
Dimas memasuki ruang kerja barunya. Ruang kerja yang lumayan besar lengkap dengan sofa santai, televisi LED dan kulkas kecil yang berada di sudut ruangan. Dimas masih beradaptasi dengan pekerjaannya. Saat ini ia tengah sibuk mempelajari beberapa berkas berkas penting milik perusahaan yang harus ia ketahui.
Tuk.. Tuk..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk" Dimas mendongakkan kepalanya menatap ke arah pintu. Andra, asistant sementaranya masuk sambil tersenyum.
" Maaf Mas Dimas, sudah hampir waktunya makan siang. Mas mau makan apa? Biar saya pesankan"
"Eeemm... Ga usah deh Pak. Saya mau makan di foodcourt saja. Lokasinya ada dimana ya?"
Sejenak Andra tertegun terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tak menyangka jika boss nya ini lebih memilih makan di foodcourt bersama karyawan biasa yang lain.
"Mas Dimas yakin mau makan di foodcourt?" Andra masih kurang percaya dengan apa yang ia dengar.
"Yups. Tolong beri tahu saya lokasinya?"
Andra berdehem kecil dan lalu menjelaskan lokasi yang di maksud.
"Foodcourt ada di lantai LG di gedung ini Mas. Setelah keluar dari lift, nanti Mas Dimas ambil arah kiri lalu lurus"
"Okay. Terima kasih ya"
"Oia, bapak mau ikut makan bareng dengan saya?"
"Terima kasih Mas. Saya harus mempersiapkan berkas berkas pak Nugra. Kami ada meeting sekaligus makan siang di Restoran ******** " jelas Andra.
Andra adalah asistant pak Nugra yang sangat setia. Ia sudah ikut kerja dengan papanya hampir 10 tahun lamanya. Usianya juga jauh di atas Dimas. Sekitar 39 tahun. Namun wajah dan tubuhnya tidak menampakkan usia yang sebenarnya. Bahkan bisa dibilang masih cocok terlihat sebagai mahasiswa.
"Baiklah. Kalau begitu silahkan bapak bersiap siap sekarang. Biar saya ke sana sendiri. Sekalian saya mau melihat lihat area sekitar gedung ini"
"Baik kalau begitu saya ijin keluar ya Mas." Dimas mengangguk sambil tersenyum. Andra keluar dan menutup kembali pintu ruang kerja Dimas.
############
Cacing di perut Dimas sudah mulai berteriak teriak minta makan. Dimas menutup laptop kerjanya dan menanggalkan jas nya di kursi kerjanya. Dimas keluar dari ruangannya hanya mengenakan kemeja dan dasi tanpa jas nya. Ia berjalan menuju lift untuk menuju ke foodcourt. Pintu lift terbuka, dengan santai Dimas melangkahkan kakinya memasuki lift. Terdengar suara hentakan cepat sebuah sepatu disertai seruan keras.
"Tunggu... Tunggu... " Dini setengah berlari untuk memasuki lift. Wajahnya langsung memerah saat mengetahui ternyata orang yang sudah di dalam lift adalah Dimas.
"Eh Pak Dimas... Terima kasih sudah menahan pintu lift nya untuk saya"
Dimas tak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Ya Tuhaaannn... Kenapa Kau memberiku cobaan yang begitu berat seperti ini. Jantungku serasa hampir copot melihat senyuman manis itu" batin Dini.
Dimas menekan tombol LG. dini hanya mematung tanpa menekan tombol tujuannya. Dini agak terkejut saat melihat Dimas menekan tombol LG. Itu adalah tombol yang akan mengantarkan ke tempat foodcourt karyawan.
"Kamu mau kemana? Biar aku bantu tekan tombolnya?" Dini salah tingkah dengan pertanyaan Dimas. Awalnya ia ingin pergi ke lantai 2 untuk menemui temannya di sana. Namun niatnya langsung ia batalkan. Ia sengaja ingin pergi makan bareng bersama Dimas, laki-laki yang telah mencuri seluruh hatinya.
"Eemmm... Kebetulan saya juga mau ke lantai LG" jawab bohongnya sambil tertawa nyengir. Dimas hanya mengangguk.
"Oia pak, nama saya Dini" Senyuman kikuk tersungging di bibirnya.
"Iya, saya sudah tau" jawab Dimas santai. Dini sangat bahagia Dimas sudah tau namanya sebelum ia memperkenalkan diri kepadanya.
Pintu lift terbuka. Dimas berjalan menuju ke foodcourt karyawan. Walaupun sebutannya foodcourt karyawan, namun ini berbeda. Foodcourt kantor ini sangat mirip dengan foodcourt yang ada di mall. Tempat yang luas, bersih serta menyediakan berbagai pilihan menu makanan yang sangat komplit. Tempatnya juga full AC. Selain itu, Harga makanannya juga masih terjangkau oleh kantong para karyawan.
Dini berjalan beriringan dengan Dimas melihat lihat berbagai pilihan menu makanan. Dimas berjalan santai tanpa memperdulikan puluhan mata menatap ke arahnya. Berbeda dengan Dini, hatinya sangat bahagia karna ia berhasil membuat puluhan mata menatap ke arahnya. Tidak jarang juga ia melihat ekspresi perempuan perempuan yang iri kepadanya karna berjalan dengan seorang laki-laki tampan dan mempesona.
Dimas menjatuhkan pilihan untuk makan siangnya pada menu makanan khas nusantara. Nasi Padang dengan lauk rendang. Dini akhirnya juga ikut menyamakan menu makan siangnya seperti yang dipesan Dimas. Dimas dan Dini makan dalam 1 meja. Dimas ga keberatan Dini ikut makan bareng dengan dirinya, itung-itung sebagai teman ngobrol dirinya.
"Pak Dimas kelihatannya suka banget ya sama masakan Padang" Dini membuka percakapan di sela sela makan.
"Saya sebenarnya suka sama semua jenis makanan. Apalagi kalau makanan seenak ini" ucapnya sambil mengunyah makanannya. Dini membalas senyuman manis yang ditampilkan Dimas.
"Ya Tuhan... Senyumnyaaaa.... Aku bisa mati karna deg degan kalau terus seperti ini" batin Dini mengagumi senyum Dimas yang membuat wajah tampannya semakin mempesona.
"Dimaaasss???" ucap Rio yakin. Raut bahagia menyelimuti diri Rio ketika tebakannya tidak salah.
Dimas mengernyitkan dahinya terkejut dengan seruan Rio yang memanggil nama nya. Sepertinya penampilan Rio sedikit membuat Dimas pangling. Dimas tak langsung menjawab seruan Rio. Ia hanya menatap Rio dengan tatapan menelisik. Namun memory otaknya langsung memberikan satu nama yang ia kanal. Dan Dimas sudah ingat sekarang.
"Rioooo.....?" seru Dimas yang langsung membuat wajah Rio merona karna bahagia. Rio mengangguk angguk senang karna Dimas sudah ingat dengannya.
Mereka berpelukan menghentakkan dada mereka dengan keras dan penuh semangat. Tawa renyah merekapun mengudara. Sebuah kebahagian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dimas menarik Rio ke meja yang lain. Dimas tak sadar kalau dirinya telah mengabaikan Dini yang saat itu tengah bersamanya menikmati makan siang. Dini menghentikan makannya dan memanyunkan bibirnya saat melihat reaksi Dimas yang langsung berpindah ke meja lain tanpa permisi kepadanya. Dini memperhatikan keceriaan dua laki-laki yang sedang bercengkeraman itu dengan wajah geram.
"Huft... Baru seneng sebentar, ada aja gangguan" Dini menggerutu kesal sambil mengetukkan sendok di piring makannya.
"Loe apa kabar bro?" Ucap Rio menepuk pundak Dimas.
"Gue baik. Gue pangling banget sama loe, sumpah. Gue bahkan hampir ga ngenalin loe bro. Loe makin ganteng aja ya sekarang. Makin keren... "
"Hahahahaha... Bisa aja loe. Justru loe tuh yang makin keren."
"Loe kerja di sini Yo?" tanya Dimas penasaran.
__ADS_1
"Iya. Loe sendiri ngapain disini?" tanyanya tak kalah penasaran.
"Sama bro. Gue baru masuk. Loe udah lama kerja disini?"
"Serius loe juga kerja disini?? Gue dah 1 tahun disini" Rio seneng banget ternyata sohib dekatnya juga bekerja satu kantor dengan dirinya.
"Loe di bagian apa Yo?"
"Bagian keuangan, lantai 5"
"Gimana kerja disini? Betah ga?"
"Betah bangetlah. Soalnya gajinya gedong cuiii... " ucap Rio sambil tertawa senang.
"Oia? Syukurlah" Dimas tersenyum lega mendengar pengakuan menyenangkan. Itu artinya perusahaan milik papa nya sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
"Kalau Loe di bagian apa Dim?"
Dimas sesaat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Rio. Terlalu sombong jika ia harus mengatakan bahwa saat ini posisi dia adalah General Manager di perusahaan itu. Ia juga ga ingin jika temannya akan berubah sikap kepadanya jika ia tau posisinya sekarang.
"Gue masih tandem, Yo. Gue belum ada 1 minggu disini"
Rio mengangguk angguk mengerti posisi Dimas saat ini. Karna ia pun dulu juga merasakan hal yang sama.
"Oia Yo, ngomong-ngomong loe masih sama Chika atau udah enggak?" Senyum Rio mengembang dan mengangguk pasti.
"Masih dong... Gue dah cocok sama dia. Udah males juga buat cari yang baru. Loe sendiri gimana? Gue denger loe kuliah ke London? Cewek disana gimana bro?"
"Iya, gue belum lama baru pulang dari London. Gue ga suka cewek bule. Terlalu agresif. Kurang greget. Ga bikin penasaran" Suara tawa keduanya terdengar nyaring.
"Trus loe dah ketemu sama Erina?"
"Udah dooongg.... Dia semakin cantik dan menarik. Bahkan gue udah berhasil nyium dia bro" Rio membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Dimas yang terdengar nakal.
"Wwwaaahhhh..... Mulai nakal loe ya..."
Dimas tertawa lepas terasa geli dengam nada bicara Rio. Dimas dan Rio masih berbincang-bincang melepas kerinduan. Perbincangan mereka terlihat sangat seru sampai tak terasa waktu istirahat sudah lewat.
.
.
.
__ADS_1