
Mobil Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Erina membuka seatbealt nya dan tersenyum manis ke arah Dimas. Demikian juga dengan Dimas, senyumnya mengembang bahagia.
"Terima kasih ya Dim." ucap Erina malu malu.
"Sama-sama sayang..." jawab Dimas sambil mengusap lembut rambut wanitanya.
"Dimas, Terima kasih ya kamu sudah nolongin aku kemarin. Kalau kemarin ga ada kamu... Aku ga tau apa yang akan terjadi" Dimas menatap dalam Erina lalu mengangguk, tersenyum penuh goda.
"Kantong bajuku bisa penuh dengan ucapan terima kasih kamu nih" ucapan Dimas terdengar garing tapi mampu membuat Erina tersipu malu karenanya. Tawa kecilnya pun terbentuk dengan tatapan Dimas yang menggoda.
"Aku senang bisa lihat kamu tertawa seperti ini lagi"
"Gombal ah. Aku turun ya..."
Dimas menarik tangan Erina menahannya agar tak langsung turun dari mobilnya. Erina menolehkan pandangannya ke arah Dimas yang sudah menatapnya tajam.
"Aku senang, akhirnya kamu kembali menjadi Erinaku yang manis dan manja. Aku sungguh tersiksa dengan sikap dingin kamu yang kemarin"
"Bukannya kamu sendiri yang kemarin bersikap dingin dan acuh sama aku?" Erina memanyunkan bibirnya sedikit cemberut. Dimas tertawa geli dengan sikap Erina yang terlihat menggemaskan baginya.
"Iya, maaf..." ucapnya sambil mencubit pipi Erina.
Erina keluar dari mobil yang diikuti oleh Dimas. Dimas berjalan mendekati wanitanya masih dengan senyuman bahagianya.
"Kamu dari tadi aku lihat senyum senyum terus? Kenapa?" Erina menatap aneh sikap Dimas yang terlihat berbeda malam ini.
"Aku sangat bahagia malam ini. Aku..." Dimas menghentikan perkataannya yang sontak membuat Erina penasaran dengan kelanjutannya.
"Aku...? Kenapa?" Erina mengernyitkan dahinya karna penasaran, sedangkan Dimas terlihat sedikit salah tingkah karenanya.
"Aku... Ah, lupakan saja. Kamu masuklah. Istirahat. Kamu kan baru pulih dari sakit" sesaat Erina tertegun dan terdiam dengan ucapan Dimas, lalu dengan cepat ia menganggukan kepala menuruti perintahnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu hati hati di jalan ya..." ucap Erina sebelum memasuki pintu pagarnya. Dimas hanya mengangguk canggung.
Erina bergerak membalikkan tubuhnya menuju pintu pagar rumahnya. Dimas hanya tertegun menatap langkah kecil Erina. Hatinya masih belum rela untuk berpisah dengan wanita pujaannya.
"Erinaaa..." Erina membalikkan kembali tubuhnya dan menatap Dimas dengan tatapan keheranan.
"Ya..."
Dimas perlahan berjalan mendekati Erina yang sudah berada di depan pintu pagar rumahnya.
__ADS_1
"Aku... Apakah aku..." ucapan Dimas terdengar ragu dan membingungkan.
"Dimas ada apa?"
"Apakah aku boleh memelukmu lagi?" tanpa sadar mulut Erina ternganga dengan ucapan permintaan yang terlontar dari bibir Dimas. Dan tawa kecilpun akhirnya tercipta.
Erina mendekatkan dirinya dan mengambil inisiatif untuk memeluk tubuh kekar Dimas yang mematung. Erina memeluk Dimas dengan pelukan erat yang langsung di balas Dimas dengan pelukan yang semakin erat.
Untuk beberapa saat, keduanya saling memejamkan mata, menikmati hangatnya perpaduan rasa yang menyatu, rasa rindu yang tertahan dan rasa cinta yang terasa menggebu.
"Eheeemmm...."
Erina segera melepaskan pelukannya ketika telinganya mendengar sebuah suara yang terdengar begitu dekat.
"Mama..." Erina membulatkan matanya ketika matanya menangkap sosok mamanya sudah berdiri di balik pintu pagar rumahnya. Dan sepertinya mamanya juga sudah melihat perbuatannya yang sudah dengan berani memeluk seorang laki-laki.
Erina terlihat salah tingkah di hadapan sang mama. Namun berbeda dengan Dimas, dia terlihat tenang dan sangat percaya diri.
Ibu Astri keluar dari pintu pagar menghampiri Erina dan Dimas yang masih mematung. Dimas tersenyum manis dan menyapa calon mertuanya dengan santun.
"Malam tante..." Ibu Astri membalas senyuman Dimas dengan senyuman senang. Erina terlihat grogi dan salah tingkah. Wajahnya terlihat cemas dan panik.
"Mama kan juga pengen lihat cara anak mama yang sedang berpacaran... Ternyata kalian berdua benar benar so sweet ya..." goda sang mama yang berhasil membuat wajah Erina memerah memahan malu.
"Mama apa apaan sih. Ga lucu tau..." Erina nampak kesal dengan sikap mamanya. Dimas sendiri masih terlihat tenang dan tersenyum simpul.
"Nak Dimas mau masuk dulu, kita bisa minum teh bareng?" ucapnya ke arah Dimas menawarkan.
"Lain kali aja ya Ma. Soalnya Dimas udah mau pulang. Besok pagi-pagi dia ada jadwal meeting sama client. Iya kan Dim?" Dimas hanya tertawa kecil mendengar ucapan Erina yang terkesan meminta dukungan dirinya untuk mengiyakan ucapannya.
"Sepertinya ini waktunya pas" batin Dimas.
Wajah Ibu Astri sedikit terlihat kecewa saat Erina menyanggah tawaran untuk calon menantunya itu. Namun wajahnya kembali sumringah ketika tangan Dimas terlihat merengkuh tangan Erina dan menggenggamnya dengan erat. Perlakuan Dimas sontak membuat Erina terkejut dan memberontak untuk melepaskan genggaman tangannya.
"Terima kasih banyak untuk tawarannya tante. Saya senang sekali di tawari untuk mampir minum teh dengan tante. Tapi, kondisinya yang sudah malam sepertinya kurang mendukung. Lain kali saya pasti akan mampir untuk minum teh bareng dengan tante." Ibu Astri mengangguk sambil tersenyum dan lalu memandang ke arah genggaman erat tangan Dimas yang masih di coba untuk dilepaskan oleh putrinya. Erina benar benar terlihat canggung dan mati kutu di depan sang mama.
Dimas menolehkan pandangannya ke arah Erina yang terlihat panik dan tersenyum manis kepadanya. Dimas juga nampaknya tak gentar sedikitpun meski mata Erina sudah melototinya meminta untuk melepaskan genggaman tangannya.
"Tante,,, saya sangat mencintai putri tante. Dan saya serius dengan hubungan ini. Malam ini di depan tante, saya ingin melamar Erina, menjadi istri saya..." Erina membelalakkan matanya, mulutnya ternganga tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Kakinya terasa lemas. Ia tak menyangka bahwa Dimas akan berbuat senekad itu di depan mamanya.
Ibu Astri tertegun dengan pernyataan yang baru saja terlontar dari bibir Dimas. Ia senang sekaligus sedih mendengarnya. Sedih karna putri semata wayangnya akan di ambil oleh Dimas dan akan menjalani serta menghabiskan sisa hidupnya bukan dengannya lagi. Namun, rasa bahagianya lebih besar ketimbang rasa sedihnya.
__ADS_1
Ibu Astri tersenyum bahagia dan menatap Dimas dengan tatapan dalam dan tajam Tatapan akan tuntutan sebuah kepastian.
"Tante senang mendengarnya. Tapi apakah yang kamu ucapkan tadi serius dari hati kamu?"
"Saya sangat serius tante. Dan saya siap menikahi putri tante kapan saja"
"Dimaaasss... Aku ga suka dengan becandaan kamu" ucap Erina geram.
"Aku ga bercanda sayang... Aku serius" Erina terperangah dengan sikap dan ucapan Dimas yang memang terdengar sangat serius. Wajah Dimas menggambarkan dengan jelas keseriusannya.
Ibu Astri mengangguk senang dan tersenyum kembali. Erina sendiri masih saja dengan sikap salah tingkahnya mulai menyembunyikan tangannya yang masih di genggam erat oleh Dimas.
"Tante percaya sama kamu. Tante percaya kamu akan menjaga putri tante dengan baik"
"Terima kasih tante. Kalau begitu saya pamit pulang dulu." Dimas sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormatnya.
"Kamu istirahat, sudah malam. Aku pulang ya..." ucap Dimas kepada Erina dengan nada sangat perhatian. Erina tak mampu berucap. Hanya anggukan kecil yang bisa ia lakukan.
Setelah berpamitan, Dimas kembali ke mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina. Di dalam mobil senyum Dimas mengembang sangat lebar. Hatinya terasa plong dan lega sudah berhasil mengungkapkan keinginan terdalamnya di hadapan orangtua Erina.
Di sisi lain, Erina masih berdiri mematung di posisi berdirinya merasa malu dengan sang mama. Ibu Astri dan Erina saling bertatapan. Tatapan Erina syarat akan rasa malu yang tertahan. Ibu Astri tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang berubah canggung kepadanya.
(Ibu Astri berdehem)
"Cieee... Yang barusan dilamar... So sweet bangeeeeetttt...." ucapnya sambil mendekati Erina yang masih terdiam dan mematung.
"Apaan sih mama. Udah ah, ayok kita masuk" Erina langsung melingkarkan tangannya di lengan sang mama dan menggiringnya masuk ke dalam rumah.
"Mama seneng deh akhirnya putri mama sebentar lagi akan di sunting oleh seorang pangerang tampan dan baik hati" ucapnya lagi menggoda. Erina tak mampu menyembunyikan wajah malunya yang kini memerah seperti jambu dan tertawa lebar dengan sikap lebay yang ditunjukkan oleh mamanya.
"Udah dong Maaa... Jangan godain aku terus akh..."
"Nanti kalau kamu udah nikah sama Dimas, jangan lupa ceritain ke Mama ya, kegiatan malam pertama kamu...."
"MAMAAA...." Erina membelalakkan matanya dengan geram. Sedangkan sang mama tertawa terbahak bahak dengan sikap putrinya itu.
.
.
.
__ADS_1