Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Negosiasi


__ADS_3

Tuk... Tuk...


Suara ketukan pintu membuat Andra assistant pribadi pak Andra segera bangkit dari kursinya dan segera ke arah pintu membukakan pintu yang masih tertutup rapat. Anggukan sopan penuh hormat Andra berikan kepada tamu khusus boss nya itu. Pak Susanto ayah Wulan dengan sengaja mendatangi ruang kerja Pak Nugra guna memperjelas status persahabatan mereka.


"Silahkan masuk Pak Santo.." Andra setengah membungkukkan tubuhnya mempersilahkan si tamu memasuki ruang kerja boss nya.


"Selamat pagi Pak Santo... Apa kabar? Sudah lama juga ya kita ga pernah ketemu seperti ini" Pak Nugra menyambut hangat kehadiran relasi kerjanya yang sudah ia anggap seperti saudara. Dijabatnya tangan dan dipeluknya sosok laki laki yang sama gagahnya dengan dirinya dengan tulus.


"Baik-baik Pak Nugra. Nampaknya saya juga sedikit pangling dengan bapak. Lebih makmur. " tawa kedua laki-laki itu membahana di udara.


"Andra, tolong buatkan kita kopi ya..."


"Baik Pak" Andra bergegas meninggalkan ruangan untuk menyiapkan pesanan.


"Mari silahkan duduk Pak Santo..." Pak Nugra menggiring relasinya itu duduk di sofa panjang yang sangat nyaman untuk di duduki. Keduanya tampak duduk rileks dengan posisi kaki disilangkan.


"Oia, ngomong-ngomong tumben nih Pak Santo main ke kantor saya? Ada masalah di proyek kita kah?"


"Oh tidak ada. Proyek kita berjalan sesuai ekspektasi. Semoga juga tidak ada kendala yang akan menghambati. Saya ke sini ada maksud lain yang ingin saya bicarakan dengan bapak"


"Oia? Soal apa ya pak? Kelihatannya cukup penting ya..." obrolan mereka sejenak terhenti, ketika seorang office girl datang mengantarkan dua cangkir cappucino late dan beberapa cemilan ringan.


"Silahkan diminum kopinya pak Santo. Mumpung masih panas" Pak Santo menarik nafas pelan sambil merapihkan posisi duduknya lalu mengambil cangkir cappucino itu dan meneguknya sedikit untuk menghormati pemberian si tuan rumah.


"Kopinya mantap pak Nugra" ucapnya berbasa basi.


"Ah, Pak Santo ini bisa aja." tawa kecil pak Nugra tersungging di bibirnya.


"Maaf pak Nugra kalau kedatangan saya yang secara tiba-tiba ini mengganggu aktivitas kerja bapak."


"Enggak kok pak Santo. Kebetulan hari ini saya ga ada meeting yang penting. Jadi saya agak santai hari ini" ucapnya sambil melempar senyuman.


"Pak Nugra, kita kan sudah lama menjadi partener kerja yang solid. Apakah tidak sebaiknya kalau kita menjadikan hubungan yang sudah tercipta ini menjadi lebih erat lagi?" keduanya saling bertatapan serius. Pak Nugra sebenarnya sudah mengerti maksud utama Pak Santo. Namun dirinya memilih untuk bertahan dari kepura-puraan nya agar pak Santo memperjelas apa maksud utama dari ucapannya tersebut.


"Maksud pak Santo?"


"Saya rasa Pak Nugra sudah tau kalau anak saya Wulan menaruh hati dengan anak bapak, Dimas. Dan sepertinya mereka juga cukup dekat. Apa tidak sebaiknya kalau kita menikahkan anak-anak kita menjadi sebuah keluarga?" ucapan blak blakan dari Pak Santo membuat Pak Nugra tertegun. Ditipiskannya bibirnya dan senyuman kecilpun terlukis di wajahnya.


"Pak Santo, saya selalu berusaha bersikap demokratis kepada anak saya. Dan masalah pasangan hidup, untuk Dimas anak saya, Saya tidak pernah memaksakannya. Saya serahkan sepenuhnya kepada Dimas. Toh dia juga yang akan menjalani. Karna saya ingin, anak saya bahagia menjalani kehidupannya bersama pasangannya kelak. Jadi, kalau memang Dimas dan Wulan saling mencintai saya pasti akan mendukung. Namun sebaliknya, kalau Dimas dan Wulan tidak saling mencintai alangkah baiknya kita sebagai orangtua tidak perlu merusak kebahagiaan anak kita Pak Santo"


"Saya mengerti pak Nugra. Mungkin di sini saya hanya tau tentang perasaan Wulan yang sangat mencintai Dimas anak bapak. Masalah Dimas mencintai Wulan atau tidak, saya kurang jelas. Karna itulah saya sengaja datang ke sini ingin meminta pak Nugra lebih mendekatkan Dimas dengan Wulan. Bagaimana?" Pak Nugra hanya terdiam dengan perkataan Pak Santo yang terdengar sedikit memaksa.


"Kalau anak-anak kita menikah, kita bisa menjadi satu keluarga yang kuat. Dimana perusahaan kita bisa menyatu saling support dan menjadi perusahaan terbesar di negara ini. Menarik bukan?" pak Nugra menarik nafas dalam dalam dan membenarkan posisi duduknya. Perkataan pak Santo memang memberikan tawaran yang menggiurkan. Namun kebahagian Dimas jauh lebih menggiurkan ketimbang sebatas tawaran menjadi perusahaan terbesar di negara ini.


"Cinta dan pernikahan adalah urusan hati. Dan saya paling malas untuk mengurusi masalah seperti ini. Tawaran pak Santo sangat menggiurkan. Tapi sepertinya saya kurang tertarik jika harus dikaitkan dengan pernikahan anak kita. Kenapa tidak kita lakukan join investasi dengan saling membeli saham perusahaan masing-masing? Jadi kita bisa saling memiliki investasi saham pada perusahaan baik punya saya atau perusahaann bapak?"


"Kalau bisa mendapatkan dari cara yang mudah, kenapa mesti harus memilih jalan yang sulit pak Nugra? Berinvestasi dengan membeli saham lebih sulit ketimbang kita langsung menikahkan anak-anak kita bukan? Dengan begitu kita tidak perlu melibatkan para pemegang saham yang akan menjual sahamnya untuk kita beli?"


Diteguknya dengan santai cappucino miliknya dan berdehem untuk lebih tenang.


"Saya lebih mengutamakan kebahagiaan anak saya ketimbang kemajuan perusahaan saya pak Santo. Maaf, kali ini saya kurang sependapat dengan bapak."


"Jadi pak Nugra menolak anak saya untuk menjadi menantu bapak?"


"Saya bukannya menolak pak Santo. Saya hanya mencoba bersikap demokratis kepada anak saya. Seperti yang saya ucapkan tadi,Kalau Dimas dan Wulan memang saling mencintai, saya akan menerima anak bapak dengan senang hati. Namun jika yang terjadi hal sebaliknya, dengan berat hati saya tidak bisa mendukung niat bapak untuk menjodohkan anak bapak dengan anak saya"


Pak Santo mulai terlihat kesal dengan jawaban dan sikap pak Nugra yang tak memihak kepadanya. Bahkan menurutnya, perkataan pak Nugra terdengar jelas kalau ia secara terang terangan tak berkenan menerima Wulan menjadi anak menantunya.


"Baiklah kalau memang itu yang menjadi keputusan bapak, saya tidak mampu memaksa. Tapi saya harap, pak Nugra bisa mempertimbangkan kembali permintaan saya yang tadi."


"Sepertinya saya tidak bisa memberikan janji apa apa untuk bapak. Karna kalau saya lihat, Dimas sudah memiliki wanita pilihannya sendiri. Dan saya juga tidak bisa berbuat apa apa dengan pilihan dan keputusan Dimas."


"Jadi maksud pak Nugra, Dimas sudah punya kekasih yang bukan Wulan anak saya?"


"Yups. Itu kenyataan yang terjadi. Saya harap pak Santo bisa berbesar hati menerima kenyataan ini."


"Baik. Kalau begitu, tidak ada yang perlu saya bicarakan lagi dengan anda. Permisi." pak Nugra hanya mengangguk pelan dan tertegun menatap kepergian pak Santo yang nampaknya kesal akan keputusannya. Nada suara pak Santo juga terdengar dingin dan kecewa.


Andra membungkukkan badannya ketika sosok pak Santo melintas dengan tergesa gesa di depannya. Pak Nugra menghela nafas panjang bersiap akan kemungkinan pahit yang akan terjadi setelah ini. Pak Santo sepertinya marah. Tak menutup kemungkinan kalau ia akan berbuat sesuatu yang bisa merugikan perusahaan.


Sepergian pak Santo, Dimas memasuki ruangan papanya. Dilihatnya sang papa yang terduduk lesu di sofa ruang kerjanya.


"Hai Pap... Are you okay?" sapa Dimas saat memasuki ruang kerja papanya.

__ADS_1


"Hai Boy... Sini duduk" Dimas mematuhi perintah sang papa dan duduk di sofa bersebelahan dengannya.


"Itu barusan pak Santo papanya Wulan kan?" Pak Nugra mengangguk membenarkan ucapannya.


"Ada apa Pap? Ada masalah terkait proyek kita?"


"Bukan. Lebih dari masalah proyek"


"Lalu tentang apa?"


"Tentang pernikahan kamu sama Wulan"


"APAAAA???" Mata Dimas terbelalak dengan posisi tubuh menegang tak percaya dengan ucapan sang papa. Pak Nugra terkakak dengan respon spontan anaknya yang terlihat syok.


"Papa kenapa ketawa?"


"Lucu" jawabnya santai.


"Jangan bercanda Pap. Ini bukan lelucon yang bisa membuat papa ketawa"


"Papa juga ga lagi becanda" ucapnya sambil menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. Wajah Dimas terlihat asam dan tak bersemangat berbicara dengannya lagi. Dimas berniat beranjak dari duduknya meninggalkan papanya yang terkesan ingkar dengan janjinya.


"Pak Santo kesini berniat untuk menjodohkan kamu dengan anaknya, Wulan. Tapi papa tolak." Dimas menolehkan wajahnya kembali ke arah papanya. Senyumnya mengembang di bibirnya.


"Papa serius?" anggukan pasti digambarkan jelas dari wajah papanya.


"Kereeeennn.... Ini baru papanya Dimas. Makasih ya pap" tanpa sadar Dimas menggenggam tangan papanya dengan erat, kegirangan senang akan sikapnya.


"Sejak kapan anak papa jadi romantis begini?" Dimas segera melepaskan genggaman tangannya dan menjadi sedikit canggung dengan sikapnya yang agak lebay terhadap papanya.


"Kelihatannya Pak Santo marah. Kalau dia tiba-tiba memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan kita bagaimana pap?" ucapan Dimas tak lantas membuat pak Nugra menjadi cemas akan kehilangan asetnya. Raut wajahnya masih datar tanpa rasa khawatir sama sekali.


"Dalam dunia bisnis, segala macam resiko pasti akan terjadi. Dan papa sudah siap jauh jauh hari dengan kemungkinan buruk yang akan dilakukan dari pihak pak Santo. Ini sudah jadi resiko papa punya anak ganteng yang di gandrungi banyak wanita." awalnya Dimas menyimak dengan serius ucapan sang papanya yang sangat berani mengambil keputusan keren untuknya. Namun di akhir kalimat perkataannya membuat Dimas sontak memandang malas kepada papanya.


"Ini juga salah papa. Kenapa juga papa nurunin kegantengan papa kepada Dimas. Jadi kan imbasnya ke Dimas juga" tawa lebar pak Nugra pecah di udara. Dia sangat senang ketika dengan sadar anaknya menyebut dirinya ganteng.


"Lalu apa rencana papa selanjutnya?" tanya Dimas sambil menyenderkan bahunya di sandaran sofa.


"Apa lagi kalau bukan segera jemput calon anak menantu papa pulang ke rumah?" ucapnya menggoda.


"Malam ini kita ke rumah calon menantu papa. Okay" ucap Dimas yakin dan serius.


"Malam ini?" Dimas mengangguk yakin. Papanya tertegun. Kini gantian pak Nugra yang dibuat terkejut. Anaknya memang penuh kejahilan dan spontanitas. Cara pengambilan keputusan cepat yang secara tiba-tiba kadang membuat dirinya sebagai orangtua sering menggelengkan kepalanya dengan sikap dan kelakuan anak semata wayangnya itu.


"Kamu yakin?" tanya papanya lagi memastikan.


"Yups"


"Apa keluarga Erina sudah tau tentang rencana kedatangan kita?" Dimas tersenyum kecil sambil menggeleng.


"Surprise"


"Dimaaasss...." Dimas terkakak melihat reaksi papanya yang merasa dikerjai oleh dirinya. Ia bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarga Erina yang pastinya akan kelabakan kalau seandainya malam nanti ia sekeluarga datang tiba-tiba ke rumahnya.


###########


Apa yang di ucapkan Dimas dengan papanya benar benar ia realisasikan. Dimas mengajak kedua orangtuanya berkunjung ke rumah Erina dengan tujuan melamar. Dimas sendiri juga dengan sengaja tak memberikan pemberitahuan apapun kepada Erina akan tujuan rahasia dirinya. Dengan alasan meeting sore dengan client, sore ini Dimas tak mengantar Erina pulang. Dan Erina pun juga tak menaruh curiga sedikitpun kepadanya.


Mobil Dimas sudah terparkir di depan rumah Erina yang sederhana tapi terlihat nyaman. Mamanya sedikit khawatir akan sikap konyol anak semata wayangnya itu yang pastinya akan membuat kesal si tuan rumah. Namun apalah daya, sikap Dimas yang kekeh memaksa orangtuanya mengikuti kemauannya membuat dirinya dan suami hanya pasrah mengikuti saja.


"Dim, kamu yakin mau kasih surprise seperti ini? Mama jadi ga enak nanti sama mamanya Erina. Masa kita mau datang ga kasih kabar apa?" papanya hanya bisa menghela nafas panjang, menggeleng kepala merasa sedang dikerjai oleh anak kecil.


"Mama tenang aja. Everything is gonna be okay" ucapnya sambil meraih ponselnya menghubungi ponsel Erina.


Ponsel terhubung. Tak lama ada suara dari dalam ponsel Dimas.


"Hai sayang... Kamu lagi apa?"


"Ga lagi ngapa-ngapain. Ada apa Dim?"


"Bukain pintu dong. Aku dah di depan rumah kamu nih."


"Serius?"

__ADS_1


"Iya serius. Aku kangen banget sama kamu"


"Hhmmm.... Dasar anak curut. Bisa bisanya dia bermesraan di depan kita?" gerutu papanya saat Dimas sedang berbicara di telpon genggamnya.


"Ih, papa kok ngomongnya begitu? Kalau Dimas anak curut, berarti papanya juga curut dong?" ucap ibu Devita yang tak terima dengan perkataan suaminya. Pak Nugra tak menjawab. Dia hanya mendengus pelan.


##########


Dari kejauhan terlihat seorang wanita muda yang bernama Erina berjalan dari dalam rumah menuju ke halaman rumah. Erina membuka pintu pagar dan menatap ke arah mobil Dimas yang sudah terparkir di sana. Senyumnya mengembang saat matanya melihat sosok Dimas keluar dari dalam mobilnya. Namun seketika senyumnya berubah menjadi tatapan syok ketika matanya melihat ada dua sosok orangtua yang keluar dari mobil Dimas.


"Orangtua Dimas datang ke sini?" batinnya yang berhasil membuat lututnya terasa lemas karna tak percaya dengan apa yang dilihatnya.



Erina berdiri mematung, syok dan canggung serta bingung harus bersikap bagaimana ketika Dimas dan kedua orangtuanya berjalan mendekati dirinya. Dimas keterlaluan!! Berani beraninya dia ga kasih kabar sama sekali terkait kedatangan orangtuanya ke rumahnya. Dari dalam hati, Erina tak henti hentinya menggerutu menyesalkan sikap Dimas yang selalu membuat dirinya harus spot jantung dengan sikapnya. Ngeselin.


(Hahaha.... 😆) > respon author.


"Se-selamat malam Pak Nugra, tante..."


Ibu Devita tersenyum dengan sambutan Erina yang terdengar canggung dan agak panik.


"Maaf ya Erina kalau kedatangan kita mengejutkan kamu dan mungkin orangtua kamu. Tante juga di paksa sama orang jelek buat dateng ke sini tanpa bilang bilang dulu" ucapnya sambil melirik ke arah Dimas.


"Enak aja di bilang jelek. Jelas jelas ganteng begini. Iya kan sayang..." sanggah Dimas sambil menggidikkan dagunya ke arah Erina yang semakin canggung akan sikapnya. Erina melototkan matanya ke arah Dimas merasa gemas akan sikapnya yang langsung di balas tawa kecil olehnya.


"Iya ga apa apa kok tante. Mari silahkan masuk."


Erina mengantar kedua orangtua Dimas menuju ruang tamu rumahnya dan mempersilahkan duduk. Erina bergegas menuju kamar mamanya memberitahu tentang kehadiran orangtuanya Dimas.


"APAAA... ??? Orangtua Dimas datang??" Erina mengangguk yakin membenarkan.


"Kenapa kamu ga bilang sih kalau orangtuanya Dimas mau datang? Kan mama jadi ga ada persiapan apa apa?" ucap sang mama marah. Erina merasa bersalah dan tak enak hati kepada mamanya. Ia sendiri juga sama, syok juga. Mamanya pasti merasa malu karna tak bisa menyiapkan suguhan yang layak untuk tamu istinewanya.


Ibu Astri segera berganti pakaian yang lebih sopan dan bergegas ke ruang tamu untuk menemui orangtua Dimas. Erina sendiri memilih ke dapur meminta bi Minah untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.


"Awas kamu ya Dim. Abis ini kamu harus berurusan sama aku. Liat aja, ga ampun pokoknya!! Huft..." batin Erina masih dengan gerutunya.


Dengan senyum mengembang, Ibu Astri menyambut hangat kedua orantua Dimas serta Dimas di ruang tamu. Tak lama Erina menyusul ikut duduk di sebelah mamanya.


"Maafkan kelancangan kami ya bu, karna kami sudah berani datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada ibu" ucap ibu Devita membuka pembicaraan.


"Ah iya, tidak apa apa bu. Saya senang ibu dan keluarga berkenan singgah ke gubuk saya" Ibu Devita hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah suaminya berniat untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya ke rumahnya.


"Kamu aja yang bilang ya pap" ucap ibu Devita berbisik.


Perbincangan mereka sejenak terhenti ketika bi Minah datang menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan kecil di meja. Ibu Astri mempersilahkan tamunya untuk menikmati suguhan, namun sepertinya kondisi serius mereka membuat mereka belum ingin menyentuh suguhan manis tersebut.


Pak Nugra berdehem sejenak sebelum memulai pembicaraannya.


"Jadi maksud kedatangan kami semua kesini adalah ingin meminang putri semata wayang ibu untuk menjadi istri Dimas anak saya sekaligus menjadi anak dan bagian keluarga kami. Saya harap pinangan kami bisa diterima dengan baik" ucapan Pak Nugra membuat ibu Astri terperangah bahagia tak mampu berucap sekaligus terharu. Akhirnya, putrinya sebentar lagi akan resmi menjadi istri orang dan hidup berbahagia dengannya.


Ibu Astri menolehkan pandangannya ke arah Erina yang tertunduk malu dan tersenyum kepadanya.


"Saya sangat terharu dengan pinangan bapak dan keluarga. Untuk keputusannya akan saya serahkan sepenuhnya kepada anak saya." ucapnya sambil menoleh kembali ke arah Erina.


"Jadi apa jawaban kamu sayang?"


Perlahan Erina mendongakkan wajahnya yang sudah memerah karna malu yang teramat sangat. Detak jantungnya bergemuruh tak karuan. Di helanya nafas dalam agar dirinya tenang dan tidak tergagap yang bisa membuat dirinya lebih malu.


"Sa-saya... Menerima pinangan ini. Saya bersedia menjadi istri Dimas" perkataan Erina membuat semua orang yang ada di ruang tamu tersenyum lega dan bahagia. Terutama Dimas. Senyumnya merekah, lega dan bahagia.


Ibu Devita beranjak dari duduknya mendekati Erina. Dibukanya sebuah kotak perhiasan tak terlalu besar berisikan sebuah kalung enas putih bermatakan berlian yang sudah ia siapkan khusus untuk calon menantunya itu. Erina semakin salah tingkah ketika calon ibu mertuanya mengarahkan kalung itu ke lehernya.


"Ini sedikit tanda jadi dari kami. Kamu harus memakainya terus ya sayang..." Erina hanya terdiam tak berucap. Senyum tipisnya tersungging di bibirnya ketika matanya bersirobok dengan mata Dimas yang sudah tersenyum sedari tadi kepadanya.


"Terima kasih tante..." ucapnya lirih. Ibu Devita tersenyum puas melihat kalung yang dibawanya sudah tergantung pada tuannya.


Malam itu mereka menikmati kebersamaan silahturahmi dadakan yang mengejutkan namun terasa sangat manis. Orangtua Dimas menikmati minuman yang sudah disuguhkan keluarga Erina. Senyum kelegaan dan bahagia tergambar jelas di setiap wajah semua orang yang berada di ruangan itu. Terutama untuk Dimas dan Erina.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya guys.... ❤😍


__ADS_2