan orangtua Dimas.
Erina sangat menyadari kondisi dirinya saat ini, dimana saat ini semua mata para karyawan sedang menatap penuh dengan ekspresi keterkejutan serta tatapan iri ke arah dirinya. Dan esok hari berita kedekatan dirinya dan Dimas pasti akan mulai menyebar dan menjadi topik utama di kantor.
Penampilan Erina malam itu sangat memukau. Wajah manis dan kulit putih mulusnya yang dibalut dengan gaun mewah bernuansa gold dilengkapi batu permata sebagai aksen pelengkap dengan rambut ikal terurai menambah penampilan nya menjadi sempurna. Penampilan Erina ditengah tengah para karyawan terlihat sangat berbeda. Bagaikan sebuah berlian diantara lelumpuran. Terlihat sangat berkilau.
Untuk sebagian karyawan yang tidak begitu mengenal Erina, mungkin ekspresi iri dan terkejutnya tidak sebesar yang sudah mengenalnya. Namun meski demikian, sejak kejadian malam ini akan sudah bisa dipastikan bahwa semua orang akan mencari tau tentang siapakah jati diri Erina sebenarnya. Seorang wanita yang sudah berhasil membuat para wanita di kantor ini menjadi patah hati secara massal.
.
.
.
**Hai readers... Di Bab ini author sengaja kasih yang lebih banyak. Supaya rasa lelah menunggu dan rasa rindu readers dengan novel ini terpuaskan ya...
__ADS_1
Jangan lupa di tunggu selalu comment, like dan vote nya ya readers ku...
Terima kasih ❤**