
Dalam waktu singkat, Rio telah kembali ke ruangan dan menyerahkan ponsel Erina kepada Dimas.
Dimas memperhatikan dengan seksama ponsel Erina. Di tekannya tombol layar ponsel Erina. Ponselnya terkunci. Charles yang merasa paham akan keraguan Dimas mencoba untuk membantunya membuka kunci rahasia.
"Saya bisa membuka ponselnya jika bapak mengijinkan. Tapi ponsel nona Erina akan ter restart ulang. Untuk datanya bisa saya back up terlebih dahulu" sejenak Dimas hanya terdiam.
Dicobanya dengan memasukkan kode tanggal lahir Erina, namun gagal.
"Apakah mungkin Erina menggunakan tanggal lahirku sebagai kode ponselnya?" batin Dimas bertanya tanya.
Dimas mencoba untuk memasukkan tanggal lahirnya ke dalam kode kunci ponsel Erina.
Terbukaa....
Dimas terperangah tak percaya. Senyum pun tersungging di bibirnya. Hatinya mendadak sangat bahagia ternyata dirinya sangat berarti untuknya. Sampai sampai tanggal lahirnya saja di jadikan kode private ponselnya. Saat layar terbuka, terlihat foto dirinya dan Erina yang tengah tersenyum bahagia dijadikan wallpaper ponselnya. Senyum kerinduan pun terpancar jelas di wajah Dimas.
Charles membongkar ponsel milik Erina dan Dimas, mengganti GPS yang sudah terpasang dengan alat khusus yang dimilikinya ke dalam ke dua ponsel tersebut. Tak perlu waktu lama untuk memasangnya. Dan kini ponsel Erina dan Dimas sudah normal kembali dan tak bisa untuk di retas oleh orang yang tak bertanggung jawab dengan mudah.
"Silahkan pak, ini ponsel anda. Sudah normal. Saya bisa pastikan ponsel anda dan Nona Erina dalam keadaan terproteksi. Nanti Pak Dimas tinggal ganti saja password terbarunya 6 digit" ucap Charles sambil menyodorkan ke dua ponsel kepada Dimas. Dimas mengangguk lega dan senang.
"Lalu, apakah kamu sudah bisa memastikan siapa orang yang sudah berhasil meretas komputer milik Erina?" pertanyaan Dimas membuat Charles harus kembali melihat layar laptopnya.
"Untuk saat ini saya belum bisa memastikan siapa orang yang sudah dengan sengaja meretas komputer Nona Erina. Orang ini sepertinya seorang ahli IT yang cukup handal. Alat yang digunakan juga sudah sangat canggih. Tapi saya bisa mendeteksinya secara lanjut dengan kode yang mungkin tidak sengaja tertinggal oleh si pelaku. Dan disini bisa saya pastikan bahwa pelakunya bukan Nona Erina" Dimas mengangguk mengerti.
"Proteksi semua jaringan yang ada di perusahaan ini. Saya ga mau hal ini terulang untuk yang kedua kalinya" perintah Dimas dengan nada tegas dan dalam.
"Baik pak Dimas" ucap Charles cepat.
#########
Rio mengembalikan kembali ponsel milik Erina tanpa banyak berbasa basi dengannya. Erina pun juga memilih untuk tak banyak bertanya. Toh percuma saja, Rio ga bisa banyak membantunya.
Hari sudah menjelang malam. Jam kantor juga sudah lewat. Para karyawan sudah meninggalkan tempat bekerja mereka termasuk Erina. Setelah membayar ojek online nya, Erina segera melangkahkan kaki untuk memasuki pintu pagar rumahnya. Langkahnya terhenti ketika sebuah panggilan suar laki-laki menyerukan namanya.
"Erinaaaa..." dengan seketika Erina menolehkan kepalanya ke arah suara laki-laki yang terdengar berat dan parau.
"Kevin?" betapa terkejutnya dirinya saat matanya bersirobok dengan mata laki-laki yang telah membuat dirinya kesal.
Kevin berjalan sambil tersenyum mendekati Erina yang tampak terkejut dengan kehadirannya.
"Hai..." sapa Kevin tulus. Erina tak menjawab.
__ADS_1
"Kamu baru pulang? Sudah makan?" ucapnya lagi.
Erina menarik nafas kesalnya. Ia tak menyangka kalau Kevin berani menemuinya lagi.
"Ga usah basa basi. Ada perlu apa loe datang kesini?" suara Erina terdengar ketus.
"Galak banget sih Neng?"
##########
Di sisin lain, sore ini Dimas sengaja mampir ke toko coklat langganannya untuk membeli sekotak coklat lengkap dengan rasa yang special. Ia ingin ke rumah Erina untuk menebus kesalahannya karna selama satu minggu ini sudah bersikap dingin kepadanya. Ia ingin memperbaiki kembali hubungannya yang sempat renggang.
Dilajukannya mobilnya menuju rumah Erina. Jalanan malam itu tak terlalu ramai. Dimas melajukan mobilnya dengan saat pelan dan sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Erina. Matanya melihat pemandangan yang berhasil membuat emosinya terbakar kembali.
Dimas memastikan mesin mobilnya dan memilih diam memperhatikan gerak gerik Erina dari kejauhan yang sedang tampak bercakap cakap dengan seorang laki-laki.
"Siapa laki-laki itu? Apakah dia yang bernama Kevin?" ucapnya lirih di dalam mobil.
#########
Erina menghela nafas kesalnya lagi.
"Gue ga punya banyak waktu buat ngeladenin loe. Kalau ga ada hal yang penting, gue masuk" Erina melangkahkan kembali kakinya namun langsung terhenti karna tertahan oleh Kevin.
Kevin meraih tangan Erina dan meletakkan kotak itu di atas tangannya. Dimas mulai geram melihat pemandangan menyebalkan baginya. Tangannya mencengkram kuat gagang stirnya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Apa ini?"
"Bukalah. Itu hadiah special aku buat kamu" dengan ragu ragu Erina membuka kotak kecil yang sudah berada di tangannya.
Erina membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah cincin berlian yang sangat indah entah berapa karat, dengan cuma cuma diberikannya untuknya?
Ditutupnya kembali kotak kecil itu dan disodorkannya kembali kepadanya. Kevin tak bergeming dengan sikap penolakan dari Erina. Malah ia sengaja menggenggam tangan Erina dengan erat seraya memohon agar Erina mau menerima barang pemberian darinya.
"Aku ga maksa kamu untuk mau memakai cincin itu. Aku ingin kamu menyimpannya untukku. Tolong terimalah..."
"Maaf Kevin. Tapi gue ga bisa terima ini. Lebih baik cincin ini loe kasihkan buat cewek lain yang lebih sayang sama loe. Yang pasti bukan gue orangnya." ditepisnya tangan Kevin dengan kasar.
"Sayangnya, yang aku ingin hanya kamulah yang menjadi wanitanya"
"Kevin...." namun gertakan Erina tak lantas membuat Kevin menjadi tak enak hati, ia malah tertawa lepas yang membuat Erina semakin kesal dibuatnya.
__ADS_1
"Gue tekankan sekali lagi, gue ga bisa terima ini. Maaf dan terima kasih" Erina meraih tangan Kevin dan meletakkan kotak cincin itu di tangannya dengan kasar dan lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Kevin hanya tertawa kecil dengan sikap penolakan Erina kepadanya. Di pandanginya dari jauh tubuh Erina yang berlalu dari hadapannya dan menghilang di balik pintu.
Kevin melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erina dengan perasaan sedih. Sudah tiga kali Erina menolak dirinya. Sepertinya sangat sulit untuk bisa mendapatkan Erina dengan cara baik-baik. Otak Kevin mulai berpikir jalan pintas untuk bisa mendapatkan Erina, walau dengan cara yang licik.
##########
Dimas melirik geram mobil Kevin yang melintas di samping mobilnya. Di raihnya ponsel miliknya yang langsung tersambungkan ke nomor ponsel Rio.
"Yes Boss" sapa Rio dengan antusias.
"Perketat penjagaan Erina dan rumahnya. Jangan sampai ada laki-laki lagi yang berani datang dan deketin Erina seperti malam ini. Ngerti!!!" suara Dimas terdengar serius dan menakutkan. Suaranya mengarah ke nada orang yang sedang marah. Bulu kuduk Rio seakan berdiri saat tau kalau ia sudah kecolongan karna bodyguard yang ia bayar ternyata tak mampu bekerja dengan baik.
"Ok Dim. Gue akan tambah bodyguard khusus yang lebih ok yang akan menjaga Erina dan keluarganya"
"Bagus!" Dimas langsung mematikan ponselnya. Hatinya masih geram dan emosi.
###########
Hari ini Dimas datang ke kantor pagi-pagi sekali. Ia langsung terlihat sibuk dengan laptop dan berkas berkas nya. Setengah jam kemudian Rio memasuki ruangan. Ekspresinya lumayan kaget saat melihat boss nya sudah datang dan sudah sibuk dengan berkas berkas.
"Morning Boss... Tumben Dim, loe dah dateng? Trus langsung sibuk begini? Ada project baru?"
"Yups, bener banget. Gue punya tugas banyak dan berat buat loe" nada suara Dimas terdengar sangat serius dan dingin.
Rio tertegun dengan ucapan Dimas yang tanpa ekspresi sama sekali.
"Jika dalam rumah sudah dimasuki seekor tikus yang sudah dengan sengaja ingin merusak dan mengambil barang sang tuan rumah, sangat tidak bijak bukan jika masih membiarkan tikus itu dengan mudahnya berkeliaran dalam rumah?" Rio masih kurang paham dengan perkataan Dimas. Ia masih terdiam mendengarkan.
"Walaupun lawan gue adalah seorang yang ahli dalam bidang IT, bukan berarti gue bisa dikalahkan begitu saja. Gue akan buktikan kalau ahli dalam bidang IT itu bukan penentu sebuah kemenangan." ucap Dimas dengan penuh keyakinan. Tangannya yang mengepal dan raut wajah yang garang membuat siapapun yang melihatnya akan lari terbirit birit. Selama hampir dua tahun bekerja dengan Dimas, baru kali ini ia melihat boss nya itu marah seperti ini.
"Rio... Siapkan semua data proyek yang sedang dijalani dari perusahaan milik Surya Winata. Beli semua saham rekanan dari mereka. Berapapun harganya beli semua. Siapkan semua data kita. Alihkan semua clien yang sudah bekerja sama dengan mereka. Buat semua bergabung dengan kita. Kasih mereka tawaran harga tinggin. Dan segera atur waktu buat gue meeting dengan rekanan mereka" lagi lagi Rio hanya ternganga mendengar ucapan serius bahkan bisa dibilang sangat serius.
"Boss, are you serious?"
"Apa gue keliatan sedang bercanda?" tatapan tajam mata Dimas meruntuhkan kesadaran Rio yang masih terkesima kepadanya.
Rio menghela nafas panjang dan mengiyakan semua ucapan dari boss nya itu.
"Okay Boss." Rio sangat yakin akan kemampuan dari Dimas. Apa yang akan dilakukannya pasti sudah dalam pemikiran serta pertimbangan yang matang.
.
__ADS_1
.
.