Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Ujian Akhir


__ADS_3

Hubungan Dimas dan Erina Makin hari semakin membaik. Dimas sepertinya mulai berhasil meluluhkan kembali kerasnya hati Erina. Walau hanya sebatas saling sapa bagi Dimas itu sudah cukup. Yang terpenting Erina sudah berbaik hati kepadanya. Erina sekarang sudah mau merespon telpon masuk atau pesan singkat yang ia kirimkan. Walaupun isi telpon serta pesannya sangat singkat dan hanya sebentar.


Hari ujian akhir kelas 12 pun semakin dekat. Setiap siswa sudah dipersiapkan dalam menghadapi ujian akhir nanti. Seperti saat ini, semua siswa kelas 12 mendapat jam pelajaran tambahan. Sangat melelahkan pastinya. Tapi memang seperti itulah ritual yang harus dijalani.


###########


Hari ujian akhir sudah tiba. Semua siswa diliburkan. Kecuali kelas 12 yang akan mengikuti ujian akhir untuk syarat kelulusan.


Wajah-wajah serius dan tegang menghiasi hampir seluruh siswa yang sedang mengikuti ujian. Suasana sekolahpun terasa hening dan lebih tenang dari biasa.


Ujian pun dimulai. Semua siswa sangat serius mengisi dan menjawab soal demi soal. Begitupun dengan Dimas. Dengan teliti ia kerjakan semua lembar soal yang diberikan pihak sekolah.


############


Libur 1 minggu yang diberikan pihak sekolah sungguh membuat para siswa sangat senang. Mereka bisa bebas melakukan kegiatan apa saja atau kemana saja yang mereka suka.


Ddrrtt... Ddrrttt....


Ponsel Erina bergetar. Terlihat nama Chika di layar ponsel nya.


"Halo Chik"


"Hai Rin, sibuk ga?"


"Enggak. Ada apa?"


"Jalan yuk. Bete nih di rumah terus."


"Kemana?"


"Anak-anak sih ngajakin ke Mall. Jam 1 loe kita jemput ya. Loe siap siap."


"OK "


Tepat jam 1 siang mobil Tasya sudah terparkir Di depan pagar rumah Erina. Erina segera keluar menghampiri mereka dan masuk ke dalam mobil Tasya. Hari ini Erina and gank menghabiskan waktunya Di sebuah Mall yang ada di Jakarta. Libur dadakan memang sangat menyenangkan.


##########


Rumah Dimas


Ibu Devita sedang sibuk membuat puding dan cake di dapur. Aroma wangi dari adonan cake yang sedang di oven merebak keseluruh ruangan rumah. Wulan tersenyum melihat raut wajah mama Dimas yang serius dengan calon makanan yang sedang ia buat. Wulan perlahan mendekati dan menyapanya.

__ADS_1


"Morning tante, lagi bikin apa?" sapa Wulan ramah.


"Oh, Wulan. Morning.... " jawab mama Dimas dengan nada yang terdengar renyah.


"Tante sibuk banget. Lagi bikin apa?" tanya Wulan mengulangi


"Ini tante lagi bikin cake sama puding buat dessert. Ini puding favorite nya Dimas loohh.." ucap ibu Devita menjelaskan.


"Oia? Kak Dimas suka puding juga ya tante?"


"Suka banget. Justru ini makanan favorite nya dia dari kecil. Dulu waktu Dimas kecil kalau lagi ngambek tante kasih puding ini pasti langsung diem. Malah dia ga begitu suka sama yang namanya es cream." jelas ibu Devita sambil tertawa kecil. Wulan hanya mengangguk-angguk.


"Oia tante, ngomong-ngomong Kak Dimas itu udah punya pacar belum sih?" tanya Wulan dengan nada hati-hati.


Ibu Devita menatap Wulan sejenak lalu tersenyum geli saat wajah Wulan memerah karna tersipu malu.


"Kamu suka ya sama Dimas?" tebak ibu Devita tanpa basa basi.


"Ah, Eng-gak kok tante. Wulan cuma nanya aja"


Ibu Devita tersenyum tipis. Ia tau kalau apa yang barusan Wulan ucapkan adalah bohong.


"Sampai saat ini sih Dimas belum pernah bilang ke tante kalau dia sudah punya pacar. Tapi kalau kamu memang ada rasa sama anak tante, nanti bisa tante sampaikan ke orangnya" ucap Ibu Devita sedikit menggoda Wulan.


Cup


(Satu ciuman sayang mendarat di pipi ibu Devita)


"Dimas, kamu sudah pulang?" ucap sang mama terkejut.


"Udah dong Ma. Mama lagi masak apa?" tanya Dimas sambil memperhatikan semua masakan yang ada di atas kompor.


"Mama sama Wulan lagi bikin puding sama cake marmer kesukaan kamu"


Dimas hanya menipiskan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Gimana tadi ujiannya? Bisa kan?"


"Bisa dong Ma... Kan anak Mama ini anak yang cerdas" ucap Dimas sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke pelipis matanya serta memainkan alisnya.


Ibu Devita hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari anaknya itu.

__ADS_1


Ting...


Senyum ibu Devita tiba-tiba berubah panik saat terdengar suara pemberitahuan dari oven besarnya.


"Oia Wulan, cakenya kayaknya udah mateng deh. Tolong kamu keluarin ya." ucap mama Dimas sengaja menyuruh Wulan supaya Dimas melihat kalau Wulan seorang wanita yang rajin di dapur.


"I-iya tante" jawab Wulan gugup.


"Hati-hati ya sayang"


Wulan berhati-hati mengeluarkan cake panas dari oven. Aroma butter yang sangat harum sungguh membuat manja indera penciuman dan menggoda lidah untuk segera bisa mencicipinya. Dimas mendekati cake marmer yang baru saja keluar dari panggangan. Reaksi natural Dimas seperti anak kecil yang kegirangan saat melihat ada makanan, membuat Wulan terkikik dengan sangat bahagia.



"Hhmmm.... Ini kue aromanya wangi banget Ma... Pasti enak." ucap Dimas sambil mengarahkan hidungnya Dan mengendus endus aroma cake yang masih panas.


"Ini Wulan loohh yang bikin. Cantik kan cake nya?" ucap mamanya berbohong. Wulan menolehkan pandangannya ke mama Dimas, terkejut dengan perkataan yang diucapkannya barusan.


"Oia? Serius? Ini kamu Wulan yang bikin?" tanya Dimas dengan senyum lebarnya.


"Bu-bukan Ak... " Mulut Wulan menganga saat ucapannya langsung Di potong oleh mama Dimas.


"Ya serius doooonggg.... Diam-diam Wulan jago masak loh Dim. Kalau nanti jadi istri pasti suaminya bakalan sayang banget. Soalnya Wulan jago masak"


Wajah Wulan kali ini benar-benar merah mirip seperti kepiting saos padang karna mamanya Dimas menyanjung dirinya dengan pujian yang membuat dirinya melayang. Apalagi sanjungannya di depan Dimas langsung.


"Ya memang begitu kan kalau jadi seorang istri. Harus pinter masak supaya disayang sama suaminya" ucap Dimas datar tanpa maksud menyanjung. Namun ucapan Dimas membuat Wulan jadi salah paham. Senyumnya mengembang lebar. Ditambah lagi tatapan Dimas yang ramah kepadanya semakin membuat dirinya sangat bahagia pagi itu.


"Kak Dimas mau cobain cakenya? Aku potongin ya.. " ucap Wulan menawarkan.


"Ntar aja deh. Masih panas. Gue ganti baju dulu ya" jawab Dimas sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. Wulan menarik nafas kecewa menerima perlakuan dari Dimas yang kembali mengabaikan nya.


"Sabar ya, Dimas anaknya memang seperti itu. Sering ngeselin, tapi aslinya dia baik kok" ucap ibu Devita sambil tertawa kecil. Wulan mengangguk pelan dan tersenyum.



Pagi itu Wulan membantu menyelesaikan acara masak memasak dengan Mama Dimas sampai selesai. Senyum keduanya mengembang saat melihat puding yang dibuat sudah membeku dengan tampilan yang menggoda.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2