
Mata Rio terbelalak tak percaya saat matanya membaca selembar kertas berisi pernyataan bahwa dirinya dipindah tugaskan sebagai asistant pribadi General Manager. Namun yang sedikit aneh, dalam surat itu tidak disebutkan siapa nama General Manager yang dimaksud. Rio akan berpindah ruang kerja dari lantai 5 menuju lantai 7.
Rasa bahagia bercampur deg degan menyelimuti seluruh jiwanya. Senang karna ia naik jabatan dan pasti disertai dengan naiknya gaji. Namun ia deg degan karna dengan berstatus asistant pribadi, maka ia harus rela menyerahkan seluruh waktunya untuk melayani semua kebutuhan dari si GM tersebut. Termasuk hari liburnya jika sewaktu waktu dibutuhkan.
Rio melangkahkan kakinya menuju lift khusus menuju lantai 7. Lantai khusus dimana tempat para pejabat tinggi dan direksi berada.
Tttiiiingggg....
Pintu lift terbuka. Rio berjalan menuju meja Dini. Sekretaris umum direksi yang bertugas menghandle semua keperluan para direksi di lantai itu.
"Selamat pagi... " Rio tersenyum nyengir.
Dini yang sedang sibuk dengan laptopnya menolehkan pandangannya ke arah Rio yang sudah tersenyum padanya.
"Pagi... Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf, saya dapat surat tugas ini" Rio menyodorkan surat yang dimaksud kepada Dini. Dini membacanya sekilas, mengangguk Lalu menyambungkan telponnya ke ruang kerja Dimas. Dengan suara manja, Dini memberitahukan kedatangan Rio kepada Dimas.
"Maaf Pak, ada Pak Rio di luar"
"Oh ok, tolong antarkan ke ruangan saya ya"
"Baik pak" Dini beranjak dari kursinya dan mengantarkan Rio ke ruang kerja Dimas.
Sejak kehadiran Dimas, penampilan Dini mulai berubah. Pakaian Dini terlihat makin sexy dan sedikit terbuka. Seperti hari ini, dengan stelan blezzer berwarna cream dan dalaman tangtop berwarna coklat tua serta rok mini berwana senada dengan blezzer nya setinggi diatas lutut, sungguh membuat para laki-laki menelan ludah. Pakaian sexy nya sangat jelas memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Kulit putihnya juga sungguh menggoda. Keindahan itu pun tak luput dari pandangan Rio. Rio menelan ludah saat berjalan di belakang Dini. Aliran darahnya merasakan getaran alami para laki-laki normal. Belahan dada baju Dini yang menonjol juga terlihat jelas saat ia bangkit dari duduknya tadi. Sungguh wanita yang menggoda.
Dini mengetuk pintu ruang kerja Dimas.
"Masuk" ucap Dimas dari dalam.
Dini memasuki ruang kerja Dimas. Dimas sedikit terkejut dengan tampilan Dini hari ini. Hari ini ia berbeda, lebih sexy dari hari kemarin. Dimas menegakkan duduknya dan menampilkan wajah datarnya melihat penampilan Dini. Ia tak mau terlarut dengan penampilan menipu seperti itu.
"Permisi pak, saya antar pak Rio."
"Okay, biarkan dia masuk. Terima kasih ya Din"
"Sama-sama pak Dimas" ucapnya manja sambil tersenyum menggoda.
Dini mempersilahkan Rio untuk memasuki ruangan Dimas. Dengan langkah penuh deg degan, Rio memberanikan dirinya untuk memasuki ruangan itu. Ruangan yang sangat besar jika dihuni satu orang. Rio terkejut luar biasa saat ia melihat sesosok laki-laki yang sedang duduk di balik meja besar mengkilap dan sepertinya orang itu sudah menunggu dirinya. Dimas duduk dengan menegakkan tubuhnya di atas kursi besarnya sambil tersenyum. Mata Rio terbelalak seakan ingin lepas dari kelopaknya. Ia mengucek ucekkan matanya. Menyadarkan dirinya akan apa yang ia lihat.
"Dimaaaassss?" teriaknya Rio tak percaya.
Dimas menyunggingkan senyumnya dan bangkit dari kursinya berjalan santai ke arah Rio yang berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Dimas menepuk bahunya yang membuat Rio tersentak sadar.
__ADS_1
"Dim.. Eloo...?"
"Santai bro... Ayo duduk dulu" Dimas mengarahkan Rio untuk duduk di kursi sofa guna merilekskan dirinya dari ketegangan syok nya.
"Dim, tolong jelasin sama gue apa maksudnya semua ini. Surat ini maksudnya apa?"
"Yah, seperti yang loe lihat. Itu benar. Gue sengaja pilih loe sebagai asistant pribadi gue" ucap Dimas santai.
"Jadi General Manager yang dimaksud di surat ini adalah elo?" Dimas menipiskan bibirnya sambil mengangguk. Seperti kesetrum aliran listrik, Rio mematung dan sesaat tak berkutik dalam lamunannya.
"Rioo... Heii... Sadar bro... " Dimas menjentikkan jari telunjuknya ke arah wajah Rio yang membuat Rio kembali tersadar.
"Gue ga nyangka Dim. Ternyata loe adalah boss gue. Pemilik dari perusahaan ini"
"Lebih tepatnya anak dari pemilik perusahaan bro..."
"Ya whatever lah... Yang jelas gue bener bener spechlees. Jadi surat ini beneran? Gue jadi asistant pribadi loe Dim?"
"Yups beneran. Tadinya gue pengen Erina yang jadi asistant gue. Berhubung bokap gue melarang gue punya asistant cewek, makanya gue menjatuhkan pilihan ke diri loe"
"Dimaaasss... Sumpah gue terharu loe pilih gue jadi asistant pribadi loe"
"Jangan lupa traktir gue makan ya... " goda Dimas yang sontak membuat wajah Rio memerah malu.
"Berarti gue.., eh maksud saya... Saya sudah tidak boleh memanggil anda dengan sebutan nama, tapi dengan sebutan bapak" ucap Rio dengan wajah menunduk sopan dan canggung.
"Apaan sih loe... Ga ada perubahan!!! Semua tetap sama. Gue mau loe tetep sama manggil gue seperti biasa. Ga ada istilah saya, anda apalagi bapak. Paham!!"
"Tapi saya... "
"Atau jabatan loe mau gue ganti dengan orang lain?" Dimas mengancam. Dengan cepat Rio menyanggahnya dan langsung mematuhi kemauan boss baru nya itu.
"Eh, jangan dong... Ok.. Ok.. Dimas bukan bapak Dimas" suara tawa renyah mereka mengembang di udara.
Rio mulai mempelajari hal-hal apa saja yang harus ia lakukan sebagai seorang asistant pribadi seorang boss. Dan ternyata tugasnya tidak lebih berat dari tugasnya dia terdahulu saat ia menjabat sebagai staff keuangan yang harus berjibaku dengan angka angka yang terkadang terasa rumit untuk dihitung dan disusun rapi.
###############
Drrrtttt... Drrtttt....
Erina melihat sederet nomor handphone tak dikenal telah menghubungi nya. Awalnya ia sedikit ragu untuk menerima. Namun rasa ragunya ia hilangkan dan bergegas untuk menerima panggilan telpon dari nomor tak dikenalnya itu.
"Halooo... "
"ERINNNAAAAAA......" dari sebrang terdengar suara perempuan berteriak dengan semangat memanggil namanya. Erina sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya karna suara teriakannya sangat membisingkan telinga.
"Halooo... Erinnnaaa.. Loe masih denger gue kan????"
__ADS_1
"Maaf ini siapa ya?" Erina memang benar benar lupa dengan suara perempuan yang sedang menelponnya itu.
"Loe sombong banget ya sekarang. Udah ga mau kenal lagi sama gue"
"Sorry.. Tapi beneran deh, gue lupa sama suara loe"
"Gue Chika Erinaaa.... Memory otak loe masih bagus kan ciiinnn.... "
Erina membulatkan matanya dan langsung tersenyum lebar tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Rasanya seperti mimpi teman baiknya menghubungi dirinya kembali.
"Chikkkaaa??? Serius ini elo? Aaaahhhhh.... Gue seneng banget loe telpon gue... Akhirnya kita bisa komunikasi lagi. Loe apa kabaaarrr??"
"Baik. Gue baik. Ketemuan yuk... Anak-anak pengen kumpul kumpul kayak dulu lagi"
" Ayok.. Ayok.. Kapan? Dimana?" suara Erina terdengar sangat antusias dan bahagia. Mereka cukup lama berbicara di telpon. Melepas kerinduan dan saling bertukar kebahagian.
##############
Erina mendatangi sebuah cafe yang belum pernah ia da datangi. Seperti yang sudah disepakati, Erina dan Chika akan bertemu disana. Semangat kerinduan yang mendalam membuat Erina sangat bersemangat untuk menepati janjinya bertemu dengan sahabat nya itu.
Erina membuka pintu cafe dan memperhatikan suasana dalam cafe itu. Cafe yang cukup besar dengan ornamen indah dan tulisan tulisan penuh dekoratif menambah suasana cafe terasa lebih nyaman dan membuat betah para pengunjungnya. Erina mempercepat langkahnya saat matanya melihat lambaian tangan dari orang yang ia kenal untuk menuju kepadanya.
"Chikaaa... Tasyaaaa... Adeeelll..." Teriak Erina dan memeluk dan menciumi satu persatu sabahatnya itu. Mereka juga saling membalas pelukan serta ciuman pipi Erina. Cipika cipiki yang sering dilakukan oleh layaknya kaum wanita.
"Gue kangen banget sama loe semua. Sumpah gue kangen bangeeeettt... " ucap Erina gemas.
"Gue juga kangen banget sama loe. Gue pangling banget sama loe Rin. Tambah cantik deehh..." ucap Tasya tak kalah gemasnya.
"Ah bisa aja loe. Loe juga tambah cantik. Kurusan lagi. Keren ih... " ucap Erina memuji balik Tasya.
"Chik, selamat ya... Loe dah berhasil jadi dokter muda. Gue seneng banget dengernya.." ucap Erina dengan senyum lebarnya.
"Iya, terima kasih. Gue masih belajar kok guys. Belum berani jadi dokter sepenuhnya, hihihi...." ucap Chika merendah.
"Adel, loe gimana sama cita-cita loe yang pengen jadi pengusaha kuliner? Cerita dong... Gue kapan kapan boleh dong nyicipin hasil masakan loe... "
"Boleh.. Boleh... Gue baru merintis usaha kuliner nih. Sementara masih di daerah Bandung. Nanti kalau respon konsumen ok, rencananya sih gue mau buka cabang di Jakarta. Doain ya guys... "
"Pasti kita doain dong... Apalagi kalau loe beneran sukses bisa buka cabang di Jakarta, wah kita seneng banget tuh. Itung itung makan gratis. Ya nggak guys.... " ucap Tasya menggoda Adel yang di sertai tawa renyah dari semua sahabat.
Seharian itu mereka melepas rindu dengan berbincang-bincang sampai puas. Saking asiknya, mereka sampai melupakan yang namanya waktu. Waktu seharian benar benar mereka habiskan untuk saling bercengkeraman satu sama lain sampai mereka benar benar puas melepas rindu.
.
.
.
__ADS_1