Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Lunch


__ADS_3

Pagi ini cuaca cerah. Matahari sudah mulai menampakan wajahnya. Erina memasuki pintu besar kantor dengan langkah yang ringan. Suasana hatinya masih bahagia setelah acara kemarin malam yang membuat hatinya bagai melayang ke atas awan, menari nari jumpalitan.


Pintu lift sudah terbuka. Erina memasuki ruangan kerjanya dengan tenang. Di dalam ruangan yang cukup besar itu sudah terlihat rekan kerjanya sudah banyak yang berdatangan. Erina menyapa mereka dengan senyum ramahnya.


"Selamat pagiii..." ucap Erina. Suaranya terdengar renyah.


"Wah nyonya besar sudah datang... Selamat pagiii..." cletuk salah satu rekan kerjanya. Intonasinya terdengar jelas sangat menyindir.


"Auranya beda ya yang sudah jadi nyonya besar" cletuk yang lain.


"Yoiiii... Lebih fresh gimanaaa gituu.."


"Huuusshhh... Jangan kurang ajar sama nyonya besar. Ntar loe bisa dipecat"


"Haaahhh... Serius?? Iiihh... Takuuutt..."


Sindiran demi sindiran dilontarkan satu persatu oleh rekan kerja satu ruangannya. Erina tercengang mendapati perubahan sikap dari teman kerjanya. Ia hanya diam mematung sejenak tanpa suara. Senyuman ejekan juga nampak di tampilkan oleh salah satu teman wanita yang ada di ruangan itu. Erina menghela nafas, menipiskan bibirnya mengabaikan sindiran dari rekan kerjanya dan menuju ke meja kerjanya.


Tak begitu lama waktu berselang, Mieke memasuki ruangan. Saat melintasi meja Erina Mieke berhenti beberapa detik. Menatapnya dengan wajah jutek lengkap dengan senyum sinis di ekor bibirnya. Erina yang menyadari kehadiran atasanya langsung berdiri untuk menyapanya.


"Selamat pagi bu Mieke" sapa Erina sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Alih-alih menjawab sapaan Erina, Mieke memalingkan wajahnya dengan sinis dan mendongakkan wajahnya berlalu menjauh dari meja Erina dan menuju mejanya sendiri.



Erina menghembuskan nafas pendeknya lagi menggerutu sendiri atas perlakuan rekan kerjanya terhadap dirinya. Erina sudah menyadari bahwa hal ini sudah pasti akan diterimanya. Namun yang ia tak sangka adalah ternyata respon rekan kerjanya begitu cepat dan cukup menyakitkan. Hal ini memang terjadi sejak Dimas memperlakukan dirinya secara special di acara malam itu. Yah, mau bagaimana lagi. Semua sudah terungkap. Cepat atau lambat semua juga akan terungkap. Semua orang juga pasti akan tau tentang hubungannya dengan anak orang satu di perusahaan itu.


########


Dddrrtttt... Dddrrttt....


Ponsel Erina bergetar. Satu panggilan telah masuk. Dengan malas Erina menerima panggilan masuk itu.


"Halo.."


"Jutek amat neng..."


Dari sebrang telpon, Erina memanyunkan mulutnya karna masih kesal dengan perlakuan rekan-rekan kerjanya.


"Aku mau ajak kamu makan siang. Kamu mau makan apa? Mau dimana?"

__ADS_1


"Kamu makan sama kak Rio aja ya Dim. Nanti aku biar makan di kantin karyawan saja"


"Kantin karyawan? Eemm... Boleh juga tuh. Ya sudah, nanti kita makan di sana saja ya"


Belum sempat Erina menjawab ucapan Dimas, sambungan telpon sudah diputus sepihak olehnya. Alhasil, Erina hanya bisa mendengus kesal karnanya.


Erina meletakkan kembali ponselnya di meja dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Tepat jam 12 siang, Dimas sudah muncul di depan ruangan kerja Erina. Semua karyawan memberi hormat dan sedikit membungkukkan tubuhnya saat Dimas memasuki ruang kerja itu. Erina tak menyadari kehadiran Dimas. Ia masih fokus dengan laptopnya. Dimas tersenyum melihat bidadarinya yang terlihat sexy karna terlalu fokus dengan laptopnya. Sampai sampai ia tak menyadari kehadirannya.


Dimas menyilangkan kakinya duduk di belakang Erina. Dimas sengaja tak menyapa Erina yang masih terlihat sibuk. Dipandanginya dari belakang punggung kekasih hatinya. Senyuman lebarpun tersungging di bibirnya. Erina baru menyadari kehadiran Dimas saat Mieke menyapa Dimas dengan suara manja yang terdengar menjijikkan ditelinga Dimas.


"Pak Dimas? Anda sedang apa disini? ada yang bisa saya bantu" ucap Mieke dengan senyuman paling manisnya. Namun Dimas mengabaikan sapaan Mieke. Dan jelas itu membuat Mieke menjadi kesal.


Erina terperanjat kaget saat mendengar Mieke menyebut nama Dimas. Matanya langsung mencari keberadaan Dimas. Erina membulatkan matanya saat ia menyadari bahwa Dimas telah berada duduk persis di belakangnya.


Sika acuh Dimas kepadanya membuat Mieke memilih untuk meninggalkan Dimas yang matanya masih tak lepas dari wajah Erina. Tatapan iri dan kesal Mieke terlihat sangat jelas. Mieke menghentakkan kakinya dan bergegas meninggalkan tempat Erina.


Dimas sendiri hanya tertawa kecil melihat sikap Erina yang terkaget-kaget melihat dirinya.


"Dimas?" ucap Erina terkesima.


"Kamu keliatannya masih sibuk banget ya"


"Hmm... Aku rasa 30 detik cukup ya buat kamu beresin meja kamu"


"A-apa..."


"29, 28, 27,... " Dimas meninggikan tangan kirinya menatap ke arah jam tangan miliknya dan mulai menghitung mundur waktu yang ia berikan. Erina menatap Dimas dengan geram dan mengalah untuk membereskan meja kerjanya.


Meja kerja Erina sudah terlihat rapi. Erina berdiri menatap Dimas yang masih duduk santai dengan menyilangkan sebelah kakinya.


Dimas tersenyum dan bangkit dari duduknya serta merapihkan jas nya yg sedikit kusut karna duduk tadi.


Dimas mengulurkan tangannya ke arah Erina. Namun, Erina tak membalas uluran tangan itu. Ia justru membulatkan matanya ke arah Dimas. Dimas memiringkan sedikit kepalanya sambil mengernyitkan dahi mencoba untuk menyelidiki sebuah alasan yang tepat yang bisa ia terima.


"Dimas please... Jangan seperti ini. Coba kamu lihat kanan kiri kamu" Dimas mengikuti perintah Erina. Matanya melirik kanan dan kiri. Hampir semua mata sedang mencuri pandang menatap ke arahnya dan bahkan ada yang sengaja berbisik bisik membicarakan dirinya.


Dimas menyunggingkan senyum tipisnya. Diraihnya tangan Erina dengan sengaja dan digenggamnya erat. Perlakuan mereka seolah menantang Dimas untuk memamerkan kemesraannya kepada semua orang. Sekaligus sebagai pertanda bahwa Erina adalah miliknya. Dan tak ada satu pun laki-laki yang boleh mengganggu miliknya.


Dimas berjalan sambil menggandeng Erina keluar dari ruangan. Dan lagi lagi Erina hanya bisa pasrah dengan perbuatan Dimas terhadapnya. Hampir semua wanita di ruangan kerja Erina menampilkan tatapan takjub serta iri melihat kemesraan yang dilakukan Dimas terhadap Erina. Dimas sendiri tak memperduikan sama sekali opini yang akan muncul setelahnya.

__ADS_1


#########


Dimas melajukan mobilnya meninggalkan kantor untuk pergi makan siang. Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang yang tak terlalu kencang. Karna lalu lintas siang hari lumayan ramai. Mungkin karna ini waktunya jam makan siang, jadi tak heran jika jalanan menjadi lebih ramai.


"Kamu bilang mau makan di kantin karyawan. Kenapa malah keluar" ucap Erina ditengah perjalanan. Dimas hanya menyunggingkan senyumannya mendengar perkataan wanitanya itu.


"Kamu mau saat makan sama aku, kamu ditontonin dan jadi bahan omongan orang sekantor?"


"Ya enggak sih" jawabnya dengan suara yang terdengar lemah dan putus asa.


"Udah tau kan jawabannya?" Erina tak mampu lagi untuk menyanggah ucapan Dimas. Kali ini ucapan Dimas benar adanya.


"Dim, lain kali tolong kamu jangan jemput aku di ruang kerjaku lagi ya"


"Why?" tanyanya singkat tanpa menolehkan pandangannya ke arah Erina.


"Aku ga enak aja sama temen-temen satu ruanganku. Mereka pasti berasumsi yang macam-macam"


"Kamu malu punya pacar seperti aku"


"Bukan itu maksud aku..."


"Lalu apa?"


"Aku merasa, sejak acara perayaan ulang tahun perusahaan kemarin temen-temen satu ruanganku mulai berubah sikapnya. Entah karna iri atau ada rasa yang lain aku ga tau"


"Sayang... Setiap orang punya hak untuk memiliki rasa. Biarkan saja. Kalau kamu selalu megikuti komentar mereka, kamu sendiri yang akan pusing dibuatnya" Erina hanya terdiam. Apa yang Dimas katakan memang benar. Semakin baper dengan sikap orang lain, semakin pusing kita dibuatnya.


Mobil Dimas sudah terparkir di sebuah restoran Jepang. Siang ini Dimas ingin memanjakan lidahnya dengan menu dari negara matahari. Menu yang terkenal selalu fresh dan diolah oleh koki koki profesional, sungguh menggugah selera siapa pun yang akan menyantapnya.


Dimas telah memesan beberapa menu andalan dari restoran. Air liur Erina hampir menetes dibuatnya karna tak tahan dengan lezatnya menu makanan yang sudah ada di depannya. Dimas dan Erina pun menikmati makanannya dengan tenang.


.


.


.


**Hai Readers....


Terima kasih ya sudah selalu setia dengan Novel ini.

__ADS_1


Ditunggu comment, like dan vote nya ya...


Terima kasih... ❤❤❤**


__ADS_2